Poros Cikarang hingga Karawang, luasnya minta ampun. Ibaratnya, wilayah poros ini menjadi propinsi tersendiri sudah bisa, saking luas dan kayanya.

Banyak lahan kosong di poros wilayah ini. Sebagian produktif dalam bentuk persawahan, sebagian lainnya tanah tandus alang ilalang. Lahan yang tak kosong tentunya sudah menjadi hunian, apakah perkampungan maupun bangunan developer, juga kawasan-kawasan industri.

Tak berlebihan apabila wilayah ini sering mendapat julukan keren; Eastern of Jakarta. Karena memang jaraknya dari ujung Jakarta paling timur lalu mengarah ke timur, sekitar bangsa 30-an km, saja.

Sayangnya, penetapan wilayah ini sebagai kawasan industri, seolah mengabaikan potensi kesuburan tanah dan adat istiadat masyarakat setempat yang sejak ratusan tahun lalu terkenal sebagai lumbung padi, saking subur dan luasnya sawah padi menghampar.



Yang enak aja ngos-ngosan, apalagi ini lelarian.

Wisata Lelarian di Poros Industri dan Pertanian

Lalu, pagi hari minggu lalu, saya mencoba napak tilas, lari-lari kecil, ke beberapa wilayah Cikarang, yang masih ramah buat pelari jalur aspal. Luar biasa pemandangannya. Saya menemukan cahaya matahari pagi yang ramah seolah tersenyum menyambut saya yang lelarian menuju arah timur.

Sepanjang jalan lelarian, melewati hamparan sawah yang amat luas, menghijau, sangat nyaman dipandang berlama-lama, sambil napas terpacu. Juga tentunya adalah kawasan industri yang jalan aspal buat transportasi kendaraan kecil pun berat, seolah tiada berkesudahan.

Menyambut pagi sambil lari, ternyata disambut semburat hangat jingga cahaya matahari

Betapa melewati jalanan aspal, apalagi menanjak, pas matahari sudah tak pagi lagi, itu bikin napas ngos-ngosan. Yang enak aja ngos-ngosan, apalagi ini lelarian. Ah, memang saya kurang kerjaan.

Masuk km 22-an hape pelacak jalur lelarian saya, tampak low batt. Terpaksa aplikasi program lelarian saya klik finish. Terus saya lanjut lari bangsa 5 km-an ke arah barat menuju tempat start, ke arah saya punya kerabat.

Cuaca panasnya minta amplop... Eh ampun.

Kerongkongan kering. Sempat gak tahan mampir ke Warung Tegal, mau beli segelas air putih. Eh, ibu-ibu sepuh penjaga warungnya, mempersilakan saya minum air putih dalam teko logam kuningan, cuma-cuma. Nuhun ya Bu.

Lumayan satu 1/2 gelas besar buat membasahi kerongkongan saya yang kekeringan.

Pas lari itu ya, eh kok ndak ada sama sekali pengemudi motor atau mobil yang nawarin saya mboncengin atau nebeng sampai tujuan. Nasib pelari pakai sepatu dan seragam khusus berlari.

Selama lelarian, dalam satu jalur yang dipilih seringkali terdapat jalur neraka dan jalur surga. Keduanya menjadi bagian dari dinamika lelarian yang justru membuat kegiatan berlari menjadi menantang, lalu membuat ketagihan karena banyak kenangan yang tersimpan selama perjalanan.

Jalur neraka, suasana panas, kondisi menanjak, jarang ada tanaman lebih banyak polusi lalu lalang kendaraan.

Jalur surga, penuh tanaman rindah penyejuk jiwa raga. Hasil proses asimilasi dan fotosintesis tanaman, menghasilkan Nitrogen dan Oksigen, zat-zat kimiawi yang dibutuhkan oleh seisi Bumi.

Selama recovery, sampai hari hendak lelarian lagi, saya puas-puasin itu Siomay sama talas Bogor. Kenapa? Biar kalori sama vitamin dan protein lekas balik, juga karena keduanya dimasak dengan cara dikukus. Pilihan bijak dan aman mengurangi asupan dengan kandungan minyak goreng, sebagai gorengan.

Satu asupan gizi yang cukup lengkap yang dibutuhkan olah pelari sehabis berlari, terwakili oleh hidangan Siomay.

Talas Bogor yang di daerah Malang sering disebut sebagai Bentul. Cita rasa gurih, kaya akan karbohidrat.



Tak bisa langsung berlari, karena lelarian termasuk aktifitas aerobik yang memerlukan adaptasi.

Lelarian Tak Bisa Mendadak Langsung Berlari

Hanya saja memang, lelarian itu jenis aktifitas fisik yang tak ringan sekaligus menantang. Berolahraga lari, tak hanya melatih fisik namun juga mental.

Banyak manfaat dari olah raga lari, seperti memperkuat otot jantung dan paru-paru, memperlancar peredaran oksigen dalam darah, menurunkan berat badan, membantu fungsi ginjal ketika keringat terpacu keluar dari dalam tubuh, berwisata menikmati pemandangan alam lingkungan selama lelarian, memicu hormon nyaman dan bahagia pasca lelarian, memperbaiki kualitas beristirahat, hingga membantu menurunkan tekanan darah bagi pengidap hipertensi.

Bagi pemula, lelarian harus dilatih bertahap, agar otot-otot tubuh yang menunjang kegiatan berlari dapat menyesuaikan. Tak bisa langsung berlari, karena lelarian termasuk aktifitas aerobik yang memerlukan adaptasi. Sehingga, kudu ada pemanasan dan peregangan, juga pendinginan pasca lelarian.

Latihan bertahap awal bisa dilakukan, seperti berlari selama lima menit, beriring berjalan selama satu menit, terus menerus hingga sejauh satu kilometer. Selanjutnya keesokan harinya, apabila fisik masih fit, dilanjut peningkatan lelarian selama 10 menit, lalu diselingi berjalan selama satu menit, hingga menempuh jarak satu kilometer.

Terus dilakukan tahapan-tahapan awal lelarian, hingga non stop tanpa berhenti mencapai satu kilometer, dengan target misal seminggu. Lalu, berlanjut melatih kecepatan meraih jarak tertentu, juga ketahanan mental saat menarget jarak yang lebih jauh. Bisa mulai dari target jarak sejauh satu sampai lima kilometer dengan menarget kecepatan hingga, misalnya tujuh menit per kilometer.

Berlanjut, dengan tetap mempertimbangkan kondisi fisik dan mental serta usia, jarak yang dicapai dalam hitungan target bulanan, meningkat hingga 10, 15, 21 kilometer atau yang sering disebut Half Marathon, HM, hingga mencapai Marathon sejauh 42 kilometer.



…tubuh telah beradaptasi meraih titik temu, klop, secara mental dan fisik guna menjalani niatan lelarian.

Adaptasi Tubuh Melalui Fase-Fase Lelarian

Saat berlari, terdapat proses adaptasi tubuh, khususnya pada otot-otot penunjang aktifitas berlalu seperti otot bagian kaki, pinggang, pinggul hingga jantung dan paru-paru, menyesuaikan irama fisik saat berlari.

Seringkali, selama lima hingga 10-an menit pertama adalah fase adaptasi paling berat. Telapak kaki terasa panas, otot betis hingga paha terasa mengeras berat, nafas pun tersengal. Mental berlari, khususnya bagi pemula, bisa drop pada fase ini, lalu membatalkan berlari, berganti berjalan kaki.

Oleh karenanya pada fase pertama ini, mental dan ketetapan hati untuk berlari kudu dipegang erat sebagai niatan untuk melakukan aktifitas lelarian. Mengatur cara bernafas selama lelarian agar tak tersengal serta menjaga kecepatan awal yang tak terlalu laju, karena masih pemanasan melampaui fase terberat, menjadi cara bijak agar selamat mempertahankan niat lelarian hingga meraih jarak yang ditetapkan.

Selanjutnya fase kedua, pada kisaran melewati fase 10-an menit pertama, maka tubuh telah melampaui fase terberat, mencapai kondisi prima berlari. Pada fase ini, tubuh telah beradaptasi meraih titik temu, klop, secara mental dan fisik guna menjalani niatan lelarian. Irama tarikan dan hembusan nafas sejalan dengan kecepatan berlari, pace.

Pada fase ini, tubuh telah masuk dalam tahapan berlari dengan sendirinya, auto running. Kedua kaki bagai tengah melaju dengan sendirinya, memacu gerakan berlari yang terdapat fase-fase melompat didalamnya. Pada fase ini pula, beratnya adaptasi fisik pada fase awal telah usai, berganti lebih pada mempertahankan mental lelarian.

Lelarian pace kura-kura? Ya gapapa. Namanya juga wisata sambil olah raga.



Seringkali, mental pelari terganggu ketika dirinya merasa tersaingi…

Lelarian Lebih Berurusan Mental Ketimbang Fisik

Saat lelarian, juga sebaiknya memilih suasana yang lebih bebas dari polutan. Seperti lingkungan alam yang lebih banyak hamparan tanaman, ketimbang lalu lalang kendaraan. 

Sawah padi menghampar luas, hijaunya bikin sejuk mata memandang, lelahnya lelarian pun bisa terlupakan. 

Alam permai seperti sawah, kebun, hutan, pantai lebih nyaman dan memicu mental lelarian lebih terjaga, ketimbang lingkungan lelarian yang dipenuhi deru dan debu jalanan raya, yang berseliweran aneka kendaraan.

Lelarian di sepanjang alam lingkungan alami, bisa menuai hikmah  berupa permenungan atas kelestarian lingkungan hidup, misal memaknai pentingnya keberadaan Top Soil atau tanah Humus, yang pada dasarnya adalah karunia bagi seisi bumi yang kudu dirawat, jangan disalahgunakan seperti dibuat pelapisan bangunan. Dalam dunia pertambangan batubara dan mineral, maka Top Soil adalah harta karun yang sebenarnya, yang harus dijaga dan dirawat kesuburannya. Adapun batubara dan mineral sehabis ditambang, lalu dijual dan laku, maka uang yang didapat buat menggaji ataupun memberi bonus kepada pekerja tambang. Terus, jika batubara dan mineralnya benar-benar habis ditambang, maka wilayah bekas tambang apakah hanya dibiarkan lalu ditinggal begitu saja? Oh jangan! Merawat kesuburan Top Soil adalah prioritas pengelolaan lingkungan hidup pasca tambang, agar kelak generasi mendatang tetap bisa menanam sumber-sumber pangan.

Mental lelarian juga berbeda saat pelari tengah menikmati lari sendirian atau bersama rekan dalam suasana santai tanpa persaingan, dengan ketika berlomba.

Seringkali, mental pelari terganggu ketika dirinya merasa tersaingi, yang sedikit banyak bisa merubah tujuan dari lelarian yang adalah untuk berolahraga agar menyehatkan badan dan pikiran, menjadi larut dalam laga persaingan.

Apabila demikian, maka bagi pelari amatir, juga pemula, memilih kegiatan berlari dalam kemasan berlomba cukup sebagai partisipan saja, adalah hal yang disarankan.

Mengapa demikian? Karena ketika pelari tak cukup mental untuk bersaing dalam suatu kegiatan lomba berhadiah, bisa terjebak dengan pemaksaan fisik yang berpotensi mengalami cidera, ruda paksa, minimal mengalami kram.

Oleh karenanya, ketika menikmati lelarian, apakah santai maupun partisipan lomba, sebaiknya niatan utamanya adalah berwisata sambil berlari. Lebih menata niatan hati untuk meraih mengucur derasnya hormon kebahagiaan, ketimbang mendapat hadiah atau pengakuan.



…saling menyemangati dan berbagi ilmu pengetahuan tentang bagaimana metode berlari dan teknik menjalani aktifitas lari…

Kudu Sadar Kemampuan Saat Bergabung Grup Lelarian

Lelarian juga bisa menjadi kegiatan menjalin sosial pertemanan, sekaligus memperkaya jejaring dan menambah kenalan baru. Di banyak kota di Indonesia, terdapat perkumpulan pegiat lelarian, yang para anggotanya dengan sukarela bergabung menjalani lelarian bersama dengan jadwal yang rutin, seringkali akhir pekan pada waktu pagi, sore bahkan malam hari.

Komunikasi antar anggota pun dipermudah dengan kehadiran grup-grup media sosial, dengan topik bahasan utama saling menyemangati dan berbagi ilmu pengetahuan tentang bagaimana metode berlari dan teknik menjalani aktifitas lari yang menyehatkan sekaligus menyenangkan, menjadi semangat utama para anggota lelarian tersebut.

Termasuk berbagi piranti lelarian yang dibutuhkan, seperti sepatu lari, kaos dan celana, hingga arloji pintar yang pengetahuan para anggota perkumpulan pegiat lelarian tersebut tak hanya berkutat pada merk, jenis serta model, namun juga teknologi yang tersemat di dalamnya.

Sepatu lari misalnya, terdapat merk tertentu yang mengandalkan teknologi sol berbahan jeli yang bisa menimbulkan efek menyangga tulang belakang, sehingga lelarian bisa dilakukan dengan optimal dan nyaman, sehingga si pelari pengguna sepatu tersebut bakal tak mudah merasa lelah.

Lalu celana lelarian merk tertentu yang dirancang khusus menggunakan bahan yang tepat, menimbulkan efek auto running sepanjang wilayah otot-otot yang terbungkus ketat celana jenis ini, sehingga setiap pelari yang mengenakannya bakal sangat menikmati aktifitas lelarian, berlama-lama

Hingga, piranti elektronik berupa arloji pintar yang tersemat teknologi Global Positioning System, GPS, sebagai pencatat dan perekam jarak, kecepatan dan waktu lelarian yang diraih oleh si pelari. Tak hanya itu, piranti pintar ini juga menentukan jumlah kalori yang telah digunakan, detak jantung hingga tekanan darah yang dialami oleh si pelari, beserta peringatan agar si pelari disiplin menjalani telah program-program latihan lelarian yang tersimpan.

Hanya saja, para pelari anggota perkumpulan yang demikian, kudu menyadari kebutuhan peralatan pendukung lelarian dengan kemampuan ekonomi yang dimilikinya. Tak jarang, dalam suatu grup perkumpulan pegiat hobi yang sama, para anggotanya justru terjebak dalam ajang persaingan kepemilikan ragam piranti pendukung yang berharga mahal. Alih-alih meraih manfaat dari kegiatan lelarian, malah jor-joran.



…yang seringkali membuatnya terabaikan dalam perawatan, adalah suatu kekeliruan.

Mensyukuri Kedua Telapak Kaki Sebagai Karunia

Telapak kaki adalah anugerah ajaib bagi manusia yang menjadikan mereka mampu berdiri tegak, berjalan pun berlari. Terdapat cekungan bagai pondasi melengkung menara Eiffel, membuat telapak kaki yang terlihat mungil, mampu menyangga, menahan berat seluruh tubuh di bagian atasnya. 

Lalu, ada tendon Achilles di bagian belakang pergelangan kaki yang menghubungkan tulang tumit dengan otot betis di atasnya, sehingga membuat kaki mampu bergerak lebih dinamis, tak sekedar berjalan namun juga berlari, melompat, hingga melayang meski tak selama burung saat mengangkasa dengan kedua sayapnya.

Termasuk, kehadiran lima jari jemari pada telapak kaki, yang membuat manusia dapat berjalan, berlari pun melenggang kedua kaki guna melangkah luwes, tiada titian langkah terlihat kaku melainkan nyaman menikmati dataran bumi tempat berpijak.

Oleh karenanya, pandangan kebanyakan orang selama ini yang menggangap kedua telapak kaki sekedar bagian tubuh paling bawah, yang seringkali membuatnya terabaikan dalam perawatan, adalah suatu kekeliruan.

Merawat kedua telapak kaki yang tersadari sebagai bagian penting dalam menopang seisi badan adalah bentuk penghargaan terhadap keduanya sebagai karunia. Dengan demikian, memfasilitasi kedua telapak kaki dengan peralatan yang membuat keduanya terlindungi dengan aman dan nyaman, menjadi satu kebutuhan, khususnya bagi pegiat jalan kaki, juga tentunya pelari.

Agar pelari bisa meraih kondisi aman dan nyaman selama menjalani aktifitas lelarian, maka memfasilitasi kedua telapak kaki dengan perlengkapan berupa sepasang sepatu lari beserta kaos kaki, yang membuat keduanya aman dan nyaman pula, mutlak diperlukan.

Sekali lagi, tujuan utama lelarian adalah meraih kesehatan dan mengucur derasnya hormon-hormon peraih kebahagiaan. Sehingga, pelari perlu bijak dalam memilih merk dan model sepatu lari, agar tak terjebak pada aktifitas yang sekedar memenuhi keinginan memiliki sepatu lelarian bermerk terkenal, yang sejatinya melenceng dari tujuan utama.



…kudu mempertimbangkan tingkatan aktifitas lelarian yang bakal dilakukan.

Memanjakan Sekaligus Mencegah Cedera Telapak Kaki

Sepatu lari yang dilengkapi dengan teknologi sol yang terbuat dari bahan jeli, memang terbukti mampu menopang performa lelarian, selengkapnya pula meraih rasa aman dan nyaman. Sensasi poros sepanjang telapak kaki hingga pinggang tulang belakang yang tersangga, membuat pelari yang mengenakan jenis sepatu lari ini, tak lekas merasa kekelahan.

Asics Cumulus-16 contoh merk dan jenis sepatu lari yang diperkaya teknologi sol berbahan jeli. Satu teknologi favorit pilihan pelari atas sepatu penunjang aktifitas lelarian.

Hanya saja, sepatu lari jenis ini berharga relatif mahal dibanding dengan sepatu lari yang berteknologi sol berbahan plastik dan karet semata. Terutama sol sepatu lari yang berbahan plastik saja, seringkali apabila dikenakan lelarian jarak panjang, membuat telapak kaki serasa gampang kepanasan dan lelah, fatigue.

Selain telapak kaki mengalami fatigue, lelarian juga memiliki risiko cidera area telapak kaki baik selama maupun pasca lelarian seperti otot yang robek, karena meraih jarak dan waktu berlari yang dipaksakan.

Selain itu pula, kuku salah satu jari kaki terlepas menjadi kasus cidera ringan yang dialami pelari akibat memilih ukuran sepatu yang tak tepat karena kekecilan. Memilih ukuran sepatu lari yang lebih besar satu angka dari ukuran normal, bisa mengurangi cidera yang demikian.

Adapun sepatu lari yang dilengkapi dengan teknologi bahan sol perpaduan antara plastik dan karet, menjadi pilihan alternatif setelah sol berbahan jeli. Meski tak sekokoh sepatu lari dengan sol jeli dalam hal sensasi menopang tulang belakang saat lelarian, namun sepatu lari dengan sol paduan bahan plastik dan karet cukup mampu membuat pelari nyaman menjalani lelarian berjarak panjang.

Tentu, pilihan akan sepatu lari juga kudu mempertimbangkan tingkatan aktifitas lelarian yang bakal dilakukan. Apabila masih pada tahapan awal mencoba mengukur kapasitas mental dan fisik untuk berlari dengan jarak maksimum hingga lima kilometeran, maka sepatu lari dengan sol berbahan plastik adalah pilihan bijak.

Sedangkan, apabila terdapat peningkatan minat menjalani lelarian sebagai bagian mengisi waktu luang yang terjadwal, dengan pola pelatihan terprogram dalam suatu aplikasi gratis pun berbayar, yang senantiasa menuju peningkatan, maka kualitas sepatu lari yang dilengkapi teknologi perpaduan bahan plastik dan karet pun menjadi pilihan yang tepat.

Hoka One One M Rincon 3 contoh sepatu lari yang ditunjang sol berbahan perpaduan plastik dan karet, yang meski tak menimbulkan efek sensasi tulang belakang menjadi tersangga selama berlari, namun mengenakan sepatu merk dan jenis ini membuat lelarian tetap berasa aman dan nyaman.

Adapun untuk pelari yang telah memutuskan bahwa lelarian menjadi bagian melekat sebagai aktifitas rutin hariannya, bahkan menjadi suatu profesi yakni pelari profesional, maka sepatu lelarian berteknologi sol berbahan jeli pun menjadi kebutuhan. 

Termasuk, perangkat penunjang lelarian lainnya, seperti celana ketat yang melekat disepanjang kaki hingga pinggang agar otot penggerak kedua kaki agar optimal berlari menjadi tersangga.

Pilihan atas jenis dan merk sepatu lari, tak sekedar untuk menghilangkan kesan mahal dalam menekuni kegiatan lelarian. Namun juga, agar niatan lelarian sepadan dengan peralatan penunjang aman dan nyaman yang dibutuhkan.

Investasi yang sepadan guna meraih kesehatan, melalui kedua telapak kaki yang termanjakan, agar fisik dan mental sanggup bergerak, lelarian.

Setelah itu, rasa nyeri usai lelarian hanyalah karena jiwa dan raga mengusir banyak kelemahan.