"Apakah ingat suara kabar tentang mahasiswa berdemonstrasi terakhir kapan?" tanya salah seorang mahasiswa kupu-kupu. Mungkin kemarin. Entahlah, saya sendiri sudah lupa, tapi dulu sudah pernah kok.

Hmmm, kalian sering tidak mendengar ungkapan mahasiswa masa kini? Masa nggak tahu sih, yang waktunya dihabiskan buat nongkrong di warung kopi atau kencan bercumbu mesra dengan si doi. Ada juga yang konsentrasi dengan layar miringnya adu jago di dunia virtual Mobile Legend. Astagfirullah, bukan bermaksud untuk suudzon, hanya menduga saja kok.

Umpatan maasyarakat yang pandangan kepada mahasiswa kian memburuk. Ketika mahasiswa berteriak dengan penuh semangat menyuarakan nasib rakyat di depan gedung pemerintahan atau gedung DPRD, kok malah dihujat sama masyarakat? Kalau saya sendiri yang demo, ya pulang. Sudah dibela-belain mblolos kuliah, malah kena hujat. 

Namun kenapa bisa marah masyarakatnya? Padahalkan yang disuarakan katanya kepentingan rakyat? Hmmm, lantas siapa yang salah atau memang yang disuarakan bukan kepentingan rakyat?

Sekarang ini kenapa ya demo mahasiswa kenapa ya kurang greget? Beda saja sama cerita-cerita zaman dahulu yang membuat rakyat bersimpati. Konon ceritanya bisa membuat pimpinan bergetar. Masyarakat sekarang juga dirasa kurang menghargai keberanian aspirasi dari mahasiswa sendiri. Apakah zaman memang sudah beda ya? Hmmm, entahlah.

Kemarin terdengar kabar burung yang tertiup Senin, 29 Oktober 2018 Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) datang dan berdemonstrasi menuntut janji-janji manis Jokowi-JK yang dinilai gagal. Beberapa media pun mengabarkan ada lebih 200 universitas di Indonesia, tapi kok nggak heboh ya? Kok kayaknya biasa saja? Padahal media juga sudah pesat informasinya. 

Demonstrasi ini menuntut 11 tuntutan mempersoalkan kebijakan pemerintahan Jokowi-JK, banyak lo tuntutanya tapi kenapa tidak viral ya? Atau pembaca sendiri juga baru tahu? Lebih mirip demo zaman sekarang hanya alat pencitraan dan ajang formalitas saja.

Media justru lebih reaktif mengabarkan berita jatuhnya Lion Air daripada memberitakan demonstrasi mahasiswa ini. Apakah memang demo-demo semacam ini sudah tidak menarik lagi? atau memang gairah aktivis muda zaman milinial ini sudah kendor? Mungkin sebaiknya para demonstran ini harus lebih banyak mendengar lagu Zona Nyaman agar lebih berani lagi dalam berdemo.

Demo juga hanya begitu-begitu terus sejak zaman dulu. Tidak pernah ada terobosan unik selain teriak-teriak dengan megapon, atau membakar ban, dan ujung-ujungnya berusaha mendobrak pagar gedung DPR. Ngenesnya lagi, yang didemo sama sekali tidak respons terhadap demonstran. La iya percuma wong yang didemo malah asik makan siang di dalam. Teriak-teriak sampai berbusa pun tidak bakal terdengar. Zaman sekarang pajabatnya itu kurang peka berpenyakit lupa dan budeg.

Apa mungkin uang makanya kurang ya. Tak dapat dipungkiri bahwa demostrasi kerap di baliknya ada donatur yang siap membiayai kebutuhan para pendemo. Ini tak lebih dari penonton bayaran di acara di Televisi. Para demostran dibayar, gamblangnya tukang demo bayaran. 

Gimana demonya nggak greget BEM sekarangkan lebih sibuk membuat event kampus. Di ajak demo mau saja mumpung acara seminar nasional masih minggu depan, lumayanlah untuk mengisi waktu luang. Tidak heran kalau seruan untuk pembubaran BEM, DPM, dan perankanaya viral. Memang kerjanya BEM sekarang lebih tidak lebih dengan EO (Event Organizer).

Perebutan kekuasaan politk kampus demi kekuasaan ini membuatnya menoreh hujatan. Budaya ini mengakar terus sampai berlarut-larut. Saya sendiri tidak peduli dengan BEM bubar ataupun tidak. Namun yang penting kita bersama-sama untuk gerakan persatuan serta meningkatkan solidaritas di antara diri kita sendiri, itu yang paling penting.

Kini aku rindu budaya kritis di dalam kampus. Sekarang mahasiswa cenderung individu. Orientasinya adalah ekspetasi nilai sempurna. Tuntutan mahasiswa agar lebih berprestasi justru menciptakan aura kompetisi yang tidak sehat. Hingga semuanya haus akan pujian prestasi, membuat diri kita lupa terhadap kondisi lingkungan kita sendiri.

Seruan untuk bergerak bersama menentang yang salah sudah sunyi terdengar. Mereka lebih asik sedang menggenggam smartphone asik stalking di media sosial. Duduk di kelas katanya sedang belajar kata Najwa Shihab. Melupakan semua dan terlena ada nasib-nasib dan ketamakan pimpinan yang perlu dilawan. Pantas saja dari masyarakat menjadi geram. Ini pukulan kita bersama untuk melihat ke bawah bukan ke atas. Melihat dan merenungi diri kita.

Gairah budaya berpikir kritis kini pun mulai luntur. Diskusi-diskusi mulai minim dilihat dihadapan publik. Lebih menyibukkan diri dengan tugas-tugas dari mahaguru dosen yang maha kuasa. Budaya diskusi liar dan bebas semakin redup digantikan diskusi di panggung-panggung acara formal.

Ya, kalau saya sendiri berpesan banyak-banyak belajar saja. Mengkritisi pemerintah boleh-boleh saja, omong besar dan lantang oral kalian harus selaras dengan IPK kalian. Belajar yang baik jujur dan bila ada tugas kerjakan sendiri, jangan Ctrl+C lalu Ctrl+V ini perbuatan yang tidak terpuji. Belajar yang baik agar kita nanti bisa menjadi pemimpin bangsa yang bijak.