Beberapa minggu belakangan netizen dibuat kaget dengan keputusan Rina Nose untuk melepaskan hijabnya. Keputusan tersebut sontak saja membuat netizen memberikan cibiran dan stigma negatif.

Tetapi tidak semua orang memberikan cibiran atas keputusan tersebut, melainkan ada juga sebagian netizen yang memberikan dukungan dan memaklumi keputusan Rina tersebut. Dalam sebuah diskursus memang begitu, selalu ada yang pro dan ada yang kontra.

Hijab sendiri sampai sekarang masih menjadi isu yang sensitif di tengah-tengah publik. Kebanyakan orang percaya bahwa pemakaian hijab adalah wajib berdasarkan surah al-Ahzab ayat 59 dan juga hadis.

Dalam kacamata studi Islam, cara pandang demikian termasuk kepada cara pandang normatif. Cara pandang normatif ini memiliki ciri khas yang sangat menonjol dalam pemakaian nas-nas al-Quran maupun hadis dalam konstruksi pemikiran hukumnya. 

Cara pandang seperti ini memiliki implikasi penolakan terhadap hal-hal yang dipandang berbeda dari redaksi teks al-Quran dan hadis, selain itu, cara pandang di atas juga akan membawa kepada sikap justifikasi; merasa dirinyalah yang paling benar.

Selain cara pandang normatif, sebenarnya masih banyak model atau cara pandang yang dapat dijadikan alternatif dalam melihat fenomena keagamaan di tengah-tengah masyarakat, misalnya: psikologi, sosiologi, teologi, antropologi, biologi dan masih banyak model pendekatan lainnya.

Kembali kepada permasalahan melepas jilbab yang sedang hangat belakangan ini. Di kalangan selebritis sendiri sebenarnya bukanlah hal yang baru ketika ada seorang dari mereka yang memutuskan untuk melepaskan jilbabnya setelah sebelumnya memutuskan untuk memakai jilbab.

Menurut penulis sendiri, hal tersebut adalah sesuatu yang biasa saja dan sah-sah saja sebagai sebuah pilihan individu. Bukankah setiap orang diberikan kebebasan untuk memilih jalan hidupnya? Sungguh tidak bijak jika ada seseorang yang mencibir dan mengecam pilihan hidup seseorang.

Dalam khazanah pemikiran Islam sendiri boleh jadi sulit untuk mengatakan bahwa tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dan cendekiawan muslim mengenai jilbab ini, terlebih lagi ketika membaca buku karya Prof. Dr. M. Quraish Shihab tentang jilbab yang di dalamnya menghimpun pandangan ulama-ulama klasik dan pandangan cendekiawan muslim kontemporer mengenai jilbab. Oleh sebab itu, permasalahan jilbab sendiri sebenarnya masih debatable dan multiinterpretatif.

Dalam konteks inilah berlaku sebuah kaidah hukum Islam, bahwa tidak satu pun ulama atau komunitas agama yang dapat mengklaim pandangannya sebagai suatu yang mutlak dan absolut. Sebab, pada tataran ijtihad semua pandangan adalah relatif dan nisbi, serta dapat diubah. Artinya, setiap ulama dan komunitas agama bisa saja mengklaim pendapatnya benar, tetapi yang lain pun dapat melakukan hal yang sama. 

Dalam konteks ini, yang diharapkan adalah agar setiap penganut agama bisa menghargai pendapat orang lain, sepanjang orang itu tidak memaksakan pendapatnya atau tidak menyalahkan pendapat orang lain. Dengan demikian, yang diperlukan adalam beragama sesungguhnya adalah sikap menghargai dan menghormati orang lain apa pun pilihan pendapatnya, dan perlunya kearifan dalam merespons perbedaan pendapat.

Tetapi pada kesempatan kali ini penulis tidak akan membahas permasalahan jilbab ini dari kacamata teologis, tetapi yang akan menjadi titik tekanya adalah pada tataran bagaimana melihat fenomena melepas jilbab yang dilakukan oleh Rina Nose di atas melalui kacamata psikologi, atau lebih tepatnya psikologi agama.

Dilukiskan dengan baik sekali oleh Hood, Hill, dan Spilka ketika menerangkan apa itu Psychology of Religion bahwa “Our role is to search in mind, society, and culture for the nature of religious thinking and behavior... The essential psychological point here is that psychologists of religion do not study religion per se; they study people in relation to their faith, and examine how this faith may influence other facets of their lives.” 

Dari pengertian tersebut, penggunaan kacamata psikologi sebagai sarana untuk melihat fenomena melepas jilbab bertujuan agar kita semua dapat memahami fenomena yang ada tanpa pretensi apapun. Hal ini juga untuk mendapatkan sebuah variasi dalam melihat sebuah fenomena yang tidak hanya difokuskan atas pertimbangan syariat an sich.

Dalam konteks pembicaraan mengenai psikologi agama, ada sebuah teori yang menarik untuk diperhatikan, teori tersebut adalah Faith Development Theory (Teori Perkembangan Kepercayaan Eksistensial/Iman) yang diperkenalkan oleh James W. Fowler. Teori Fowler ini berguna untuk melihat dan menjelaskan bagaimana proses pertumbuhan dan petualangan seorang individu yang terus-menerus menggumuli tantangan pengalaman kepercayaan eksistensialnya. 

Dalam hal ini, bagaimana pribadi (muslimah) tersebut memilih untuk bertahan pada suatu struktur, atau beralih dari struktur tersebut (antara berjilbab dan melepaskannya). Atau dalam bahasa yang lain adalah konversi (perpindahan pemahaman keagamaan) yang merupakan salah satu fenomena yang menjadi kajian pokok dalam setiap pembahasan psikologi agama.

Dari sekelumit pemaparan tentang FDT di atas ada beberapa hal yang ingin dijelaskan melalui teori tersebut terutama mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman seorang muslimah dalam hidupnya. Dalam perjalanan perkembangan manusia, manusia senantiasa bergerak dinamis menuju proses kedewasaan dan kesempurnaan.

Proses dinamis tersebut diungkapkan dengan sebuah istilah baru yang diciptakan oleh Fowler dalam bahasa Inggris, yaitu farthing sebagai aktus dinamis (kata kerja), yakni “tindak percaya”; bukan faith sebagai substansi statis (kata benda). Pengertian semacam ini bersifat process oriented dan dapat dimengerti sebagai “dinamika”, “perkembangan”, “pertumbuhan”, “kemajuan”, dan (sebaiknya) yang akhirnya berfokus pada metafora “perkembangan” dan sangat sesuai untuk memahami perjalanan kepercayaan kita.

Lebih lanjut Fowler menyatakan bahwa, “Kepercayaan eksistensial merupakan seluruh cara yang telah dikembangkan dan yang masih berkembang...”. Maka, perhatian dipusatkan pada dinamika proses pembentukan, perubahan, dan kemajuan dalam hidup kepercayaan seseorang.

Dengan memperhatikan teori yang dibawa oleh Fowler di atas kita dapat memahami fenomena pelepasan jilbab yang dilakukan oleh Rina Nose atau bahkan oleh perempuan-perempuan muslimah lainnya sebagai sebuah proses keberagamaan seseorang.

Semua muslimah tetap menjadi seorang muslimah sampai dengan mereka telah melepaskan jilbabnya. Namun, cara mereka menjadi muslimah, dan lebih khusus lagi cara memaknai jilbab dan berjilbab, beberapa kali boleh jadi diperdalam, diperluas, dan ditata kembali. 

Hal yang menyebabkan dan atau mempengaruhi muslimah untuk berjilbab adalah kepercayaan eksistensialnya. Demikian pula hal yang menyebabkan dan atau mempengaruhi muslimah untuk melepas jilbabnya juga kepercayaan eksistensialnya.

Kepercayaan eksistensial, sebagaimana yang dikemukakan oleh Juneman di dalam penelitiannya tentang psikologi melepas jilbab, mencakup suatu proses yang terus-menerus dalam hal mana cara-cara muslimah melihat jilbab itu terbentuk dan dibentuk kembali.

Dengan demikian, fenomena pelepasan jilbab yang sedang hangat saat ini sama sekali bukanlah permasalahan yang serius. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa hal tersebut tidak lain hanyalah sebuah proses keberagamaan seseorang yang senantiasa bergeliat untuk terus berdinamisasi.

Dengan begitu tugas kita sekarang adalah bagaimana kita dapat memberikan ruang toleransi terhadap perjalanan otentisitas keimanan seseorang yang kemudian akan melahirkan sebuah konstruksi keberagamaan yang indah dan penuh kasih sayang.