Guglielmo Marconi, banyak yang mengenalnya sebagai penemu radio. Ide penemuan ini setelah dirinya mempelajari percobaan-percobaan yang dilakukan oleh Heinrich Hertz mengenai gelombang elektromagnetik.

Saat itu, ide mengenai gelombang ini hanya dimanfaatkan untuk mengirim tanda-tanda melintasi jarak jauh. Sampai namanya dikenal luas. Sampai ia wafat di Roma, penemuannya itu telah menandai banyak sejarah. Seperti dalam sejarah peperangan.

Menjelang reformasi di Indonesia, penemuan Guglielmo Marconi itu begitu familiar, tepatnya di tempat tinggal kami. Di Halmahera, sebuah wilayah di Maluku Utara, sekiranya tahun 1999 kami mendengarnya setiap hari.

Ketika konflik horizontal pecah di sini—suara radio menembus sampai ke desa-desa—melewati selat, pantai, pedalaman, hingga ke daerah-daerah yang nyaris tak ada cahaya. Gelombang dari media itu mengabarkan berita-berita mengenai kematian.

Sewaktu kecil, saya mendengarnya ini perang agama. Orang-orang membawa barang-barang tajam dan sejumlah bom molotov sembari meneriakki nama Tuhan. Di bahu jalan, saya melihat mayat-mayat diseret. Orang-orang berhamburan ke jalan. Menyaksikan darah begitu merah. Basah sepanjang jalan.

Lewat radio, sandi perang disiarkan. Semacam kode. Mereka menggunakan istilah-istilah tertentu dan hanya orang-orang tertentu pula yang dapat memahaminya. Seingat saya, kata ayah, istilah-istilah itu sebagai tanda bahwa pasukan perang telah tiba di daerah tertentu dengan kekuatan tertentu.

Di depan desa kami, laut terbentang luas, kapal-kapal kayu berlalu-lalang. Sementara di kejauhan, tepat di pesisir pantai, kepulan asap tampak menuju langit. Rumah-rumah sudah terbakar. Saya tak ingat dan memang tak tahu, itu rumah-rumah dari agama saya, atau rumah-rumah dari agama teman saya.

Sementara di desa kami, orang-orang berkumpul di depan radio. Satu-satu dengan wajah serius, seolah-olah sedang mencoba menangkap setiap istilah yang terdengar dari radio. Saya tidak mengerti juga, suara dari radio itu. Apa itu suara agama saya, atau suara agama teman saya.

Berbulan-bulan, radio terus dinyalakan. Saat tiba di Ternate, kami juga mendengarnya setiap hari. Ayah masih tetap di sana, di Halmahera, tepatnya di Jailolo, sebuah wilayah yang juga amat terkenal dengan sejarah raja-rajanya. Ibu saya, sesibuknya di dapur, dirinya tetap mendengar radio. Ia ingin mendengar kabar suaminya.

Ayah saya memang tidak ingin ke Ternate. Ia memilih berperang. Membunuh teman-temannya sendiri. Teman-teman yang tidak seagama dengannya. Hingga akhirnya, lewat radio pula, berita terdengar sampai ke Ternate. Ayah terkena lemparan batu dari teman-temannya. Teman-teman yang tidak seagama dengannya. Ayah dibawa ke Ternate, dan seminggu kemudian. Detak jantungnya berhenti. Matanya mati.

Menjadi nyala toleransi

Guglielmo Marconi, si penemu radio itu tidak pernah membayangkan, bagaimana akhirnya ide besarnya bisa dinikmati di sini, di sebuah desa yang nyaris tak terbaca di peta Indonesia. Bagaimana akhirnya penemuan ini bisa menjadi sumber perang. Sandi-sandi perang yang begitu gencar disiarkan. Hasutan demi hasutan, begitu juga kabar-kabar kematian yang membakar amarah.

Cerita perang di tempat tinggal kami adalah bukti ide besar Guglielmo Marconi. Saat itu, radio tidak saja sebagai media yang setiap hari mengabarkan mengenai birokrasi, kekuasaan, dan cerita-cerita anak muda. Ia dibuat lebih dari sakadar media hiburan.

Pada saat Perang Dunia II, radio sudah sangat familiar. Radio menjadi alat propaganda. Saat perang berkecamuk, radio menjadi saluran informasi dan pengontrol politik. Dalam banyak riwayat sejarah, informasi serangan Jepang terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbor bahkan terdengar di Indonesia melalui radio.

Seperti Guglielmo Marconi, sosok Johannes Gutenberg, yang disebut-sebut sebagai penemu media cetak, barangkali tidak pernah membayangkan, bagaimana idenya itu bisa dipakai sampai saat ini.

Johannes Gutenberg dengan teknologi percetakan yang ditemukannya sendiri sungguh telah menandai sejarah panjang. Sebagaimana radio, media cetak jurnalisme akhirnya berkembang mengikuti sejarahnya sendiri—sejarah peperangan. Bagaimana nantinya, teks dicetak melalui buku-buku dan surat kabar. Teks yang akan hadir sebagai tanda dan penanda konflik.

Media berupa surat kabar nantinya menembus batas-batas wilayah. Melalui teks yang dicetak, orang-orang menerimanya sebagi pesan. Sampai di desa-desa. Di tempat yang jauh dari suara kenalpot, bunyi klakson, cahaya merkuri, dan obrolan-obrolan kantor. Surat kabar hari ini dapat dikirim dan dinikmati di mana saja. Apapun status sosialnya.

Mazhab semiotik, istilah yang dipakai John Fiske, melihat ini sebagai tindakan komunikasi. Mazhab ini cenderung menggunakan ilmu-ilmu sosial terutama psikologi dan sosiologi. Salim Alatas, menulis dalam artikelnya, pendekatan ini berkaitan dengan bagaimana pesan atau teks berinteraksi dengan orang-orang dalam rangka menghasilkan makna; yakni yang berkenaan dengan peran teks dalam kebudayaan.

Apabila teks hadir sebagai tanda dan penanda kekerasan, maka ia menjadi saluran konflik. Masyarakat menerimanya sebagai pesan kekerasan. Simbol-simbol bergerak ke dalam status sosial. Berita tanpa verifikasi, ujaran kebencian, dan hasutan atas nama agama, kerap menerobos sampai ke tengah-tengah keberagaman. Maka, budaya keberagaman itu sedang menuju budaya kekerasan.

Seperti cerita perang di tempat tinggal kami; bagaimana kalian bisa melihat kami membunuh teman kami sendiri. Teman-teman yang tidak seagama dengan kami. Begitu juga sebaliknya. Berita-berita kematian itu membuat kami ingin menarik sebilah pedang, menyeretnya di jalan, memukul dada kami sendiri, lalu berteriak nama Tuhan dengan kencang. Sangat kencang.

Seperti Johannes Gutenberg, hal serupa juga terjadi pada Mark Zuckerberg bersama teman-temannya tidak pernah membayangkan, bagaimana ide besarnya itu akan menjadi situs jejaring sosial paling populer. Ide besarnya membuat Facebook akhirnya menerobos batas-batas wilayah.

Kehadiran media online atau surat kabar digital membuat informasi menembus ruang lebih cepat dari biasanya. Harus diakui, media online saat ini sudah terkoneksi dengan semua jejaring sosial, salah satunya Facebook.

Ada jutaan orang dengan status sosial yang berbeda, usia yang berbeda, agama yang berbeda, dapat menikmati berita-berita di jagad maya dengan mudah dan cepat. Dalam ruang dan waktu yang berbeda sekalipun.

Di tempat tinggal kami, sebuah desa yang jauh dari hiruk-pikuk kemajuan, kini dapat menikmati berita-berita yang ditulis di tengah keruwetan lalu-lintas. Sambil makan sagu, di atas rumah kebun, sedang di atas perahu, kami dapat menyaksikan kemeriahan jagad maya. Pujian-pujian yang berkelindan, begitu juga caci-maki yang terus-menerus dilontarkan. Ledakan informasi tak dapat ditahan lagi.

Maka saksikanlah, ujaran kebencian begitu mudah dialamatkan. Teks bernada kekerasan dengan cepat sampai ke ruang kerja, dapur, kamar, kebun, pantai, hingga ke pelosok pedalaman. Esensi media sebagai nyala keberagaman dilupakan. Pers tenggelam dalam persaingan artifisial. Benar sudah kata Yasraf Amir Piliang, saat ini banyak di antara kita mulai menjauh dari sesuatu yang substansial.

Media bisa menjelma sumbu peperangan dan kekerasan, media juga dapat menjadi nyala toleransi. Sebagai pilar demokrasi, media tidak boleh diseret dalam pusaran kepentingan sepihak. Berita-berita, baik melalui saluran radio, televisi, media cetak, surat kabar digital, dan sarana pers lainnya harus menjadi cahaya keberagaman. Nyalanya tak boleh padam. Tak boleh redup. (*)