Prabowo Subianto: “Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030.”

Jusuf Kalla: “Itu kan fiksi.”

Kira-kira demikianlah dialog imajiner Prabowo Subianto dan Jusuf Kalla tentang Indonesia bubar 2030 yang tersebar di media massa. Prabowo cukup yakin bahwa ramalan novel Ghost Fleet yang kabarnya dikarang oleh ahli intelijen Amerika itu merupakan sebuah fakta, tidak sekadar fiksi.

Jusuf Kalla tentu saja bukan satu-satunya orang yang mempertanyakan kredibilitas sebuah novel untuk dijadikan sumber faktual sebuah prediksi, apalagi prediksi yang menyangkut masa depan sebuah negara. Belakangan, Ketua DPP NasDem Irma Suryani Chaniago pun berujar, “Namanya juga novel fiksi, tentu prediksinya juga cuma fiksi, sehingga tidak layak untuk dipercaya.”

Sepertinya ada sebuah kesepakatan di antara tokoh-tokoh elite di Indonesia bahwa sebuah karya sastra yang merupakan fiksi tidak mungkin digunakan sebagai sumber fakta. Garis batas antara fiksi dan fakta seakan-akan merupakan sebuah garis batas yang begitu kentara, padahal sejatinya tidak sekentara itu.

Bahkan, garis batas tersebut acap kali begitu buram sampai-sampai orang-orang tidak bisa membedakan mana yang fiktif dan mana yang faktual. Dalam tradisi postmodernis, oposisi biner fakta-fiksi bahkan ditolak habis-habisan karena semakin mengukuhkan ciri pemikiran logosentris yang opresif.

Tapi mari kita tinggalkan sejenak konsep-konsep postmodernisme yang bagi orang awam seperti saya masih terlalu berat untuk dipahami. Mari kita tinjau berbagai pengalaman yang pernah dan sering kita alami bersama-sama.

Prabowo tentu saja bukan orang pertama yang menggunakan novel sebagai sumber faktual. Beberapa waktu lalu, dunia sempat digemparkan oleh sebuah novel karya Dan Brown yang mempertanyakan ketuhanan Yesus karena ia (Yesus) pernah beristri. Bagi kelompok anti-Kristen, novel tersebut seakan-akan menjadi sebuah kitab suci baru yang ke-fiksi-annya tidak perlu dipertanyakan lagi.

Jika kita melihat sedikit lebih jauh ke belakang, kita sempat mempertanyakan kembali sejarah revolusi negara kita dan kontroversi pembentukan Budi Utomo hanya karena kita begitu akrab dengan kisah Minke dalam Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer.

Lebih jauh lagi ke belakang, kita masih sangat ingat bagaimana novel Ayat-Ayat Setan karya Salman Rushdie begitu menggemparkan dunia, sehingga kita secara faktual berusaha membuktikan apakah Ayat-Ayat Setan tersebut benar-benar pernah ada di dalam Alquran.

Satu lagi, pernahkah kita mempertanyakan sebuah fakta bahwa salah satu sendi sejarah yang mengukuhkan berdirinya Negara Israel adalah sebuah buku harian yang ditulis oleh seorang gadis Belanda yang bersembunyi di loteng dari represi Nazi Jerman selama 2 tahun?

Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan anggapan bahwa novel dan berbagai karya-karya sastra lainnya (termasuk film, wayang, pertunjukan teater, dll) merupakan karya-karya fiksi yang tidak berdampak nyata adalah anggapan yang tidak selamanya tepat.

Beberapa orang yang pernah menonton film “Fetih 1453” percaya bahwa penaklukan Konstantinopel berlangsung dengan sangat damai tanpa melibatkan pembantaian dan perampokan warga sipil Konstantinopel oleh serdadu Turki Utsmani; peristiwa itu berlangsung selama tiga hari pasca penaklukan.

Lalu bagaimana dengan karya-karya ilmiah? Apakah karya-karya tersebut dijamin akurat?

Sebenarnya, karya-karya ilmiah, peer-reviewed resources, dan rekaman-rekaman sejarah yang selama ini kita anggap fakta, bisa jadi tidak secara benar menggambarkan apa yang telah, sedang, dan akan terjadi. Sejarah revolusi Indonesia akan berbeda 180 derajat ketika sejarah tersebut ditulis oleh ahli sejarah dari Indonesia dan ketika ditulis oleh ahli sejarah dari Belanda.

George Orwell pernah berujar, “Who controls the past controls the future; who controls the present controls the past.” Bahwa sejarah ditulis oleh pemenang perang.

Kembali ke ramalan Indonesia bubar 3020. Yang menjadi keprihatinan di sini sebenarnya bukan pada apakah ramalan tersebut akan menjadi nyata, tapi sebenarnya pada cara Prabowo memandang dan mengemukakan ramalan tersebut dan bagaimana para elite politik menanggapi ujaran Prabowo mengenai ramalan tersebut. Jika saya boleh simpulkan, keprihatinan yang sebenarnya adalah kondisi bangsa Indonesia yang saat ini kurang banyak membaca.

Keprihatinan yang pertama adalah keyakinan Prabowo yang begitu kuat terhadap ramalan yang ditampilkan dalam novel Ghost Fleet. Saya tidak mempersoalkan apakah keyakinan tersebut bermasalah atau tidak, karena seperti saya sebutkan di atas, novel acap kali memaparkan sebuah kenyataan yang lebih meyakinkan daripada apa yang dipaparkan tulisan-tulisan ilmiah.

Yang saya persoalkan adalah sempitnya pernyataan Prabowo tentang ramalan masa depan bangsa ini. Bagi Prabowo, satu-satunya penyebab bubarnya Indonesia adalah intervensi (atau invasi) asing.

Sebenarnya ada banyak novel yang menggambarkan bagaimana keadaan Indonesia di masa depan. Vice.com menunjukkan setidaknya ada tiga novel yang menggambarkan hal tersebut, dua di antaranya menggambarkan bahwa kehancuran Indonesia disebabkan oleh paham islamisme yang semakin mewabah, ketika kerudung menjadi wajib di seluruh bumi Indonesia, dan ketika Acehnisasi diberlakukan di semua wilayah.

Namun, yang dikemukakan oleh Prabowo hanya satu ramalan yang dituliskan oleh P. W. Singer dan August Cole. Ramalan-ramalan dari novel-novel Vice.com tersebut sama sekali tidak disentuh oleh politikus ini. Hal ini tidak hanya berarti bahwa Prabowo belum membaca novel-novel tersebut.

Sebagai seseorang yang gila membaca, Prabowo tentu saja sudah melahap berbagai novel yang memiliki label best-seller di sampulnya. Saya melihat bahwa ramalan novel-novel tersebut tidak disinggung lebih karena Prabowo, seperti saya singgung di atas, adalah seorang politikus. Mengatakan bahwa Indonesia hancur karena islamisme tentu saja sebuah hal yang kontraproduktif bagi kampanyenya menuju kursi RI 1.

Keprihatinan yang kedua, dan sebenarnya adalah yang lebih parah, adalah cara para elite politik mendiskreditkan sumber ramalan Prabowo sebagai sumber yang “fiktif” dan “tidak dapat dipercaya.” Hal ini sebenarnya tidak menunjukkan bahwa tokoh-tokoh tersebut adalah orang-orang yang terpelajar karena seseorang yang terpelajar tidak akan serta merta mendiskreditkan pengaruh karya-karya sastra dalam kehidupan nyata.

Saya khawatir bahwa mereka sebenarnya orang-orang yang malas membaca. Bahkan mereka mungkin belum membaca novel Ghost Fleet, atau setidaknya hanya membaca sinopsis novel tersebut pada halaman Wikipedia, sebelum mengutarakan pernyataan mereka.

Dari berbagai keterangan di atas, saya kembali menyimpulkan bahwa keprihatinan sejati yang terjadi di kalangan masyarakat Indonesia adalah miskinnya minat untuk membaca. Kompas pernah meliput bahwa minat membaca masyarakat Indonesia, yang berada pada urutan ke-60 di dunia, sangat memprihatinkan.

Pada saat masyarakat di negara-negara tetangga memiliki daftar “100 buku yang harus saya baca sebelum mati,” kita lebih senang membaca berita-berita “ngaco” seperti beras dan telur plastik yang muncul di layar smartphone.

Novel Ghost Fleet mengisyaratkan bahwa senjata-senjata berteknologi tinggi pada akhirnya tidak bisa diandalkan. Amerika Serikat harus mengandalkan “ghost fleet” atau armada kapal perang yang sudah usang supaya menang dalam perang.

Jangan selalu percaya dengan apa yang smartphone “katakan” kepada kita karena bisa jadi ilmu yang sebenarnya adalah ilmu yang berasal dari buku-buku usang yang sudah secara berangsur-angsur kita tinggalkan.

Pada akhirnya, miskinnya minat membaca membuat masyarakat kita lebih rentan terhadap berita-berita bohong, hoax, dan akhirnya purbasangka yang tidak beralasan. Saya khawatir, jangan-jangan hal inilah yang akan menghancurkan bangsa Indonesia di masa depan, mungkin tidak harus menunggu hingga tahun 2030?

Bagi yang muslim, perintah membaca adalah perintah suci Alquran. Perintah ini adalah perintah paling pertama yang mengawali Alquran. Bahkan tulisan-tulisan yang kita anggap tidak berfaedah—bahkan mungkin berbahaya—bagi kita tetap saja layak dibaca. Ajaran Islam menyebutkan bahwa kita tetap diberi ganjaran walaupun kita tidak memahami makna tulisan yang kita baca.

Kita tidak selalu harus paham tulisan Derrida, Foucault, dan tokoh-tokoh lain untuk mengerti bahwa membedakan yang fiksi dari yang fakta adalah sesuatu yang tidak berbuah. Perintah dalam Alquran sangat jelas: “Ceritakanlah kisah-kisah agar mereka berpikir,” karena kisah tersebut adalah sebuah qashashul haqq, atau sebuah fiksi yang faktual.