Filsafat positif merupakan suatu paradigma ilmu pengetahuan yang awal kemunculanya di Eropa, khususnya di Perancis. Pertama kali paradigma positivistik diperkenalkan oleh dua tokoh perancis antara lain Henri Saint Simon dan muridnya Aguste Comte.

Namun dalam perkembangannya, paradigma ini lebih dikenal sebagai karya Aguste Comte, dan kemudian menjadi paham filsafat imu pengetahuan pada abad ke-19. Paradigma Positivistik merupakan paradigma ilmu pengetahuan yang paling awal kemunculannya (Anwar dan Adang 2008:46).

Perhatian utama paradigma positivistik Comte adalah dinamika kemajuan masyarakat. Paradigma positivistik memandang masyarakat mengalami perubahan kearah kemajuan sistem sosial yang dinilai lebih positif dari sebelumnya.

Perubahan ini melalu tahapan-tahapan tertentu, yang berkembang menuju kemajuan masyarakat. Positivistik Comte ini sangat dipengaruhi oleh konteks sosial masyarakat Perancis pada saat itu, dimana negara Perancis telah mengalami sebuah revolusi.

Pada masa setelah revolusi Perancis, kondisi sosial, politik dan ekonomi masyarakat berada pada ketidak stabilan sebagai dampak revolusi tersebut. Kondisi seperti ini memicu hasrat beberapa kalangan bersatu untuk mengembalikan kondisi masyarakat Perancis dalam keteraturan sosial (Social Order).

Walaupun terjadi anarki sosial pada masa revolusi perancis, Comte percaya bahwa masyarakat eropa pada umumnya dan Perancis khususnya sedang berada di ambang pintu keteraturan sosial (Social Order). Pemikiran Comte tidak bisa dilepaskan dari semangat pencerahan yang pada gilirannya lahir pasca revolusi Perancis.

Dengan latar belakang gejolak revolusi perancis yang menimbulkan anomali sosial, dan kemudian memunculkan beberapa pemikiran untuk membenahi kondisi anomali tersebut, menjadi cerminan paradigma positivistik. Dapat dilihat bahwa konteks sosial pasca revolusi perancis ini menunjukan adanya suatu perkembangan masyarakat, dalam hal ini masyarakat Perancis.

Hal tersebut tercermin dalam paradigma positivistik mengenai masyarakat, dimana paradigma ini melihat masyarakat mengalami sebuah perkembangan menuju kemajuan sosial.

Dalam melihat pola perkembangan masyarakat, Comte menggunakan hukum tiga jenjang dalam menjelaskan kemajuan evolusi masyarakat. Hukum tiga jenjang tersebut antara lain : teologis, metafisik, dan positivis.

Jenjang Teologis atau Fiktif (the theological or fictitious)

Tahap ini merupakan awal perkembangan jiwa manusia. Gejala-gejala atau fenomena yang menarik sealu dikaitkan dengan konteknya.Dalam fase ini manusia selalu mempertanyakan hal hal yang paling sukar dan menurut pendapatnya bahwa hal yang sukar harus diketahui dan dikenalinya.Comte menyatakan bahwa tahapan ini tidak terjadi begitu saja, namun ada sebab musababnya.

Berikut tahapan pada jenjang ini:

Fetisysme (fetishism), adalah suatu bentuk kehidupan masyarakat yang beranggapan bahwa segala sesuatau yang berada di sekitar mansuia memiliki kehidupan sendiri yang berbeda dengan kehidupan manusia. Anggapan ini berkembang bahkan segala sesuatu yang berada di sekitar manusia berpengaruh terhadap kehidupan manusia, sehingga mau tidak mau manusia harus menyesuakan diri dengan sesuatu tersebut.

Sesuatu itu meliputi benda-benda alam (gunung, pohon, sungai) dan benda benda yang diciptakan sendiri oleh manusia. Bentuk pemikiran seperti ini dalam pandangan kepercayaan disebut juga sebagai animism.

Politeisme (polytheism), pemahaman ini lebih berkembang dari pada fetisysme. Yaitu bahwa segala sesuatu tidak lagi benda benda disekeliling manusia, namun adanya kekuatan yang mnegatur itu dan berada di sekeliling manusia. Hal tersebut mewajibkan segala tingkah laku/perbuatan serat pikiran manusia harus mengikuti aturan dari kekuatan tersebut.

Dalam hal inilah kepercayaan terbangun bahwa segala sesuatau ada dewanya. Sehingga manusia harus tunduk dan takluk pada dewa-dewa tersebut dan mengadakan upacara ritual untuk menghormatinya.

Monotheisme (monotheism), merupakan pemahaman masyarakat segala seuatu tidak lagi diatur oleh dewa yang menguasai benda-benda atas gejala-gejala alam.

Mereka percaya akan adanya yang mengatur segala benda dan fenomena yang terjadi, kekuatan itu berasal dari suatu kekuatan yang mutlak yaitu tuhan Yang Maha Esa. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini atas sebabnya, sehingg tingkah laku manusia dan segala fikirannya diorentasikan untuk Tuhan yang menjadi dogma-dogma ajaran agama untuk manusia.

Auguste Comte membawa perubahan besar dalam dunia pemikiran dan mendobrak paham metafisik pada abad pertengahaan dengan filsafat positifisme.Positif yang menurut Comte adalah hal-hal yang bersifat nyata, pasti, tepat, berguna dan memiliki kebenaran yang mutlak.

Artinya kebenaran harus bersifat positif bukan abstrak dan dapat diamati, diukur dan diprediksi sebagaimana motto Comte savoir pour prevoir” (mengetahui untuk meramalkan).Dalam filsafat Positifisme Comte juag memaparkan tiga tahap perkembangan pemikiran manusia yaitu teologis/fiktif, metafisis dan positif.

Ciri penting dari sosiologi positivisme yakni keyakinan bahwa fenomena sosial itu memiliki pola dan tunduk pada hukum-hukum deterministik seperti layaknya hukum-hukum yang mengatur ilmu alam (Silalahi 2012:70).

Hal ini berarti mencerminkan bahwa sosiologi positivisme meyakini bahwa masyarakat atau kehidupan sosial merupakan bagian dari alam dan dikendalikan oleh hukum-hukum alam yang dapat ditemukan dengan menerapakan teknik ilmiah yang sama dalam penelitian, seperti yang digunakan ilmu pengetahuan lainnya.

Filsafat Positivistik

Positivistik sendiri berasal dari “positif”. Istilah “filsafat positif” mulai digunakan Comte pada karyanya “Cours de Philosophie Positive” dan terus mengunakan istilah itu di seluruh karyanya.Filsafat digunakan sebagai “sistem umum tentang konsep-konsep umum mengenai manusia” dan positif digunakan sebagai “teori yang bertujuan untuk menyusun fakta-fakta yang teramati”.

Comte menerangkan dalam karyanya yang berjudul Discour sur lèsprit positif (1984), sebagaimana yang dikutip oleh Koento Wibisono bahwa pengertian “positif” menurut Comte ialah sebagai berikut:

“Positif” merupakan lawan dari “khayal” (chimérique), artinya positif adalah hal hal yang bersifat nyata (réel). Pengertian ini melanjutkan bahwa objek filsafat positivistik adalah hal yang dapat dijangkau akal, sedangkan hal hal yang diluar nalar/akal bukan/tidak dapat menjadi kajian dari filsafat positivistik".

Filsafat positivistik yang diungkapkan Comte melontarkan kritik yang keras terhadap metodologi pengetahuan sistematis yang berkembang subur pada abad pertengahan yaitu metafisika.Berbeda dengan meatafisika, positivistik mendasari pengetahuan dengan fakta objektif (nyata, pasti, tepat, berguna dan mutlak) sedangkan metafisika tidak dapat membuktikan kebenaran perntaan pernyataanya secara indrawi (pengamatan dan percobaan).

Filosofi penelitian yang dikembangkan oleh paradigma positivistik dapat dijelaskan dari unsur-unsur dalam filsafat secara umum, yaitu :

-Ontologi (materi) merupakan unsur dalam paradigma yang membicarakan tentang obyek (materi) kajian suatu ilmu. Paradigma positivistik dikembangkan berdasalkan filsafat ontologi realisme (Neuman 2013:109; Agusta 2012:35). Ontologi realisme mencirikan pandangan atas pengetahuan secara objektif yang berada di luar diri peneliti (Agusta 2012:35).

Menurut Neuman, positivistik percaya bahwa realitas sukar ditemukan, tetapi ada, terpola, dan memiliki urutan alamiah. Dengan ilmu pengetahuan, manusia dapat menemukan urutan dan hukum alam. 

-Epistimologi merupakan unsur dalam paradigma yang berkenaan dengan hubungan antara peneliti dengan realitas. Paradigma positivistik dicirikan dengan epistemologi korespondensi, yaitu hubungan antara peneliti dengan realitas yang dapat diukur secara objektif. Objektivitas menjadi satu-satunya jalan untuk mencapai kebenaran ilmiah (Agusta 2012:35).

Dengan demikian, untuk memenuhi kriteria objektif maka peneliti harus mengambil jarak dan tidak melakukan interaksi dengan objek penelitian. Sehingga, hasil yang didapatkan tidak mempengaruhi dan tidak bias.

-Metode. Metode berkenaan dengan prosedur dan alat yang kita gunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan (Patel 2015). Di dalam paradigma positivistik, realitas objektif yang berada di luar manusia (peneliti) bisa diambil dan diukur untuk menghasilkan hukum-hukum sosial yang dapat diuji kebenarannya melalui verifikasi (membuktikan ulang) atau falsifikasi (menguji secara empiris) (Agusta 2012:39). Dengan demikian, paradigma positivistik biasa digunakan dalam metode kuantitatif (Creswell 2016:7).

Metode kuantitatif menguji hubungan sebab-akibat antar-variabel yang dapat dilakukan melalui survey atau eksperimen. Beberapa ciri metode kuantitatif yaitu: 1) menggunakan pertanyaan tertutup, pendekatan ditentukan sebelum penelitian, menghasilkan data numerik; 2) menguji atau memverifikasi teori (penjelasan dari teori); 3) identifikasi variabel-variabel yang akan diteliti;

4) menghubungkan variabel-variabel dalam rumusan masalah dan hipotesis penelitian; 5) menggunakan standar validitas dan reliabilitas; 6) mengobservasi dan mengukur informasi secara numerik; 7) menerapkan pendekatan-pendekatan yang bebas bias; 8) menerapkan prosedur-prosedur statistic (Creswell 2016:25).

Penutup

Dengan demikian, beberapa pemahan inti dari paradigma positivistik yaitu:

Ilmu sosial (sosiologi) harus bersifat objektif. Objektivitas menjadi satu-satunya jalan untuk mencapai kebenaran ilmiah, sehingga peneliti harus netral. Agar netral, maka peneliti diposisikan berada di luar objek penelitian/berjarak dengan objek penelitian (paradigma positivistik menganggap masyarakat sebagai objek penelitian).

Hasil penelitian menghasilkan kebenaran ilmiah yang bisa diuji melalui verifikasi (membuktikan ulang) atau falsifikasi (menguji secara empiris). Asumsi inilah yang menuai kritik terhadap positivistik sehingga melahirkan paradigma pascapositivistik/Postpositivistik.