Terima kasih kepada Fariha Zein untuk tulisannya. Indeks Awkarin mengingatkan saya akan efek Matius dan efek Matilda.

Penghargaan Nobel, Di Mana Perempuan? Demikian judul artikel dari salah satu surat kabar menggambarkan topik yang sedang hangat dibicarakan oleh kelompok feminis Prancis sejak nama-nama penerima Nobel 2019 diumumkan. 

Hanya 53 perempuan (54 jika kita menghitung dua kali Marie Curie yang menerima dua kali penghargaan ini) dibandingkan dengan 866 pria peraih Nobel sejak tahun 1901.

Sebuah kebetulan selama 118 tahun atau memang peran dan kontribusi perempuan diabaikan secara sistematis?

Efek Matius

Pada tahun 1960-an, Robert K. Merton, profesor dan sosiolog terkenal dari Amerika, mencetuskan istilah efek Matius (Matthew effect). Ia mengacu kepada perumpamaan tentang talenta dalam kitab Matius 25 : 14-30. 

Penekanan secara khusus terletak pada ayat yang ke-29, berbunyi: Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.

Sesuai dengan prinsip talenta ini, Merton mengamati bahwa orang-orang terkenal akan mendapatkan perhatian, penghargaan, dan pengakuan yang lebih besar untuk karya-karya mereka dibandingkan jika karya yang sama yang bahkan mungkin lebih berkualitas dihasilkan oleh mereka yang kurang terkenal.

Ia mengamati bahwa peneliti muda di kampus cenderung berada di bawah bayang-bayang nama besar peneliti senior. Penghargaan akan diberikan kepada para peneliti senior ini. Padahal yang sering kali terjadi adalah para peneliti muda mencurahkan waktu dan tenaga lebih banyak.

Demikian pula dengan peraih hadiah Nobel, biasanya penghargaan jatuh kepada orang yang memang sudah punya nama di bidangnya. 

Efek Matilda

Efek Matilda adalah versi feminin dari efek Matius, yang dikemukakan pada tahun 1993 oleh Margaret W. Rossiter, ahli sejarah ilmu pengetahuan dan profesor dari Amerika. 

Ia menyimpulkan dari penelitiannya yang mendalam selama puluhan tahun bahwa efek Matius tampak lebih kuat pada kelompok ilmuwan perempuan (dapatkah disebut ilmuwati?). 

"Ada penyangkalan sistematik dan berulang, ada pengecilan peran dan kontribusi ilmuwan perempuan dalam penelitian. Hasil kerja ilmuwan perempuan sering kali diatribusikan kepada rekan kerja yang berjenis kelamin laki-laki," tegas Rossiter.

Nama Matilda ia ambil dari seorang aktivis feminis yang juga adalah penulis dan pejuang anti perbudakan dari Amerika, Matilda Joslyn Gage. (Beberapa halaman dari tulisannya berjudul Woman as an Inventor dapat diunduh di sini).

Rossiter mulai melakukan penelusuran mengenai efek Matilda sejak tahun 1970-an. Ketika itu, ia yang baru saja lulus dari studi S3, tertarik secara khusus pada posisi perempuan dalam sejarah.

Meski banyak mendapatkan kritik dari rekan-rekan peneliti lainnya, karena dianggap tidak akan menemukan apa-apa, ia tidak patah semangat. Kegigihannya membuahkan hasil.

Rossiter menemukan kurang lebih 500 ilmuwan perempuan “tersembunyi” dalam American Men of Science (kini namanya menjadi American Men and Women of Science). Hasil penelitian ini ia tuliskan dalam artikel berjudul Women scientists in America before 1920 yang diterbitkan oleh majalah American Scientist

Pada awal tahun 1980-an, ia mengembangkan dua konsep terkenal: (a) hierarchical segregation, yang menjelaskan sedikitnya jumlah atasan perempuan dibandingkan laki-laki; dan (b) territorial segregation, mengenai pemisahan ranah pekerjaan laki-laki dan perempuan.

Mereka yang Disangkal dan Diabaikan 

Sejak istilah efek Matilda dipopulerkan, satu demi satu nama-nama ilmuwan-ilmuwan perempuan yang sempat terabaikan mulai di-“rehabilitasi”. Beberapa di antaranya seharusnya menjadi penerima Nobel, tetapi orang lain tanpa sungkan “mengambil” penghargaan ini dari mereka. 

Nettie Steven menemukan peran kromosom dalam pembentukan jenis kelamin. Atasannya, Thomas Hunt Morgan, yang menerima Nobel untuk temuan ini. Morgan yang dianggap sebagai salah satu ahli genetik terbesar abad 20 “lupa” menjelaskan pada publik bahwa temuan tersebut adalah hasil kerja keras Nettie.

Esther Lederberg merelakan hanya suaminya Joshua Lederberg yang dianugerahi Nobel pada tahun 1958 untuk penemuan rekombinasi bakteri dan pengaturan materi genetik bakteri. Joshua sama sekali tidak menyebutkan bahwa temuan ini adalah hasil kolaborasi dengan istrinya.

Lise Meitner, ahli fisika Austria yang perannya sangat penting dalam penemuan reaksi fisi nuklir. Otto Hahn, rekan kerjanya menulis artikel yang ia tandatangani hanya atas namanya, dan menerima Nobel pada tahun 1944 untuk temuan ini.  

Rosalind Franklin, ahli biologi molekul asal Inggris yang temuannya menjadi cikal bakal dalam model struktur DNA. Ketika ia meninggalkan King College, penelitiannya dilanjutkan oleh Maurice Wilkins, James Watson, dan Francis Crick. 

Nama Franklin dihapuskan dari semua publikasi mengenai temuan ini. Pada tahun 1962, tiga pria tersebut menerima Nobel bidang kedokteran, dan tidak ada satu pun di antaranya yang menyebutkan jasa Franklin.

Jocelyn Bell-Brunell, ahli astrofisika penemu pulsar pada saat masih menjadi mahasiswi. Tetapi Antony Hewish pembimbing disertasi nya yang mendapatkan Nobel pada tahun 1974. Hewish yang pada masa itu menentang penelitian mahasiswi bimbingannya, menerima dengan sukacita penghargaan Nobel ini. 

Tidak ketinggalan pula Chien-Shiung Wu, Frieda Robscheit-Robbins, dan Marietta Blau, masuk dalam daftar perempuan yang tersingkirkan dari penghargaan Nobel. 

Korban-korban lain dari efek Matilda :

Mileva Einstein, ahli fisika, istri pertama dari Albert Einstein. Dari surat-surat pribadi mereka ditemukan bahwa teori relativitas merupakan karya mereka bersama. Hingga saat ini, kontribusi Mileva masih diperdebatkan. 

Katherine Johnson (ahli fisika, matematika, dan ruang angkasa), Mary Jackson (ahli mesin dan matematika), dan Dorothy Vaughan (ahli matematika dan informatika), ketiganya berperan sangat penting dalam pengembangan NASA. 

Marthe Gautier, dokter yang menemukan trisomi 21 saat bekerja di RS Trousseau di Paris bersama Profesor Turpin. Jérôme Lejeune, asisten Profesor Turpin, mempresentasikan hasil penelitian ini dalam sebuah seminar. Lejene mendapatkan penghargaan Kennedy pada tahun 1962.

Baru pada tahun 2009, Gautier berani mengungkapkan yang sebenarnya. Lima tahun kemudian, komite etik Inserm (satu-satunya badan penelitian kesehatan di Prancis) mengakui perannya dalam penemuan trisomi 21. Gautier mendapatkan legion d’honneur, penghargaan tertinggi di Prancis. 

Hedy Lamarr, aktris dan produsen film yang menemukan sistem pengkodean transmisi dengan penyebaran spektrum bersama rekannya, George Antheil. Sistem pengkodean ini digunakan dalam pesan bersandi tentara, penempatan satelit pada orbitnya, sistem telepon genggam, dan teknologi WiFi. 

Pada zaman Perang Dunia II, tentara Amerika menolak untuk membeli penemuan ini, tetapi kemudian menggunakannya tanpa sepengetahuan penemu. Baru pada tahun 1997, Hedy Lamarr diakui sebagai penemu sistem pengkodean ini.

Kecantikan, sensualitas, dan profesinya membuat orang mengabaikan bahwa perempuan ini adalah seorang penemu di bidang teknologi. Pikiran manusia sudah cenderung membentuk prasangka bahwa perempuan cantik dan apalagi seksi tidak mungkin pintar. 

Daftar ini masih akan sangat panjang. Fariha Zein telah menyebutkan dua nama dalam tulisannya: Mary Anning dan Ada Lovelace. Tidak ketinggalan pula Hypatia, Trotula de Salene, Nzingha Mbandi, Caroline Herschel...

Kelompok feminis Georgette Sand telah mencatat 75 perempuan dalam sebuah buku yang mereka tulis bersama:  Ni vues, ni connues (Tak tampak, tak dikenal). Tujuh pula lima perempuan luar biasa ini dapat kita temukan di sini. Di Tumblr ini, kita juga dapat mengajukan nama tokoh perempuan yang belum banyak dikenal.