Kausalitas adalah dasar ilmu pengetahuan. Kausalitas atau hubungan sebab akibat adalah fondasi dasar dari ilmu pengetahuan, fondasi dasar dari sains. Jika segelas air dipanaskan maka akan berubah wujud menjadi gas, jika didinginkan berubah wujud menjadi es.

Kausalitas dalam ilmu alam itu mutlak dan tidak terbantahkan. Matahari selalu terbit dari arah timur dan tenggelam di arah barat. Titik didih air adalah 100 derajat celcius di negara manapun, di kota manapun, dididihkan dengan menggunakan kayu bakar, minyak tanah atau gas LPG hasilnya pun akan sama.

Namun, kausalitas sebagai sebuah konsep bukanlah segalanya. Kausalitas sebagai sebuah konsep hanyalah sebuah cara untuk menjelaskan bagaimana sesuatu terjadi. Dan pandangan ahli ilmu pengetahuan terhadap sebuah konsep kausalitas bisa jadi berbeda antara satu sama lain.

Sebagai contoh dalam pandangan ilmu formal seperti matematika, bahasa atau ilmu komputer, kausalitas ini hanya sebatas bagaimana menggambarkannya. Orang komputer menggambarkannya dengan konsep algoritma "If Then", orang bahasa menggambarkannya dengan aturan tata bahasa.

Kausalitas lebih cocok digunakan dalam ilmu murni. Orang kimia misalnya sangat peduli dengan bagaimana sebuah reaksi pembakaran yang tidak sempurna akan menghasilkan karbon monooksida (CO) sementara reaksi pembakaran sempurna menghasilkan karbon dioxida (CO2). Namun orang terapan seperti Teknik Kimia, melihat dari sisi yang berbeda. Kausalitas ini dianggap hanya sebatas dasar berpikir yang kemudian harus dicari bagaimana cara menerapkannya. Semisal bagaimana menerapakan katalis pada kendaraan bermotor untuk memfilter gas berbahaya.

Dari berbagai pandangan orang ilmu alam, ilmu terapan dan ilmu formal terhadap konsep Kausalitas, kita bisa melihat bahwa ilmu sosial memiliki pandangan yang paling abstrak terhadap konsep Kausalitas. Ilmu sosial memandang bahwa kausalitas merupakan sebuah keyakinan (belief) yang menganggap bahwa sebuah fenomena sosial bisa diprediksi dan dijelaskan sebab dan akibatnya.

Ilmu sosial sebagai contoh, meyakini bahwa untuk bisa melakukan modernisasi maka pendidikan harus mendapatkan prioritas. Sementara disaat yang sama, ada sebuah pandangan teori sosial lain yang melihat dari sisi yang sama sekali berbeda. Misalnya, meyakini bahwa untuk bisa melakukan modernisasi maka harus memprioritaskan pembangunan ekonomi terlebih dahulu.

Lalu apa bedanya ilmu sosial dengan agama? bahwa kedua-duanya berbasis pada sistem keyakinan (belief) dengan aturan main tertentu.

Orang eksak semacam orang matematika, kimia atau informatika meyakini sebuah kebenaran yang mutlak dan tidak terbantahkan. Namun, kebenaran mutlak tadi hanya sebatas benda mati seperti batu, air dan api. Kebenaran mutlak yang hanya sebatas mahluk hidup yang sederhana seperti tanaman atau binatang. Kebenaran yang sangat mutlak untuk segala aspek di dunia ini, kecuali satu hal: manusia.

Artinya, sebuah vaksin misalnya bisa saja suatu saat tercipta untuk mengobati penyakit tertentu pada manusia. Sebuah teknologi bisa saja tercipta untuk menciptakan energi terbarukan yang bersih dan berkelanjutan. Namun, ketika bicara bagaimana menerapkan vaksin tersebut pada masyarakat luas, nanti dulu, disini wilayah ilmu sosial. Namun, ketika bicara bagaimana implementasi energi terbarukan bisa berjalan, nanti dulu, disini wilayah ilmu kebijakan publik.

Ketika bicara mengimplementasikan, maka mau tidak mau, sadar atau tidak sadar, kita bicara mengenai sesuatu hal yang paling kompleks, sesuatu hal yang amat sangat sulit dipahami: manusia. Manusia yang by default, memiliki kelebihan dibandingkan benda atau obyek lain di alam semesta. Manusia memiliki sebuah sistem kepercayaan (belief system) yang berkembang dengan sangat kompleks, yang ilmu pengetahuan hingga saat ini belum bisa memahami bagaimana proses system syaraf manusia bekerja, bagaimana kesadaran (conscious) tercipta dan berbagai pertanyaan besar lainnya.

Artinya? buat saya sederhana saja. Agama butuh ruang.

Meski dari sudut pandang sains agama adalah sebuah mitologi budaya, namun dari sudut pandang agama, sains adalah sebuah alat bantu yang bisa mendorong kemajuan agama, atau dalam bahasa lain menempatkan porsi agama dengan terhormat.

Saya pikir, dalam keseharian kita, ada banyak pertanyaan yang tidak akan bisa kita jawab. Dari pertanyaan mudah mengapa keberagaman tidak akan pernah laku di Indonesia, hingga mengapa partai berbasis agama tidak akan pernah menang pemilihan umum di Indonesia.

Manusia adalah obyek yang sangat menarik. Dari 7.3 milyar manusia, obyek yang paling menarik adalah diri kita sendiri. Diri kita dengan banyak problematika dan kompleksitas didalamnya. Sebelum menjunjung tinggi konsep kausalitas, sebelum memegang teguh prinsip sains ilmu pengetahuan. Ada baiknya kita belajar mengenal diri kita sendiri terlebih dahulu. Tentunya paling mudah melalui ilmu pengetahuan, dengan cara yang sistematis dan terus menerus dan dengan sendirinya ruang itu akan hadir.