Media Sosial atau biasa disingkat dengan kata ‘medsos’ tak dapat dipungkiri punya segudang jenis informasi. Berjam-jam waktu dapat dihabiskan di medsos jika tak pandai mengontrol diri. Disana kita akan menemukan banyak jenis informasi mulai dari konten yang unfaedah hingga yang sangat berfaedah, semuanya ada.


Menyoal tentang konten-konten yang berfaedah, di masa korona seperti sekarang ini jumlahnya jadi kian menjamur. Hal yang menjadi lumrah kita temukan semenjak pandemi korona adalah dengan banyaknya bermunculan event  di medsos.  Seperti seminar online atau yang kita kenal dengan nama webinar, kursus online, atau kajian-kajian online gratis dengan beragam tema yang menarik untuk diikuti.


Pernah sekali saya bercerita dengan teman saya. Waktu itu kami sedang acara bakwan, lalu saya bertanya kemarin kamu ikut webinarnya Mr. X ndak?” Saat saya bertanya, dia masih ngunyah bakwan kemudian ia buru-buru menelan lalu menjawab “oh itu, ndak sempat ikut, padahal saya sudah daftar”. Saya sedikit tertawa kecil dan kemudian bergumam “hmmm yayaya biasa terjadi”. “Saya juga kadang seperti itu, daftar event ini itu tapi ternyata hanya di daftari to’ dan tidak diikuti” Lanjutku. Teman saya lantas mengangkat tangannya lalu bilang “toski’ dulu, saya sering begitu” Lalu sama-sama terkekeh . (Toski’ (bahasa Makassar) = Ayo kita tos)


Satu fenomena ini cukup menjadi hal baru semenjak zaman korona ini. Saya jujur merasakannya, juga sama dengan teman saya.  Mungkin Anda juga merasakannya. Kerap kali setiap menerima informasi sebuah event yang menarik, kita lantas meluangkan waktu untuk mendaftarkan diri. Kita beralasan bahwa kita tidak boleh melewatkan kesempatan. Kita berharap bisa menambah wawasan. Apalagi dapat diikuti dengan cuma-cuma alias gratisan. Kita menjadi seperti kecanduan mendaftarkan diri pada beragam event. Kita merasa tertarik padahal belum tentu event itu penting.


Dan kita penuhi semua yang menjadi persyaratannya. Kebanyakan adalah menghendaki untuk menyebarkan informasi event itu ke grup-grup, hingga meminta untuk mengikuti semua media sosial penyelenggaranya. Lalu discreenshoot dan dilampirkan di kolom pendaftaran. Hingga kemudian tak sadar ada begitu banyak event yang hendak kita ikuti dan jadwal menjadi bertumpuk. Lalu pada akhirnya, ternyata event itu hanya sebatas didaftari, tak semuanya mampu untuk diikuti. Sungguh terlalu, ternyata kita tak lebih hanya membuang-buang waktu. Hmm, jebakan impulsif!

***
Disatu waktu saya punya cerita bersama Ibu saya. Waktu itu saya sedang asik men-scrooling postingan di Instagram. Dengan logat Makassar yang kental, tiba-tiba Ibu saya bertanya “apa memang itu selalu dilihat-lihat di hape kenapa betah sekali duduk lama-lama?” Saat mendengar pertanyaannya, saya juga tiba-tiba terkesiap dan bergumam dalam hati “lah Ibu saya kenapa, pertanyaannya rada nyinggung begitu” Otak saya segera memikirkan pekerjaan apa yang belum sempat saya kerjakan di rumah, mungkin saja karena hal itu sehingga ia bertanya demikian.


Namun belum sempat menemukan alasannya, saya harus segera menjawab pertanyaan Ibu, takut dibilang durhaka karena mendiami pertanyaan beliau “hmm tidak ada apa-apa bu (maksudku tidak ada yang istimewa) hanya melihat perkembangan dunia ma..” Belum selesai saya menyampaikan jawabanku kemudian ia bertutur kembali “itu tante-tantemu yang lain juga sudah banyak yang kecanduan sama hapenya, tepatnya kecanduan sama facebook, sampai kadang pekerjaannya diabaikan” . Lanjutan jawaban saya tadi adalah ‘dunia maya’.


Mendengar tuturannya, saya bergumam lagi dalam hati “kayaknya memang benar ada apa-apa, tapi apa ya?” Kemudian saya lanjut bergumam lagi dalam hati “Ibu belum pernah main medsos sih, jadi belum tahu rasanya bagaimana, kalo main pasti juga begitu”.
Eh satu detik gumaman itu selesai, Ibu saya seolah tahu apa yang saya pikirkan lalu berujar seperti ini “untung saya tidak tahu apa itu facebook, dan sama sekali saya tidak ingin tahu. Saya selalu bersyukur hanya punya hape yang bisanya nelfon dan sms tanpa bisa internet, ternyata hape yang bisa internet itu banyak buang-buang waktu”


Sepertinya maksud ibu saya bukan karena hapenya, tapi tentang kontrol manusianya mengenai dunia medsos. Meskipun begitu, saya tetap mampu menangkap pikirannya. Dan saya tetap dibikin tercengang. Walau rasanya bukan hal yang perlu dicengangkan sih, tapi memang ada benarnya juga.


Saya secara refleks mengingat diri saya yang kadang kelabakan mengerjakan rencana harian karena sering ‘terbawa arus’ menikmati scrooling postingan di medsos. Apalagi kalau sudah dapat info event-event menarik. Uh, bakal lama tuh dikepoin. Teman saya sebelumnya juga begitu. Maksud saya teman yang saya ajak makan bakwan, hehe. Ia juga mengakui bahwa terkadang saat asik berselancar di medsos ia menjadi lupa dengan apa yang harus dikerjakannya.


Sesimpul peristiwa ini menjadi landasan untuk sebuah bukti, bahwa medsos itu candu, banyak menguras waktu! Hiks.
***

Medsos bukan sesuatu yang terlarang. Namun mengamati fenomena yang saya rasakan dan menyimak tanggapan Ibu dari apa yang telah diamatinya, kita bisa sadari bahwa sangat perlu untuk mempertegas adanya batasan. Ya, batasan diri dalam bermedsos.


Kenapa penting? Ya biar tidak terus-terusan berduaan dengan medsos sampai mengabaikan pekerjaan yang lain.


Model batasan yang bisa kita lakukan bisa beragam. Bergantung situasi diri kita masing-masing. Menargetkan waktu beberapa jam sehari bermedsos dapat menjadi alternatif. Intinya tidak lebih banyak dari pekerjaan inti yang harusnya kita kerjakan disatu hari tersebut. Sekalipun kita adalah pedagang online di medsos! Sebaiknya membuat batasan waktu kapan harus memosting jualan, melayani pelanggan, dan kapan harus memenuhi aktivitas yang harus dikerjakan di dunia nyata. Tidak mungkinkan 24 jam memelototi hape terus menerus? Bisa mampus mata kita.


Apalagi kalo status kita masih pelajar, mahasiswa atau pekerja kantoran (yang saat ini lagi WFH karena masih korona) dan sebagainya. Medsos itu harusnya punya jatah yang tidak boleh lebih banyak dari pekerjaan inti kita di satu hari.  

Kita sudah tahu plus mines dari medsos. Sehingga pada keseharian kita, pola-pola bermedsos juga seharusnya sudah bisa dimainkan dengan setepatnya. Jangan sampai kita yang dimainkan oleh medsos. Eh maksud saya ‘waktu’ kita yang habis dimakan medsos.
***


Dunia semakin canggih dan kita dituntut untuk bisa selalu melek perkembangan masa kini. Medsos semakin memberi daya tarik, dengan beragam informasi dan hiburan yang dimiliki. Dari sana, kesenangan instan selalu cepat dapat diraih.


Namun disisi lain, medsos menyimpan jebakan-jebakan impulsif. Sangat mampu menjadi sumber distraksi untuk pekerjaan-pekerjaan utama sehari-hari.


Jadi bisakah lebih membatasi diri? Jawabannya tentu ada ditangan kita sendiri.