Aku tidak pernah melihat foto itu lagi. Sengaja kusimpan baris terbawah tumpukan foto-fotoku. Masih aku ingat jelas albumnya. Kubeli ketika di Boston tahun 2000 dengan sampul malaikat biru menghias di luarnya.

Aku memang tidak mau mengingatnya lagi, meski makin kuhapus, makin tebal tinta pengingat itu muncul di memoriku. Aku tahu, masa lalu memang tidak bisa kuusir pergi. Aku hanya bisa memaknai masa lalu itu. Dan itulah yang terjadi.

Setiap aku berdua dengan anakku, selalu kutatap bening matanya. Sorot nakal, mbeling, ingin tahu, dan segudang sinar di matanya. Kadang mata itu sendu, terutama kalau aku bilang, “Bunda boleh bicara?” Dia akan jawab, ‘Iya, ada apa?”

“Kamu ingin punya ayah?” tanyaku.

Ia pun mengangguk sendu. Dan jawaban itu yang membuatku terdiam.

Aku tahu, ia menginginkan ayah. Tetapi di mana mesti kucari? Tak dijual di mall, tak ada di gerobak sale, tak jua kutemui di acara-acara sosial.

Umurnya kini 4 tahun 6 bulan. Sekolah di TK kecil. Aku tahu, matanya sering kali menyorotkan iri ketika teman sebayanya diantar, ditunggui sekolah, atau dijemput oleh ayah mereka.

Ketika kecil pun ia sekali dua bertanya, "Farhan pergi sama ayahnya, ya? Ke mana? Ngapain kok sama ayah?"; atau, "Yaya main bola sama bapaknya, ya? Kok sama bapaknya?" Dan aku pun mengajaknya main-mainan yang serupa. 

Pertanyaan itu muncul ketika ia mulai kenal konsep ayah, ibu, dan anak dalam satu keluarga. Ia punya bunda, tetapi kok tidak punya ayah? Meski ia punya eyang kakung dan banyak om yang kadang menghilangkan dukanya.

Ketika umur dua tahun, ia spontan teriak, “Aku tidak punya ayah, ya?”

Aku pun hanya bisa terhenyak. Pantas aku kaget. Itu pernyataannya yang pertama kali. Protesnya karena ia tidak punya ayah.

Sedih memang mendengarkan. Tetapi itu justru menguatkanku untuk berbuat lebih baik menjadi ayah dan bunda sekaligus untuk anakku.

Aku mengajaknya berlibur ke Jakarta.

Oh, ya, kami berpisah jarak. Anakku di Yogya dan aku di Jakarta. Belum memungkinkan untuk tinggal bersama. 

Sebagai orang tua tunggal, aku harus ekstra untuk bekerja. Berangkat pagi-pagi dan pulang malam. Hampir 10 jam. Kasihan, kalau selama itu, dia harus tinggal dengan pembantu dan dalam rumah sempitku.

Sementara, ketika aku titipkan dia di Yogya bersama orang tuaku, dia bebas berlari, main perang-perangan, main topeng, belajar badminton dan sepak bola di samping rumah orang tuaku. Dia pun bisa akrab dengan sapi yang dipelihara tetanggaku, ikut memberi makan dan kadang menungguinya dimandikan. 

Saat sore pun, dia bisa melihat berbagai bus dan sesekali melihat aktivitas pesawat terbang di bandara, yang tidak terlalu jauh dari rumah orang tuaku. Dia sangat menyukai segala moda transportasi, terutama kereta api, bus, dan pesawat.

Di Jakarta, aku mengajaknya bicara dari hati ke hati. Tetapi hanya pandangan gak mudeng saja yang aku dapat dari dia ketika aku usai menjelaskan kenapa ia tidak punya ayah yang ada di dekat dia.

Kali kedua, ketika berumur 3 tahun, sambil loncat-loncat di sofa, dia kembali teriak, “Aku gak punya ayah, ya?”

Eyang utinya yang melintas, terhenyak. Keinginan untuk belanja keluar rumah diurungkannya. “Ya, ndak gitu, kan ada eyang kakung dan om di sini,” kata utinya. 

Dia pun mengangguk. “Gitu, ya, Ti?”

Aku tidak kaget lagi. Karena pernah kudengar yang pertama. Kupikir, pertanyaan itu akan muncul ketika dia sudah bersosialisasi bersama teman-teman di sekolahnya. Ternyata aku salah. Jauh sebelum sekolah pun, ia sudah menanyakannya.

Kali lain, ketika aku menemaninya bermain di rumah teman kecilnya, aku lihat sendiri teman kecilnya berbisik di telinganya, “Kamu tidak punya ayah, kamu tidak punya ayah.” Dan anakku pun hanya terdiam. Sibuk dengan permainannya. 

Tetapi kini aku jadi tahu benar, kenapa sering kali dia terdiam, dan sepertinya terbeban.

Aku pun jadi makin aktif mendampingi dia. Jarak lebih dari 1.000 km pun kutempuh di tiap akhir pekan. Jakarta – Yogya – Jakarta, tepatnya 1.028 km dengan kereta api. Dulunya dengan kereta eksekutif. Tetapi sayang, dengan kereta ini, aku hanya mampu kunjungi dia sebulan sekali.

Padahal, seumur-umur aku tidak pernah menggunakan kereta lain. Tetapi keinginanku untuk mendampingi dia lebih besar daripada ketidaknyamananku berkereta. Dan drastis, naik kereta ekonomi untuk pulang-pergi. 

Awalnya memang badanku sakit semua. Dan rasanya nelongso. Tetapi, akhirnya aku cari-cari apa saja yang membuatku nyaman menikmati perjalanan ini.

Hampir 2 tahun aku berkereta ekonomi. Teman-teman kantorku pun tidak akan ada yang percaya kalau aku cerita bahwa aku bepergian dengan kereta itu. Tetapi hidup harus jalan terus, bukan? Aku lebih menikmati kebersamaanku dengan anakku. Seminggu sekali, lebih dari 1.028 km kutempuh.

Sekarang aku sudah bisa lagi jenguk dia dengan moda transportasi yang lebih baik, dan lebih sering kunjungi dia. Kami memang masih berpisah jarak, tetapi tidak berpisah hati. Sehari 3-4 kali kutelepon dia, dari bangun tidur sampai kembali memeluk guling di peraduannya.

Saya hanya ingin berbagi. Meski tidak mudah menjadi orang tua tunggal, tetapi bahagia itu tetap ada. Aku dan dia justru kompak dalam rentang jarak, meski ia selalu kolokan dan manja setiap aku datang Sabtu di Yogya. 

Dia yang selalu jemput aku begitu bangun tidur. Sampai di rumah, aku mandikan dia dan pakai baju seragam sekolah. Makan pagi. Gantian mandi, siap-siap temani dia di sekolah. Aktivitas yang menyenangkan.

Kantung mataku menghitam. Lelah tetapi bahagia.