Istilah bangsa memiliki banyak sekali makna dan pengertian yang berbeda-beda. Dalam bahasa Inggris, bangsa merupakan terjemahan dari kata ”nation”. Kata nation bermakna keturunan atau bangsa. Seiring dengan perkembangan zaman, maka pengertian bangsa juga mengalami perkembangan.

Pada awalnya bangsa hanya diartikan sekelompok orang yang dilahirkan pada tempat yang sama. Sedangkan bagi Ir. Soekarno, bangsa adalah segerombolan manusia yang besar, keras ia mempunyai keinginan bersatu, le desir d’etre ensemble (keinginan untuk hidup bersama), keras ia mempunyai character gemeinschaft (persamaan nasib/karakter), persamaan watak, tetapi yang hidup di atas satu wilayah satu unit.

Bangsa Indonesia terbentuk melalui suatu proses sejarah yang cukup panjang sejak zaman kerajaan Kutai, Sriwijaya, Majapahit sampai dengan datangnya bangsa asing yang menjajah serta menguasai segala aspek kehidupan yang ada pada bangsa Indonesia tercinta ini.

Beratus-ratus tahun bangsa Indonesia dalam perjalanan hidupnya berjuang untuk menemukan jati dirinya sebagai suatu bangsa yang merdeka, mandiri serta memiliki suatu prinsip yang tersimpul dalam pandangan hidup serta filsafat hidup bangsa. Setelah melalui proses yang cukup panjang dalam perjalanan sejarah, bangsa Indonesia menemukan jati dirinya, yang di dalamnya tersimpul ciri khas, sifat, dan karakter bangsa yang berbeda dengan bangsa lain.

Kemerdekaan bangsa Indonesia dapat diraih karena para pendahulu kita telah dapat mempersatukan berbagai macam golongan yang berada di tengah-tengah bangsa ini. Tidak peduli saya dari golongan A, Anda dari golongan B, dan mereka dari golongan C. Yang pasti kita satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia. Dan juga tujuan kita hanya satu, meraih kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, mereka semua dapat bersatu untuk mengusir para penjajah dari bangsa ini.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang beraneka ragam tetapi satu, mengikatkan diri dalam suatu persatuan yang dilukiskan dalam suatu seloka Bhineka Tunggal Ika. Perbedaan bukannya untuk diruncingkan menjadi konflik dan permusuhan, melainkan diarahkan pada suatu sintesa yang saling menguntungkan, yaitu persatuan dalam kehidupan bersama untuk mewujudkan tujuan bersama dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Namun, ketika kita tidak bisa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini, bukan tidak mungkin bangsa ini akan terpecah belah, dan kita akan hidup menjadi berpetak-petak karena bangsa ini memiliki beragam suku, budaya, agama, adat, bahasa, dan sebagainya. Tak hanya itu, bangsa ini memiliki wilayah yang sangat luas dengan ribuan pulau yang tersebar.

Berdasarkan pada tujuan negara sebagaimana terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 serta Pasal 28A-28J UUD 1945, Negara Indonesia menjamin dan melindungi hak-hak asasi manusia pada warga negaranya terutama dalam kaitannya dengan kesejahteraan hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah, antara lain berkaitan dengan hak-hak asasi di bidang politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, pendidikan, dan agama.

Namun dalam prakteknya tidak semulus yang diharapkan, masih banyak orang yang rela mencederai tujuan dan konstitusi negara ini. Mereka hanya mementingkan kepentingan pribadi dan golongannya masing-masing, tanpa memikirkan bahwa mereka sama-sama Warga Negara Indonesia. Sebagai contoh dalam kasus kebebasan memeluk agama dan beribadat menurut agamanya.

Negara yang seharusnya menjamin dan melindungi hak-hak asasi warga negaranya, namun masih ada oknum yang mempersulit maupun melarang kebebasan tersebut dapat terwujud.

Terbukti jika kita melihat berbagai kasus dalam beberapa tahun belakangan masih banyak tempat ibadah yang sulit mendapatkan izin dalam pembangunannya, banyaknya penolakan pembangunan tempat ibadah dari masyarakat maupun ormas yang intoleransi, pembakaran tempat ibadah, perusakan tempat ibadah, larangan melakukan ibadah, penyegelan tempat ibadah, hingga pembongkaran tempat ibadah.

Jumlah pembakaran gereja mencapai 1.000 kasus pasca Indonesia melewati masa reformasi. Pada zaman B.J. Habibie memimpin negeri, terhitung ada sekitar 162 gereja yang dibakar. Angka tersebut melonjak sangat tinggi saat Indonesia dipimpin oleh Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Pada masa kepemimpinan Gus Dur, pembakaran gereja memcapai angka 360 kasus. Sedangkan di zaman Megawati Soekarnoputri angka kebakaran kembali turun ke angka 160 kasus.

Sayangnya, jumlah kasus pembakaran kembali meningkat di masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Selama sepuluh tahun memimpin Indonesia, SBY dihadapkan dengan 500-an kasus pembakaran gereja.

Ya, seperti itulah kenyataannya, tidak sedikit kita jumpai hal-hal semacam itu harus menimpa umat Nasrani di wilayah Indonesia Bagian Barat. Namun, apakah Anda sadar bahwa di wilayah Indonesia Bagian Timur juga terjadi hal yang sama namun hanya terbalik saja antara pelaku dan korbannya?

Banyak masyarakat yang berasal dari berbagai denominasi gereja bergabung menjadi satu untuk menyerukan penolakan pembangunan masjid, penyegelan masjid, maupun pembokaran masjid yang tidak memiliki izin. Hal tersebut tidak bisa dipungkiri harus terjadi dibeberapa daerah di Indonesia Bagian Timur.

Umat Nasrani disana merasa bahwa tidak adanya keadilan bagi umat Nasrani dan itulah yang melatarbelakangi mereka melakukan hal tersebut. Mereka merasa itulah yang dianggap adil, ketika di Jawa dan Aceh umat Nasrani dipersulit dalam beribadah dan membangun tempat ibadahnya, begitu pun di Indonesia Timur, umat Muslim harus merasakan hal yang sama.

Mestinya negara hadir dan mencari alternatif yang tidak melukai perasaan keagamaan warga negaranya. Negara perlu memberikan pemahaman perbedaan dan keberagaman kepada warga negaranya bukan sebaliknya melegitimasi tindakan dan dominasi golongan mayoritas.

Kalau negara masih bersikap malas tahu dan tidak peduli pada keberagaman dan perbedaan, maka setiap wilayah akan menafsirkan keadilan menurut pengalamannya sendiri. Di mana ada dominasi mayoritas, kaum minoritas akan menderita, karena tidak bisa melaksanakan kewajiban agamanya secara bebas.

Apakah setelah melihat beberapa kasus tersebut kita tidak merasa bahwa kita telah mengecewakan para pendahulu kita yang telah berkorban susah payah untuk mempersatukan bangsa Indonesia tanpa memandang dari golongan apapun?

Apakah setelah melihat beberapa kasus tersebut kita tidak merasa bahwa kita telah mencederai konstitusi dan tujuan negara kita yang jelas-jelas menyatakan bahwa akan melindungi hak-hak asasi manusia warga negaranya?

Apakah sulit ketika kita harus hidup berdampingan satu dengan yang lain meskipun kita berbeda golongan?

Jangan lupakan kata Aristoteles bahwa manusia adalah zoon politicon atau makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Manusia tidak bisa hidup seperti itu karena setiap manusia pasti membutuhkan bantuan dalam hidupnya. Ketika apa yang orang lain lakukan itu tidak mengganggu hak asasi kita, kita tidak tidak perlu mengusik bahkan melarang apa yang orang lain lakukan tersebut.

Di belahan bumi lain telah berkembang radikalisme, konflik sosial, terorisme, dan perang saudara. Maka Indonesia harus dijaga dari hal-hal yang berbahaya demikian itu. Peran penting tentu ada pada tokoh-tokoh masyarakat dan berbagai elemen.

Bapak Joko Widodo saat memimpin upacara Hari Lahir Pancasila tahun 2017 di Gedung Pancasila, Kantor Kementerian Luar Negeri, Jalan Pejambon, Jakarta Pusat, mengajak peran aktif para ulama, ustaz, pendeta, pastor, biksu, pedanda, tokoh, masyarakat, pendidik, pelaku seni dan budaya, pelaku media, jajaran birokrasi, TNI dan Polri, serta seluruh komponen masyarakat untuk menjaga Pancasila.

Ada satu hal yang sangat mendasar dari kasus yang terjadi diatas, yaitu dominasi golongan mayoritas akan mengalahkan golongan minoritas. Serta rasa intoleransi dapat mencederai konstitusi.