Membaca buku itu membutuhkan hidayah. Ya, hidayah sudah pasti dibutuhkan karena membaca buku tidak semudah yang dibayangkan. Butuh kemauan dan tekad yang keras untuk membaca buku karena setidaknya ada beberapa penyakit yang harus dilawan oleh pembaca buku.

Penyakit malas, jenuh, bosan dan kadang-kadang ngantuk adalah beberapa di antaranya. Apalagi di zaman modern seperti sekarang ini di mana perangkat yang berbau teknologi lebih digemari oleh masyarakat ketimbang buku. Main game, main medsos, main youtube dan main instagram adalah beberapa di antara mainan manusia modern yang penggemarnya semakin lama semakin banyak saja.

Ini berbeda dengan kegemaran membaca buku yang cenderung stagnan. Tidak ada peningkatan minat baca masyarakat dari tahun ke tahun. Saya tidak tahu pasti apakah krisis membaca buku ini juga terjadi di belahan dunia lain. Tapi membaca ulasan dari beberapa media yang mengatakan jika minat baca indonesia berada di urutan ke 60 dari 61 negara, itu sudah bisa disimpulkan bahwa minat baca kita termasuk sangat memprihatinkan.

Kita juga dihadapkan pada kenyataan bahwa membaca buku tidak selalu gratis. Karena harga buku juga tidak murah. Sedangkan gadget, walaupun tidak gratis tapi harganya semakin hari semakin murah dengan fitur yang semakin lengkap dan semakin canggih. Cukup dengan membeli paket internet yang juga murah, siapapun bisa berselancar sepuasnya di dunia maya melalui gadget. Anak kecil hingga orang tua, di desa maupun di kota, semua orang tergila-gila pada gadget

Dalam perkembangannya, tak ada sesuatu yang revolusioner yang diciptakan oleh pelaku industri buku untuk menggenjot minat baca masyarakat. Kecuali harga buku yang semakin mahal. Ini berbeda dengan industri gawai digital yang beberapa tahun terakhir selalu membuat gebrakan revolusioner yang membuat semua orang semikin tergila-gila pada gadget. Buktinya bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.

Mari kita perhatikan, apaka Anda pernah melihat orang makan sambil main hp? Sering! Apakah Anda pernah melihat orang makan sambil membaca buku? Tidak! Apakah Anda pernah melihat orang bekerja sambil main hp? Sering! Apakah Anda pernah melihat orang bekerja sambil membaca buku? Tidak! Apakah anda pernah lihat orang nyetir sambil main hp? Pernah!

Apakah Anda pernah melihat orang nyetir sambil membaca buku? Tidak! Apakah Anda pernah buang air di toilet sambil main hp? Sering! Apakah Anda pernah duduk manis di toilet sambil baca buku? Belum pernah! Apakah Anda pernah membaca buku sambil main hp? Pernah, tapi lebih banyak main hp-nya daripada membaca bukunya.

Jadi hampir tidak ada tempat untuk sebuah buku dalam kehidupan sehari-hari manusia modern karena detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam dalam sehari sudah dikuasai oleh perangkat bernama gadget, atau gawai atau Hp atau smartphone, atau telpon genggam atau apalah namanya.

Saya ingin bercerita pengalaman pribadi tentang betapa susahnya membaca buku. Dulu waktu zaman sekolah, SD, SMP dan SMA, saya termasuk orang yang cukup rajin pergi ke perpus sekolah. Bukan karena saya gemar membaca tapi lebih karena tidak punya uang untuk ke kantin.

Karena sering ke perpus itu sedikit demi sedikit saya mulai suka membaca. Namun buku-buku yang saya baca di perpus sangat sulit untuk dibaca sampai selesai. Ya seperti biasa, dalam proses membaca pikiran saya tiba-tiba dihinggapi rasa jenuh dan bosan. 

Mungkin juga karena buku-buku yang ada di perpus tidak terlalu bagus. Walaupun sebenarnya tidak ada ukuran pasti seperti apa buku bagus itu. Tapi buku-buku perpus itu jarang membuat saya ingin membacanya sampai selesai. Apalagi waktu di perpus biasanya cuma satu jam sesuai jam istirahat sekolah.

Jika besoknya datang lagi, biasanya saya mebaca buku yang berbeda dari hari sebelumnya. Kadang-kadang saya juga pinjam ke perpus jika ada buku yang bagus tapi itu sangat sulit untuk dibaca sampai selesai karena alasan-alasan klasik tadi: malas, bosan dan jenuh.

Sebenarnya, ada keinginan dalam hati untuk selalu membaca buku, membaca bagi saya seperti sesuatu yang salalu ingin saya lakukan. Namun entah kenapa sangat susah untuk dilaksanakan. Bukan karena tidak ada waktu untuk membaca dan bukan karena tidak ada uang untuk membeli buku tapi mungkin karena rasa malas saya yang jauh lebih kuat dari keinginan saya untuk mambaca buku.

Saya masih ingat di tahun 2014 lalu, saya membeli novel Ayah karangan Andra Hirata. Saya memang selalu membeli novel-novel karangan Andrea Hirata karena novel pertama yang saya baca sampai selesai adalah Laskar Pelangi karangan Andra Hirata. Sejak membaca Laskar Pelangi itu saya jadi jatuh cinta pada novel-novel karangan Andrea Hirata.

Saya juga membaca semua seri dari Tertralogi Laskar Pelangi, yaitu Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov. Dan juga novel setelah itu. Novel Nadrea Hirata, terutama Tetralogi Laskar Pelangi, seperti sebuah buku yang sejak lama ingin saya baca. Sejak saat itu saya selalu membeli novel apapun karangan Andra Hirata termasuk novel terakhirnya, Ayah.

Namun di tengah proses membaca novel Ayah ini, saya dilanda penyakit lama: bosan, jenuh dan malas. Saya juga merasa seperti ada rasa yang hilang dalam diri saya ketika membaca novel Andra Hirata yang satu ini. Maksud saya, saya tidak lagi merasakan emosi yang naik turun dan semangat yang meluap-luap seperti yang saya rasakan ketika membaca novel seri Laskar Pelangi.

Saking malasnya, saya baru selesai membaca novel ini di awal tahun ini. Ya saya mulai membaca novel Ayah ini dipertengahan tahun 2014 dan baru menyelesaikannya di awal tahun 2017.

Ceritanya begini, saat saya membaca novel Ayah ini tiba-tiba saya dilanda rasa jenuh dan bosan karena apa yang saya rasakan seperti novel-novel Andrea Hirata sebelumnya tidak saya dapatkan. Akhirnya di tiga perempat halaman menjelang selesai, saya memutuskan untuk berhenti membacanya. Setelah itu saya sama sekali tidak pernah membaca buku apapun. Walaupun selalu ada keinginan untuk membaca tapi tidak pernah terlaksana karena rasa malas yang begitu hebat.

Memasuki awal 2017, saya berkomitmen untuk membaca buku minimal satu buku dalam sebulan. Dan untuk merealisasikan saya memulainya dengan membaca satu-satunya buku yang saat ini ada salam kamar saya, yaitu novel Ayah. Novel yang belum selesai saya baca sejak 2014. Saya mulai membacanya lagi dari awal dengan penghayatan sepenuh hati.

Komitmen saya untuk membaca minimal satu buku dalam sebulan ternyata bisa saya selesaikan dalam seminggu. Ya dengan komitmen yang kuat, ternyata saya bisa membaca buku setebal novel hanya dalam waktu satu minggu saja. Sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya.

Setelah novel Ayah selesai saya baca, saya mulai meminjam buka di perpustakaan tempat saya bekerja. Sebenarnya bukan perpustakaan sih, tapi hanya semacam lemari yang besarnya tak seberapa. Lemari kaca itu dijadikan tempat memajang buku.

Buku-buku itu jumlahnya tak seberapa, kalau saya tebak buku yang disimpan di sana tak sampai seratus buah, mungkin hanya puluhan saja. Buku-buku ini disiapkan untuk karyawan yang barangkali ingin membaca buku. Tapi sepertinya jarang ada karyawan yang meminjam buku karena setelah beberapa kali saya meminjam buku hanya dua orang saja yang pernah saya temui untuk meminjam buku.

Karena saya sudah agak lama tidak membaca buku dan kurang mengikuti perkembangan buku, saya agak kesulitan menentukan mana buku yang bagus. Jadinya saya pakai feeling saja untuk menentukan buku yang ingin saya pinjam. Dengan berbagai pertimbangan, saya selalu mendahdulukan meminjam buku yang di sampulnya bertuliskan Best Seller.

Awal-awal pinjam buku di kantor, saya sering diledek oleh teman-teman kerja saya. Jika mereka melihat saya pegang buku, mereka bilang "Cieee.. cieeee.. suka baca buku nih yeee..". Saya hanya tersenyum saja karena saya tahu mereka hanya bercanda.

Namun di balik candaan itu ada fakta yang bisa dijelaskan, bahwa di negeri ini melihat seseorang yang memegang buku itu seperti sesuatu yang aneh dan tidak lazim. Hal ini tentu saja karena membaca buku seperti sesuatu yang langka dan makin sulit ditemui. Beda halnya dengan orang yang pegang gadget yang bisa kita temui hampir di semua tempat.

Saya berani bertaruh bahwa di negeri ini jumlah orang yang menonton film porno jumlahnya jauh lebih banyak daripada orang yang membaca buku. Ini adalah fakta yang tak terbantahkan. Memang terdengar kurang etis, tapi itulah faktanya.

Dalam proses menulis artikel ini, saya merenung sambil membatin, "Apakah tidak terlihat aneh saat banyak orang menulis tentang tema yang lagi hot saat ini seperti masalah Pilkada dan tetek bengeknya, masalah kebhinnekaan, masalah toleransi dan sebagainya, lalu saya menulis tentang buku? Tapi ah sudahlah. Yang penting saya masih sempat nulis"

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya agak susah juga bagaimana caranya meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Selama ini tidak ada upaya yang luar biasa dari pemerintah untuk meningkatkan minat baca. Saya juga tidak melihat kampanye-kampaye luar biasa dari pegiat literasi untuk meningkatkan minat baca. Kecuali oleh mbak Najwa Shihab, Duta Baca Indonesia saat ini, yang gencar berkampanye tentang pentingnya membaca buku melalui media sosialnya. Tapi ya hanya sebatas itu saja.

Bandingkan dengan iklan gadget atau operator seluler yang tiap hari gencar berpromosi tentang smartphone model terbaru atau paketan internet murah melalui berbagai media seperti televisi, koran, media online dan media sosial. Seandainya ada upaya segencar itu yang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan minat baca masyarakat terhadap buku, mungkin hasilnya akan lebih baik daripada saat ini.

Tapi walau bagaimanapun juga, sebagai masyarakat, kita tidak boleh selalu menunggu upaya pemerintah. Kita sebenarnya bisa membangun kesadaran sendiri terhadap pentingnya membaca buku ini. Salah satunya membulatkan komitmen untuk selalu membaca buku. ya seperti yang saya lakukan sekarang.

Ingat, bangsa yang baik dihuni oleh manusia-manusia berkualitas. Dan manusia berkualitas bisa terbentuk salah satunya dengan gemar membaca buku.

Akhir kata, walaupun terlambat, saya ucapkan selamat Hari Buku Nasional 17 Mei 2017. Semoga kesadaran rakyat indonesia terhadap pentingnya membaca buku semakin meningkat dan kebiasaan-kebiasaan orang Indonesia yang kurang baik bisa tergantikan dengan kebiasaan membaca buku.