Di Pandang dari sudut sosiologi, agama ditafsirkan dalam berbagai cara disepanjang sejarah umat manusia. Sosiologi disamping teologi, telah menawarkan beberapa penjelasan yang mengesankan tentang fenomena agama.

Bagi para sosiolog-atau bagi mereka yang lebih suka memusatkan perhatian pada penomena tingkah laku daripada doktrin agama-peristiwa social termasuk agama itu  sendiri sepenuhnya adalah perbuatan manusia (Hisanori Kato, Agama dan Peradaban, 20, 2012).

Dicontohkan oleh para sahabat utama baginda Rasulullag saw, mereka begitu dinamis mencerna dan memahami teks suci juga sabda nabi. dikala itu telah dikenal fiqh Umar ra yang humanis karena dilatari kontektual yang  terjadi saat itu. ini menandakan bahwa memahami teks suci harus juga menyertakan sosio kultur. lebih tepatnya sosiologi agama.

Sekitar 843 tahun lalu ibn Rush, telah gigih menjaga marwah agama, beliau lebih populer sebagai seorang filsup muslim ketimbang keahlian nya dalam ilmu fiqh.

Ibn Rush telah mewariskan sebuah kitab klasik yang unik menghidangkan  keragaman mazhab, disajikan dengan dan tanpa menyudutkan salah satunya. Melainkan dituangkan dengan argumentasi dan landasan istimbatul hukmi yang dipakai oleh imam mazhab itu sendiri.

Ibn Rush telah  mengajarkan  dan mengapresiasi perbedaan dalam bermazhab sebagai sebuah kenyataan dalam memahami syariah. Karena bagaimanapun kerja ijtihad termasuk interpretasi dalam memahami teks suci juga sabda nabi tak mungkin tunggal. Sebuah interpretasi dipengaruhi dimensi ruang dan waktu. Dari itu imam Asyafe'i sendiri memperbaharui hasil pemikiran nya dikenal dengan istilah qaul qadim dan qaul zadid dan populer dikalangan santri yang tak mengenyang perguruan tinggi agamapun sekalipun.

Yang mengkaji fiqh mengetahui hasil ijtihad itu tak pernah tunggal, apalagi jika dilihat bagaimana daerah atau sosio kultural hukum itu ditetapkan. Dengan mengkaji keragaman fiqh seseorang tak akan mudah menghakimi sesuatu yang bersifat furu, apalagi langsung menjustifikasi munafikun, kafir wa ahwatuhum. Hanya karena pemahaman orang itu tak sesuai dengan apa yang telah di pelajari nya.

Memahami teks Wahyu tak bisa dilepaskan dengan konteks ayat itu turun, seorang mufasir dituntut tahu bagaimana sababaul nuzul teks Wahyu tersebut.

Dalam hal ini ulama nusantara semisal Syeikh Arsayad Banjar telah Moderat pada zamannya, karena mendialogkan tradisi lokal dengan teks suci tentang mawaris, dan yang dikedepankan keadilan nya, kenimbang memahami teks secara tekstualis. Dari itu di Banjar dikenal istilah adat perpantangan. Di Jawa dikenal harta gono - gini.

Kembali ke ibn Rush, dalam memahami teks hukum semisal ayat Al - Qur'an atau hadist terbagi kepada tiga hal yang disepakati ulama dan empat hal masih dalam debatable.

Yang tiga yaitu : pertama kata (لفظ) umum maksudnya umum, kedua kata khusus bermakna khusus, ketiga kata umum bermakna khusus atau sebaliknya.
Contoh pertama semisal ayat حرمت عليكم الميتت ولحم الحنزير .. Kata الحنزير dlm ayat tersebut bermakna umum. Sedang kan contoh umum tetapi maksudnya khusus seperti ayat tentang kewajiban zakat خذ من أموالهم صدقة تطهر هم و تزكيهم بها. Kata أموال لهمmenunjukan umum, tetapi telah disepakati khusus yaitu jenis harta yang wajib dizakati.

Sedang contoh khusus tetapi yang dimaksudkan umum ayat tentang wajib berkata baik kepada kedua orang tua. فلا تقل لهما اف... Itu bab tanbih با لا أدنى على ألا على

Karena demikian itu ada perintah dengan shigot amr dan terkadang menggunakan shigot khobar (berita) padahal yang dimaksudkan adalah amr atau perintah.
Ada juga teks shigot nahi atau larangan, atau shigot khobar (berita) padahal yang dimaksudkan adalah larangan.

Masuk kategori seperti diatas dalam hal penentuan kewajiban atau sunnah suatu perbuatan. Ini tak terlepas dari pemahaman istimbatul hukmi menggunakan kaidah ushul fiqh, tidak langsung ujug - ujug comot al - Qur'an atau hadits.

Begitu apik nya ulama dulu dalam menyampaikan ilmu, tidak seperti ustadz now yang ceroboh, hingga kata kotor mudah disematkan kepada orang lain yang tak sejalan.

Mengkaji fiqh saja begitu beragam, bagaimana bisa mau menyeragamkan. Islam landasan utama nya akidah yaitu sahadatain.
Sementara yang sifatnya muamalah sepanjang sejarah perjalanan Agama tak pernah final. Masuk kategori muamalah adalah konsepsi bernegara, karena diseluruh belahan bumi mayoritas muslim konsep bernegaranya berbeda-beda beda.

Nash itu ada qaht'i dialah juga dahni dhilalah, tidak bisa semua dipukul rata sebagai perintah.
Karena dalam ushul fiqh shigot amar dalam Al - Qur'an itu tidak serta merta merupakan perintah. Melainkan bisa bermakna selain itu , bisa menunjukkan larangan, mubah, makruh, dan anjuran.

Ajaran islam berlaku sepanjang zaman, selama ulama nya tidak terjebak pada teks suci dan ambisi suci merasa paling suci di bumi. Memahami pesan ilahi dibutuhkan tidak hanyapembacaan atas teks suci, melainkan diperlukan pula mengerti sejarah teks suci sekaligus melihat bagaimana  sahabat utama rasulullah memahami dan  mengejawantahkan dalam kehidupan riil saat itu.

Para rasul dan nabi membawa visi misi pembebasan umat dari kebodohan dan angkara murka. Karena itu Nuh as tak memaksa anaknya ikut kebahtera yang telah dibuat nya. Luth as tak menggunakan hak sebagai suami untuk memboyong istri nya atas nama agama dan tuhan supaya ikut dengannya.

Ibrahim as tak mendurhakai bapak nya karena pembuat berhala. Baginda Nabi Muhammad saw yg mulia tak memaksa pamanya Abu Thalib mengikuti ajaran nya.

Nabi Muhammad saw hanya gigih berdakwah dijazirah Arab, hingga ada analogi jika saja telapak kaki Rasulullah saw dicat merah tentu seluruh zazirah Mekkah penuh berwarna merah bekas langkah kaki Nabi Muhammad saw.
Pesan dakwah nya akhlak mulia dan menjunjung tinggi harkat derajat kemanusiaan.
Tidaklah ada paksaan sama sekali, sekalipun pada tawanan perang.

Semoga di zaman now terlahir mubaligh yang memiliki pemahaman komprehensif tentang islam. Yang bisa membangun peradaban umat manusia, bukan jadi bibit kebencian dan permusuhan, bukan pula mubaligh pembawa kejumudan sekaligus kerdil dalam Memaknai agama.

Karena kini ada yang anti simbol, palang merah dikira salib,hingga menurut nya harus diganti bulan sakit. Padahal bulan sabit sendiri simbol mitologi Yunani.

Islam sedari awal tak pernah alergi simbol, menara itu ada dalam tradisi Majusi fungsi nya sebagai tempat menyembah api. Dalam tradisi islam dimodifikasi untuk mengumandangkan azan. Begitu juga kubah itu budaya persia yang kala itu penganut Zoroaster.
Janganlah islam di nodai oleh kerdilnya pemikiran, karena di Kudus ada masjid berornamen pagoda.

wallahu alam