Sejatinya dalam hidup, kita selalu di hadapkan pada dua pilihan; baik dan buruk. Meskipun terkadang dalam kenyataannya kita hanya bisa menemukan diri berada dalam dilema asal menerima,  baik ataupun buruknya keadaan tersebut.

Hidup memang selalu bisa membuat kita harus puas dalam dilema itu, yang mungkin saja, tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Konflik misalnya, tidak ada seorangpun di dunia ini yang mengharapkan terjadinya konflik. Tapi toh kita harus juga menerimanya sebagai sebuah keadaan yang nyata.

Kita tidak pernah tahu mengapa dengan adanya perbedaan suku maupun agama, selalu melahirkan sentimen-sentimen primordial. Yang dimana, sikap fanatik terhadap primordialisme, membuat sebagian besar manusia memiliki sifat yang egosentris.

Hanya memandang kebenaran dalam versinya sendiri maupun kelompoknya, hingga menyebabkan pikiran menjadi tertutup. “Pikiran itu seperti parasut”, kata John Dewey (seorang pemikir dan filsuf Amerika bermazhab Pragmatisme), “hanya berfungsi ketika sedang terbuka”.

Penting kiranya bagi kita, untuk menjaga pikiran agar senantiasa terbuka pada hal-hal yang berada diluar dan berbeda dari kita. Teori dan metode learning by doing, sebagaimamana yang di anjurkan oleh John Dewey, terasa relevan untuk kita ambil sebagai sebuah rujukan.

Krisis kemanusiaan kian kita rasakan sebagai sebuah keniscayaan yang luput. Syahdan, kita harus bisa mengambil pembelajaran dari hidup sebagai pendidikan yang mendasar, “sebab pendidikan”, kata John Dewey pula, “tidak lain adalah hidup itu sendiri.”

Manusia dalam setiap tingkah-laku kehidupannya sebagai makhluk sosial, akan selalu membutuhkan orang lain. Kurangnya interaksi terkadang bisa membuat manusia kehilangan kemanusiaanya. Dalam teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow (1908-1970), dikatakan bahwa ada 5 tingkatan kebutuhan manusia yakni; kebutuhan dasar (fisiologis), untuk merasa aman, mendapatkan cinta dan kasih sayang, untuk dihargai, dan aktualisasi diri. 

Ketika salah satu dari tingkatan kebutuhan manusia itu tidak terpenuhi, maka akan berimbas pada, terjadinya konflik dan krisis kemanusiaan. Seperti konflik yang terjadi pada tanggal 14 desember 2012 di sekolah dasar Sandy Hook Amerika Serikat misalnya, dimana seorang remaja yang berusia 20 tahun bernama Adam Lanza masuk ke sekolah tersebut dan melakukan penembakan secara membabi-buta. Dan korbannya, menurut sumber yang saya baca di Wikipedia, sebanyak 28 orang termasuk si penembak dan ibunya sendiri.

Bagi saya, apa yang dilakukan oleh Adam Lanza merupakan imbas dari, tidak terpenuhinya kebutuhan manusia secara utuh. Aktualisasi diri yang salah kadang di lakukan seseorang hanya untuk mempertahankan diri secara fisik. Kurangnya rasa aman karena tidak mendapatkan cinta dan kasih sayang, membuat seseorang merasa tidak di hargai.

Itulah mengapa, orang tua (khususnya ibu) sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya, harus bisa menanamkan nilai-nilai dasar kehidupan dengan baik. Seorang anak terkadang memiliki keinginan yang bisa saja gagal dilihat oleh orang tuanya, yaitu merasa diinginkan.

Agama mengajarkan kebenaran atau kebanalan?

“Setiap anak,” kata Rabindranath Tagore, “datang dengan pesan bahwa tuhan belum jera dengan manusia.” Konflik-konflik terjadi seakan tak ada putus-putusnya. Agama sebagai landasan dasar agar manusia tidak kacau, terkadang justru menjadi alasan terjadinya kekacauan. Bagaimana mungkin dengan alasan agama, yang banyak mengajarkan tentang kebaikan, justru menjadi patokan kita untuk melanggengkan kejahatan?

Ketimpangan antara hubungan vertikal dan hubungan horizontaltelah banyak mengakibatkan krisis kemanusiaan. Hal yang harusnya kita pandang sebagai yang paling esensial dari apa yang dikatakan Tagore, bukanlah tuhan belum jera, tetapi tuhan masih percaya. Akankah kita menyalah-gunakan kepercayaan tuhan pada kita?

Konflik-konflik yang terjadi di dalam dan luar negeri, adalah bentuk penyalahgunaan kepercayaan yang diberikan oleh tuhan. Orang terkadang tidak bisa melihat makna “ Homo Homini Socius,” yang diungkapkan Driyarkara bahwa, “manusia itu teman bagi sesamanya,” Yang pada akhirnya akan melahirkan manusia-manusia yang disebut oleh Driyarkara sebagai “Homo Homini Lupus,” yakni manusia yang menjadi, “serigala bagi sesamanya.”

Jika konflik yang berlatar-belakang kebaikan dalam bentuk ketaatan pada tuhan menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan, maka tindakan-tindakan atas nama cinta kasih sesama manusia, bisa saja menjadi hal langka yang kelak akan kita rindukan.

Saya melihat, krisis toleransi dan kurangnya rasa saling menghargai—khususnya diindonesia akhir-akhir ini—sebagai bentuk paranoia yang akut. Akibatnya, konflik-konfik tidak lagi dipandang sebagai sebuah krisis kemanusiaan, tetapi jalan untuk saling mendominasi, yang bagi Antonio Gramsci, disebut sebagai Hegemoni.

Setiap kelompok, dengan ideologi dan rasa superioritas yang dimilikinya akan saling menanamkan pengaruhnya, yang pada akhirnya berujung menjadi, pergesekan akibat banyaknya perbedaan—juga tidak jarang berakhir menjadi konflik, baik secara fisik maupun verbal.

Tuhan menciptakan perbedaan di atas permukaan bumi ini, agar manusia belajar darinya. Bukanlah sesuatu yang luput dari pengetahuan tuhan, bahwa dengan perbedaan, manusia akan saling bertikai satu sama lain. Tetapi tuhan menaruh kepercayaan besar kepada manusia, bahwa hanya dengan itu, dalam amanahnya sebagai khalifah, manusia akan mampu menjaga alam dan seisinya.

Dengan pikiran, sebagai anugrah terbesar yang diberikan tuhan, manusia dibuat mampu untuk saling membedakan dan merasakan. Konflik itu sesuatu yang tidak bisa dihindari, meskipun begitu, setidaknya kita masih memiliki pikiran dan pilihan. Jangan sampai hanya karena konflik dan kepentingan, kita kehilangan esensi kemanusiaan. Bukankah semua manusia sama derajatnya dihadapan tuhan?

“Semua yang ada dibawah kolong langit,” kata Pramoedya Ananta Toer (dalam bukunya, Anak Semua Bangsa), “adalah urusan setiap orang yang berfikir.” Maka saling mengingatkan dan bukan malah saling menghujat, menjadi ihwal yang penting untuk ditanamkan dalam diri kita sebagai mahkluk yang masih memiliki pikiran. Mungkin saja, terlalu banyak berfikir bisa membuat seseorang menjadi gila.

Akan tetapi, dengan melupakan bahwa kita masih bisa berfikir, itu puncak dari kegilaan. Maka dari itu mari kita saling mengingatkan, jadikan perbedaan sebagai sesuatu yang menguatkan, bukan malah memisahkan. Jangan sampai generasi yang akan datang hanya bisa merawat sejarah yang kelam lalu meneruskannya.