Pada masa klasik (650-1250 M), Islam merupakan salah satu kekuatan adidaya dunia sementara dunia Barat tengah mengalami masa-masa kegelapannya (the dark age). 

Kemelaratan dan keterbelakangan yang amat memilukan di Barat menjadikan motivasi bagi mereka untuk berinteraksi dengan dunia Islam yang saat itu tengah mengalami masa-masa kejayaan (the golden age of Islam).

Motivasi kaum Barat itulah juga yang mendorong mereka untuk melakukan ekspansi ke berbagai penjuru dunia. Eropa dan Andalusia menjadi target bidik ekspansi mereka. Ketika pada masa itu di Spanyol, Portugal, dan Andalusia menjadi obor peradaban di Eropa. Sementara ke Timur, mereka melakukan ekspansi ke China hingga Asia Tenggara.

Orang-orang Barat ini membangun dikotomi antara bangsa yang ‘beradab’, direpresentasikan oleh Barat-Eropa, dan bangsa yang terbelakang (non-Eropa).

Selaras dengan apa yang diungkapkan Al-Makin dalam bukunya Antara Barat dan Timur yang menyatakan bahwa orientalisme ialah suatu gerakan kolektif orang-orang Eropa yang mendefinisikan diri mereka sebagai Barat dan menganggap orang selain dari golongan mereka sebagai Timur.

Barat merasa harus ‘memberadabkan’ bangsa-bangsa terbelakang tersebut. Kemudian lahirlah agenda civilizing mission.

Banyak kegiatan studi dilakukan oleh ilmuwan maupun sarjanawan Barat pada masa itu, sehingga menjadi cikal bakal bagi mayoritas disiplin ilmu yang ada saat ini. Secara perlahan Barat telah memasuki the age of discovery dengan tetap mempertahankan spirit 3G (gold, glory, gospel).

Pada kurun waktu itulah orientalisme lahir. Secara bahasa, orientalisme berarti suatu ilmu yang mempelajari tentang ketimuran. Sedangkan orientalis adalah subjek pelaku atau orang yang mempelajari tentang ketimuran.

Perhatian ilmiah kesarjanaan Barat terhadap Alquran bermula dari kunjungan Petrus Venerabilis, seorang Kepala Biara Cluny pada perempatan kedua abad ke-12 M ke Toledo. Toledo sendiri merupakan sebuah kota tua di Spanyol yang pernah masuk dalam daftar lima kota utama pada masa kejayaan Islam di Andalusia.

Tentunya kunjungan tersebut bukanlah kunjungan sembarangan tanpa tujuan. Tujuan utama dari kunjungan tersebut ialah untuk membasmi Yahudi dan Islam dalam rangka membela kepercayaan Kristiani. Setelah berkecamuknya Perang Salib, semangat apologetik Kristiani kian membara.

Demi mewujudkan hal tersebut, dibentuklah suatu tim khusus yang memiliki tugas menerjemahkan teks Arab yang di kemudian hari secara keseluruhan menjadi pegangan bagi para misionaris Kristen yang berinteraksi dengan agama Islam. Hasil kerja dari tim khusus itu bernama Cluniac Corpus, yang menjadi amat populer di kemudian hari.

Sejak saat itulah, orang-orang Barat yang melakukan kajian ketimuran mulai bermunculan. Hingga akhirnya keseriusan mereka dalam mempelajari timur mulai benar-benar nampak pada sekitar permulaan abad ke-16 M.

Dalam perkembangannya, orientalisme menjadi suatu tren kajian tersendiri bagi para sarjana Barat. Hingga dalam perjalanannya melahirkan banyak pengkaji-pengkaji baru.

Salah seorang orientalis bernama Herbert Berg, mengklasifikasikan tiga kelompok besar dalam peta studi orientalis. Tiga kelompok itu adalah kelompok orientalis skeptis (scepticism), kelompok orientalis middle ground, dan kelompok orientalis non-skeptis atau sanguine.

Meminjam tipologi Berg, kelompok pertama adalah mereka yang memandang secara skeptis (scepticism) atas autentisitas sumber-sumber ajaran Islam. Sebagian besar orientalis yang termasuk ke dalam kelompok ini ialah orientalis masa awal.

Kajian-kajian orientalis masa awal memiliki ciri khasnya masing-masing.

Ciri khas yang pertama yakni keterpengaruhan kuat dari latar belakang kultural-religius para pengkaji awal yang dibesarkan dalam lingkungan Yahudi dan Nasrani. Sehingga tak mengherankan jika pada awalnya mereka mengkaji Islam dan al-Qur’an menggunakan paradigma dan kacamata Yahudi-Nasrani.

Ciri khas yang kedua dari kajian orientalis masa awal adalah titik simpul yang menghubungkan antara tradisi Islam dengan tradisi dari dua agama pendahulunya. Kesamaan tradisi itu berakar dari tradisi monoteisme-semitis dan juga berasal dari satu kawasan geografis yang sama yakni Timur Tengah.

Ciri khas yang ketiga ialah bahwasanya secara garis besar, pendekatan yang dipakai oleh para orientalis masa awal ialah pendekatan historis kritis (historical criticism approach).

Tiga hal yang menjadi titik fokus dalam pendekatan historis kritis yakni mengenai asal-usul, makna asli teks, dan merekonstruksi sejarah suatu teks. Hal tersebut menjadi salah satu unsur yang melatarbelakangi sikap skeptis para orientalis masa awal.

Sebut saja Abraham Geiger, Gustav Weil, Theodor Noldeke, Ignaz Goldziher, Joseph Schacht, Eckart Stetter, dan John Wansbrough. Mereka ialah beberapa di antara sekian banyak orientalis skeptis dari masa awal.

Pada tahun 1833 M, esai Abraham Geiger terbit dalam Bahasa Jerman dengan judul Was hat Mohammaden aus de, Judenthume aufgenommen?, yang kurang lebih berarti Apa yang telah Muhammad Pinjam dari Yahudi?. Esai ini merupakan salah satu bagian atau chapter dari bukunya, Judaism and Islam.

Kesimpulan yang ia ungkapkan dalam esai tersebut ialah adanya keterpengaruhan kosa kata ibrani yang amat kental di dalam al-Qur’an. Di antara kosa kata Ibrani yang berpengaruh itu antara lain ialah tabut, tagut, malakut, masani, jannatu ‘adn, ahbar, sabt, rabbani, furqan, ma’un, darasa, jahannam, taurat.

Inti dari argumen Geiger ialah ia menyimpulkan bahwa al-Qur’an banyak menjiplak (imitation) dari kitab-kitab pendahulunya.

Sementara Noldeke yang hadir agak belakangan dibandingkan Geiger sedikit berbeda pendapat dengan Geiger. Kendati pendekatan yang mereka gunakan sama, yang mana mereka juga berasal dari kelompok orientalis skeptis.

Noldeke mengemukakan bahwa al-Qur’an tidaklah menjiplak kitab-kitab pendahulunya, namun al-Qur’an itu terpengaruh atau dipengaruhi (influenced) oleh kitab-kitab pendahulunya. Jadi Noldeke tidak berpendapat bahwa al-Qur’an itu merupakan hasil jiplakan kreasi Nabi Muhammad.

Lebih jauh Noldeke mengungkapkan bahwa mengapa al-Qur’an hanya sebatas terpengaruh? Ia menjelaskan karena pada zaman tersebut konteksnya Nabi Muhammad sering berinteraksi dengan orang-orang Yahudi-Nasrani. Sehingga isu-isu yang berkembang di tengah masyarakat Yahudi-Nasrani juga turut menjadi bagian integral berpikir Nabi Muhammad.

Orientalis lain yang turut menerapkan pendekatan historis kritis dalam studinya adalah Gustav Weil. Ia berupaya merekonstruksi al-Qur’an secara kronologis dengan mendalami bahan-bahan tradisional Islam dan memperhatikan bukti-bukti yang tercantum di dalam al-Qur’an.

Gustav Weil ini juga merupakan salah seorang sarjana Barat pertama yang berusaha keras membuktikan bahwa Nabi Muhammad menderita penyakit epilepsi.

Hipotesis Weil ini mendapat perhatian dari Aloys Sprenger yang kemudian menambahkan bahwa Nabi Muhammad juga mengidap histeria. Tentu saja pernyataan-pernyataan mereka berdua itu menimbulkan kontroversi di kalangan umat muslim.

Dari sekian banyak tokoh orientalis skeptis, sebenarnya mereka turut andil dalam memopulerkan kajian al-Qur’an di kancah internasional melalui karya-karya mereka yang berbahasa Inggris.

Mazhab awal orientalis yang amat kental dengan nuansa skeptis memang sedikit banyak telah menyumbangkan fondasi bagi kajian orientalis kekinian. Namun pada abad ke-17 M, para orientalis sudah mulai meninggalkan pandangan skeptis mereka terhadap Islam. Pada masa-masa selanjutnya, kajian orientalisme menghadirkan warna yang berbeda dari pola-pola peninggalan nenek moyang mereka dan menjadi lebih humanis.