Kehidupan manusia saat ini memang berhasil dalam banyak hal, terutama kebutuhan akan kedekatan terhadap sesuatu. Media elektronik telah memfasilitasi keberadaan manusia secara virtual ke suatu tempat yang jauh, bahkan seumur hidup tidak pernah dicapai. Termasuk juga perkembangan karya tulis, yang telah berhasil menggambarkan begitu indahnya suatu dunia yang tidak pernah kita jumpai.

Paul Ricoeur telah menunjukkan bagaimana pentingnya bahasa harus dipandang sebagai wacana, baik itu bahasa lisan maupun bahasa tulis, adalah untuk menyelamatkan bahasa, terutama bahasa tulis, dari posisi marginalnya. Sekalipun sampai sekarang teks tepatlah teks, yang sama seperti lukisan, ia tidak mampu memberikan jawaban ketika ditanya.

Dengan mengambil konsep intensional dari fenomenologi, Ricoeur berhasil memperlihatkan bahwa problem distansiasi realitas literer dengan realitas aktual pembaca dapat dijembatani. Teks hadir di hadapan pembaca sebagai sesuatu yang lain, yang seketika itu menjadi miliknya sepenuhnya. Dari sinilah teks hidup dan mempertegas kediriannya.

Dialektika peristiwa dan makna dalam wacana mengandung langkah-langkah epistemologis eksistensial. Ini tidak hanya berlaku pada hubungan antara realitas literer dengan realitas aktual pembaca jika dilihat melalui metode intensionalitas, namun juga dapat diperluas kepada seluruh realitas yang berhadapan dengan eksistensi manusia.

Ricoeur pernah mengatakan bahwa tindakan (dan seluruh pengalaman hidup manusia) menjadi bermakna karena dikisahkan dan kisah mendapat isinya dari tindakan dan pengalaman hidup manusia. Uraian akhirnya mengarah pada suatu kesimpulan bahwa identitas manusia pada hakikatnya adalah sebuah identitas naratif yang hanya bisa dirumuskan dalam sebuah ceritera yang ditandai komposisi, genre, dan karya seperti halnya sebuah teks.

Jika pengalaman manusia membentuk identitas naratif manusia, itu mengandung arti bahwa kehidupan ini seperti teks, dapat dimaknai dan ditafsirkan. Ada dialektika makna dan peristiwa, yang berarti artinya juga bahwa “kehidupan adalah wacana”. Memaknai kehidupan sama halnya memaknai teks, ada pesan dalam setiap peristiwa, ada tanda-tanda metafora dalam setiap pengalaman.

Kita lihat dalam teks terlebih dahulu. Seorang penafsir sering kali melihat pengarang (author) untuk mendapatkan referensi kenapa tulisan yang dihasilkan bisa sedemikian rupa, dan apa yang hendak dikatakan olehnya. Tapi langkah ini bukanlah kepentingan utama penafsiran. Apa yang dihadapi oleh seorang penafsir adalah teks, yang hendak ditafsirkan adalah realitas deskriptif, bukan realitas faktual.

Ricoeur berhutang pada Hirsch terkait hal ini, meskipun ada hal yang ia kritik juga, bahwa intensi pengarang larut sebagai sebuah peristiwa psikologis. Selain itu, intensi tulisan tidak memiliki ekspresi lain ketimbang makna verbal teks itu sendiri.

Karena itu, semua informasi yang memuat biografi dan psikologi dari pengarang hanya merupakan bagian dari keseluruhan informasi di mana logika validitas harus dipertimbangkan. Informasi ini bukan merupakan cara normatif yang berkenaan dengan tugas interpretasi.

Oleh karena itu, langkah seperti ini bisa menjadi problematis dalam penafsiran teks suci, semisal Al-Qur’an. Siapa yang bisa mengetahui kehidupan Tuhan (Allah) sebagai author Al-Qur’an, karena jelas umat muslim meyakini Al-Qur’an bukan ciptaan Nabi Muhammad? Siapa juga yang dapat mengetahui sisi spikologisnya, dan kondisi sosio-politiknya? Tidak ada! Itulah kenapa dalam ilmu Al-Qur’an yang ada hanyalah persoalan asbab an-nuzul (sebab-sebab turunnya teks).

Yang menjadi persoalan bukanlah menguak data penunjang dari asbab an-nuzul itu, tapi justru karena terlalu larut di dalamnya sehingga melupakan tugas interpretasi atau penafsiran yang sebenarnya, yaitu berkaitan dengan makna verbal teks. Persoalan ini sering dijumpai dalam banyak kasus, sebuah penafsiran tampak seakan-akan hanyalah pengungkapan kondisi historis semata, bukan menguak makna yang terkandung dari teks itu sendiri.

Begitu juga dengan orang-orang tekstualis, dalam teori penafsiran Ricoeur, belum sampai pada tahap interpretasi, ia hanya berhenti pada eksplanasi tekstual semata. Antara teks dan pembacalah penafsiran itu berada. Penafsiran bukan terletak di balik teks, tapi di depannya. Memahami teks adalah mengikuti pergerakan teks tersebut dari makna ke referensi: dari apa yang dikatakan teks, kepada tentang apa yang dikatakannya.

Apa yang membuat kegiatan penafsiran ini menjadi menarik, adalah bahwa aktivitas ini terhimpit dua pendekatan besar, erklaren dan verstehen, eksplanasi dan pemahaman, dan interpretasi terletak di antara keduanya. Eksplanasi merupakan langkah awal dalam penafsiran, mencakup pengumpulan makna-makna sebuah teks, sampai pada merangkai teka-teki makna yang paling memungkinkan untuk dipakai.

Suatu kata kadang memiliki banyak makna, menebak teka-teki makna harus dilakukan melaui langkah-langkah strategis, mulai dari mengartikan makna verbal teks secara utuh, memaknainya sebagai suatu individu, dan melibatkan horizon potensial makna. Semua ini adalah langkah praduga, dan memang memaknai teks adalah kegiatan menjawab tebakan.

Kemudian Verstehen atau pemahaman digunakan dalam penafsiran sebagai penyerapan ke dalam dunia pribadi seseorang. Pemahaman tidak tergantung pada teks, ia menancap dalam kesadaran (kesadaran prareflektif dalam tradisi fenomenologi).

Sehingga kegiatan penafsiran bukan menguak makna semata, tetapi mencapai pemahaman yang dapat hidup dalam kesadaran individu di zaman yang berbeda dengan zaman teks tersebut. Kata Ricoeur, “di sini penampakan pada saat yang bersamaan merupakan pembentukan dan penciptaan bentuk baru keberadaan.”

Jika mengingat apa yang dikatakan Ricoeur tentang bahasa sebagai wacana, bahwa teks pun memiliki kehidupan, dapat dipahami bahwa kehidupan teks terletak pada pembaca. Teks di hadapan pembaca juga bukan merupakan bentuk yang final, sama halnya dengan manusia hidup di dunia ini. Teks dapat melengkapi dirinya sendiri dengan keberadaan pembaca yang baru, tafsiran baru, dan kehidupan baru.

Sama dengan pengalaman manusia, kejadian, pengalaman, selalu tampak seperti teks yang lahir dari penulisnya. Pengalaman menjadi jejak yang membawa kondisi psikologis dan historis pelakunya. Pengalaman berjalan menuju pembaca-pembaca baru yang tidak ditentukan.

Manusia mengalami dirinya sendiri, tapi pengalamannya dibaca orang lain. Di hadapan pemiliknya, pengalaman sudah menjadi tafsiran, dan ditafsir ulang demi pengalaman baru pula. Dan di hadapan pembaca-pembaca baru, pengalaman menemukan hidupnya sendiri yang baru.