​Dalam proses kehidupan tentu kita mengalami yang namanya pasang surut. Dalam hal apa pun. dari masalah emosi yang terkadang bahagia juga terkadang sedih. Ekonomi yang terkadang kaya juga terkadang jatuh dalam posisi melarat.

Kalau kita menganut teori kausalitas, kita akan dibentangkan terhadap hal-hal yang selalu berkorelasi. Ada baik, ada buruk. Ada siang, ada malam. Ada laki-laki, ada perempuan. Semua materi yang terdapat di dunia ini adalah saling berkaitan. Karena itu, kita sangat membutuhkan yang namanya keseimbangan agar kehidupan ini dapat tetap berjalan.

Merujuk pada sastrawan termuka, Pramoedya Ananta Toer bahwa kita sebagai manusia harus berlaku adil. Bahkan, sejak dalam pikiran! Adil itu bukanlah gambaran dari persamaan. Bukan juga gambaran dari kesetaraan. Tapi, adil itu adalah gambaran dari keseimbangan. Mengapa demikian? Karena keseimbangan adalah syarat mutlak bagi berlangsungnya sebuah materi kehidupan.

Bayangkan saja jika setiap materi tidak saling berkaitan. Semisal hanya ada siang tanpa malam. Begitu seramnya jika setiap saat keluar rumah selalu disambut matahari yang menyengat. Bayangkan juga jika laki-laki tanpa ada perempuan! Apakah bisa manusia itu berkembang biak menghasilkan keturunan? Yang jelas alam ini akan mengalami kemandegan jika semuanya itu terjadi.

Begitu pentingnya menata pola pikir. Pola pikir yang nantinya akan menentukan apakah perbuatan yang kita lakukan itu bernilai atau tidak. Pola pikir juga merupakan sebuah sugesti yang mana sugesti itu akan berpengaruh besar pada tindakan.

Adalah sebuah hal logis jika Pram mengatakan bahwa adil itu seharusnya sudah sejak pikiran karena di sana adalah kunci, kunci yang akan membuka gerbang bagi ruangan yang begitu luas. Ruangan itu adalah dunia yang akan merealisasikan tindakan kita dari imajinasi yang ada di otak.

Konsekuensinya adalah pola kehidupan kita. Bagaimana mungkin alam ini akan terus berjalan seimbang jika tindak-tanduk kita tidak dapat diseimbangkan, bahkan sejak dalam pikiran? Suatu yang tidak begitu diperhatikan dalam pola kehidupan adalah kesadaran resiprokal. Bagaimana pemahaman kita sebagai manusia seutuhnya bisa tertuang dalam tindakan nyata.

Manusia difitrahkan mempunyai cinta. Sebab cinta itu pula, manusia menjadi humanis yang menjadi pembeda antara manusia dan mahkluk lain yang tidak berakal. Namun, sayangnya manusia kurang begitu memperhatikan apa dan bagaimana manusia itu secara utuh. Mereka tahu bahwa materi mereka berbentuk fisik manusia. Namun, di sisi lain mereka tidak menyadari bahwa keegoisan mereka selama ini bertentangan dengan nilai-nilai universal kemanusiaan.

Kekerasan banyak terjadi di mana-mana. Terakhir, bom molotov yang menewaskan seorang balita di Samarinda semakin menghilangkan manusia dari sisi kemanusiaannya. Mereka tidak menyadari bahwa balita yang meninggal karena bom itu juga mempunyai hak hidup di dunia. Sama-sama mempunyai kesempatan untuk berkontribusi memakmurkan peradaban manusia di muka bumi.

Amat disayangkan, pola pikir manusia-manusia beringas semacam ini masih ditemukan di era banyak manusia menyerukan kedamaian. Cara berpikir yang sempit dan dangkal seperti ini kontradiktif dengan ayat-ayat kemanusiaan dan keagamaan.

Mohamad Sobary, dalam sebuah kalimat pengantar dalam buku yang berjudul Republik Ken Arok karya Candra malik juga mengkritisi tentang dangkalnya pola pikir. Ia menulis pengantarnya dengan judul “Komunitas Pemuja Kedangkalan” yang tertuju pada komunitas yang menjadi konsumen sastra.

Ia mengkritik konsumen sastra yang semakin hari semakin tidak berkualitas. Terbukti dengan “laku”-nya karya-karya sastra yang hanya berisi hiburan semata. Namun, kejadian sebaliknya jutru terjadi pada karya sastra yang fokus pada kedalaman makna. Ini membuktikan bahwa hilangnya kesadaran resiprokal sudah terjadi di semua sisi kehidupan.

Sebuah sastra yang seharusnya menyampaikan makna dan pesan mendalam sudah tak lagi dihiraukan. Banyak yang abai terhadap hal yang justru menjadi kekuatan dari karya itu.

Pola pemikiran dangkal seperti ini sudah seharusnya diubah ke dalam tatanan kesadaran resiprokal, yaitu tentang apa yang saling berkaitan yang seyogianya ada pada suatu materi. Dengan kata lain, hikmah apa yang seharusnya disadari oleh manusia terhadap hal-hal yang semestinya menjadi timbal balik dari pola pikir dan tindakan tersebut.

Dalam sebuah nasihatnya Jalaluddin Rumi pernah mengungkapkan, “Lakukanlah jihad al-nafs, bunuh nafsu rendahmu, bersihkan hatimu!” Secara tidak langsung pesan ini berisi agar kita lebih memedulikan kesadaran nurani kita daripada harus memburu ego dan hiburan semata. Tentu yang sifatnya hanya sementara. Kembali kepada fitrah suci manusia sebagai mahkluk yang saling mengasihi dan menyayangi.

Tentunya fitrah itu direalisasikan dalam tindakan nyata sebagai konsekuensi dari saling berkaitannya materi yang ada pada diri dan pikiran manusia.