Aku sangat mengagumi Mea. Bukan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) yang gembor dicanangkan oleh pemerintah beberapa tahun lalu itu, tapi Mea-ku yang terkenal dengan suara indahnya. Ia seorang penyanyi yang memiliki suara lebih menawan daripada suara cericit burung paling indah sekalipun. Bahkan, suara Mea-ku lebih indah daripada suara penyanyi kondang acara televisi. Setidaknya, menurutku suara Mea seperti itu.

Mea senantiasa meramaikan setiap hajatan pernikahan, sunatan, dan acara penting lainnya di kampung, kelurahan, kecamatan bahkan di kediaman walikota. Tak ada alasan untuk tak mengundang Mea di setiap acara penting tersebut. Bahkan, acara tak akan lengkap rasanya bila tak diisi oleh suara Mea.

Selain suara yang indah, wajahnya yang cantik menjadi daya tarik utama dalam setiap penampilannya. Penonton akan berbondong-bondong datang dari penjuru kampung hanya untuk mengagumi kecantikannya. Seolah semua kecantikan dewi-dewi melekat pada setiap jengkal tubuhnya. Kulit yang putih berseri, mulus tanpa cela. Wajahnya merupakan perpaduan kecantikan wanita Jepang, Belanda, Arab dan pribumi. Tubuhnya tidak terlalu tinggi dan tidak pendek, juga langsing.

Mea merupakan seorang vokalis dari sebuah grup bernama “Dayu”. Grup Dayu lebih menunjukkan perpaduan antara musik tradisional yang diiringi Gamelan dan musik kontemporer. Entah kenapa grup ini dinamakan demikian, aku juga tidak tahu persis. Karena pada kenyataannya, aku belum pernah bercakap sekalipun dengan Mea. Untuk menanyakan persoalan nama tersebut pada anggota grup lain, bagiku tidak ada manfaatnya.

Aku tak peduli soal nama dan persoalan sama siapa Mea bekerja. Bagiku yang terpenting adalah bagaimana supaya aku tak melewatkan penampilan Mea, satupun. Bahkan, jika ke kampung yang paling jauh sekalipun. Aku tetap setia mengikutinya. Tentunya dia tak akan menyadarinya. Karena aku sendiri tak pernah memperkenalkan diri. Aku cukup puas dengan hanya memandang dari jauh. Aku tak punya keberanian untuk mendekatinya.

 Mea sudah punya suami. Siapa lagi kalau bukan manager grup mereka. Lelaki bertubuh tinggi, berbadan kekar dan berwajah sangar. Berewok di wajahnya cukup menambah kengerian penampilannya. Bukan hanya aku yang tak berani mendekatinya, orang-orang yang menonton pertunjukan juga tak ada yang berani. Jadi jangan kau bayangkan sebuah acara yang penuh dengan saweran yang bisa kau temui jika suatu saat Mea kebetulan sampai di kampungmu. Tak ada sama sekali. Meskipun demikian, orang-orang cukup puas dengan penampilannya walaupun tak bisa mendekati sang vokalis.

Pernah suatu kali, saat grup mereka diundang ke desa Sukonari. Seorang pemuda mabuk nekat menaiki panggung dan memeluk Mea. Langsung saja, tukang pukul muncul dari berbagai penjuru penonton menghajar laki-laki itu dan menyeretnya turun panggung melewati kerumunan penonton dan menghilang di balik semak belukar. Tak ada yang berani menolong. Bahkan, si pemilik acara dan kepala desa acuh tak acuh. Seolah kejadian tersebut tidak pernah terjadi.

Aku hanya termangu menatap kejadian itu. Alangkah malang nasib pemuda mabuk tadi. Mungkin sekarang dia sudah dijadikan makanan Anjing atau dilempar ke sungai penuh Buaya. Aku tak tahu dan tak mau tahu. Aku kembali memandang Mea. Wanita itu terus bernyanyi seolah tak terjadi apa-apa. Ah, wajahnya tetap cantik seperti biasa. Bahkan, walaupun dia sudah bersuami. Kecantikannya tak berkurang sedikit pun.

Kejadian tersebut terus membayangi dalam ingatanku. Air mata yang mengalir di pipi Mea membuatku sakit hati. Bekas tamparan yang didapatnya dari sang suami membuatku kalut. Ingin rasanya aku menonjok bahkan membunuh lelaki kejam itu. Berani-beraninya dia menampar Mea-ku.

Masalahnya sepele. Hanya karena pemuda mabuk tadi memeluk Mea. Suaminya menuduh Mea bersikap centil dan menarik perhatian pemuda itu. Bahkan tanpa hal tersebut, Mea tetap menarik bagi semua laki-laki. Kalau begitu mengapa dia tidak melarang Mea untuk menyanyi. Dasar laki-laki licik. Ia tidak ingin Mea disentuh orang lain. Tapi, ia malah menyuruh Mea menjadi penyanyi. Mengapa dia tidak mencari penyanyi lain saja untuk menggantikan posisi Mea bernyanyi dan menyuruh Mea untuk di rumah.

***

Aku menimbang-nimbang untuk memulai obrolan dengan Mea. Aku berencana akan menemuinya di jalan menuju pasar. Aku tahu Mea selalu belanja di pasar dekat rumahnya. Hanya saja bukan berarti tempat itu akan aman untuk berbicara dengan Mea. Aku yakin suaminya sudah menyelipkan matanya di kerumunan manusia yang tengah sibuk berdagang, pembeli maupun tukang angkat dan tukang parkir atau tukang keamanan yang selalu menarik bayaran dari setiap pedagang.

Aku yakin di antara keamanan itu atau bahkan semuanya merupakan anak buah Jaron, suami Mea. Jaron sendiri dahulunya merupakan preman pasar dan kepala keamanan yang menarik sewa dari para pedagang. Entah sejak kapan peraturan mengenai itu berlaku. Yang pasti, para pedagang jika ingin berdagang dan tidak ingin diganggu oleh preman harus membayar, Tak jarang mereka mendapat pukulan hanya karena saat mereka menagih tidak dibayar karena belum ada dagangan yang laris.

Konon, Jaron berhenti menjadi tukang palak dan preman setelah bertemu dengan Mea, gadis penyanyi yang menarik hatinya. Gadis itu datang dengan sebuah gitar kecilnya, mengamen, menyanyikan lagu Jawa yang lebih pantas diiringi oleh Gamelan. Semenjak itu, Jaron gencar melakukan pendekatan dan pada akhirnya melamar gadis itu dan menjanjikan sebuah grup pertunjukan untuknya.

Namun sayangnya, Jaron tak sebaik itu. Meskipun ia mencintai Mea. Sikapnya tak pernah berubah. Ia suka main tangan atas sedikit kesalahan Mea. Bahkan kematian anaknya tak juga membuatnya jera. Jabang bayi yang baru berumur tiga minggu itu menjadi korban kemarahan Jaron. Hanya karena Mea terlambat pulang dari pasar. Jaron yang kalap tak ingat jika istrinya tengah mengandung bayi mereka. Ia menendang Mea, sehingga perempuan itu terlempar dengan keras. Mea langsung keguguran.

Jaron segera sadar. Kemarahannya berubah seketika menjadi penyesalan yang tidak berguna. Semenjak saat itu, Mea menyimpan dendam terhadapnya. Namun, ia tak berani untuk meninggalkannya. Bukan karena takut, melainkan karena Jaron akan tetap mencarinya kemanapun ia kabur, kecuali kalau dia mati. Meski sikap Jaron mulai melunak, namun tak berdampak terhadap Mea. Mea terlanjur sakit hati kepadanya. Penyesalan Jaron tampaknya juga tidak berlangsung lama, karena beberapa bulan setelah kejadian itu, ia kembali pada sifat aslinya. Kebencian Mea bertambah-tambah seiring dengan ketakutannya.

“Kau yakin bisa menolongku?” Ujar Mea kepadaku. Kami mendapat kesempatan untuk berbicara di tempat membeli Kupat.

“Aku bisa membawamu sejauh apapun yang kamu mau. Kita bisa kabur dari kota ke kota, menghilang tanpa jejak. Tapi, bagaimana cara kamu keluar dari rumah?”

“Tenang saja. Aku akan mengurusnya.” Mea meninggalkanku. Aku hanya bisa menatap punggungnya.

Kami berjanji akan bertemu di gang kecil di sebelah pasar tepat jam 12 malam. Entah bagaimana cara perempuan itu mengurus suaminya. Aku juga tidak tahu. Aku juga heran, kenapa Mea bisa percaya seperti itu kepadaku.

Tepat sepuluh menit sebelum jam 12 malam, aku sudah berdiri di gang kecil. Sebentar lagi Mea akan datang. Aku harap ia akan baik-baik saja.

***

Mea memandang suaminya yang tertidur pulas setelah bercinta. Meksi percintaan itu tidak bisa dinikmatinya. Bagi Mea, setiap Jaron menyentuhnya, sama halnya dengan menanggung seribu siksa neraka yang ditimpakan pada tubuhnya. Ia terlanjur membenci laki-laki di depannya itu. Tekadnya sudah bulat. Dia mengambil pisau yang tersembunyi di laci meja dan menancapkannya tepat di jantung Jaron.

Jaron terbangun, tapi semua sudah terlambat. Dia menatap istrinya tanpa bisa melawan. Dadanya terasa mencekam. Sekujur tubuhnya terasa ngilu dan panas. Perlahan ia bisa merasakan kehadiran malaikat maut. Ia masih bisa melihat kemarahan dan senyum licik dari mulut istrinya. Lalu semua gelap. Dia mati tanpa sempat mengerang.

***

Sesosok tubuh mulai mendekatiku. Aku yakin itu Mea. Tapi ternyata bukan. Itu hanya seorang gelandangan yang berlari-lari, disusul oleh gelandangan lain. Samar-samar aku bisa mendengar suara sirine polisi. Aku mencoba menghentikan salah seorang warga yang lewat. Bertanya apa gerangan yang tengah terjadi. “Jaron mati ditusuk istrinya”. Aku terpaku setelah mendengar jawaban warga yang segera meninggalkanku.

“Oh Mea, apa yang kau lakukan.” Aku segera berlari, menabrak orang-orang, dan sampai di depan rumah Jaron yang sudah dipenuhi oleh warga. Aku menyeruak di antara kerumunan.  Aku melihat tubuh Jaron ditandu tertutup kain putih. Ia menghilang di dalam mobil ambulans. Sementara Mea digiring Polisi. Ia melihat ke sekeliling. Matanya bertemu dengan mataku. Kami sempat terpaku. Kemudian bibirnya menyunggingkan senyum. Senyum terakhir dari Mea-ku yang tak lagi bisa aku lihat. Perempuan itu bunuh diri esok harinya di dalam penjara tanpa sempat diadili.