Intoleransi di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Dua kejadian yang viral di  media sosial ini bisa dijadikan contoh. Desember 2017 sebuah toko kue di Makasar menolak menuliskan ucapan selamat natal pada kue pesanan pelanggannya dengan alasan tidak sesuai dengan prinsip agamanya, dan yang baru saja terjadi, seorang ibu berhijab menolak tawaran seseorang untuk duduk di sebelahnya saat di Trans Jakarta, karena menduga yang memberi kursi tersebut adalah orang Kristen. How come? Rasanya tidak percaya peristiwa seperti itu terjadi di negara tercinta ini.

Toko kue di Makasar itu jelas berlaku diskriminatif dan melanggar Undang-Undang Perlindungan Konsumen yang mengatur soal hak konsumen. Sedang ibu yang menolak tempat duduk? Hellow  bu. Ibu sehat? Ajaran siapakah itu? Rasul saya Nabi Muhammad saw tidak pernah mengajarkan seperti itu. Beliau adalah sosok yang toleran dan menghormati pemeluk agama lain serta melarang umatnya berbuat dzalim kepada yang berbeda keyakinan.

Jadi belajar dari siapakah para intoleran itu? dan siapa yang memberi pengaruh? Tentu saja ‘Universitas Media Sosial’ salah satunya. Sekolah yang dengan cepat mampu menghasilkan sarjana intoleran dan ekstremisme. Guru mereka adalah akun penyebar ujaran kebencian dan hoax. Membuat ruang publik diisi dengan sentimen SARA, kebencian, serta permusuhan didunia maya. Heemm, tentunya sudah banyak lulusan universitas tersebut sehingga banyak kejadian aneh-aneh belakangan ini.

‘Sekolah Media Sosial’ sebenarnya memiliki banyak jurusan. Tapi yang menarik bagi netizen adalah jurusan agama dan politik. ‘Mata kuliahnya’ ujaran kebencian dan hoax. Apalagi menjelang masa-masa pemilu. Dua hal tersebut bahannya seperti tak pernah habis.  ‘Digoreng ‘sana-sini, dan diolah dengan berbagai macam sajian  agar makin ‘renyah’ untuk ‘dikonsumsi’ netizen.  

Bila diumpamakan, sarjana-sarjana lulusan sekolah tersebut, yang wisuda dengan predikat memuaskan bekerja sebagai pelaku penyebar ujaran kebencian, yang lulus sangat memuaskan menjadi pelaku intoleransi, dan yang berpredikat cum laude menjadi pelaku persekusi bahkan bisa menjadi ekstremisme.

Indonesia sedang mengalami fenomena dimana ujaran kebencian dan hoax marak bertebaran  di media sosial. Satu akun ujaran kebencian dan hoax bisa dikirim sekaligus  ke berbagai platfom media sosial.  Bayangkan akibatnya bila yang berbagi informasi puluhan, ratusan bahkan ribuan akun. Berapa banyak masyarakat yang bisa  dijangkau. Tersebarnya cepat bahkan bisa  menjadi viral

Laporan Tetra Pak Index 2017 mencatatkan ada sekitar 132 juta pengguna internet di Indonesia dengan lebih dari 106 juta orang menggunakan media sosial tiap bulannya. Di mana 85% di antaranya mengakses media sosial melalui perangkat seluler.

Pengguna sebanyak itu dengan kemudahan mengakses jaringan internet yang bahkan bisa didapatkan secara gratis diarea publik,  membuat Indonesia menjadi target potensial untuk penyebaran ujian kebencian dan radikalisme. Apapun yang dilempar di media sosial sebagai isu, masyarakat dengan cepat mengonsumsinya.  Dunia maya setiap saat mampu  melahirkan pelaku intoleran dan ekstremisme baru.

Mengapa kebanyakan masyarakat Indonesia belum bijak dalam bermain media sosial?  Gampang berbagi informasi, mudah terprovokasi, hingga bisa melakukan eksekusi berupa persekusi? Pernyataan Laras Sekarasih, dosen Psikologi Media dari Universitas Indoesia kepada Kompas.com berikut ini, bisa menjadi gambaran.

Disampaikan oleh Laras Sekarasih, bahwa orang lebih cenderung percaya hoax jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimiliki. Misal seseorang memang sudah tidak setuju terhadap kelompok, produk, atau kebijakan tertentu. Ketika ada informasi yang dapat mengafirmasi opini dan sikapnya tersebut, maka ia mudah percaya.

Begitu sebaliknya, seseorang yang terlalu suka terhadap kelompok, produk, dan kebijakan tertentu, jika menerima informasi yang sesuai dengan apa yang ia percayai, maka keinginan untuk melakukan pengecekan kebenaran terlebih dahulu menjadi berkurang.

Ditambahkan juga oleh Laras Sekarasih, secara natural, perasaan positif akan timbul di dalam diri seseorang ketika ada yang mengafirmasi apa yang dipercayai. Perasaan terafirmasi tersebut juga menjadi pemicu seseorang dengan mudahnya meneruskan informasi hoax ke pihak lain.

Mudahnya meneruskan informasi hoax tanpa seleksi oleh netizen umumnya dikarenakan kebiasaan netizen yang senang berbagi informasi, dan berlomba-lomba menjadi yang pertama melakukannya. Selain itu, karena rendahnya tingkat literasi di Indonesia. Berdasarkan riset oleh World’s Most Literate Nation pada tahun 2016, Indonesia menduduki peringkat ke 61 dari 62 negara yang diteliti terkait literasi. Akibatnya, dengan minimnya pengetahuan, kebanyakan masyarakat Indonesia gampang termakan informasi yang diterima tanpa ingin melakukan cek ulang atau mengevaluasi kebenarannya.

Peredaran informasi menjadi kian sulit dicegah karena perkembangan teknologi digital penetrasinya hingga ke berbagai kalangan. Hal tersebut tidak bisa  dinafikan. Internet sudah menjadi tuntutan jaman. Peran internet sangat penting dalam kehidupan ini. Siapa yang tidak terbantu dengan internet? Hanya dengan klik-klik, informasi dan data di seluruh dunia yang dibutuhkan bisa tersajikan depan mata.

Internet bisa menjadi positif dan negatif tergantung penggunanya. Media sosial  bila digunakan dengan benar bisa memberikan manfaat. Lewat aplikasi berbagi bersama tersebut, orang bisa menjadi bersimpati, berempati hingga menggerakkan  massa untuk berbuat kebaikan. Media sosial juga bisa merubah orang menjadi sukses. Tengok para Youtuber, selegram, bloger, dan lain-lain. Sebaliknya lewat media sosial pula orang bisa belajar berlaku negatif seperti yang sudah dibahas diatas.

Mengantisipasi agar pengguna  internet yang salah  tidak semakin banyak, maka perlu mengedukasi masyarakat bagaimana bermedia sosial dengan bijak dan benar. Misalnya, memastikan terlebih dahulu kelayakan konten yang akan   dibagikan, dengan cara melakukan klarifikasi kebenarannya, manfaatnya, baru kemudian menyebarkannya, agar perilaku asal berbagi tanpa seleksi tidak menjadi budaya.

Selanjutnya meningkatkan literasi media, agar masyarakat bisa menyeleksi informasi yang benar dan salah. Berpikir independen, cerdas, tidak gampang terpengaruh kelompok atau golongan tertentu, dan memiliki pengetahuan yang cukup agar tidak mudah terprovokasi dan terbawa arus keberpihakan.

Peran media massa juga sangat diperlukan dalam menyajikan berita yang independen dan tidak memihak. Meskipun media tersebut berafiliasi dengan kepentingan tertentu, netralitas tetap harus dijaga, agar kepercayaan masyarakat terhadap media mainstream dan online tidak hilang.

Pemerintahpun sudah melakukan berbagai upaya untuk membendung penyebaran ujaran kebencian dan hoax agar tidak semakin liar. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyatakan telah melakukan komunikasi dengan berbagai pihak luar, seperti Facebook dan Google. Kerja sama dilakukan untuk menyaring konten dan beragam informasi yang masuk.

Aparat kepolisian juga telah bertindak cepat dalam memperoses para penyebar  hoax dan ujaran kebencian berikut yang mendistribusikannya, karena telah ada payung hukumnya, yaitu Undang-Undang Nomor  19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang no. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Hal itu harus dilakukan agar menimbulkan efek jera bagi pelaku, karena yang mereka lakukan membahayakan masa depan bangsa ini.

Ah, tiba-tiba saya rindu masa kecil saya dahulu. Tahun 80 an hingga 90 an, dimana internet belum merampas kehidupan sosial kita, dan saya bebas bermain dengan siapa saja tanpa perlu menanyakan agamanya apa, sukunya apa. Saat hari besar keagamaanpun kita saling berkunjung, mengucap selamat, menyantap hidangan yang disuguhkan. Guyub, tentram dan damai. Hmm bahagia sekali

Sayang kondisi seperti itu sudah jarang ditemui saat ini. Sekarang intoleransi malah dinyatakan secara terang-terangan. Media sosial menjadi media asosial ditangan haters. Kini, tinggal masyarakat  Indonesia sendiri yang bisa memilih. Ingin negara ini maju atau malah mundur. Indonesia sudah tertinggal dengan negara lain, khususnya negara tetangga. Apakah kita terus berkutat pada hal-hal yang tidak bermanfaat? Waktu dan pikiran sepatutnya dicurahkan untuk mencapai tujuan yang positif. Lebih baik menjadi wisudawan cum laude di universitas formal dan berkontribusi positif terhadap bangsa ini daripada lulus cum laude dari ‘Universitas Media Sosial’ yang berakhir di penjara. Pilih mana?