Tanah kita tanah surga katanya, Gemah Ripah Loh Jinawi. Subur makmur bagai mata air ditengah gurun yang kering. Sungguh menyejukkan dunia. Namun kita sering kali tidak percaya diri terhadap diri sendiri. Sering memandang rumput tetangga lebih hijau. Tanpa disadari sumber daya alam kita banyak yang terkudeta.

Anak cucu menangis kelaparan di lumbung sendiri. Mati tak berdaya merintih pilu. Sedang yang masih hidup hanya bisa meratapi bapak-ibuknya menjadi budak-budak di negeri sendiri. Terbelenggu ruwetnya birokasi  di negeri balula ini. 

Jumlahnya 250 juta lebih penduduknya. Pulau-pulaunya terbentang dari Sabang sampai Merauke, 17.000 lebih gugusan pulau, bukan jumlah kaleng-kaleng. Menyimpan kekayaan yang tak perlu untuk ditotal berapa rupiah atau dolar. Hutan tropis kita dan penuh dengan aneka ragam flora dan fauna yang menggiurkan mata dunia. 

Namun hutan-hutan sudah gundul. Botak kerontang lalu subur berganti ladang sawit, ladang minyak nabati. Tau-tau flora dan fauna sudah mati tak tersisa. Rumahnya alih fungsi jadi lahan duit sawit. Mungkin saja sudah punah. Sehingga suatu saat nanti anak cucu kita hanya bisa melihat Orang utan atau satwa asli negeri ini dalam buku ensiklopedia sebagai hewan yang telah hilang dari peradaban.

Miris ketika kita negara maritim terbesar dan garis pantai terpanjang harus impor garam. Pukulan telak dan K.O untuk kita harus introspeksi diri. Nelayan-nelayan  masih harus menahan lapar di tengah samudranya sendiri. Nelayan kalah gesit dengan perahu canggih dengan jaring katrol yang dimiliki orang asing. Untung ada Bu Susi menteri nyentrik. Sekali intruksinnya untuk tenggelamkan!

Garam hanyalah barang sepele. Hanya bumbu dapur yang harga wajarnya kisaran Rp 500 - Rp 1500 per bungkus. Tapi apakah kita tidak malu dengan potensi yang dimiliki? Garampun harus impor?

"Di Pontianak itu garam Rp1.000 per kilogram, sekarang Rp4.500 sampai Rp5.000 per kilogram. Kalau kita jual dengan harga Rp4.500 ke pengasinan ikan, harganya nggak masuk. Mau jual berapa ikan asin ke konsumen?" kata Haji Sulaiman, pengusaha garam dilansir dari BBC Indonesia. Penjual ikan asin hanya bisa meringis dan menepuk dada sembari  berceletuk "Jancuk tenan" tutur kesalnya.

Keadaan cuaca, luas lahan, faktor kandungan air laut, teknologi kurang memadahi, jumlah kebutuhan yang terlampau besar, masih menjadi alibi menutupi berbagai tetek bengek yang ada. Indonesia harus stop impor garam kalau tidak ingin melihat petani garam mati tercekik di tambaknya sendiri. Tentu bukan hanya garam semuanya. Berusaha benar-benar berdikari jangan setengah-setengah.

Sungguh bila kita masih bermimpi menikmati suasana indah di pantai kita harus bangun. Negeri ini sedang kurang sehat?

Nuril contoh nyata hukum kita tumpul keatas tajam kebawah. Ia tidak dilecehkan sembarang orang, tetapi oleh atasannya sendiri, yang kala itu menjabat Kepala SMAN 7 Mataram. Bukan sekali, pelecehan verbal itu telah berlangsung lama hingga akhirnya Nuril memutuskan untuk merekam pembicaraan yang dilakukan lewat telepon itu. 

Lewat fakta yang terungkap ia kalah dalam pengadilan. Serta delik pasal yang diulak-alik menyatakan ia bersalah. Bukanya diposisikan korban untuk dilindungi justru ia malah dijebloskan ke penjara oleh pihak-pihak yang berseteru.  

Pembangunan terus digenjot. Beton-beton terus dicetak lalu di dirikan sebagai pondasi negeri ini. Pondasi negeri ini? Percepatan pembangunan boleh-boleh saja itu baik. Namun membangun kecerdasan  dan akhlak merupakan pondasi negeri ini tetap bertahan ditengah menurunnya kualitas moral pemimpinnya.

Moral pemimpin? Tuh mereka semua masuk kandang bui. Terciduk KPK bawa uang kabur atau makan uang rakyat. Akhirnya mereka masuk bui. Meskipun ternyata ladalah kamarnya narapidana kok kayak kamar hotel? Jancuk we!

Bhineka Tunggal Ika itulah aji-ajian yang pertama kali saya dengar di bangku sekolah dasar: Berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Gambaran negeri ini memiliki perbedaanya masing-masing. Namun kesemuanya harus saling menjaga dan toleransi sesama.

Sekarang sedikit percikan saja bisa memancing diri untuk mengkafirkan sesama. Berjenggot dikatakan teroris, bercadar dicap ISIS. Tidak puasa langsung dikatakan kafir. Berdiskusi berdua lawan jenis dikatan zina. Ledakan bom di gereja dan tempat umum. Rasis dan cacian hujatan di media sosial tak henti-henti tiap hari. Lantas inikah negeri yang dulu dikatakan tanah surga? Jancuk kan?

Sudah mendekati pemilu raya. Pentas seni demokrasi negeri ini. Gonjang-ganjing nya semakin seru dan panas. Saling lembar umpan sana sini. Pencitraan dimana obral janji masih masih gembar-gembor. Belum lagi hamba-hambanya masih mendukung dari garis belakang.

Orang-orang partainya masih racik strategi pasang kuda dan benteng supaya tak kalah serang. Semua adu pinter buat jadi pemenang. Senggol sana senggol sini cari simpatisan dan dukungan. Iming-iming jabatan kemudian hari jadi pancingan. Mahar partai politik masih saja ada, buat dana pasang banner, bikin kaos, dan cinderamata. Politik tanpa uang seperti aku tanpa dirimu. Gombal pak!

Sudah cukup negeri ini harus berpangku tangan menunggui nasib tak tentu. Hanya meminta belas kasihan kepada antek-antek kapitalis. Utang kesana kemari mana wacana untuk berdikari dan nawacita tempo dulu! Omong kosong. Jancuk!

Investor-investor boleh-boleh saja mencari rezeki di tanah ini. Karena tanah ini milik Tuhan. Namun kita tuan tanah disini. Jangan jadi babu di tuan rumah sendiri! Jangan mau jadi babu-babu asing. Ini yang dikatakan kita sudah merdeka? Kita terlalu tunduk! 

Terlalu lama kita terkungkung. Marilah berbenah dimulai dari diri sendiri. Berseru membangun bersama bukan justru caci maki bersama. Negeri ini bisa bangkit dari sebuah tindakan bukan hanya wacana dan wacana.

#2019IndonesiaTanpaWacana