"Andai aku menjadi seorang Kartini," ucapku.

"Kita harus membuat sejarah, kita mesti menentukan masa depan yang sesuai dengan keperluan kaum perempuan dan harus mendapatkan pendidikan yang cukup seperti kaum laki-laki," ucap perempuan kelahiran Jepara, 21 April 1879.

Aku membuka bukunya kembali yang berjudul Door Duisternis Tot Licht berisi "Saya ingin berkenalan dengan seorang gadis modern, yang berani, yang dapat berdiri sendiri, yang menarik hati saya sepenuhnya, yang menempuh kalan hidupnya dengan langkah cepat, tegap, riang, dan gembira, penuh semangat dan keasyikan." (hlm. 1)

Belanda bingung, bukan? Hemat penulis yang terlahir di Mayong, Jepara, Belanda kebingungan dengan perempuan yang dibesarkan dalam budaya patriarki dan di bawah jajahannya yang bisa memiliki pemikiran semodern itu.

Penulis membaca beberapa surat Kartini yang diberikan kepada sahabatnya di Belanda. Kebanyakan tentang pemikiran pemikirannya tentang kondisi sosial di era tersebut.

Tulisan ini merupakan sebuah refleksi, di mana pembaca akan ditarik ke masa Kartini hidup sampai membahas peran perempuan di masa sekarang.

Membaca Surat-Surat Kartini

Panggil saya Kartini saja. Begitu nama saya. Kami orang Jawa tidak memiliki nama keluarga.

Pram menyatakan,  lewat kepenulisan Kartini-lah keberanian dan kekuatan Kartini terlihat di tengah ketidakberdayaannya dalam melawan Kolonial Belanda secara langsung. Kita juga harus tahu bahwa dalam setiap bab dalam buku Kartini terdapat kata "rakyatku".

Penulis teringat sebuah kalimat bias, "Jikalau perempuan sudah diberi wahana yang besar dalam publik, siapkah dia?" Kompetensi perempuan tidak boleh diabaikan, tetapi harus disoroti dengan adanya Kartini beserta surat-suratnya menandakan bahwa uji coba pengembangan diri perempuan dalam masyarakat.

12 Januari 1900, kepada Nona E.H Zeehandelaar: "Pergi ke Eropa! Sampai nafas penghabisan akan tetap menjadi cita-cita saya. Seandainya saya bisa mengecilkan diri, sehingga saya dapat masuk ke dalam sampul surat, saya akan turut dengan surat ini mengunjungimu, Stella, dan kakak kesayangan saya dan... Diamlah! Sekarang diam sama sekali! Bukan salah saya, Stella, kalau saya di sana-sini menulis yang bukan-bukan."

Begitu besarnya kemauan Kartini untuk pergi ke Eropa melihat mumpuninya kaum perempuan di sana yang mendapatkan pendidikan, mendapatkan kebebasan untuk mendapatkan pengajaran yang baik. 

Perempuan! Siapakah yang lebih banyak memajukan kecerdasan seorang anak? Siapa yang dapat membantu mempertinggi derajat seseorang, ialah perempuan, Ibu. Karena dari seorang perempuanlah manusia mendapatkan pendidikannya yang pertama.

Kartini, Jepara 4 Oktober 1902

"Kami di sini memohon diusahakannya pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali kami menginginkan anak perempuan menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tetapi kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap dalam mengerjakan kewajibannya. Kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya. Menjadi Ibu, pendidik manusia yang pertama-tama."

Begitulah surat Kartini, perempuan dan perempuan. Saya sebagai penulis merasa sangat seduh dengan banyaknya "pasungan" bahwa perempuan hanya mengurusi dapur saja. Sangat disayangkan sekali jika doktrin itu masih konservatif dalam masyarakat. 

Akibat kurangnya pendidikan seorang perempuan, banyak sekali yang saya baca dalam masyarakat perempuan mengalami KDRT, pelecehan seksual, sebagai korban diskriminasi, keterbatasan perempuan dalam politik, ketidakadilan gaji perempuan.

Budaya patriarki yang berkembang dalam masyarakat membuat keblinger dan lupa bahwa perempuan juga butuh pendidikan untuk mempersiapkan diri sebagai ibu yang telah ditetapkan kodrat alam. 

Bahkan, untuk bermimpi dan bercita-cita saja, seorang perempuan masih dikotak-kotakkan. Bercita-cita menjadi arsitektur, misalnya, entah akan kesampaian atau tidak, yang penting bercita-cita.

Kita sebagai perempuan dan saya sendiri harus sadar dan tetap gigih memperjuangkan dan bertahan demi kaum kita.

Ada sebuah tulisan Kartini dalam bukunya Door Duiternis Tot Licht:

"Aduh, alangkah pedihnya, sedihnya hati ini. Sengsara betul menjadi gadis Jawa dan berperasaan halus. Kasihan. Kasihan Ayah dan Ibu, nasib celakalah mana yang memberi anak-anak perempuan seperti kamu. Kami berharap dan berdoa keras, mudah-mudahan mereka dikaruniai umur panjang sehingga dapat membanggakan walaupun kami tidak berjalan di payung keemasan bercahaya."

Begitu ungkapnya, betapa pedihnya menjadi seorang gadis Jawa yang terpatri dalam adat dan istiadat yang telah telah terbentuk lamanya, tidak bisa diubah begitu saja karena telah membelenggu kuat-kuat.

Menjadi Kartini Hari Ini

Berapa perempuan yang ditempatkan oleh rezim sekarang dalam pemerintahan? Apakah mereka sudah mengoptimalkan posisinya? Sepertinya mereka harus membaca buku Habis Gelap Terbitlah Terang sebagai pijakan yang kritis dalam konteks kemelut perempuan di legislatif.

Penulis yakin bahwa perempuan dapat menanamkan pengaruh yang besar dalam masyarakat. Kartini selalu menginginkan bahwa perempuan harus mendapat pendidikan dan pengajaran.

Perempuan sekarang harus berani dan memiliki jiwa critical thinking untuk kehidupan mereka dan pengembangan mereka. Menjadi perempuan bukan hanya “manthuk-manthuk” saja kepada laki-laki. 

Banyak doktrin-doktrin masyarakat yang penulis temukan, salah satunya penulis alami: "Mau sekolah duwur-duwur bakale tetep nek omah ngurus anak lan pawon.". Sikap apologetik penulis dalam menghadapi doktrin-doktrin yang berkembang secara konservatif bahwa pendidikan perempuan itu untuk kemajuan suatu bangsa, untuk mendidik putra-putri bangsa.