Abad ke-21 adalah zamannya perkembangan teknologi dan informasi. Masa di mana suatu kejadian di berbagai belahan dunia dapat diketahui dan menyebar dalam sepersekian menit, bahkan detik. Berbeda dengan masa-masa dahulu, perkembangan peradabaan suatu kelompok masyarakat kurang sekali dipengaruhi oleh kebudayaan dari luar.

Bangsa Eropa perlu ratusan tahun untuk mendapat pencerahan/Renaissance dari abad kegelapan, yang sedikit banyak berasal dari kemajuan pesat peradaban Islam yang amat berkembang kala itu. Juga, masa-masa dimana berita kemerdekaan Republik Indonesia perlu berbulan-bulan agar diketahui seluruh warganya.

Di abad sekarang ini, seseorang dengan mudah mengabari saudaranya di luar negeri sekalipun. Kita dengan mudah saling mengenal dan menyapa di dunia maya, tanpa batas teritorial. Yaaa.. Walau ada batas baru, batas quota. 

Berbagai berita baru pun secara massif bisa diterima seseorang hanya melalui gedjetnya. Walaupun, semakin susah kita menemukan sajian berita yang berimbang dan netral, karena kemassifan dan kepentingan berbagai berita tersebut. Oleh sebab itu, kemampuan verifikasi berita amat diperlukan saat ini, agar tak mudah tersesat dalam penggiringan opini.

Berbagai kemajuan ini, memunculkan karakteristik individu baru. Yang bisa jadi, berbeda dengan generasi-generasi terdahulu. Dalam sajian Kompas beberapa minggu yang lalu (01/03), menyajikan seputar generasi milenial atan generasi Y yang mulai mengambil peran pemimpin berbagai sektor.

Mereka adalah generasi yang lahir di tahun '80an hingga akhir '90an. Generasi ini merasakan masa pra-perkembangan teknologi dan informasi, dan tumbuh dewasa di masa perkembangan pesatnya. Sehingga, mereka lebih cakap atau paling tidak "ndak gaptek".

Generasi ini juga berbeda dengan generasi setelahnya, yang sedari kecil sudah mengenal gedjet, internet dan lainnya. Menurutku, generasi ini cukup manja dan kurang bersosialisasi. Bisa jadi salah, karena mereka toh begitu aktif di dunia medsos. Namun, ada something is missing from them.

Walau mungkin masih menjangkit kalangan anak-anak kota, namun permainan kolektif yang melibatkan fisik mulai terlihat ditinggalkan oleh generasi satu ini.

Susah menemukan mereka berkumpul, lalu bermain bersama, saling tertawa, saling ejek nama orang tua, main baksodor, lompatan, entek dan sejenisnya. Mereka sering terlihat berkumpul bersama, sambil sibuk dengan gadget masing-masing. Istilahnya, yang jauh mendekat yang dekat terasa jauh.

Dalam salah satu analisis, dikatakan kalau generasi Y mempunyai kebiasaan berbeda dengan pendahulunya. Teramat jelas di sektor bisnis, mereka lebih suka merintis start-up usaha ketimbang menjadi pegawai maupun buruh, dan walaupun meneruskan usaha keluarga, mereka punya pendekatan berbeda dari pendahulu yang berkarakter kaku dan mengedepankan rasa hormat dari bawahannya.

Generasi Y lebih fleksibel dalam menjalin hubungan, mereka mengedepankan pendekatan interpersonal. Sikap egaliter lebih tampak pada generasi ini.

Melihat fenomena ini, pengaruh globalisasi memiliki peranan besar. Nilai-nilai yang dianut dunia barat mulai merasuk ke orang Indonesia. Berfikir rasional, egaliter, merupakan sekian nilai positif dari peradaban Barat. Di generasi Z lebih parah lagi, berkembangnya teknologi makin menyuburkan sikap individualistik mereka.

Sehingga patut ditunggu, apakah generasi Y yang mewarisi dan mengalami masa prateknologi informasi mampu dengan bijak memakai kemajuan. Utamanya, di Indonesia yang gampang gawokan dengan budaya asing. Mungkin inferioritas karena dijajah ratusan tahun belum bias terobati, walaupun harus diingat dan dibanggakan bahwa Indonesia juga lah pionir kemerdekaan dari dunia ketiga.

Lalu, apakah generasi Y endonesia akan memberikan perubahan lebih baik atau sama saja dengan generasi-generasi sebelumnya. Tanggung jawab mereka cukup berat, menjadi tolak ukur bagi generasi selanjutnya.

Generasi ini berada dipersimpangan zaman, seperti istilah yang ditawarkan Ali A. Allawi dalam bukunya Crisis of Civilization Islam semacam penentu kebangkitan atau kehancuran total peradaban. Semoga kearifan bangsa dan rasionalitas dunia barat berhasil dikombinasikan oleh generasi milenial menjadi gebrakan positif.