Sebenarnya saya tidak mau menulis tentang hal ini. Tetapi, seseorang yang saya hormati sangat suka membicarakannya di hadapan saya. Saya sudah bilang bahwa sikap saya dalam hal ini adalah sebuah syair di dalam kitab Zubad; Dan terhadap peristiwa yang terjadi di antara para sahabat, kami diam. Jadi saya diam.

Tetapi, pembicaraannya yang berulang kali di hadapan saya, seakan-akan mendesak agar saya mengambil sikap. Padahal sudah jelas, sikap saya adalah diam. 

Dia ingin solusi. Saya jawab, solusi saya adalah diam. Karena syubhat (kerancuan), kata al-Ghazali di dalam Ihya’ saat menjelaskan tentang akidah, ada internal dan eksternal. Bagi saya, membicarakan hal ini merupakan syubhat  eksternal.

Jadi, untuk menghindari syubhat ini, al-Ghazali juga menganjurkan untuk menghindari syubhat, solusinya adalah diam. Tentu saja, masih banyak alasan lain mengapa saya memilih diam dalam hal ini.

Awal Mata Rantai Kebohongan Pada Peristiwa Shiffin

Peristiwa Shiffin merupakan sebuah peristiwa di mana pasukan Irak di bawah bendera sayyidina Ali bin Abi Thalib dan sahabat lainnya, dan pasukan Syam di bawah bendera sayyidina Mu’awiyah bin Abi Sufyan, sayyidina ‘Amr bin ‘Ash, dan sahabat lainnya. Mereka semua berkumpul di Shiffin, sehingga terjadi sebuah peristiwa yang sangat disayangkan bisa terjadi.

Ketika korban pembunuhan sudah banyak bergelimpangan. Ketika pasukan Syam melihat banyak kaum muslim yang terbunuh, mereka mengangkat mushaf di atas kepala tombak dan menyuarakan tahkim (arbitrase) atas dasar mushaf itu. Kemudian, penduduk Irak menyepakati ajakan itu. 

Maka, terjadilah peristiwa tahkim. Dari titik ini, akan dimulai mata rantai kebohongan dan kebatilan yang sumber utamanya, sanadnya, berporos kepada enam sosok, yang ceritanya tidak satu pun bisa diterima.

Barangkali, di kesempatan lain penulis juga akan menjelaskan udzur syar’ie yang melatarbelakangi sikap sayydina Ali ra dan sayydina Mu’awiyah ra, dan mengapa jalan tahkim yang diambil.

Propaganda Hoaks 

Apa yang dikatakan oleh riwayat-riwayat batil, hoaks, dan bohong itu? Yang sayang sekali, informasi hoaks itu terkenal di berbagai kitab, mayoritas masyarakat mengetahuinya dan abai terhadap kebenaran. 

Konon, penduduk Irak menuntut Ali bin Abi Thalib agar Abu Musa al-Asy’ari sebagai representasi mereka. Ibnu ‘Abbas berkata kepada sayyidina Ali, menurut klaim (yaz’umun) mereka:

“Kenapa engkau mengangkat Abu Musa al-Asy’ari sebagai hakam (arbiter) mewakili urusan kami? Dia tidak berhak atas hal itu. Engkau sudah mengetahui pendapatnya tentang kita. Demi Allah, dia tidak menolong kita. Sesungguhnya, dia mengharapkan peristiwa yang sedang kita alami ini. Kemudian engkau malah mengikutcampurkan dia ke dalam urusan yang dia tidak berhak untuk mengurusinya.”

Perlu diperhatikan, syaikh Dr. Sa’id al-Kamali menggunakan redaksi yaz’umun, sebagai indikasi bahwa riwayat ini adalah hoaks. Redaksi yaz’umun berasal dari akar kata za’m yang di dalam literatur Usul Fikih berarti sebuah status argumen lemah yang tanpa dasar, bahkan kontra terhadap argumentasi kuat yang berdasar. Jadi, kisah dan percakapan tersebut tak lain hanyalah kebohongan tanpa dasar.

Pembunuhan Karakter Abu Musa dan ‘Amr bin al-‘Ash

Para pembohong itu ingin menggambarkan sosok Abu Musa al-Asy’ari sebagai seorang yang dungu dan kurang cerdas. Mereka juga menggambarkan ‘Amr bin al-‘Ash sebagai sosok penipu, licik, dan pembohong. Berikut kisah bohong itu;

Kemudian, ketika Abu Musa al-Asy’ari dan ‘Amr bin al-‘Ash bertemu, di dalam riwayat yang masyhur tapi bohong itu, mereka menyatakan bahwa Abu Musa al-Asy’ari memecat Ali bin Abi Thalib, sedangkan ‘Amr bin al-‘Ash memecat Mu’awiyah bin Abi Sufyan, lalu mereka berdua menyerahkan urusan ini kepada kamu muslimin untuk memikirkan dan memutuskan.

Mereka mengklaim, bahwa Ibnu ‘Abbas memperingatkan Abu Musa al-Asy’ari agar berhati-hati terhadap orang seperti ‘Amr bin al-‘Ash. Pada poin ini, tujuan mereka adalah menggambarkan bahwa Abu Musa itu adalah orang dungu yang tidak mau mengerti situasi dan masuk perangkap.

Kemudian, ‘Amr bin al-‘Ash membiarkan Abu Musa al-Asy’ari berbicara terlebih dahulu. Abu Musa pun berkata, “Sesungguhnya saya memecat kawan saya dari urusan ini, sebagaimana saya menanggalkan pedang ini dari punggung saya”. Kemudian dia menanggalkan pedang dari punggungnya.

Kemudian ‘Amr bin al-‘Ash maju untuk berbicara sesuai kesepakatan, “Sesungguhnya orang ini sudah memecat kawannya, sebagaimana telah kalian dengarkan. Sedangkan saya meneguhkan kawan saya sebagaimana saya meneguhkan pedang saya ini di bahu saya”. Kemudian dia mengalungkan pedangnya. Hati-hati, ini adalah kisah bohong. Nanti, masih di dalam tulisan ini, akan dijelaskan mengapa informasi ini adalah kebohongan.

Sangat disayangkan, syaikh Ramadhan al-Buthi juga mengutip secara singkat dialog semacam ini di dalam Fiqh as-Sirah­-nya.

Di saat itu, mereka mengklaim bahwa Abu Musa al-Asy’ari menoleh kepada ‘Amr bin al-‘Ash dan berkata, “Sesungguhnya, kamu ini mirip anjing. Jika engkau menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya dia menjulurkan lidahnya lagi.” 

Kemudian ‘Amr bin al-‘Ash menjawab, “Sesungguhnya kau mirip keledai yang membawa beberap kitab”. Lalu mereka pun bubar. Ini adalah kisah yang sangat terkenal, meskipun kisah bohong.

Bukti Kebohongan Kisah

Kebohongan kisah di atas bisa dilihat dari dua hal. Pertama, dari sisi tranmisinya (sanad). Kedua, dari sisi analisa (matan).

Barangkali akan ada yang membantah, “Bagaimana mungkin kisah ini bohong, padahal kisah ini diriwayatkan oleh ath-Thabari, Ibnu Sa’ad, Ibnu al-Atsir, Ibnu Jawzi, dan lainnya”. Syaikh Sa’id al-kamali menjawab:

“Saya katakan pada kalian, bahwa ath-Thabari, Ibnu Sa’ad, Ibnu al-Atsir, Ibnu Jawzi, dan lainnya tidak mensyaratkan bahwa riwayat yang mereka sampaikan adalah sahih (valid), sehingga riwayat mereka tidak bisa dijadikan dalil. Mereka hanya meriwayatkan sesuai sanad yang mereka peroleh.”

Al-‘allamah Muhammad Zahid al-Kautsari (1879-1952 M) mengajukan sebuah kaidah yang relevan untuk persoalan semacam ini, sebagaimana dikutip oleh Dr. Sa’id al-Kamali, “Kualitas riwayat ath-Thabari adalah kualitas sanadnya”. Jika ingin mengetahui kualitas konten riwayat ath-Thabari, maka lihatlah sanadnya. Jika di dalam sanad yang dia riwayatkan terdapat seorang pembohong, tidak diketahui statusnya, maka konten yang diriwayatkan tidak ada harganya sama sekali. Jika sanadnya berisi orang-orang yang jujur, maka riwayat itu bisa diterima.

Maka, mari kita lihat siapa saja sanad yang menjadi pondasi dari bangunan dongeng di atas.

Enam Sumber Penyebar Kebohongan

Semua cerita di atas, tutur al-kamali, riwayat-riwayatnya berporos pada enam orang, yaitu Muhammad bin ‘Umar al-Waqidi, Abu Bakr bin Abi Sabrah, Ibnu Abi Farwah, Abu Mikhnaf Luth bin Yahya, Abu Janabah al-Kalbi Yahya bin Hayyan, dan Muhammad bin as-Sa’ib al-Kalbi.

Poros pertama, Muhammad bin ‘Umar al-Waqidi. Ibnu Hanbal berkata tentang orang ini “Dia adalah pembohong (kadzdzab)”. Imam al-Bukhari berkata tentang orang ini, “Al-Waqidi ini hadisnya matruk”.

Poros kedua, Abu Bakr bin Abi Sabrah. Ahmad Ibnu ‘Adi berkata tentang orang ini bahwa dia pemalsu hadis dan membuat-buat cerita.

Poros ketiga, Ibnu Abi Farwah. Abu Hatim ar-Razi dan Abu Zur’ah ar-Razi berkata tentang orang ini, “Hadisnya matruk”.

Poros keempat, Abu Mikhnaf Luth bin Abi Yahya. Ibnu hajar berkata tentang orang ini, “Dia adalah sejarawan cacat yang tidak bisa dipercaya”. Ibnu ‘Adi berkata tentang orang ini, “Dia adalah seorang syiah yang membuat-buat cerita”.

Poros kelima, Abu janabah al-kalbi. Abu Zar’ah berkata tentang orang ini, “Riwayatnya mudallas

Poros keenam, Muhammad bin as-Sa’ib al-Kalbi. Ibnu ‘Asakir berkata tentang orang ini, “Dia adalah syi’ah rafidhah yang tidak bisa dipercaya”.

Mereka berenam, yang bisa anda nilai sendiri kualitasnya, adalah pondasi yang membangun cerita di atas. Lalu bagaimana mungkin dongeng pembohong, lemah, dibuat-buat, dan tidak bisa dipercaya, bisa dijadikan dalil, apalagi untuk mencaci maki dan menjelekkakan?!

Abu Musa al-Asy’ari

Kritik sanad di atas sebenarnya sudah cukup untuk menyatakan bahwa kisah dan percakapan antara Abu Musa, ‘Amr bin al-‘Ash, yang melibatkan Ibnu ‘Abbas tak lebih dari hanya sekedar kebohongan yang didengung-dengungkan untuk menurunkan kredibilitas para sahabat. 

Barangkali pada kesempatan lain penulis akan menjelaskan siapa sebenarnya para sahabat itu, kualitas mereka, dan komfirmasi al-Quran dan Rasulullah saw terhadap mereka.

Selanjutnya, akan dijelaskan sekelumit kualitas Abu Musa al-Asy’ari dan ‘Amr bin al-‘Ash.

Mereka menggambarkan Abu Musa sebagai sosok dungu dan kurang cerdas. Hal itu tidak logis berdasarkan fakta bahwa Abu Musa pernah diangkat oleh Rasulullah sebagai wali di Yaman, diangkat wali oleh Umar di Bashrah, diangkat wali oleh Utsman di Kufah. 

Bagaimana mungkin seseorang yang berkali-kali dipercaya sebagai wali adalah sosok orang yang dungu dan kurang cerdas. Misalnya saja, andaikan, dia diangkat wali sekali saja,  lalu tidak becus, maka dia tidak akan diangkat wali lagi.

Tetapi kenyataannya dia diangkat berulang kali, yang hal ini menunjukkan bahwa dia adalah sosok yang berkebalikan dari tuduhan yang didengungkan oleh para pembohong itu.

Perhatikan lagi bahwa dia diangkat oleh Umar bin al-Khaththab. Umar dikenal sangat memperhatikan, berhati-hati, teliti, dan tegas di dalam urusan keislaman. Umar memilih Abu Musa secara khusus untuk diberi kitab qadha’ dan tidak diberikan kepada orang lain. 

Kitab ini diberi syarah oleh Ibnu al-Qayyim menjadi dua jilid kitab besar dan terkenal. Bagaimana mungkin Umar akan mengangkat wali terhadap orang yang dungu dan akalnya lemah?!

‘Amr bin al-‘Ash

Lalu tentang ‘Amr bin al-‘Ash. Rasulullah saw bersabda di dalam hadis sahih, Masyarakat memeluk Islam, sedangkan ‘Amr bin al-‘Ash sudah beriman. Di dalam hadis lain disebutkan, ’Amr bin al-‘Ash dan saudaranya adalah dua orang beriman.

Barangkali tidak usah diperdebatkan lagi tentang perbedaan Islam dan iman, lalu tentang kualitas hirarkis antara kedua terminologi ini. ‘Amr bin al-‘Ash bukan hanya Islam, tetapi juga menempati kualitas beriman berdasarkan sabda Rasulullah saw.

Coba perhatikan, di dalam dongeng bohong di atas terdapat ucapan ‘Amr bin al-‘Ash, “saya meneguhkan kawan saya.”

Pertanyaannya, tutur al-kamali, meneguhkan apa ‘Amr bin al-Ash? Yang bisa ditangkap dari pernyataan ini adalah meneguhkan khilafah. Cerita ini ingin menggambarkan bahwa Ali dan Muawiyah adalah dua sosok yang berperang memperebutkan kursi khilafah.

Mu’awiyah sendiri pernah berkata, sebagaimana riwayat Ibnu ‘Asakir, bahwa dia tidak melawan Ali kecuali dalam konteks pembunuh Utsman. ini bukti bahwa Mu’awiyah tidak berusaha merebut kekhilafahan, sebagaimana dituduhkan oleh para pembohong itu. Barangkali pada kesempatan lain akan penulis jelaskan lebih panjang tentang hal ini.

Pertanyaannya, apakah Muawiyah adalah khilafah pada waktu itu? Tidak! Dia adalah amir di Syam, diangkat wali oleh Abu Bakar. Pada masa Umar hingga masa Utsman, bahkan hingga terjadinya fitnah ini, jabatan itu tetap dipercayakan kepada Muawiyah. 

Muawiyah tidak pernah mengaku khalifah, dan tidak seorang pun yang mengakui bahwa dia adalah khalifah, pada waktu itu. Lalu, ‘Amr bin al-‘Ash meneguhkan apa terhadap kawannya itu?! Ini berarti bahwa redaksi ucapannya itu bermasalah dan jelas dibuat-buat.

Bahkan, Muawiyah tidak menjadi khalifah, kecuali setelah terbunuhnya Ali bin Abi Thalib dan pengunduran diri Hasan bin Ali. Lalu dua pihak yang bertikai itu berdamai, sesuai ramalan (nubuwat) yang disabdakan Rasulullah saw saat Hasan masih kecil, Cucuku ini adalah sayyid, dan Allah akan mendamaikan dua golongan besar kaum muslim melalui cucuku ini

Jadi, setelah itu baru Muawiyah adalah khalifah. Sebelum itu, dia bukan khalifah dan tidak ada yang bisa diteguhkan oleh ‘Amr. Jadi, redaksi utsabbitu (saya meneguhkan) merupakan bukti kebohongan riwayat itu.

Lalu Sebenarnya Apa Yang Terjadi?

Berdasarkan sanad yang bersih, tutur al-Kamali, yang sebenarnya terjadi adalah, bahwa penduduk Syam ketika melihat banyak korban terbunuh, mushaf diangkat, dan penduduk Irak menyepakati arbitrase. 

Penduduk Irak berpendapat bahwa orang yang paling pantas sebagai representasi mereka untuk arbitrase adalah Abu Musa al-Asy’ari. Kenapa? Karena Abu Musa al-Asy’ari menolak berperang sejak awal.

Perlu diketahui, pada waktu itu para sahabat ada yang bersama Ali dan ada yang bersama Muawiyah. Ada juga sahabat yang menghindari fitnah, tidak bersama Ali dan tidak pula bersama Muawiyah, di antaranya adalah Abdullah bin Umar, Sa’ad bin Abi Waqqash, Muhammad bin Muslimah, dan Abu Musa al-Asy’ari.

Ketika fitnah itu mulai timbul, dan dua pihak mulai berhimpun, orang-orang Ali pergi ke Kufah, di mana Abu Musa al-Asy’ari waktu itu adalah amir di Kufah. Mereka mengajak agar masyarakat bergabung dengan Ali bin Abi Thalib. 

Maka pada saat itu, Abu Musa berdiri dan berkhutbah di depan publik, memperingatkan masyarakat agar tidak bergabung dengan kelompok mana pun, baik kelompok Ali maupun kelompok Muawiyah. Dia mengingatkan masyarakat terhadap sabda Rasulullah saw tentang fitnah;

Orang yang duduk di saat fitnah itu lebih baik daripada orang yang berdiri”, dan hadis “Pecahkanlah busur kalian. Potonglah pecahan busur itu tadi. Tetaplah di dalam rumah. Jadilah kalian seperti salah satu anak Adam yang terpilih”. Maksud dari menjadi salah satu anak Adam yang terpilih adalah, “Hindarilah fitnah!”.

Salah satu anak Adam yang terpilih ini merujuk kepada kisah di dalam al-Quran, surat al-Maidah 27-28; “Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah dua putra Adam. Ketika keduannya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, ‘Sungguh, saya pasti membunuhmu!’ 

Dia (Habil) berkata, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa. Sungguh, jika engkau menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, saya tidak akan menggerakkan tanganku kepadadamu untuk membunuhmu. Saya takut kepada Allah,  Tuhan seluruh alam’

Ketika korban pembunuhan banyak bergelimpangan, penduduk Irak melihat bahwa Abu Musa al-Asy’ari adalah sosok yang menasehati kaum muslim dan tidak menghendaki mereka ikut campur fitnah, karena itu penduduk Irak memintanya untuk menjadi representasi mereka.

Kemudia dia dan ‘Amr bin al-‘Ash sepakat untuk menyelesaikan pertikaian ini diserahkan kepada sekelompok orang yang diridhoi oleh Rasulullah saw hingga beliau wafat. Setelah itu, mereka pun bubar. Lalu terjadilah peristiwa yang terkenal, yaitu munculnya kelompok Khawarij dan pembunuhan Ali. Kesepakatan perdamaian itu pun tidak terlaksanan.

Sikap Kesatria

Seseorang yang hendak berbicara tentang peristiwa ini, al-kamali memberi nasehat, hendaknya bersikap kesatria, yaitu dengan cara berbicara sesuai ilmu dan agama. Sesuai ilmu maksudnya adalah menelaah secara kritis, sebagaimana dijelaskan di atas, dan tidak menisbatkan perkataan apapun kepada orang yang tidak mengucapkannya dan tidak melakukannya.

Ini adalah metode yang diciptakan oleh kaum muslim, metode kritik sanad dan matan, yang lebih canggih dari metode footnote, bodynote, dan endnote. Sejarawan atau sosiolog yang ingin berbicara tentang peristiwa ini seharusnya mengerti apa itu yang dikenal ilmu mushthalah al-hadits.

Berbicara sesuai agama, hendaknya seseorang mengetahui bahwa para sahabat adalah orang-orang yang secara nash diridhoi Allah dan mereka meridhoi Allah (at-Taubah [9]: 100, al-Fath [48]: 18, al-Hasyr [59]: 8). Rasulullah saw bersabda, di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim;

Janganlah kalian mencaci sahabatku. Seandainya salah satu dari kalian membelanjakan emas sebesar gunung Uhud, itu tidak akan setara dengan satu mud mereka

Karena itu, para ulama menjadikan persoalan sebagai bagian dari hal yang seharusnya diyakini oleh kaum muslim. Al-Qayrawani al-Maliki berkata di dalam bab fi ma yanbaghi i’tiqaduhu, yaitu wa al-imsaku ‘an ma syajara baynahum wa an la yudzkara illa bi khayr.

Melihat rumitnya persoalan ini, hendaknya seseorang tidak gegabah mengambil sikap, apalagi sampai mencaci maki para sahabat yang secara nash al-Quran diberi kualitas radhiyallahu ‘anhum wa radhu ‘anh

Tidak mencaci sekalipun, seseorang yang tidak mampu memilah sumber terpercaya, hendaknya mengikuti petuah al-Qayrawani, wa al-imsaku ‘an ma syajara baynahum wa an la yudzkara illa bi khayr (tidak ikut campur terhadap peliknya persoalan mereka dan tidak menyebutkan mereka kecuali kebaikannya saja).

Jika sudah merasa mampu memilah sumber terpercaya dan daya kritis serta ilmu yang mumpuni (bukan hanya daya kritis), dalam masalah ini dia akan terbentur pada enam sosok di atas.