Negara kita makin lama makin mistis, membuat bulu kuduk merinding. Desas-desus gaib tak punya wujud. Aah, ini halusinasi atau emang beneran? Darimana mistisnya?Dari jin-jin laknatullah, hehe.. yang suka memutarbalikkan fakta, mengadu domba, sombong, dengki sampai menyebar informasi tanpa bukti. Sebut saja mereka itu jin hoaks zaman milenial dengan HP berlabel canggih.

Gundah gulana, semrawutnya perpolitikan Indonesia tercinta, hingga jabatan yang mendua dari lingkup persepakbolaan Indonesia. Kapan juara internasional? Baru jadi kembang tidur, belum adalah sihir mandra guna untuk  mengutuk Indonesia jadi pemenang. Terlena dengan buaian, cepat puas pada hasil, mata duitan para penjabat tingkat tinggi hingga rendah di pelosok negeri. Pembohong-pembohong rakus yang mengeruk tangis rakyat kecil, impor yang tak berpikir ke bawah, tapi mengenyangkan perut tingkat dewa. Awas nanti meletus  perut gendut itu kena azab.

Saatnya Indonesia tahu diri, negara ini sedang tidak aman. Buka mata lebar-lebar, jangan kebanyakan mimpi dari tidur yang panjang. Jin-jin jahat bergentayangan siap menerkam jiwa-jiwa yang tidak berani mengumpulkan kekuatan. 

Bangkitlah, kumpulkan energi, bukankah kita merdeka juga karena bambu runcing bertuah? Sekarang mari kita rapal doa-doa, memanggil arwah Descartes supaya datang merasuki rakyat-rakyat tersayang. Khususnya dia, yang sedang tertawa di tahanan menikmati sel berbintang lima, atau para wakil rakyat yang sedang pelesir, bermain wanita atau tidur nyenyak di sofa terlembut sedunia. 

Sebelum memanggil arwah Descartes, mari berkenalan dengan dia. Jangan lupakan pepatah “tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”. Sudah saatnya kita jatuh cinta untuk sekian kalinya, dan sekarang mari kita mencintai pada sosok laki-laki  ganteng berhidung mancung. Dia yang sudah meninggal ratusan tahun lalu, namun masih gagah pemikiran dan kontribusinya membuka cakrawala pengetahuan. 

Mendongkrak popualaritas dunia Barat yang sekarang mewarnai dunia. Ayo maju Indonesia atau Eropa? Gantengan laki-laki Indonesia atau Eropa? Ups,cintai produk dalam negeri. Namun, mencintai produk pemikiran luar negeri apa salahnya? Takut dibilangin kafir, sesat, atau bid’ah dari golongan tertentu karena berkiblat pada dunia Barat yang anti agama itu? Usahlah ragu dan gundah, agama kita tetap sama, Islam Rahmatan lil’alamin. Oke.

Nama lengkapnya Rene Descartes sedangkan nama latinnya Renatus Cartesius. Lahir pada tahun 1596 di La Haye dekat Tours, Prancis Barat Laut.  Rene Descartes adalah seorang filsuf besar Perancis, ahli matematik, dan pelopor aliran rasionalis. 

Dalam filsafat ia mengemukakan metode kesangsian untuk merenungkan sesuatu sampai tidak ada keragu-raguan lagi. Ia pemikir hebat, mendayagunakan kekuatan akal pikiran semaksimal mungkin. Karena dia tipe orang yang skeptis, tidak mudah percaya akan sesuatu. Tapi bukan plin plan  atau  peragu, dia membangun kerangka berpikir secermat mungkin dengan metode-metode tertentu. 

Tidak asal berpikir lalu mengambil kesimpulan. Sehingga saking pemikirnya dia punya prinsip yang banyak dikenal di dunia intelektual khususnya dunia filsafat, “Cogito ergo Sum” artinya aku berpikir, maka aku ada. Kita akan dinyatakan keberadaannya, kalau kita berpikir secara mendalam. Berbuat menggunakan pikiran, tidak asal ikut-ikutan.

  Lemahnya Indonesia hari ini adalah rakyatnya yang jutaan, pejabatnya yang sekolah hingga ke luar negeri mungkin juga presidennya yang kalem, tidak terlalu menggunakan daya berpikir. Tidak mencermati setiap poros kejadian dari banyak titik-titik sudutnya. Semisalnya saja untuk menanggapi informasi-informasi yang berseliweran di dunia media. Saling lempar perasaan maupunMaka berpikirlah, radikal dalam menangapi sesuatu. Bukan radikal main bom-boman loh,  itu namanya Radikalisme, buka radikal versi tuan Descartes. 

Kekacauan negeri makin menjadi jika seluruh rakyatnya tak jeli dalam berbuat, Kekacauan negeri makin menjadi jika seluruh rakyatnya tak jeli dalam berbuat, menebar kabar hoaks hanya akan menguntungkan sebelah pihak. Pembuat onar dan adu domba, memanfaatkan kegaduhan untuk kepentingan sendiri. Contohnya saja tahun politik baru-baru ini. semua mudah tersulut emosi, mencaci mengiris hati, inikah masyarakat Indonesia yang berbudi dan beradab?

Kabar kebohongan kerap tersebar entah dari mana datangnya. Teruji kebenaran atau tidak belum bisa dipastikan. Memanfaatkan media sebagai pusat penebar kebohongan. Menggunjang ganjing pelosok warganet berujung pada dunia nyata. Isu-isu yang dipoles sedemikian rupa, tertata apik dengan urutan angka-angka dan dalil-dalil agama yang disuguhkan. Dikira itu informasi keberanaran, ternyata tidak lebih dari kabar rongsokan tanpa muatan kejujuran. Tapi sayangnya, sudah terlanjur disebarkan dan baper sejagat Indonesia.

Menilik rahasia mantra dari Descartes untuk kita semua, amalkan setiap hari, jangan berhenti. Tidak punya ukuran harus tiga, tujuh, empat puluh hari atau seperti layaknya amalan para pertapa yang bersemedi di gunung-gunung keramat. Buktinya meski bertapa lama, tidak juga membuat Indonesia semakin membaik. Dalam satu karya Descartes tentang metode untuk mendapatkan pengetahuan yang bersifat niscaya, dia mengajukan empat mantra. 

Pertama, jangan menerima apapun sebagai hal yang benar, kecuali jika kita mengenalnya secara jelas dan terpilah (clear and distinct) berdasarkan rasio (hindari ketergesa-gesaan). Kedua, Harus menganalisis (menguraikan bagian-bagian) sekecil mungkin, agar dapat memecahkan masalah lebih mudah dan lebih baik. Ketiga, menata masalah atau informasi yang didapat. Keempat, Merinci keseluruhan dan mengevaluasi kembali secara umum sampai kita yakin bahwa kesimpulan yang kita ambil tidak mengabaikan satu hal atau masalah pun.

Amalkan dengan baik agar arwah Descartes senatiasa hadir di dalam jiwa. Lebih selektif lagi menebar informasi. Berpikir selayaknya Descartes untuk mendinginkan kegaduhan negeri tercinta. Menduduki akal pikiran sebaik mungkin. Jangan baper terus, lelah rakyat kecil menunggu kebahagiaan. Tahun politik seharusnya mendidik. Bukan memperbodoh dan mematikan nalar untuk berpikir positif. Senyum ramah dalam doa, pada arwah yang terpanggil, Descartes, datanglah.