Merupakan suatu fakta, media sosial yang hadir dengan berbagai inovasi fitur-fitur canggih telah berjaya dalam menambah kuantitas netter di Indonesia.

Dari hasil survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet tahun 2017 telah mencapai angka 143,26 juta jiwa atau setara dengan 54,64% dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia. Jumlah tersebut telah mengalami kenaikan sebesar 10,56 juta jiwa dari tahun sebelumnya. (Siaran Pers Kominfo, 2018)

Jumlah tersebut sebagian besarnya didominasi oleh masyarakat berumur 19-34 tahun. Hadirnya media sosial tentunya tidak hanya membawa efek positif saja, namun juga membawa efek negatif yang bisa kita amati sendiri, baik yang dialami oleh orang di sekitar kita ataupun yang juga pernah kita alami sendiri.

Tapi di sini saya ingin (sedikit) menggambarkan fenomena di pusaran remaja. Hal ini juga bertalian dengan adanya perubahan cara menyampaikan pesan secara praktis lewat aplikasi daring yang makin booming di kalangan remaja pada umumnya.

Menciptakan Pengecut

Selain kasus penculikan yang memanfaatkan media sosial untuk menarik mangsanya, kasus-kasus bullying yang menayangkan aksinya dan memperoleh impresi dari masyarakat maya, ada pula kaum-kaum pemburu gadis-gadis cantik yang siap untuk diajak kenalan hingga jadian (pacaran).

Dulu, ketika jomblo (baca: masyarakat) belum mengenal gawai dan komputer, cara paling efisien dalam bertukar informasi atau menyampaikan perasaan dari jarak jauh adalah dengan cara surat-menyurat melalui kantor pos.

Dengan surat-menyurat, muda-mudi dapat menjelaskan perasaannya lewat selembar kertas yang ditulis dengan hati-hati, ditujukan kepada seseorang yang ‘didoyannya’. Dengan cara itu dapat memakan waktu yang  cukup lama untuk sebuah ketidaksabaran dan ketidakpastian karena perasaannya yang sudah berkobar-kobar.

Untung-untung kalau suratnya yang telah lama dinanti dapat diindahkan oleh penyandra hati. Tapi kalau tidak? Kan, harus usaha lagi. Belum lagi waktu transaksi informasinya memakan waktu yang lebih lama jika dibandingkan dengan media sosial yang menggunakan jaringan seperti sekarang.

Ya. Mungkin itulah salah satu penyebabnya kenapa banyak orang tua dulu yang nikahnya di umur-umur 30an ke atas : )

Namun, dengan lahirnya sebuah wadah yang lebih canggih, maka cara itu pun ikut bergeser. Kemunculan gawai-gawai canggih yang dapat mengakses media sosial, juga dilengkapi dengan beragai fitur-fitur menarik yang dapat memudahkan penggunanya dalam mengenal dan bertukar informasi, kapan saja dan di mana saja, jika terhubung dengan jaringan internet.

Cikal bakal media sosial nan canggih seperti saat ini pertama kali ditemukan oleh Ward Chirtensen dan Randy Suess pada tahun 1978, yaitu ditemukannya sistem papan buletin yang berfungsi untuk melakukan pengunggahan, pengunduhan, serta untuk melakukan komunikasi dalam surat elektronik dengan melalui jaringan internet.

Cikal bakal itulah yang kemudian mengalami inovasi dan perkembangan hingga menjadi seperti sekarang. Dengan media sosial, orang-orang bahkan bisa berinteraksi seperti di dunia nyata melalui fitur dalam sebuah aplikasi, yaitu dengan melakukan panggilan video.

Sebuah penelitian nonilmiah mengatakan bahwa semenjak kemunculan media sosial, telah banyak pasangan yang sebelumnya berkenalan melalui media sosial kemudian bisa saling mengenal satu sama lain, hingga akhirnya melangkah ke jenjang ‘pacaran’.

Hal tersebut dapat dengan mudah terjadi. Sebab, dengan menggunakan media sosial, respons di antara para penggunanya tidak memakan waktu yang lebih lama dibanding dengan surat-menyurat dengan cara yang lawas.

Terlebih lagi, media sosial saat ini telah diperkaya dengan fitur-fitur yang imajinatif. Ekspresi dan ungkapan perasaan seseorang pun dapat diwakili bukan hanya dengan kata-kata, melainkan juga dengan emoji.

Dari sekian banyak hubungan asmara yang terbangun melalui media sosial, tidak sedikit di antaranya adalah orang-orang yang ‘penakut’ dalam menyatakan perasaannya secara langsung. Demikian halnya juga yang pernah terjadi di lingkungan sekitar penulis.

Media sosial, bagi mereka yang tidak sanggup dalam menyatakan perasaannya secara langsung, merupakan sebuah alternatif atau solusi yang efektif juga efisien. Hal ini kebanyakan berawal dari salah satu pihak memberikan ‘kode’ yang bermaksud untuk menuai impresi yang baik tentang sosok dirinya.

Alhasil, ketika berhasil menuai respons, maka mereka akan melanjutkan aksinya ke tahap yang lebih dalam dengan berbagai proses percakapan panjang-lebar kemudian memperoleh status “pacaran” melalui gawai.

Tidak jarang pula ada rumor yang merasuki lubang telinga kita, kasus seperti itu ada yang berakhir ‘malang’. Alih alih menjadi ‘langgeng’ setelah kemudian bertemu dan tidak sesuai ‘selera’, perpisahan justru mudah saja terjadi.

Apakah hubungan sudah segampangan itu? Mengapa tida mengindahkan pertemuan langsung? Bukankah ada kesan lebih serius ketika dua orang yang saling bertatap muka tanpa ada perantara? Ah, sudahlah. Mungkin bagi mereka romantis hanya sebatas itu.

Ada sebuah pesan yang tidak bisa ditransformasikan ke dalam kata-kata, melainkan bisa dititipkan lewat mata. Ada pula sebuah kesan yang tidak dapat disematkan dalam emoji, namun butuh sentuhan ekspresi secara langsung tanpa antara. Cukup! Terlalu dalam dan panjang jika dijelaskan lebih lanjut. Nanti menimbulkan air mata.

Ladang Pencitraan

Fenomena mengirim kata-kata bijak atau kutipan-kutipan puisi dan lain sebagainya telah banyak berhamburan di beranda Facebook (baca: media sosial) yang ditiru dari sumber lain kemudian tanpa mencantumkan sumbernya telah lazim kita temukan. Tak jarang di antaranya adalah usia-usia pelajar yang seharusnya mengetahui tentang hak cipta.

Pun, juga dengan orang-orang yang tampilannya terlihat lebih menawan dengan editan-editan melalui gawainya. Hitam diputihkan, kasar dihaluskan. Bulat, kotak, lonjong, segi tiga, ditiruskan dan lain sebagainya.

Tidak sedikit pula orang-orang yang tampil di media sosial dalam berbagai kemewahan di sekitarnya, ataupun juga sebaliknya yang kadang kala berbanding terbalik dalam realitasnya di dunia nyata. Sebab, di media sosial orang-orang berhak menampilkan apa saja sesuai dengan keinginannya.

Dengan media sosial, para ‘jones’ atau jomblo ngenes juga dapat berekspresi sepuas-puasnya dan menampung impresi sebanyak-banyaknya sampai betul-betul ngenes dan kaya perhatian. Namun, di sini perlu kita luruskan dulu bahwasanya tidak semua jomblo tergolong ngenes.

Sejauh ini saya sudah sering mendengar kata ngenes yang disorakkan bagi para korban PHP (pemberi harapan palsu) yang mengalami nasib ‘nahas’ dalam perjalanannya mencari pasangan.

Berangkat dari situ, ngenes dalam pandangan subjektif saya berarti mereka dengan berbagai upaya untuk mencari pasangan namun tak kunjung menuai hasilnya, hingga tak jarang menembus ruang khayalan. Memeluk pohon? Mencium tembok? Ya, boleh jadi.