Hujan telah berganti gerimis tipis-tipis. Tiga sekawan masih bertahan di warung kopi Yuk Tumakninah menjelang sore itu. Ketiganya menggeser duduk ke tempat asal. Saat hujan deras tadi, mereka nggerembel demi menghindari cipratan hujan yang dihembus angin.

Kang Dulgemeq, Cak Gusar dan Mas Brodin melingkar kembali di lincak. Wedang kopi mereka tak lagi hot. Mereka lalu memesan gorengan sebagai cemilan penghangat suasana. Cak Gusar tampaknya ingin melanjutkan perbincangan, sesudah mengelap sebagian tikar yang basah.

”Nah, bagaimana menurut sampean, Kang Dul?” ucapnya bernada tanya, lalu nyeruput wedang kopi.

”Apanya, Cak Sar?” balas Kang Dulgemeq bertanya balik asal-asalan, kemudian ikut meraih gelas di depannya.

”Bincang-bincang kita yang tertunda karena hujan tadi itu lho” jawab Cak Gusar mengingatkan.

”Apanya?” ulang Kang Dulgemeq setelah meneguk wedang kopi. Cak Gusar garuk-garuk kepala. Dia melirik Mas Brodin seakan meminta bantuan, untuk menjelaskan pada sahabat mereka yang gaya cueknya sering bikin gregetan itu.

”Tentang woro-woro shalat Subuh berjamaah seiring musim pemilihan di wilayah kita, Kang Dul” terang Mas Brodin.

”Oalah, masalah itu tho, Mas Bro? Hihihi... Hihihi...” sahut Kang Dul dengan tertawa.

Dua sahabatnya hanya bisa melongo. Bukan jawaban yang diharapkan yang mereka dengar dari Kang Dulgemeq, tetapi dia justru hanya terkekeh sampai lincak bergoyang-goyang. Cak Gusar terlihat semakin gusar, sedangkan Mas Brodin giliran tepok jidat.

”Ayolah, Kang Dul. Biar pikiran kita mendapat wawasan yang lebih segar untuk menyikapinya?” rayu Cak Gusar ketika tawa Kang Dulgemeq mereda.

”Lah itu kan urusan mereka yang punya gawe sana, kok saya yang ditanyai? Hihihi... Hihihi...”

”Ya, siapa tahu saja Kang Dul punya second opinion. Kang Dul kan pernah melanjutkan studi dan tinggal di asrama lembaga pendidikan agama sekian tahun dulu. Paling tidak, perbincangan ini bisa menjadi fatwa bagi kita sendiri” sahut Mas Brodin menimpali.

”Hihihi... Aku tertawa bukan karena apa. Ketika sampean berdua membicarakan tentang Subuh berjamaah di daerah kita belakangan ini, apalagi membawa-bawa asrama segala, aku seketika teringat kebiasaan seorang teman sekamar dulu,” kenang Kang Dulgemeq akhirnya luluh melihat dua sahabatnya yang mulai putus asa.

”Wah tampaknya seru ceritanya itu. Boleh boleh, Kang Dul,” tukas Cak Gusar sambil memandang Mas Brodin selanjutnya. Wajah mereka langsung berseri-seri. Seperti akan diberi sesuatu yang menggiurkan, keduanya mendekat ke arah Kang Dulgemeq yang sesekali masih terkekeh. Dengan bersila tegap, mereka dalam posisi siap menyimak penuh semangat.

”Eits, sebelum aku bercerita, mana gorengannya Yuk Tum?” tanya Kang Dulgemeq sembari menengok ke arah dalam warkop.

”Siap, gorengannya segera dihidangkan” sahut Yuk Tumakninah. Sebentar kemudian dia membawa sepiring macam-macam gorengan dan meletakknya di tengah tiga sekawan itu. Sambil mencomot ketela goreng kesukaannya, Kang Dulgemeq pun memulai kisahnya.

* * *

Semasa melanjutkan pendidikan sebagaimana telah disebutkan, Kang Dulgemeq mempunyai salah seorang teman sekamar di asrama. Temannya itu akrab disapa Matsungsang di lingkungan setempat. Pelajar kakak satu tingkat yang suka menirukan suara dan gaya ustaz Alim mengajar di kelas.

Galibnya lembaga pendidikan agama, para pelajar yang menetap dibiasakan antara lain shalat Subuh berjamaah. Ustaz Salik yang rutin menjadi imam, sekaligus bertugas membangunkan penghuni asrama setiap hari. Sambil berseru, ”Shalaaa... shalaaa... shalaaa...” dia berkeliling dari satu kamar ke kamar lain, naik-turun dua lantai bangunan asrama.

Suaranya yang lantang terdengar ke seantero asrama. Bagi pelajar yang punya ghirah tinggi, lekas bangun saat mendengar seruannya dari kejauhan. Ustaz Salik biasanya juga membawa sebatang kayu dan cerek plastik berisi air. Kayu untuk mengetuk-ketuk pintu kamar pelajar yang tertutup, sedangkan air cerek bawaannya untuk menyiprati wajah pelajar yang susah dibangunkan.

Bagi guru paling senior tersebut, membangunkan sekalian pelajar serasa ”jihad” tersendiri. Sebelum dia mengimami salat Subuh berjemaah, lalu mengajar ngaji Alquran di masjid sampai matahari terbit. Dia hampir tak pernah absen menunaikan tugasnya, kecuali tengah sakit yang mengharuskan dirinya beristirahat total. Itu pun paling lama hanya sehari-dua hari.

Matsungsang, salah satu dari sedikit pelajar yang susah dibuat terjaga untuk shalat Subuh berjemaah, sejak dia duduk di jenjang kelas terakhir. Bahkan, dia suka bersiasat, setiap mendengar seruan Ustadz Salik telah dekat, dia tergopoh-gopoh memakai peci lengkap dengan surban di pundak, lalu berpura-pura duduk bersiap menunggu kumandang iqamah.

Ketika Ustaz Salik beres membangunkan para pelajar dan berlalu dari sekeliling kamarnya, Matsungsang lantas mencopot peci dan surbannya kembali, untuk kemudian melanjutkan tidurnya. Sementara, bila persediaan uangnya menipis lebih-lebih kiriman fulus bulanan dari orangtuanya terlambat, dia menjadi rajin bangun dan shalat Subuh berjemaah di masjid.

Suatu hari, Kang Dulgemeq terpikir iseng hendak mengerjai dirinya. Kang Dulgemeq yang terbiasa qiyamul lail untuk shalat kala sepertiga akhir malam di beranda kamar, berlagak layaknya Ustaz Salik komplit dengan seruannya yang amat mirip, lalu membangunkan rekan-rekan sekamarnya ketika tiba waktu tarkhim.

Tak ayal, penghuni kamar tak kecuali Matsungsang tergopoh-gopoh bangun. Ketika para pelajar lain bergegas mengambil wudu, Matsungsang yang mengetahui itu hanya keisengan Kang Dulgemeq lantas tidur lagi. Hanya saja, tak lama berselang Ustadz Salik membangunkannya, sementara Matsungsang tak menggubris hingga diciprati air berulang-ulang.

Saat dia membuka mata dengan perasaan dongkol, tampaklah Ustadz Salik di ujung hidungnya. Guru yang disegani para pelajar itu bahkan menungguinya sampai dia beranjak mengambil wudhu ke kamar mandi. Seisi kamar yang telah berwudu sontak menahan geli. Dari peristiwa itu pun Ustadz Salik menjadi tahu kebiasaan Matsungsang.

”Demikian saudara-saudara balada anak asrama bernama Matsungsang. Sejak itu kelakuannya terbongkar. Hihihi... Hihihi...” ujar Kang Dulgemeq mengakhiri ceritanya.

”Wah, bisa dibilang Matsungsang melakukan aksi politisasi shalat Subuh berjamaah yo?” tanya Cak Gusar sambil ikut tertawa.

”Rasain, Matsungsang!” balas Mas Brodin dengan terkekeh pula.

Ketika dua sahabatnya tertawa usai mendengar sepenggal pengalaman yang diceritakannya tersebut, Kang Dulgemeq justru lantas terdiam sejenak. Tak urung dia memikirkan tentang ajakan Subuh berjamaah pada momen pemilihan di wilayahnya.

Pertanyaan demi pertanyaan berjelaga dalam ruang benaknya. Apakah hal itu benar-benar terlepas sama sekali dari kaitan ajang pemilihan? Dia tak bisa membayangkan andaikan pelaksanaannya ternyata diam-diam juga mengindikasikan bagian rangkaian upaya politis. Tiadakah gebrakan lain yang lebih kreatif dan semakin mencerahkan?

Belum lagi, siapapun termasuk jajaran pengawas yang memikul tanggungjawab bila coba sekadar mengkritisi apalagi mempertanyakan sebagai wujud kontrol, apakah justru tidak akan menuai respon bahkan tudingan keras misalnya, ”Orang beribadah kok dicurigai?” nanti. Ah, semoga saja itu juga tidak berarti Gusti Tuhan kok dipaksa ikut berpolitik hanya demi berebut kekuasaan.