Benarkah manusia itu fitrahnya baik? Para ahli psikologi berbeda pandangan dalam menjawab soal ini.

Pentolan aliran psikoanalisis, Sigmund Freud mengatakan bahwa manusia itu pada dasarnya jahat; egois atau mementingkan diri sendiri. Merespons hal ini, aliran humanis yang diprakarsai oleh Abraham Maslow menyatakan bahwa manusia itu pada dasarnya baik; altruis atau ingin berkontribusi pada orang lain.

Aliran ekonomi pun secara garis besar terbelah dua karena pertanyaan ini. Kapitalisme yang melindungi egoisme manusia dan kolektivisme yang mendorong manusia untuk berbagi.

Tujuan keduanya sama mulianya, yaitu mengantarkan manusia pada fitrahnya. Agama, secara umum memberitahu kita bahwa manusia itu fitrahnya baik. Sekali lagi saya bertanya, benarkah manusia itu fitrahnya baik?

Perdebatan akan menjadi sangat rumit dan berlarut-larut jika kita membedah apa itu yang dikatakan baik. Untuk mempermudah, baik yang dimaksud dalam tulisan ini adalah altruistis dan toleran. Singkatnya, baik itu adalah menganggap orang lain adalah sesama yang harus dibahagiakan hidupnya.

Mari kita kembali ke persoalan fitrah manusia. Sejarah mencatat bahwa manusia bukanlah makhluk yang baik. Nenek moyang kita berpisah dengan kera sekitar 6 juta tahun yang lalu. Dari sini lah manusia memiliki garis evolusinya sendiri, membentuk genus yang dinamakan manusia (Homo).

Manusia modern seperti penulis dan pembaca tulisan ini dipastikan adalah Homo (genus) Sapiens (species). Penting untuk diketahui, Homo Sapiens, bukan lah satu-satunya manusia yang pernah hidup di bumi.

Ada banyak sekali spesies manusia dari sekitar 6 juta tahun yang lalu hingga 50 ribu tahun yang lalu. Sebut saja Homo Erectus, Homo Erectus, Homo Neanderthal, Homo Habilis, Homo Floresiensis, Homo Solensis dan lain sebagainya. Ini bukan cerita fiksi, hal ini nyata dan terbukti dalam sains.

Lalu, kemana mereka hari ini? Jawabannya; punah karena kemunculan homo sapiens yang jauh lebih cerdas dari semua spesies yang pernah hidup sekitar 300 ribu tahun yang lalu. Homo Erectus yang sudah bertahan selama satu juta tahun di bumi punah setelah spesies kita menyebar di muka bumi. Begitu juga spesies Homo lainnya. Terakhir adalah Homo Neanderthal yang diperkirakan baru punah pada 30 ribu tahun yang lalu.

Mengapa nenek moyang kita tega memusnahkan kerabat-kerabat kita? Toleransi bukanlah ciri Sapiens. Dalam abad modern, perbedaan kecil seperti warna kulit, dialek, atau agama sudah cukup bagi kita untuk memicu sekelompok Sapiens untuk mengenyahkan kelompok lain.

Apalagi nenek moyang kita yang hidup satu zaman dengan jenis manusia lain. Sangat mungkin terjadi ketika Sapiens bertemu Neanderthal, akibatnya adalah kampanye pembersihan etnis pertama dan paling signifikan dalam sejarah.

Ketiadaan kerabat menyebabkan lebih mudah untuk membayangkan bahwa kita adalah intisari dari penciptaan. Ketiadaan kerabat juga membuat satu jurang yang memisahkan kita dari anggota kerajaan binatang yang lain. Kerabat manusia yang lain terlalu nyata untuk diabaikan, tetapi terlalu berbeda untuk ditoleransi. Keberadaan mereka bisa membuat keistimewaan kita sebagai intisari dari penciptaan digugat.

Tanpa disadari, sepertinya kita selalu ingin dianggap istimewa. Hampir setiap agama mengajarkan bahwa umatnya istimewa. Kita berebut status tentang siapa yang paling istimewa. Orang Islam mengaku lebih istimewa dibanding orang Yahudi dan Kristen.

Begitu juga sebaliknya. Tidak hanya agama, warna kulit pun bisa memberikan keistimewaan. Sekelompok orang kulit putih menganggap bahwa dirinya lebih tinggi dari ras lainnya (white supremacist). Singkatnya, hampir setiap identitas kelompok menganggap bahwa kelompoknya lebih istimewa

Pencetus teori identitas sosial, Henri Tajfel menyatakan bahwa manusia secara alamiah memisahkan kelompok sosial menjadi kelompok kita (ingroup) dan kelompok mereka (outgroup). Pola pikir ini merupakan bawaan dari nenek moyang ketika masih menjadi pemburu dan pengumpul makanan (hunter-gatherer). 

Beberapa penelitian membuktikan semakin seseorang merasa terikat dengan identitas sosialnya, semakin mungkin orang tersebut berprasangka atau melakukan diskriminasi pada kelompok lain (outgroup).

Diskriminasi pada akhirnya memungkinkan terjadinya kekerasan bahkan pembantaian terhadap kelompok lain. Mau setuju atau tidak, harus diakui secara psikologis, manusia itu pada dasarnya egois dan intoleran!

Memutus Rantai Intoleransi

Saya kira, pertolongan pertama untuk memperbaiki kesalahan adalah mengaku bersalah! Kita harus akui bahwa manusia itu egois dan intoleran. Setelah itu, baru kita mencari cara untuk memanipulasi dorongan alamiah kita.

 Perlu diingat, manusia adalah satu-satunya spesies yang mampu memanipulasi hukum alam. Contoh gampangnya, kebanyakan kita menggunakan alat kontrasepsi saat berhubungan seks. Padahal, secara alamiah seks itu untuk berkembang biar. Tapi kita memanipulasinya demi kesenangan.

Menurut Amartya Sen, penyebab utama konflik sosial adalah persoalan identitas manusia yang direduksi menjadi sangat sempit bahkan tunggal. Padahal, secara alami manusia memiliki beragam identitas, dari yang sempit hingga luas contohnya; pria, mahasiswa, keturunan Jawa, warga negara Indonesia, beragama Islam, dan manusia. Semua ini adalah identitas kita.

Tak heran sering sekali dijumpai konflik dalam permasalahan sepele yang diakibatkan identitas sosial. Perkelahian antar fans klub sepakbola, perdebatan antar peminat aliran musik, hingga perdebatan user Android dan user Apple yang sering saya lihat di forum daring.

Fans klub sepakbola lain dianggap karbitan, orang dengan aliran musik yang berbeda dianggap dungu, user Android dianggap miskin, user Apple dianggap doyan pamer. Masih banyak contoh lain dari stereotip ini, kita bisa menemukannya dengan mudah!

Dapat dibayangkan ketika prasangka didasarkan pada identitas yang lebih besar, seperti ras, etnis, bahkan agama. Potensi konfliknya akan semakin besar! Belum lagi ditambah pupuk politik yang sudah terbukti dalam sejarah membuat konflik semakin tumbuh subur.

Nah, ketika seseorang melekatkan identitas dirinya pada identitas tunggal, kecenderungan konflik akan terbuka lebar. Dengan ketunggalan identitas, individu akan menganggap kelompok yang identitasnya tidak sama sebagai kelompok outgroup dan memunculkan potensi diskriminasi.

Contohnya; Budi menganut agama Islam. Ketika ia melekatkan diri hanya pada satu identitas, maka sangat memungkinkan ia akan melakukan diskriminasi pada kelompok agama lain. Budi tidak bisa melupakan identitasnya yang lain seperti; Orang Jawa, warga negara Indonesia, Muslim dan lain sebagainya. 

Dengan melekatkan dirinya pada identitas lainnya yang dimiliki, saat melihat orang Kristen di dekat rumahnya, Budi tidak langsung mengidentifikasi orang tersebut sebagai outgroup. Budi harus ingat bahwa orang itu juga sama-sama warga negara Indonesia.

Bagi Amartya Sen, ketika seseorang menemukan persamaan identitas, kecenderungan untuk menganggap orang tersebut sebagai ingroup akan membesar dan menutup celah konflik. Oleh karena itu, setiap ajakan yang membuat orang hanya melekatkan identitasnya pada satu kelompok harus dilawan. Manusia bukanlah makhluk yang uni-identitas! Kita ini multi-identitas.

Saya kira, satu hal yang penting untuk mengurangi intoleransi dan diskriminasi yang saat ini marak terjadi adalah dengan pendekatan identitas. Kita harus bersama-sama mengkampanyekan tentang multi-identitas manusia. Memperluas keterikatan identitas berkemungkinan besar mengurangi terjadinya intoleransi dan diskriminasi.

Minimal sekali, kampanye kita harus bisa menyadarkan bahwa kita memiliki satu identitas yang sama dengan orang lain, yaitu sama-sama manusia. Dengan begitu, kita bisa mengidentifikasi semua manusia menjadi ingroup. Kita bisa melunturkan sekat-sekat yang dibatasi oleh perbedaan agama, suku, ras dan lain sebagainya. Hal ini akan berdampak besar! Tidak ada lagi manusia yang melihat latar belakang yang sama sekali tidak relevan pada hubungan antar manusia.

Syukur-syukur kalau berhasil membuat orang-orang sadar bahwa mereka adalah ciptaan Tuhan. Jika sudah sampai tahap ini, maka kita bisa mengidentifikasi semua makhluk hidup sebagai ingroup. Memiliki satu identitas yang sama dengan kita, yaitu sama-sama ciptaan Tuhan. Dengan begini, tidak ada lagi eksploitasi alam, kekerasan terhadap hewan dan segala bentuk diskriminasi pada makhluk hidup yang lain.

Tetapi ini bukan tugas yang mudah. Kita secara alamiah berhasrat untuk menjadi istimewa. Ingin dianggap intisari dari penciptaan. Ingin berperan besar dalam kehidupan. Mengidentifikasi identitas diri dengan kelompok yang lebih besar bisa membuat kita tidak lagi istimewa. Membuat kita tidak berdaya untuk berperan dalam kehidupan.

Misal, kita hanya mengidentifikasikan diri pada agama tertentu. Kita akan merasa jauh lebih istimewa dari banyak orang. Ingin berperan besar? Mudah sekali. Taruh saja bom di tempat di mana banyak orang yang beragama lain. Kita akan merasa berperan! Setidaknya, menganggap diri berperan sebagai pasukan Tuhan.

Bayangkan kalau kita mengidentifikasikan diri pada kelompok yang lebih besar. Misal pada identitas manusia. Apa yang bisa kita lakukan? Ada berapa banyak manusia yang sedang menderita saat ini? Ada berapa banyak manusia yang mati kelaparan?

Hal ini membuat kita merasa sama sekali tidak istimewa! Apalagi berperan? Ini lebih sulit lagi. Toh, untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga saja kita sudah kesulitan!

Melawan dorongan alamiah itu memang sangat sulit. Tapi, ingat bahwa kita adalah satu-satunya makhluk yang bisa memanipulasi alam. Apakah pernyataan ini membuat Anda menjadi lebih istimewa? Mari kita berjuang agar manusia tidak secara ekstrem menganut satu identitas! Wallahu A’lam.


Referensi:

Harari, Y. N. (2017). Sapiens. Tangerang Selatan: Alvabet.