Setiap orang tentu pernah menginginkan sesuatu atau fasilitas. Seorang mahasiswa, akan membutuhkan fasilitas untuk mendukung belajarnya di universitas. Misalkan saja, mahasiswa akan membutuhkan sarana misalkan laptop, smartphone, buku penunjang kuliah, uang saku, dsb. Namun bagaimana dengan pejabat negara kita? perlukah ia mendapat fasilitas?. Seperti kita tahu bahwa di Indonesia, para pejabat memiliki fasilitas yang mendukung kerja mareka misalkan mobil dinas, rumah dinas, dan tunjangan gaji yang cukup.

Namun ada pemberitaan yang menyebutkan bahwa para pejabat tidak mempergunakan fasilitas tersebut dengan semestinya. Penulis menemukan tulisan di bombastis.com yang mengatakan bahwa fasilitas seperti kendaraan, rumah dinas, lahan parkir, dan bahkan gedung tidak dirawat dan terkesan dibiarkan menganggur. Padahal untuk memberikan fasilitas tersebut negara sudah mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Sedangkan negara mendapatkan uang juga dari rakyat yang hendak memberikan fasilitas untuk menunjang kinerja para pejabat.

Augustinus, seorang filsuf dari abad pertengahan memiliki pandangan soal etika yang membedakan antara uti (memakai) dan frui (menikmati). Memakai dalam pemikiran Augustinus menyangkut segala sesuatu boleh kita pakai sejauh membantu kita mencapai tujuan kita diciptakan, yakni kebahagiaan dalam Allah. Augustinus menekankan soal memakai adalah sebagai sarana saja maka sifatnya relatif. Sedangkan menikmati akan membuat orang akan melenceng dari tujuan kita yaitu kebahagiaan dalam Allah.

Menilik pemikiran Augustinus tersebut kita bisa melihat bahwa Augustinus tidak meremehkan barang-barang materi, oleh karena barang materi dapat digunakan sebagai sarana, tidak lebih. Dalam peristiwa tersebut para pejabat memang sudah memakai fasilitas tersebut, namun perlu dikritisi lebih lanjut bahwa mereka seakan jatuh pada menikmati. Para pejabat seringkali masih kurang menerima fasilitasnya sehingga mereka sering menuntut lebih pada negara.  Mereka merasa bahwa kinerja mereka akan tertunjang dengan kehadiran fasilitas-fasilitas tersebut.

Penulis sangat miris melihat bahwa kejadian tersebut terjadi pada para pejabat yang diberi kepercayaan rakyat malah sibuk soal fasilitas. Setelah ada fasilitas nyatanya mereka tidak merawat dengan sebaik-baiknya pemberian itu. Mereka seakan ingin menikmati jabatan mereka dengan menuntut fasilitas yang katanya demi kinerja mereka. Kecenderungan menikmati dalam diri mereka membuat mereka lupa bahwa peran mereka sebagai pejabat negara adalah memperjuangkan kepentingan rakyat. Rakyat memilih mereka sebagai wakil supaya apa yang menjadi aspirasi rakyat dapat mereka sampaikan.

Aristoteles, seorang filsuf Yunani pernah mengatakan bahwa tujuan terakhir manusia adalah kebahagiaan (eudaimonia). Lalu bagaimana caranya mencapai tujuan tersebut? Aristoteles mengatakan bahwa kebahagiaan dapat dicapai dengan menjalankan keutamaan (arete). Misalkan ada seorang pembuat sepatu, ia akan berusaha membuat sepatu yang baik demi kebaikan bersama/bonum commune dalam negara (polis). Keutamaan ini tak lepas dari hidup bersama dalam polis/negara.

Melihat pandangan Aristoteles ini kita bisa melihat bahwa para pejabat sangat perlu untuk memiliki keutamaan. Jikalau seorang dikatakan sebagai pejabat, maka ia harus melakukan tugasnya sebagai aparatur negara yang baik, misalkan mendahulukan kepentingan rakyat dalam membuat kebijakan yang pro rakyat. Dengan memiliki keutamaan ini, para pejabat akan menemukan kebahagiaan oleh karena memiliki keutamaan.

Namun nilai keutamaan tidaklah proses yang mudah dilakukan. Seseorang yang ingin memiliki keutamaan harus melakukan proses yang panjang alias tidak instan. Menilik kembali peristiwa di atas, para pejabat perlu melihat kembali mengapa mereka melakukan pembiaran atas fasilitas-fasilitas tersebut. Apakah karena fasilitas tersebut tidak lagi bagus? Atau apakah fasilitasnya kurang mewah? kita tidak tahu.

Menikmati versus memakai memang akan kembali kepada motivasi seseorang menjadi pejabat. Jikalau ia memang ingin memperjuangkan rakyat dan tidak ada kepentingan-kepentingan pribadi ia tidak akan risau dengan fasilitas. Ia akan memakai fasilitas seperlunya dan yang lebih penting adalah bekerja untuk rakyat. Sedangkan jikalau seorang memiliki motivasi menjadi pejabat hanya karena ingin menikmati fasilitasnya saja, ia akan terus menerus mengejar kenikmatan itu. Fasilitas yang ada akan selalu kurang karena kurangnya sikap ugahari/tahu batas. Jikalau tidak memiliki sikap ini maka ia hanya akan menjadi pemuja kenikmatan, padahal keinginan manusia tak pernah ada habisnya.

Penulis kira nilai sense of belonging/rasa memiliki perlu juga dimiliki oleh para pejabat yang menggunakan fasilitas-fasilitas negara. Tidak terawatnya sebuah fasilitas negara tentunya karena tak adanya rasa memiliki dalam diri mereka. Percuma saja memiliki fasilitas sebagus apapun jikalau tidak ada rasa memiliki, ujung-ujungnya fasilitas tersebut cepat rusak. Kalau rusak, akan ada ungkapan “bagaimana kami bisa bekerja jikalau tidak ada fasilitas”. Padahal bukan karena fasilitas tidak ada, namun karena fasilitas yang ada tidak dirawat, karena kurangnya rasa memiliki.   

Memakai dan menikmati memang sudah lekat dengan kehidupan manusia. Penulis kira tidak hanya pejabat negara saja yang demikian. Sebagai seorang manusia yang ingin bahagia hendaknya kita punya sense of belonging terhadap apa saja, bukan hanya sekedar barang-barang material. Nilai keutamaan yang diajarkan Aristoteles penulis rasa juga dapat membantu kita mencapai kebahagiaan dalam hidup kita.