Entrok merupakan bahasa Jawa Kuno yang berarti BH/bra. Okky Madasari, novelis yang telah melahirkan Maryam, 86, The Years of the Voiceless, Pasung Jiwa (yang semuanya diterbitkan oleh Gramedia) ini, menulis sebuah novel dengan judul yang cukup provokatif tersebut: Entrok.

Diawali dengan kisah seorang gadis masa awal-awal kemerdekaan yang aktif merespon perkembangan fase hidupnya. Adalah Marni, seorang gadis belia, saat ia beranjak memasuki masa pubertas, ia mengalami perubahan pada tubuhnya. Kedua gunungnya membesar. Dan ia tidak tahu harus bagaimana. Sampai kemudian ia bertemu dengan Tinah, saudara sepupunya yang kaya, memiliki sebuah entrok.

Dibarengi semangat mendapatkan entrok namun di satu sisi ia merupakan golongan miskin, maka perjuangan Marni mendapatkan entrok itulah salah satu bagian menarik dari novel ini. Maklum, saat itu entrok adalah barang langka yang hanya dimiliki orang berada saja, bagi yang tidak kaya, yang dibiarkan kliwir-kliwir begitu saja.

Secara umum, novel ini membahasakan apa yang pernah terbungkam pada masa di mana kebebasan berpendapat ditutup rapat oleh popor senapan dan seragam loreng yang begitu mencekam. Novel ini menyiratkan sindiran, teguran, dan bahkan perlawanan atas kesewenang-wenangan prilaku rezim orde baru!

Senada dengan novel ini adalah apa yang pernah digagas oleh penulis kenamaan Ahmad Tohari. Melalui Ronggeng Dukuh Paruk, Orang-Orang Proyek, dan Kubah, Tohari kritis mendebat ketimpangan dan kecacatan yang terjadi pada masa presiden yang terkenal dengan tutur kata "Piye, penak zamanku toh"

Selain menggugat tirani agung Orde Baru, Okky Madasari, dalam novel ini, juga memanggungkan sikap prihatinnya atas minimnya toleransi kepercayaan antarindividu, bahkan dalam hal ini, terjadi dalam posisi yang paling rawan untuk terjadi perselisihan, yakni pada hubungan anak dan ibu. Antara ibu yang masih kukuh mempertahankan pemujaan leluhurnya dengan sang anak yang sudah mengenal agama Islam.

Pengintimidasian hak-hak kaum wanita yang didominasi oleh kuasa laki-laki, juga atas wewenang otoritas aparatur Negara saat itu, dibantu dengan todongan senjata dan kebiadaban yang tinggi, soal klaim bahwapelawan Negara adalah PKI, dan PKI adalah borok menjijikkan yang harus disandang selama-lamanya!

Maka seorang yang tak bisa menjadi alat pemuas birahi pemerintah adalah cacat yang amat nista bagi rezim tersebut.

Dalam hal ini, kasus Rahayu, sang anak yang diklaim sebagai PKI oleh negara akibat ikut terlibat mempertahankan tanah warga yang akan digusus untuk dijadikan waduk. Akibatnya, dengan KTP PKI yang diberikan oleh pemerintah, segala apa yang ia lakukan adalah penuh dengan kecurigaan. Ia tak jadi menikah akibat sang calon suami khawatir anak dan cucunya nanti menjadi sengsara. Rahayu harus menelan duka berkepanjangan.

Alur yang menarik, emosional, dan tak tertebak, serta penokohan yang kuat dalam setiap aktor kisah, membuat novel ini semakin memesona. Gaya humoris yang diselipkan dalam cerita juga kerap membuat pembaca terpingkal.

Penggunakan kata “to” pada setiap akhir pertanyaan yang dikeluarkan oleh pihak aparat Negara saat melakukan pemalakan, menggiring kita kepada tokoh penggerak dinasti Orde Baru, Suharto. Piye, Penak Jamanku, To? Bukan hanya itu, lewat pencatutan kata-kata itu juga mengindikasikan bahwa pertanyaan tidak melulu bermakna pertanyaan, tapi lebih kepada pemaksaan kehendak, yang mau tidak mau, kita harus menyetujuinya. Ya, toh?

Terkait pengambilan entrok sebagai judul novel hal  itu merupakan sebuah gambaran bahwa melakukan perubahan adalah sesuatu yang penting. Kebiasaan membiarkan kedua payudara menggelambir saat sudah memasuki masa remaja, seyogyanya diimbangi dengan menggunakan entrok sebagai penopang dan peneguhan eksistensi salah satu harta berharga milik perempuan.

Demikian sebuah bangsa, butuh perubahan, meski awalnya dianggap tabu, demi memajukan bangsa, menuju peradaban yang didambakan.

Judul: Entrok | Penulis: Okky Madasari | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Tempat: Jakarta | Tahun: 2016 | Tebal: 282 Halaman | Cetakan: Ketiga

Ciputat, 14 November 2016