Agama itu mati, para punggawalah (Dai, mubaligh, pengajar) yang menghidupkan. Jadi agama tak pernah salah, melainkan para punggawalah yang berpotensi salah. Jika selama ini agama tak pernah bisa mengentaskan status "kelas" maka, yang patut untuk dipermasalahkan adalah para punggawa agamanya.

Selama ini mereka belum mampu menjadikan agama sebagai instrumental dalam menghilangkan status "kelas". Entah mereka sendiri yang belum mampu keluar dari "kelas" itu sendiri atau mereka masih belum menemukan formulasi yang tepat untuk mengentaskan status "kelas" dengan agama.

Islam tidak akan bisa terlepas dari pedoman ajaran utamanya, al-Qur'an. Ali bin Abi Thalib mengatakan: al-Qur'an itu mati, manusialah yang memberikan nyawa. Dengan demikian, manusialah yang menghidupkan al-Qur'an dengan melakukan pengamatan dan penelitian terhadap al-Qur'an sehingga memunculkan beberapa ajaran yang menjadi pegangan muslim.

Ajaran yang keluar dari al-Qur'an bukan hanya hukum, melainkan disiplin keilmuan lain dan juga nilai-nilai universal Islam (jujur, bersih, amal salih, dll). M.Quraish Shihab menulis demikian: Siapa yang mengamati aneka disiplin ilmu keislaman, baik kebahasaan, keagamaan maupun filsafat, kendati berbeda-beda dalam analisis, istilah, dan pemaparannya, namun kesemuanya menjadikan teks-teks al-Qur'an sebagai fokus pandangan dan titik tolak studinya.

Sudah semestinya dalam memunculkan ajaran-ajaran yang terkandung dalam al-Qur'an para mufassir maupun tokoh keagamaan atau pun ilmuwan melakukan pembacaan terhadap al-Qur'an. Proses pembacaan al-Qur'an mengalami perubahan dari masa ke masa.

Masa klasik-pertengahan membaca al-Qur'an dengan objektivistik dan ideologis sedangkan masa modern-kontemporer membaca dengan tujuan praksis sebagai instrumental mengangkat kaum mustad'afiin dan penolakan status quo istilah lainnya subjektivistik-praksis.

Pada masa klasik (Periode Nabi saw dan Sahabat) penafsiran hanya muncul dalam model riwayah atau sering disebut ma'tsur bukan al-ra'yu. Sebagaimana diungkap oleh Nashruddin Baidan:

"Periode Nabi dan sahabat dijadikan satu di dalam kajian ini karena pola dan metode penafsiran al-Qur'an yang diberikan oleh sahabat tidak terdapat perbedaan yang berarti dari penafsiran yang diberikan oleh Nabi, kecuali dari sudut sumber. Kalau tafsir Nabi berasal dari Allah langsung atau lewat Jibril atau dari pribadi Nabi sendiri, penafsiran sahabat bersumber dari al-Qur'an, Nabi, dan dari ijtihad mereka.

Bandingkan penafsiran periode klasik ini dengan periode pertengahan. Pergeseran orientasi juga metodologi telah mewarnai khazanah penafsiran al-Qur'an. Periode pertengahan lebih condong pada al-ra'yu meskipun masih menyisakan al-riwayah. Prosentase ra’yu yang lebih banyak menjadikan penafsiran ideologis ikut mewarnai, hal ini ditengarai oleh Zamakhsyari dengan tafsir al-Kasyaf, tafsir ideologi Mu’tazilah.

Berlanjut ke abad modern-kontemporer, penafsiran al-qur’an lebih bersifat subjektivistik-praksis. Penafsiran al-Qur’an haruslah memihak kepada kaum lemah (mustadl’afiin) model ini dipelopori oleh Hassan Hanafi. Di Indonesia, ideologi pembebasan ini diikuti oleh Islam Progress. Ada pula yang menekankan pada konteks, pemaknaan al-Qur’an harus melihat konteks di mana al-Qur’an tersebut dibaca atau ditafsiri.

Tokoh yang menekankan pada aspek konteks adalah Fazlur Rahman dan Syahrur. Melalui teori double movementnya Fazlur mencoba membaca ulang ayat-ayat poligami. Masihkah layak diterapkan di daerah di mana al-Qur’an dibaca dan dipahami,  sebagai contoh Indonesia, dengan melihat dan mempertimbangkan jumlah penduduk serta kualitas pendidikan juga pekerjaan memungkinkan diterapkannya poligami.

Secara mendalam praktik double movementnya Fazlur adalah dengan melihat sejarah arab secara makro dan kemudian melihat sejarah turunnya ayat tersebut secara mikro kemudian disesuaikan dengan konteks hari ini.

Perbedaan pemahaman dari abad ke abad sudah terekam dalam sejarah secara sistematis. Lantas mengapa sampai hari ini truth claim yang berlebihan masih muncul. Ketidakpahaman seseorang atau keinginan yang berlebih dalam membela ideologinya menjadi sorotan utama. Jika para tokoh agama lebih menekankan pada aspek makna lahiriah dari teks al-Qur’an dan ideologis maka hal ini menandakan mereka masih mengikuti pola penafsiran pada abad pertama-pertengahan.

Namun ketika tokoh agama lebih menekankan pada aspek konteks, maka pola yang dianut adalah penafsiran abad modern-kontemporer. Maka dengan jelas, perbedaan yang ada sampai hari ini tak perlu dirisaukan, karena itulah pelangi pendapat dan penafsiran. Seharusnya yang dirisaukan adalah truth claim yang berlebihan pada setiap penganut model-model di atas. Maka tabayun dan dialog menjadi moment yang sangat menentukan dalam mencari titik temu perbedaan.