Sekolah merupakan pintu menuju hidup bermasyarakat. 

Itulah kiranya yang diungkapkan oleh Direktur Pendidikan Yayasan Sukma Victor Yasadhana dalam tulisannya di Media Indonesia pada Senin, 5 November 2018. Pertanyaannya, apakah sekolah saat ini sudah menjadi miniatur masyarakat dengan segala macam bentuknya? Terlebih lagi, ancaman di masyarakat yang saat ini merebak adalah hoaks dan fitnah yang begitu merajalela?

Penulis kira belum. Hal itu didukung juga oleh observasi kecil-kecilan yang dilakukan oleh Founder Sekolah Cikal Najeela Shihab. Dalam akun Youtubenya, ia berdiskusi dengan dr. Tompi tentang fenomena pendidikan yang saat ini masih memprihatinkan. 

Buktinya, ia menemukan fakta yang menyimpulkan bahwa tingkat pendidikan seseorang tidak menjamin ia bisa terkena hoaks atau tidak. Bahkan, setingkat lulusan SMA tidak bisa menjamin bahwa ia bisa membaca sekaligus memahami isi berita yang ia baca. Dengan kata lain, memberantas buta huruf saja saat ini belum cukup, tetapi juga perlu mampu meningkatkannya dengan membaca bermakna. Apa iya seburuk itu?

Sebagai guru SMA di ibu kota, tepatnya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, penulis pun merasakan hal serupa. Sebagai guru Bahasa Indonesia, hal yang selalu ditekankan adalah keterampilan berbahasa yang terdiri dari menyimak, membaca, menulis, dan berbicara. 

Sebagai input dan output, keempat keterampilan ini perlu berimbang. Dari keempat keterampilan itu, yang perlu ditekankan adalah membaca. Kebiasaan membaca, terutama membaca bermakna, di abad 21 sekarang ini masih memprihatinkan.

Tajuk Rencana Kompas mengutip dari data Badan Pusat Statistik mencatat ada penurunan jumlah buta aksara pada usia 15-59 tahun. Pada tahun 2004 masih ada 15,4 juta penduduk yang buta aksara atau 10,2 persen dari jumlah penduduk, sedangkan pada 2010 jumlahnya turun menjadi 7,54 juta jiwa atau 5,02 persen dari jumlah penduduk. Pada tahun 2017, jumlah ini turun lagi menjadi 3,4 juta jiwa atau 2,04 persen dari jumlah penduduk.  

Masalahnya, hasil penelitian Perpustakaan Nasional tahun 2017 menunjukkan, frekuensi membaca orang Indonesia hanya 3-4 kali per minggu dengan lama waktu membaca per hari 30-59 menit. Tidak sampai satu jam. Waktu membaca ini jauh di bawah UNESCO, yakni 4-6 jam per hari. Adapun jumlah buku yang ditamatkan masyarakat Indonesia hanya 5-6 buku per tahun. Lantas, apa yang harus dilakukan penulis sebagai Guru Bahasa Indonesia?

Sejak mengajar pada tahun 2016 lalu, yang menjadi perhatian utama adalah membaca. Menurut sebagian besar siswa, membaca merupakan hal yang membosankan. Seperti halnya yang sering muncul dalam soal-soal Bahasa Indonesia, mereka anggap soal tersebut –biasanya berisi teks yang panjang- seperti koran. 

Sedangkan koran menurut mereka identik dengan kebosanan dan keseriusan. Sebagai guru, dari pandangan umum tersebut, hal yang dilakukan adalah membaca sastra. Mengapa harus sastra?

Sastra merupakan teks imajinatif. Siswa tingkat SMA seringkali gemar ketika diajak berimajinasi seperti halnya genre fantasi yang sering menjadi idola generasi sekarang. Program yang dijalankan bertingkat mulai dari pengenalan hingga pembiasaan. Pengenalan diawali dari kelas X semester I. Tahap ini, anak-anak diberi tugas menyelesaikan satu novel dengan genre bebas sesuai dengan selera masing-masing. 

Setelah membaca 1 novel, tidak berhenti sampai di situ. Setelah membaca novel, siswa harus mampu menceritakan kembali isi cerita tersebut lengkap dengan pemahaman isinya. Pemahaman isi itu mencakup berbagai persoalan seperti tokoh yang diidolakan, pesan moral, sosial, dan lain sebagainya. Pada intinya, yang ingin ditekankan di sini adalah tidak berhenti sampai membaca saja, tetapi siswa juga perlu memahami apa yang dibaca dari sudut pandang mereka masing-masing.

Sebagai guru yang hidup di abad 21, penyesuain dalam model pembelajaran pun tidak luput dari jangkauan. Penulis memanfaatkan literasi digital untuk menjadi media dalam menceritakan literasi berbasis sastra yang dilakukan. Literasi digital yang dimaksud berupa Youtube. Jadi, setelah siswa membaca novel yang mereka sukai, mereka menceritakan kembali novel yang sudah dibaca di depan kamera, lalu mereka mengunggahnya di akun Youtube kelas yang sudah mereka buat dengan kreativitas masing-masing. 

Ternyata, ketika media yang digunakan adalah Youtube, awalnya mereka tidak percaya diri. Akan tetapi setelah diberi motivasi, mereka secara berangsur-angsur berani untuk menjadi pembuat, bukan saja penikmat. Walaupun masih malu-malu.

Mungkin banyak yang mengkritik dan heran kenapa hanya satu buku, padahal standar dari UNESCO, yakni 4-6 jam per hari. Tingkat SMA memang miris jika hanya 6 bulan 1 buku. Namun, bagaimana lagi jika memang fakta yang terjadi di lapangan seperti itu? 

Mayoritas siswa yang dihadapi, ketika ditanya berapa buku yang sudah dibaca sampai umur mereka sekarang, hanya satu dua orang yang sudah pernah membaca buku sampai selesai. Selebihnya, mayoritas belum pernah membaca buku sampai selesai. Jadi, langkah awal itu untuk benar-benar menjamin bahwa siswa memang selama satu semester minimal membaca satu buku.

Akan tetapi, ternyata langkah yang dilakukan seperti itu tidak cukup berdampak dengan kebiasaan membaca siswa. Hingga akhirnya pada tanggal 31 Agustus - 2 Desember 2018, penulis berkesempatan mengikuti karantina Sekolah Guru Indonesia Literat di Bogor. Dari proses karantina itu, penulis mendapatkan ide menarik yaitu tentang ‘membaca bermakna’. 

Walaupun sebelumnya, hal yang dilakukan sudah masuk kategori membaca bermakna, tetapi masih perlu ditingkatkan dalam hal bahan bacaan yang bermakna. Memang, ketika melihat fenomena buku yang digemari oleh siswa SMA saat ini, tidak ada satupun novel klasik yang dipilih oleh siswa. Mereka seperti bersamaan mengusung tema yang sama, yaitu tentang cinta remaja, kenakalan anak SMA, dan sebagainya. Hal itu patut menjadi perhatian guru.

Saat di tempat karantina, penulis menyimak cerita dari rekan guru yang berasal dari Sumatera Barat. Bayangkan, ada seorang guru yang menjalani hidupnya terinspirasi dari tokoh yang ada di dalam novel. Ia mulai keluar dari desa terpencilnya di Sumatera Barat, hingga akhirnya memutuskan merantau ke kota Bandung mengejar impiannya. Keluar dari suasana desa menuju kota itu didasari oleh kekuatan fiksi. 

Mungkin tidak hanya satu, tetapi masih banyak lagi orang-orang yang terinspirasi dari buku –terutama sastra- yang ia baca. Dari cerita itu, perhatian tentang bahan bacaan pun tidak luput dari perhatian.

Berpijak dari pengalaman baru di Sekolah Guru Indonesia, penulis memulai bahan bacaan yang berbeda. Jika selama ini buku yang dibaca oleh siswa lebih ke arah populer, gilirannya mereka diarahkan untuk bacaan yang serius. Langkah awal yang dilakukan yaitu sistem tiket siswa. Sistem tiket yaitu setiap siswa wajib membaca satu cerpen saat masuk jam pelajaran Bahasa Indonesia yang penulis ampu. 

Cerpen yang dibaca dipilih dari cerpen yang ada di surat kabar nasional, ataupun pengarang yang mempunyai karya dengan ciri khas realitas sosial. Bukan hanya berbicara tentang cinta kasih anak-anak SMA, tetapi bagaimana memahami cinta dan kasih sayang terhadap alam, sesama, maupun Tuhan.

Jika bertanya kepada siswa tentang cerpen, mayoritas cerpen yang mereka baca hanya mencari di Google. Sedangkan pencarian yang muncul teratas untuk cerita pendek masih banyak yang belum memenuhi struktur lengkap serta masih berkutat pada kisah cinta remaja. Alasan pemilihan cerpen dengan tema realitas sosial untuk memberikan pelajaran kepada siswa tanpa harus menggurui. Kesadaran itu diharapkan mampu ditangkap oleh siswa melalui karakter tokoh maupun alur cerita yang disajikan.

Selain tiket masuk pelajaran dengan membaca cerpen setiap pertemuannya, siswa diberi kesempatan untuk maju dan menceritakan kembali cerpen yang sudah dibaca. Biasanya bergilir antara dua sampai tiga orang setiap pertemuannya. Dalam penyampaian cerita, hal yang selalu ditanya oleh penulis adalah, ‘jika kamu masuk ke dalam cerita itu, mau jadi siapa? Apa alasannya? Pertanyaan tersebut nantinya dapat menggambarkan sejauh mana pemahaman siswa tentang cerita, dan seperti apa karakteristik siswa itu sendiri.

Selain itu, literasi lain yang digerakkan adalah membaca novel. Jika di atas sudah diceritakan mengenai membaca novel populer, atau setidaknya novel pilihan mereka, kelas X semester II lain lagi. Siswa diajak membaca novel yang serius, seperti halnya cerpen yang sudah dibaca setiap pertemuannya. Novel itu dipilih dari pengetahuan penulis tentang pengarang yang menggambarkan kritik dan realitas sosial serta mampu memberikan pesan yang mendalam bagi pembaca. 

Penulis mencoba mengenalkan pengarang Indonesia lama, seperti Marah Rusli, Motinggo Busje, Pramoedya Ananta Toer, Abdul Moeis, Seno Gumira Ajidarma, Ahmad Tohari, serta beberapa pengarang lain yang tentu mempunyai karya-karya besar.

Secara tidak sadar, membaca ‘novel klasik’ akan membuka mata kita untuk tidak ahistoris. Beberapa hari yang lalu, surat kabar Kompas memuat penelitian yang dilakukan oleh Litbang Kompas mengenai sejarah. Gambaran soal pahlawan berubah di kalangan generasi milenial.

Hasil jajak pendapat itu menemukan fenomena baru bahwa mayoritas responden (81,6 persen) tidak setuju jika gambaran pahlawan diidentikkan dengan sosok yang merebut kemerdekaan melalui perjuangan bersenjata. Bagi kaum milenial, kepahlawanan di masa kini lebih terkait dengan perjuangan menyejahterakan masyarakat. Sebanyak 51,8 persen responden berpendapat seperti itu. 

Selain itu, 39,5 persen responden berpendapat nilai kepahlawanan kini terkait dengan perjuangan membela kebenaran. Hanya 4,6 persen kaum muda yang mengaitkan nilai kepahlawanan dengan perjuangan kemerdekaan.

Berpijak dari fenomena itu, kegiatan membaca sastra klasik yang berkaitan dengan sejarah juga bisa menjadi salah satu kontribusi untuk mengembalikan kesadaran mereka akan minat terhadap sejarah. Sastra itu fiksi. Fiksi itu imajinasi. Imajinasi tidak ada yang berasal dari ketiadaan, semuanya berasal dari keadaan. 

Namun, fiksi yang membuatnya lebih hidup dan berkesan. Jangan remehkan kekuatan fiksi, karena imajinasi dapat mengubah jalan hidup seseorang seperti cerita rekan penulis yang disampaikan di atas.

Bahasan di atas bukan hanya isapan jempol belaka. Pada kenyataannya, setelah siswa membaca beberapa cerpen yang terpilih dan juga novel klasik pilihan, ia mampu mengeksplor pengalaman imajinasinya itu ke pelajaran yang lain, seperti mata pelajaran Sejarah, PPKN, Agama, dan sebagainya. Pengalaman dalam novel yang mencerminkan masyarakat beserta semua aspek realitasnya mampu menuntun siswa memahami, terutama Sejarah. 

Belajar sejarah dengan fiksi bukan menekankan pada ingatan akan tanggal dan tahun, tetapi lebih kepada teladan dan kekuatan mental yang ingin disampikan lewat penulis fiksi. Hal itu diceritakan langsung oleh rekan guru Sejarah yang bersangkutan.

Selain itu, perubahan positif terhadap siswa juga terjadi pada mental dan perbendaharaan kata siswa. Novel klasik dan cerpen pilihan menggunakan diksi yang dapat memperkaya kosa kata siswa. Hal ini terbukti dari beberapa kali lomba debat yang diikuti oleh siswa. Siswa merasakan sendiri kepercayaan diri dan retorika berbicara yang lebih baik. 

Walaupun belum dilakukan penelitan secara ilmiah, tetapi pembiasaan membaca dan menceritakan kembali cerita di dalam kelas setidaknya menyumbang kemampuan itu.

Dari paparan di atas, jelas bahwa saat ini tidak hanya berhenti pada pemberantasan buta huruf dan peningkatan membaca saja, tetapi perlu ditekankan bahwa membaca itu harus bermakna. Tidak asal baca, hingga akhirnya pikiran mudah diadu domba.