Selepas sholat tarawih malam itu, di warung kopi samping masjid, Midin temenku sedang di kasir hendak membayar 3 cangkir kopi sekaligus sebungkus rokok depan. “Alhamdulillah, rejeki orang soleh, barusan di kasir ketemu teman lama,aku ditraktirnya, mantap lah .. “, celetuk Midin . “Sampean itu ya, bener sih mengucap alhamdulillah, tapi masih diembel-embelin rejeki anak soleh segala, walau beneran kamu soleh Din, tetap saja itu menunjukkan ke-akuanmu yang kronis, sampai harus ada alasan kenapa dapat rejeki, dan alasannya harus karena “aku”-mu itu, hehehe”, komentar Sugeng yang suka kritis campur kepo. “Jangan salah Geng, kultum kemarin temanya tentang amal soleh dan kesolehan, masak lupa?, kata mubalighnya, dunia ini akan diwarisi oleh hamba-hamba yang solih, itu ayat lho bukan hadits lagi “,  Midin mencoba membela diri.

Menarik juga ucapan Midin ini. “Dan sesungguhnya telah Kami tulis dalam Zabur setelah Adz-Dzikr  bahwasanya bumi itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shaleh.” (QS. Al-Anbiya: 105). Demikian kutemukan ayatnya. Berita ini tentang manusia, universal tidak menyebut agama,manusia, dan diberitakan sejak era nabi-nabi Israel. “Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS 16:97). Dan banyak ayat lagi. Apakah ini tentang kehidupan dunia saja, atau akhirat saja atau keduanya?, hanya Tuhan yang tahu, tetapi textnya adalah dunia dan kehidupan.

Bagaimana realitanya?. Saat ini dunia secara penampakan diwariskan kepada bangsa-bangsa Amerika, Eropa, China,Korea,Jepang. Secara individu tampak dunia ini diwariskan kepada Zuckenberg, Elon, Jack Ma, Bill Gates. Di Indonesia sendiri, kita tahu semua sejumlah nama besar orang sukses. Aku berfikir beberapa kali untuk mengatakan mereka orang soleh. Dalam benakku, orang soleh adalah yang mengamalkan serangkaian ritual ibadah dengan baik, konsisten, melakukan kebajikan dalam bentuk infaq, menuntut ilmu agama dan menyebarkannya, serta taat hukum. Kenapa teori berbeda dari kenyataan ya?, apakah Tuhan salah, menangguhkan, atau aku yang salah tafsir tentang definisi kesolehan?, kenapa para solihin yang kukenal tidak terdengar kiprahnya di dunia ini?.    

“Jangan dipikir terlalu serius Mas, setres jenengan nanti”, celetuk Sugeng. Bukan begitu, setiap hari dicekokin dengan anak soleh, berbuatlah amal soleh, tapi kok jadi tidak faham seperti apa amal soleh itu. Selain itu, jika selevel ayat menimbulkan pertanyaan, aku biasanya insomnia malam harinya. Jika perbuatan soleh itu adalah amal kebajikan, apakah kebajikan yang dilakukan non muslim bisa disebut soleh?.

Benar saja, malam itu aku susah tidur, dan mulai membuka catatan-catatan lama, termasuk sejumlah tausiyah beberapa kyai dan tokoh agama. Tidak lupa browsing-surfing, dan chat dengan teman-teman se-peminatan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) saleh adalah pertama, taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah. Kedua, suci dan beriman. Kesalehan adalah ketaatan dalam menjalankan ibadah;kesungguhan menunaikan ajaran agama. Bener dong aku, tapi sebentar, itu kan kata KBBI, dan kata soleh berasal dari bahasa Arab. Dan jika benar itu maknanya, maka aku tetap insomnia, karena memperkuat fakta bahwa yang mewarisi dunia ini bukan orang soleh kok.

Dalam sebuah tulisan di salah satu media, Al-Ustadz Muhammad Hisyam menulis: Secara etimologi, kata shalih berasal dari shaluha-yashluhu – shalahan yang artinya baik, tidak rusak dan patut. Sedangkan Shalih merupakan isim fa’il dari kata tersebut di atas yang berarti  orang yang baik, orang yang tidak rusak dan orang yang patut. Baiklah, masuk nih, di list kemungkinan bahwa perbuatan solih adalah perbuatan yang proper atau sesuai kepatutan, belum/tanpa embel-embel agama.

Kemudian, karena itu ayat Quran, maka aku mencoba mencari penjelasannya di Quran juga, biasanya sebuah kata atau terma selalu bisa diurai maknanya merujuk kepada ayat lain dalam konteks yang sama atau berbeda. Itu hebatnya AlQuran. Kata “sholih” disebut 180 kali dalam Alquran dalam berbagai bentuk kata kerja, kata benda, active participle, dll.

Mengejutkan, ternyata terjemahan textualnya saja, dalam bahasa inggris, kata solih dalam sejumlah ayat berarti : righteous, make peace, reform,amend, reconcile, do right thing, improve, good deeds, concilication.reformers, cured. Lebih banyak tentang hal “duniawi” atau hubungan sosial kemasyarakatan, beberapa memang menyinggung tentang ganjaran/pahala tetapi selalu dirangkai dengan kata “beriman dan beramal sholih”. Kemudian lagi, “…….dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya (ba’da ishlaahihaa)”(QS:7:85), dan banyak ayat lain.

Setelah kuhimpun dan ku-fomulasi-kan sebisanya, bahwa tidak diragukan lagi amal solih, adalah perbuatan kepatutan secara umum. Bisa dalam bentuk mendamaikan pihak yang bertikai, perbaikan, perubahan, intinya perbuatan solutif. Perbuatan soleh adalah perkara dunia, tidak terkait agama apapun, dan pelaku perbuatan solih itu akan mendapat buah kebaikannya di dunia, namun jika perbuatan soleh disertai dengan keimanan, maka akan mendapatkan pula buahnya di akhirat. Demikian hasil pengumpulan dari sejumlah ayat yang mengandung kata dasar shalih.

Lalu,bagaimana kaitannya dengan para pewaris dunia,yang kusebutkan di atas, yang selama ini aku tidak tega menyebutnya sebagai bangsa-bangsa yang soleh, atau orang-orang soleh?, ya begitulah harus kuakui mereka soleh. Setidaknya aku mendapatkan dua hal : pertama,  ayat tentang informasi bahwa dunia akan diwariskan kepada hamba-hambaKu yang solih adalah sesuai kenyataan, kedua, aku tidak ragu lagi bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat kepatutan, kebajikan, orang soleh.  Sebab mereka melakukan perubahan ke arah baik, sebagian berjuang untuk perdamaian,  sebagian melakukan penelitian dan menghasilkan pengobatan, dan banyak inovasi perbaikan lainnya di dunia ini. Cukup layak diwarisi buah kesolehan, mereka menguasai dunia.

“ Jadi aku termasuk orang solih bukan?”, kata Midun besoknya setelah aku ceritakan renungan satu malam tersebut, di warung kopi yang sama. “ Termasuk Din, sebab awakmu sering membuat kita  bahagia, buktinya temenmu itu baik sama kamu, tapi tetap saja ke-akuan-mu masih ada, makanya belum meguasai dunia “, serobot Sugeng dengan tidak rela . Malam itu kami pulang agak cepat, karena aku tidak lagi insomnia seperti kemarin.