Media sosial merupakan hal yang tak asing lagi ditelinga masyarakat saat ini, pengguna media sosial terdiri dari berbagai latar belakang, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua, bahkan kelas sosialpun tak membatasi hal tersebut baik itu kelas menengah kebawah maupun menengah keatas dalam penggunaan media sosial untuk berbagai kepentingan individu maupun kelompok-kelompok yang ada. 

Perkembangan era digital dan kemajuan teknologi seakan menuntut masyarakat saat ini untuk menggunakan media sosial dalam berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari agar tidak menjadi civil society yang di cap sebagai masyarakat yang tidak mengikuti perkembangan jaman.

Namun, seiring perkembangan teknologi dan maraknya penggunaan media sosial dikalangan masyarakat terkadang menjadi peluang tersendiri bagi individu maupun kelompok untuk memanfaatkan hal tersebut  dalam melakukan diskriminasi, intoleran dan kekerasan kepada sesama pengguna media sosial. 

Bukan hanya demikian, faktor lain seperti kebebasan yang kebablasan membuat pengguna media sosial bertindak dan bersikap sewenang-wenang terhadap pengguna lain dan apabila hal ini di diamkan begitu saja oleh para pengguna media sosial pada umumnya maka akan semakin banyak korban dan pengguna media sosial lainnya yang terjerumus dalam tindakan yang tidak bertanggung jawab tersebut sehingga dibutuhkan hal-hal dalam melakukan aksi dalam mengatasi minimal untuk mempersempit gerakan-gerakan negatif yang ada di media sosial.

Memahami Diskriminasi, Intoleransi, dan Kekerasan Ekstrimis

Sebelum membahas terlebih jauh, penulis akan sedikit menyajikan tentang apa itu Diskriminasi, Intoleransi dan Kekerasan Ekstrimis yang terjadi di media sosial. 

Diskriminasi menurut Theodorson (1979:115-116) merupakan perlakuan yang tidak seimbang terhadap perorangan, atau kelompok, berdasarkan sesuatu biasanya berdasarkan yang bersifat kategorikal atau atribut-atribut khas seperti ras, suku bangsa, agama, atau kelas-kelas sosial (Sumber : Spengetahuan.com). 

Diskriminasi biasanya merujuk pada tindakan yang tidak adil terhadap orang tertentu, seseorang diperlakukan tidak adil atau berbeda dikarenakan karakter suku, ras agama, kepercayaan,  jenis kelamin, pandangan politik, atau kondisi fisik. 

Di Indonesia sendiri meskipun adalah negara hukum namun hingga kini praktik diskriminasi masih merajalela, bahkan UU Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE dan UU Nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Ethnis menjadi sebuah “Ikatan”  yang menjadi pedoman bagi pengguna media sosial tetapi menurut penulis hal tersebut tidak menjadikan gerakan-gerakan diskriminasi menjadi surut di media sosial.

Sementara itu, Sifat atau sikap yang tidak menenggang rasa dalam hal ini menghargai, membiarkan atau membolehkan perihal kepercayaan, keyakinan, keagamaan, maupun pandangan orang lain yang berbeda dapat diartikan sebagai perilaku yang Intoleran/Intoleransi kepada orang lain. 

Dalam hal ini, Intoleransi muncul akibat nilai-nilai toleransi dan kerukunan antar sesama dan antar umat beragama tidak lagi dijadikan pedoman bertingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa sehingga menyebabkan terjadinya konflik sosial-keagamaan serta disintagrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Di sisi lain, menurut para Antropolog yang tergabung dalam Gerakan Antropolog untuk Indonesia (AUI) yang Bhinneka dan Inklusif, bahwa ada tiga faktor yang menyebabkan munculnya Intoleransi, yaitu pendidikan, ketidak-adilan, dan penegakan pukum.

Selain Diskrimnasi dan Intoleransi, Tindakan yang bersifat ekstrim juga sering muncul baik itu di media sosial maupun secara nyata dalam kehidupan. 

Tindakan Ekstrim biasanya terjadi akibat sikap yang radikal yang dilandasi kefanatikan yang berlebihan terhadap menganut suatu faham ataupun ideologi. 

Sikap seperti ini sering kali menimbulkan benturan, termasuk benturan fisik yang sulit dicari titik temu diantara kedua pihak atau lebih karena perbedaan pandangan, sikap, atau kepentingan yang terlalu tajam.

Beberapa contoh dari tindakan kekerasan ekstrimis ialah terorisme, separatisme, Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).  

Di Indonesia khususnya mengingatkan kita terhadap kejadian bom bali, bom hotel Ritz Carlton, bom MH Thamrin dan lain sebagainya.

Menurut penulis, kekerasan ekstrimis tidak terlepas dari hubungan antara sikap diskriminasi dan intoleransi, sebab bisa jadi diskriminasi dan intoleransi merupakan sebuah benih dan cikal bakal yang di pupuk sedemikian rupa hingga berujung tumbuhnya tindakan ekstrimis baik itu yang dilakukan oleh individu maupun kelompok.

Dewasa ini, media sosial seakan menjadi kebutuhan primer bagi sebagian kalangan namun terkadang penggunaan media sosial tidak di barengi dengan kecerdasan dan kepedulian terhadap sesama padahal jika ditelisik lebih jauh pengaruh media sosial saat ini dapat sampai pada sendi-sendi kehidupan. 

Kesadaran akan pentingnya media sosial masih tergolong rendah dikalangan penggunanya, apabila media sosial digunakan dengan baik untuk kemaslahatan orang banyak penulis yakin dan percaya dapat pula membawa efek yang positif begitu pula sebaliknya jika media sosial digunakan untuk memberikan dampak yang buruk maka tidak mungkin terjadi efek yang “mematikan” sehingga diperlukan kesadaran untuk semua pengguna media sosial.

Oknum-oknum atau pihak-pihak tertentu saat ini dan tidak menutup kemungkinan di masa mendatang akan menjadikan media sosial sebagai wadah dalam menyebarkan dan melakukan diskriminasi, intoleransi serta kekerasan yang ekstrim untuk mencapai tujuannya dengan melakukan berbagai propaganda negatif maka untuk melawannya pengguna media sosial harus pula melakukan hal yang sama. 

Perlu diketahui bahwa pihak-pihak tersebut dalam melakukan propagandanya dengan cara yang terstruktur, sistematis dan massive sebab seorang pengguna media sosial akan kesulitan dalam membendung gerakan diskriminasi, intoleransi dan kekerasan ekstrimis baik itu di dunia nyata maupun  di dunia maya.

Membentuk kelompok-kelompok sosial yang peduli terhadap tindakan diskriminasi, intoleransi dan kekerasan ekstrimis di rasa penting untuk dilakukan agar perbuatan-perbuatan negatif yang ada dapat di bendung secara maksimal yang akan membawa dampak dikehidupan nyata sehingga gerakan-gerakan tersebut dapat terkekang, minimal ruang geraknya menjadi sempit. 

Salah satu contohnya ialah kelompok Duta Damai / Satu Jiwa yang dibentuk dan di bina oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), dengan menyebarkan pesan-pesan damai yang positif di media sosial memberikan efek tersendiri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Bukan cuma itu saja, pengasahan kreatifitas dan kemampuan pengguna media sosial lainnya dilakukan melalui berbagai event perlombaan agar kesempatan untuk memikirkan serta melakukan diskriminasi, intoleransi dan kekerasan menjadi tertutup baik itu di dunia nyata maupun maya akibat kesan positif yang dibawa melalui gerakan damai di dunia maya.

Gerakan Melawan Gerakan

Propaganda merupakan suatu rangkaian pesan yang bertujuan untuk mempengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sekelompok orang, Propaganda juga sering dilakukan oleh pihak-pihak yang bertujuan melakukan diskriminasi, intoleransi, dan kekerasan ekstrimis untuk mencari dukungan dan legalitas dari masyarakat dalam melaksanakan aksinya. 

Propaganda melawan Propaganda, saat ini propaganda yang dilakukan pengguna media sosial cenderung rendah yang membuat pintu terbuka secara lebar-lebar bagi pihak-pihak tertentu untuk melakukan diskriminasi, intoleransi dan kekerasan. 

Sumber Gambar : Nu.or.id

Menurut Penulis, Propaganda melalui media sosial dapat dijadikan sebagai alat dalam melakukan perlawanan terhadap diskriminasi, intoleransi dan kekerasan ekstrimis yang bertujuan untuk memberikan pengaruh kepada pendapat serta tindakan masyarakat untuk tidak melakukan hal tersebut. 

Selain itu juga untuk memberikan dominasi terhadap gerakan-gerakan yang berhubungan dengan diskriminasi, intoleransi, serta kekerasan ekstrimis. 

Banyak cara yang dapat dilakukan salah satunya seperti contoh yang penulis paparkan diatas, dapat pula secara mandiri membentuk kelompok-kelompok dalam civil society untuk melakukan propaganda yang bersifat positif, yang peduli terhadap sesama. 

Memberikan pendidikan dan pemahaman dalam penggunaan media sosial yang baik dan benar melalui berbagai media sosial yang ada, serta mencegah tumbuh dan berkembangnya tindakan diskriminasi, intoleransi, dan kekerasan ekstrimis yang dilakukan.

Meskipun propaganda dilakukan melalui media sosial, dampaknya akan terasa dalam kehidupan dunia nyata seperti yang penulis katakan sebelumnya bahwa media sosial seakan menjadi kebutuhan primer bagi sebagian kalangan masyarakat. 

Propaganda yang dilakukan lebih efektif dan efisien tidak membutuhkan budget yang tinggi serta informasi yang disampaikan dapat menjangkau seluruh pengguna media sosial yang ada di muka bumi dalam beberapa waktu yang tidak lama dibandingkan dengan propaganda yang dilakukan di dunia nyata.

Kampanye Media Sosial

Kampanye merupakan salah satu tindakan yang dapat disandingkan dan dilakukan bersama dengan proses propaganda di media sosial. 

Kampanye adalah tindakan dan usaha yang bertujuan mendapatkan pencapaian dukungan, usaha kampanye bisa dilakukan oleh perorangan atau sekelompok orang yang terorganisir untuk melakukan pencapaian suatu proses pengambilan keputusan di dalam suatu kelompok (Sumber : Wikipedia.org)

Kampanye di media sosial dapat dilakukan dengan cara membuat slogan, hastag, video, atau dalam bentuk gambar lalu di unggah diberbagai media sosial yang ada yang bertujuan untuk melawan diskriminasi, intoleransi, dan kekerasan ekstrimis. 

Selain dengan propaganda, Kampanye juga diyakini dapat memberikan doktrin yang bersifat positif di dunia maya maupun dunia nyata dalam mencegah maupun melawan gerakan radikalisme baik yang belum terjadi maupun yang sudah terjadi.

Dengan demikian, semakin banyaknya simpati dan dukungan yang diraih dalam melakukan kampanye di media sosial maka akan mengurangi atau mempersempit ruang gerak pelaku radikalisme yang ada dengan kata lain dapat di minimalisir terjadinya resiko diskriminasi, intoleransi dan kekerasan ekstrimis.

Sama halnya dengan propaganda, Kampanye sebisa mungkin harus dilakukan dengan terstruktur, tersistematis dan massive agar keberlanjutan daripada program tersebut dapat secara terus-menerus dapat berjalan bahkan jika perlu melakukan proses kaderisasi agar dimasa mendatang terdapat penerus dalam melakukan pencegahan maupun perlawanan dengan menjadikan media sosial sebagai alat dalam melakukannya.

Selain melakukan propaganda dan kampanye di media sosial, tidak kalah penting pula adanya tim eksekutor di media sosial yang dibuat serta bertugas untuk melakukan Fast-Respon terhadap tindakan radikalisme agar sedini mungkin tindakan tersebut dapat terdeteksi dengan cepat.

Pesan-pesan propaganda dan kampanye di media sosial harus terbuka untuk di diskusikan, bahkan gagasan-gagasan pokok yang melatar belakangi dilakukannya propaganda dan kampanye juga harus terbuka untuk dikritisi. 

Keterbukan seperti ini dimungkinkan karena gagasan  dan tujuan propaganda serta kampenye yang mengandung kebaikan untuk publik.

Tindakan dalam kegiatan Propaganda dan Kampanye di media sosial dilandasi dengan prinsip yang persuasi, yaitu mengajak dan mendorong pengguna media sosial untuk menerima dan melakukan sesuatu yang dianjurkan serta bertolak belakang dengan diskriminasi, inntoleransi dan kekerasan ekstrimis atas dasar kesukarelaan.

Dibawah ini beberapa hal yang dapat dilakukan dalam melakukan propaganda dan kampanye dengan menjadikan media sosial sebagai alat dalam melakukan perlawanan terhadap radikalisme yang berujung pada diskriminasi, intoleransi, dan kekerasan ekstrimis, antara lain :

  1. Memberikan pendidikan dan pengetahuan tentang bahaya radikalisme serta dampaknya dalam kehidupan bermasyarakat.
  2. Melakukan propaganda dan kampanye tentang persatuan dan kesatuan.
  3. Melakukan propaganda dan kampanye aksi perdamaian atau melakukan aksi perdamaian.
  4. Bertindak secara aktif terhadap perlawanan radikalisme.
  5. Memberikan pemahaman akan hidup dalam kebersamaan.
  6. Mendorong pengguna media sosial untuk menyaring Informasi yang didapatkan.

Akhirnya, penulis berkesimpulan bahwa media sosial bisa menjadi wadah dalam melakukan diskriminasi, intoleransi, dan kekerasan ekstrimis bisa pula menjadi alat untuk melakukan gerakan perlawanan melalui metode propaganda dan kampanye yang dapat ditempuh sehingga akan berdampak terhadap sempitnya ruang gerak dan meminimalisir terjadinya radikalisme baik itu di dunia nyata maupun di dunia maya.