Balada kertas di era milenial menemui beragam ancaman, terutama ketika harus diperhadapkan dengan tsunami internet yang melanda. Kehadiran kertas tampak bukan lagi menjadi kebutuhan primer yang harus ada dalam setiap interaksi literasi.

Sebuah karya teknologi manusia yang diciptakan oleh Leonard Kleinrock di tahun 1982. Karyanya yang bernama jaringan komunikasi digital dan Arpanet itu berhasil mencuri mata dunia. Alhasil, perkembangan internet tumbuh begitu pesat. Hampir seluruh dunia mengenal. Setidaknya mengobati rindu untuk tampil di muka umum, yakni ruang-ruang publik di dunia maya.

Peta digital yang terhembus di Indonesia pada awalnya muncul di tahun 1990-an, hanya saja masih sangat terbatas. Barulah pada tahun 2001 bangsa Indonesia mulai berselancar lewat dunia maya. Mulai dari penulis kawakan, sastrawan, hingga penulis yang baru saja melalui proses latihan, mencoba-coba mencicipi lini masa dengan beragam status.

Berangkat dari semangat dunia maya yang mengusung asas egaliter dan suasana akrab. Kemudian pada akhirnya, internet bukan lagi sesuatu yang baru, akan tetapi setidaknya mengundang gerakan literasi dalam wadah yang berbeda.

Situasi paradoks yang muncul tersebut, yakni ketika gonjang-ganjing perdebatan mengenai eksistensi kertas saat ini. Terutama mengenai kualitas dan jangkauan.

Lahirnya digital dianggap lambat laun akan mematikan kertas. Terlebih, tulisan-tulisan di cyber melalui berbagai platform seperti website, blog, atau media sosial lainnya hampir tidak mengenal batas-batas otoritas seperti yang terjadi pada kertas. Ini adalah realitas sosial yang harus diterima. Tak kalah pentingnya, ketika media cetak berbondong-bondong beralih menjadi online.  

Posisi kertas yang mengarungi masa kejayaan dan menjadi sebuah temuan yang sangat berpengaruhi terhadap peradaban dunia adalah ‘berlian’ yang berhasil memancarkan cahaya kehidupan. Ketika bahasa dipercaya sebagai salah satu temuan paling spektakuler, maka kertas adalah temuan yang superspektakuler.

Kertas berhasil menyajikan bahasa lewat beragam tulisan yang kemudian ditularkan ke berbagai kelompok-kelompok sosial melalui penyebaran dari karya-karya yang diyakini sebagai sumber ilmu pengetahuan dan menjadi alat komunikasi yang cukup efektif yang terhalang jarak.

Terkait perspektif bahasa, diakronis kertas adalah buah tangan dari seorang pria yang hidup di zaman Kekaisaran Cina, tepatnya selama dinasti Han Timur pada 50 Masehi. Ia dikenal dengan nama Cai Lun (Ts’ai Lun) di usianya yang masih sangat muda, ia dipercaya memangku jabatan sebagai klerus (kasim pengadilan) di istana yang dipimpin oleh kaisar He.

Jauh sebelum zaman kertas masuk ke daratan Arab pada tahun 751 Masehi dan melintasi daratan Eropa pada abad ke-12, yang manufakturnya pertama kali diperkenalkan di Mainz, Jerman.

Lun kala itu, mengambil peran sebagai seorang yang tidak begitu ramah dan cenderung aneh, namun berkat karakter ambisius yang dimiliki, ia berhasil menciptakan kertas. Dari olahan yang dibuat dengan mencampur kulit kayu, rami, kepompong sutra, jaring ikan, dan kain yang dimasak dalam satu tempat. Kemudian, ditumbuk bersamaan dengan tepung dengan bantuan para pelayan istana.

Kertas yang dihasilkan tidak hanya mengundang decak kagum bangsa Cina, akan tetapi dunia memandangnya sebagai temuan fantastik. Tepatnya pada tahun 105 Masehi, kertas disempurnakan lagi oleh Cai Lun dengan komposisi yang paten, sesaat sebelum lelaki dari keluarga sederhana ini bunuh diri dengan cara meminum racun di tahun 121 Masehi. Berkat temuan tersebut, kini kertas dinobatkan sebagai salah satu karya terbesar sepanjang sejarah perjalanan hidup manusia, terlebih kontribusinya dalam pendidikan.

Sampailah kita pada perbincangan mengenai eksistensi dan proyeksi masa depan kertas. Sejak awal kemunculan internet, orang-orang “memencak-mencak” bertarung untuk memprediksi kematian koran. Hal itu, disebabkan oleh banyaknya industri koran di Indonesia yang terpaksa gulung tikar dan beralih menjadi media berbasis digital.

Kemudahan akses dan praktis menjadi salah satu penyebabnya. Orang-orang kebanyakan mencari hidup melalui internet, sehingga dengan asumsi “sambil menyelam minum air” media online menjadi pilihan utama. 

Guru Besar bidang Jurnalisme dari Birmingham University, Paul Bradshaw dalam bukunya Model fot the 21st Century Newsroom Redux (2012), bahwa berita online sangat bersifat sosial, dan terkait gaya hidup. Berita online seperti mata uang sosial yang datang dari hasil berita yang dibagikan orang lain. Pentingnya berita jenis tersebut, menurut Paul Bradshaw dimungkinkan karena besarnya pengguna internet yang didominasi oleh partisipasi masyarakat.

Meski data membuktikan bahwa terhitung mulai 1 Januari 2016, harian Sinar Harapan berhenti terbit. Media surat kabarpun rontok satu persatu. Sebelumnya, beberapa media online memberitakan mengenai kejatuhan yang dialami harian Soccer pada tahun 2014Bola pada tahun 2015, juga berbagai majalah lainnya yang mengurangi jumlah oplahnya.

Senjakala napas koran tidak berhenti sampai di situ. Salah satu media ternama di Inggris, koran Independent dan mingguan Independent on Sunday juga harus tutup tertanggal 23 Maret 2016. Disusul dengan pamitnya majalah Maxim pada tahun 2017.

Namun, di tengah berjatuhannya media cetak tersebut, fakta lain membuktikan, berdasarkan hasil riset Nielsen Indonesia menyatakan selama 2010-2014 menunjukkan potensi industri media cetak di luar Pulau Jawa lebih besar. Bahkan, hasil riset terbarunya pada tahun 2017, yang diterbitkan dan dipaparkan melalui media online Sindo News pada tanggal 7 Desember, mengungkapkan fakta, bahwa hasil survei yang dilakukan di 11 kota dan dengan responden berjumlah 17 ribu orang, Nielsen mengungkapkan, dari jumlah tersebut, 83 persennya membaca koran.

Direktur Eksekutif Nielsen Media, Hellen Katherina menuturkan, bahwa media cetak di Indonesia cenderung dikonsumsi oleh konsumsen dari rentang usia 20-49 tahun. Ini adalah oase yang bisa mengembalikan spirit perjuangan para pemilik industri media.

Kepercayaan akan surat kabar juga masih konsisten di India. Penelitian payung yang dilakukan oleh Zeenab Aneez, Sumandro Chattapadhyay, Vibodh Parthasarathi, dan Rasmus Kleis Nielsen yang berjudul Indian Newspapers ' Digital Transition: Dainik Jagran, Hindustan Times, and Malaya Manorama pada Desember 2016, bahwa media cetak Hindustan Times, Dainik Jagran, dan Malaya Manorama, meski telah beradaptasi dengan media digital dan mencetak relatif kurang, akan tetapi tetap senantiasa melakukan evaluasi dan inovasi terhadap media cetak mereka.

Ketiga media cetak tersebut, tidak melakukan transformasi besar-besaran dalam menyambut media online. Bagi ketiga media tersebut, media daring dan cetak berbeda kinerjanya, namun tetap saling menopang. Profibilitas produk cetak mereka dari sisi ekonomi, terus menghasilkan pendapatan signifikan yang disalurkan untuk memperkuat operasi digital dan membangun jangka panjang masa depan media. Bahkan, koran cetak masih dipandang sebagai inti dari produk dan pendapatan yang dihasilkan.

Begitu pula, hasil penelitian yang dilakukan oleh Jenni L. Presnell dari Universitas Miami dan Sara E. Morris dari Universitas Kansas, Amerika Serikat. Makalahnya The Historical Newspaper Crisis: Discoverability, Access, Preservation, and the Future of the News Record yang dipaparkan dalam kegiatan Konferensi Internasional Berita Media 2017 di Islandia, menemukan fakta, bahwa para ilmuan dan pustakawan memiliki tingkat kepercayaan terhadap surat kabar dibanding media digital.

Hal itu disebabkan oleh rendahnya hak cipta yang dimiliki oleh media berbasis digital. Berbeda dengan koran, mampu melindungi kekayaan intelektual seseorang akan karyanya yang telah diterbitkan.

Untuk itu, sejauh pengamatan penulis, era digital yang ada saat ini bukanlah sebuah lonceng kematian. Kertas akan tetap menjadi primadona, meski pun beberapa perannya digantikan oleh aplikasi-aplikasi hasil “sulap” dari internet.  Justru, dengan polemik ini akan memancing dan memacu ide-ide kreativitas dari para pemilik dan pengguna indutri kertas untuk terus berinovasi. Seperti pada kasus-kasus klasik yang menimpa media-media cetak.

Berkorelasi dengan sejumlah fakta-fakta di lapangan dan sejumlah hasil penelitian yang ada, penulis memandang, bahwa lemahnya disiplin verifikasi yang ada pada berita model digital ini mengurangi kredibilitas. Lantas berimplikasi dengan kevalidan dan rendahnya kepercayaan masyarakat.

Hal ini mampu memicu geliat konsumen media digital akan beralih membaca koran. Terlebih, era postmodern yang tak lagi menghamba pada kebenaran tunggal, mengakibatkan riuh gelombang perang tafsir menjadi sesuatu yang menarik, juga berpotensi mengambang. Olehnya itu, nilai kepercayaan dikarenakan kedalaman berita, media cetak cenderung lebih banyak digunakan sebagai referensi.

Dari ulasan tersebut, sangat memungkinkan eksistensi kertas untuk terus digunakan media akan terus mengalami signifikan. Yang terpenting, jika ditinjau dari dialektika dunia sastra,  hingga saat ini para sastrawan masih menaruh kepercayaan bahwa kredibilitas seorang sastrawan masih berada pada tulisan-tulisan yang diterbitkan oleh media cetak, dibanding dengan media online. Untuk itu, media cetak semestinya selalu melakukan perubahan sesuai kebutuhan masyarakat sebagai wujud dari ekskalasi media.

Akhirnya, industri-industri kertas semestinya tetap bernapas lega menghadapi musim “digital” sebagai sebuah varian dalam perjalanan perusahaan. Termasuk industri kertas, Asia Pulp dan Paper Sinar Mas sebagai salah satu dari perusahaan produsen bubur kertas dan kertas terbesar di dunia, agar tetap mendistribusikan kertas-kertas ke perusahaan-perusahaan media cetak untuk dikelola dalam bentuk koran, majalah, tabloid atau bahkan buku dan lain sebagainya.

Mari tetap menatap optimisme, bahwa apa yang diramalkan oleh Frederick Wilfrid Lancester pada 1978, yang disebutnya dengan istilah paperless society hanya ilusi. Karena kertas adalah peradaban yang tak terelekkan, eksklusivitasnya mengikuti perkembangan zaman. (*)