It’s because of this fundamental shift towards user generated information that people will listen more to other people than to traditional sources”

Eric Schmidt, ex-CEO Google

FENOMENA MEDIA SOSIAL

Kemunculan media sosial seperti facebook yang diciptakan awal pada tahun 2004 dan menjadi booming sekitar tahun 2008 menjadi fenomena sampai saat ini dengan pengguna lebih dari 1 milliar membuat para innovator lain mengikuti jejak Mark Zuckerberg dengan menciptakan  media sosial  serupa seperti Twitter, Instagram, dan Path.

Media sosial dilihat sebagai alat kampanye yang efektif untuk menyebarkan informasi dengan jangkauan wilayah luas dan berbagai lapisan masyarakat terlebih kalangan muda dan pemilih pemula secara cepat. Dibanding media konvensional yang dinilai kurang greget dan mulai terasa hampa.

Sebagaimana menurut Toto Sugiarto[1] mengatakan keramaian ide, gagasan, dan visi-misi terasa mulai berpindah ke ruang-ruang maya. Diskusi, perdebatan, bahkan saling tuduh secara frontal begitu bebas terjadi di berbagai media sosial. Untuk kalangan yang relatif terdidik, kampanye menggunakan media sosial lebih efektif ketimbang baliho dan spanduk. Orang yang relatif terdidik dan well inform ini tidak akan percaya isi baliho atau spanduk, tapi lebih percaya pada perkataan teman atau koleganya di media sosial.

Di sini dapat dikatakan bahwa setiap orang dapat berpengaruh bagi orang lain. Maka, di media sosial tidak lagi berlaku one man one vote, tetapi satu orang bisa memiliki kekuatan setara puluhan, ratusan, atau ribuan lebih orang. Itulah kelebihan media sosial. Apalagi menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika  mengungkapkan pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang.

Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial. Situs jejaring sosial yang paling banyak diakses adalah Facebook dan Twitter. Indonesia menempati peringkat 4 pengguna Facebook terbesar setelah USA, Brazil, dan India.[2]

Sedangkan  90 persen warga DKI Jakarta menggunakan media sosial Twitter. Angka tersebut bahkan membuat Jakarta menjadi kota yang paling "berkicau" di seluruh dunia. Tingginya angka pengguna media sosial di Indonesia, seharusnya dapat dimanfaatkan dengan baik oleh partai politik sebagai salah satu media kampanye. Dari media sosial, umpan balik (feedback) masyarakat dapat dilihat, baik itu positif maupun negatif. Kalaupun ada komentar sentimen dari publik, maka hal itu dapat menjadi bahan masukan bagi partai politik.[3]

PERAN MEDIA SOSIAL

Media sosial dalam hal ini sebagai media komunikasi politik. Secara sederhana, komunikasi politik berkaitan dengan bagaiamana menjelaskan proses politik dari perspektif komunikasi. Penjelasan ini menunjukkan bahwa dalam komunikasi politik ada komunikator politik, pesan politik, dan media.

Dalam lingkup yang lebih luas, hal ini berkaitan pula dengan political marketing dan public relations. Dengan demikian, kajian komunikasi politik dapat didekati dengan pendekatan psikologi sosial, ilmu politik, sikap dan kepercayaan, dan dampak media (Ghazali, 2004:3)[4]. Secara umum, media sosial dapat berperan sebagai alat organisasi, media alternatif dan pembangkit kesadaran.[5]

PENGGUNAAN SOSIAL MEDIA

Alison Doyle seorang Psikolog  Amerika mendefinisikan media sosial sebagai berbagai alat teknologi online yang memungkinkan orang untuk berkomunikasi dengan mudah dan orang menggunakan media sosial untuk berbagi informasi, teks, audio, video, gambar, podcast, dan komunikasi multimedia lainnya. Media sosial memiliki beberapa dampak terhadap kehidupan anak muda baik mendukung gaya hidup mereka maupun memberikan dampak negatif. Pengaruh media sosial sangat besar bagi generasi yang hidup dimana media tidak hanya menyebarkan informasi dari TV, tetapi lebih interaktif, multimedia dan multi tasking. Dan hal itu berdampak pada organisasi yang perlu tetap relevan bagi generasi baru melalui perubahan struktur dengan mengubah alat komunikasi dan pola komunikasi (Anthony, 2009).[6]

Anak muda saat ini tidak lepas dari smartphone yang didalamnya terdapat berbagai aplikasi yang digunakan setiap hari bahkan sebuah survey menyebutkan rata-rata setiap orang menghabiskan waktu berjam-jam per harinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa anak muda saat ini sangat tergantung pada media sosial untuk berkomunikasi dan bermain games.

Sosial media selain digunakan sebagai tempat curhat, beberapa kalangan menggunakannya untuk meng-update berbagai isu seperti aksi terorisme dan bencana alam juga sering menyita perhatian publik anatar lain serangan bom di Mumbai 2008, Gempa bumi Haiti 2010, Revolusi musim semi di negara Arab 2011(Arab Spring) dan serangan bom Paris 2015.[7]

 Peristiwa tersebut melibatkan media sosial baik dalam hal penyebaran pesan provokasi maupun aksi penggalangan dana dengan tujuan memobilisasi massa. Meskipun sejumlah pengamat masih memperdebatkan kemampuan media sosial  dalam memobilisasi massa. Akan tetapi, melihat beberapa peristiwa besar yang terjadi seperti Arab Spring dan kemenangan Obama dapat dikatakan media sosial berbeda dari media lain dalam hal kebebasan tanpa filter sehingga kemampuan media masa memobilisasi massa begitu besar pengaruhnya.

Indonesia sendiri mulai terkena demam sosial media sekitar tahun 2009 yang ditandai dengan kemunculan Facebook lalu disusul Twitter. Menurut data dari Webershandwick, perusahaan public relations dan pemberi layanan jasa komunikasi, untuk wilayah Indonesia ada sekitar 65 juta pengguna Facebook aktif. Sebanyak 33 juta pengguna aktif per harinya, 55 juta pengguna aktif yang memakai perangkat mobile dalam pengaksesannya per bulan dan sekitar 28 juta pengguna aktif yang memakai perangkat mobile per harinya.

Pengguna Twitter, berdasarkan data PT Bakrie Telecom, memiliki 19,5 juta pengguna di Indonesia dari total 500 juta pengguna global. Twitter menjadi salah satu jejaring sosial paling besar di dunia sehingga mampu meraup keuntungan mencapai USD 145 juta. Produsen di jejaring sosial adalah orang-orang yang telah memproduksi sesuatu, baik tulisan di Blog, foto di Instagram, maupun mengupload video di Youtube.

Kebanyakan pengguna Twitter di Indonesia adalah konsumen, yaitu yang tidak memiliki Blog atau tidak pernah mengupload video di Youtube namun sering update status di Twitter dan Facebook. Selain Twitter,  jejaring sosial lain yang dikenal di Indonesia adalah  Path dengan jumlah pengguna 700.000 di Indonesia. Line sebesar 10 juta pengguna, Google+ 3,4 juta pengguna dan Linkedlin 1 juta pengguna.[8]

Seperti yang ditulis  the Jakarta Globe berdasarkan femonena media sosial di Indonesia bahwa media sosial menjadi cara yang mudah dan efektif untuk membuat suara rakya didengar dalam demokrasi. Mereka mulai merubah cara menyuarakan aspirasi dari protest di jalan dengan laman media sosial (The Jakarta Globe, 2009).

Motivasi pengguna menggunakan media sosial pun bermacam-macam, jika dilihat dari budaya karena adanya kebiasaan bergosip dan meniru gaya hidup kebarat-baratan, lalu secara teknologi ditandai munculnya fenomena Blackberry yang mengawali era ponsel pintar. Secara psikologi adanya keinginan meluapkan emosi dan narsis. Kemudian secara ekonomi adanya kemudahan akses internet dengan biaya terjangkau.[9]

BELAJAR DARI OBAMA

Kampanye Obama yang begitu masif di media sosial tidak hanya menarik publik Amerika, tetapi seluruh dunia termasuk Indonesia. Tim sukses Obama gencar memposting foto maupun status terbaru di dunia maya dengan slogan yang begitu melekat dalam setiap foster Obama yaitu Yes We Can dan Hope.

Obama juga berhasil mempopulerkan smartphone  Blackberry yang  diabadikan tim suksesnya saat berada di pesawat ketika Obama sedang berdiri sambil memegang Blackberry. Foto tersebut pun menjadi viral dan meningkatkan omset penjualan handphone besutan perusahaan  asal Kanada tersebut.

Tidak hanya itu, kisah Obama pun ramai dijumpai di Indonesia terlebih karena mempunyai sejarah masa kecil di Jakarta. Fenomena Obama yang  luar biasa ini menjadi bahan kajian para think-thank atau tim marketing politik di Indonesia terutama di kota besar.

Dari sekian banyak cara yang digunakan tim sukses Obama, ada beberapa strategi tim Obama yang dinilai berhasil memenangkan pertarungan politik di media sosial yaitu pertama individual agency merupakan  suatu cara mengajak para simpatisan untuk terlibat aktif mendukung pilihannya seperti dalam penggalangan dana secara individual melalui media sosial. Cara ini berhasil mengumpulkan dana senilai 1 milliar dolar. Tim Obama memilih cara ini daripada cara tradisional yang biasanya meminta dukungan pihak korporasi dengan tujuan membangun ikatan lebih dalam lagi antara pendukung dan yang didukung.  

Kedua, gencar menciptakan meme untuk menyampaikan pesan dan menyerang lawan dengan tampilang menghibur. Ketiga, menggunakan database besar yaitu kemampuan untuk mengkoleksi dan menganalisis data dalam skala besar bekerjasama dengan Google atau Amazone  yang  mengijinkan tim Obama menyusun strategi dan target yang akan dilakukan terhadap sasaran masyarakat tertentu berdasarkan kebiasaannya. Serta kemampuan memobilisasi  pendukung untuk diarahkan dan digerakkan  secara sukarela selama masa kampanye terutama di wilayah-wilayah kritis.

Keempat, merencanakan strategi masa depan media sosial yaitu dengan tetap memberikan perhatian lebih pada media sosial yang ada namun mencari alternatif lain supaya lebih berkembang dan unik sehingga mampu mempertahankan pemilih lama dan menarik pemilih baru.[10]  

Strategi Obama ini nampaknya sudah dicoba oleh tim Jokowi saat pemilihan Gubernur dan pemilu Presiden 2014  yang hasilnya dimenangkan Jokowi. Tim Jokowi Ahok maupun JK menyusun “pasukan cyber” yang berasal dari relawan maupun rekrutmen biasa. Pasukan ini bernama Jasmev bertugas untuk menyebarkan informasi visi misi Jokowi sekaligus menjadi benteng dari serangan lawan yang membuat pihak lawan kewalahan.

Pasukan ini tersusun secara sistematis dan besar sehingga mampu meraup suara pemilih pemula.  Tim Ridwan Kamil pun melakukan hal sama sehingga mampu memenangkan pemilu dan memudahkan interaksi dengan masyarakat luas. Namun, calon pemimpin di daerah belum memaksimalkan media sosial karena sebagian besar masih menggunakan cara lama padahal contoh diatas sebenarnya harus segera diikuti untuk memobilisasi masa secara efektif dan efisien. #LombaEsaiPolitik.

[1] Toto Sugiarto, Media Sosial Dalam Kampanye Politik (www.kompas.com)

[2] Kominfo : Pengguna Internet di Indonesia 63 Juta Orang (www.kominfo.go.id)

[3] Pengguna Twitter di Jakarta Tertinggi Sedunia.2016 (www.kompas.com)

[4] Shoelhi, Mohammad,2009, Komunikasi Politik, (Jakarta : Simbiosa Rekatama Media) hal.37.

[5] Madeline Storck, The Role of Social Media in Political Mobilisation, hal. 24 (ttp://www.culturaldiplomacy.org/academy/content/pdf/participant-papers/2012-02-bifef/The_Role_of_Social_Media_in_Political_Mobilisation_-_Madeline_Storck.pdf)

[6] Ghulam Shabir et al ,“The Impact of Social Media on Youth: A Case Study of Bahawalpur City”,Asian Journal of Social Sciences & Humanities, Vol. 3(4), 2014, hal.2 (http://www.ajssh.leenaluna.co.jp/AJSSHPDFs/Vol.3(4)/AJSSH2014(3.4-13).pdf).

[7] Caroline S. Sheedy, Social Media for Social Change, hal 26 (https://www.american.edu/soc/communication/upload/Caroline-Sheedy.pdf)

[8] Kominfo : Pengguna Internet di Indonesia 63 Juta Orang (www.kominfo.go.id)

[9] Luciana Hasan, 2010, Motivations to Use Social Media in Indonesia, (pdf) hal 7-10 (http://dare.uva.nl/cgi/arno/show.cgi?fid=223409)

[10] Pamela Rutledge, How Obama Win Social Media Battle (www.mprcenter.org)