“God used beautiful mathematics in creating the world.”

Quotes di atas berasal dari fisikawan inggris terkemuka, Paul Dirac. Banyak ilmuwan memang sepakat bahwa tanpa matematika, maka dunia tak mungkin menjadi secantik sekarang.

Saya ambil contoh yang paling menakjubkan, Bilangan Fibonacci. Bilangan ini sangat sering dijumpai di alam semesta. Jumlah kelopak pada bunga biasanya merupakan Bilangan Fibonacci, atau jumlah lingkaran pada bunga matahari atau nanas juga cenderung mengikuti pola Bilangan Fibonacci. 

Jumlah perkembangbiakan kelinci pun sering kali mengikuti pola bilangan ini. Banyak Ilmuwan percaya bahwa banyak di antara ciptaan Tuhan yang mengandung pola ajaib ini.

Dengan menggunakan rasio emas 1.6180... atau dalam matematika lebih sering disimbolkan dengan 'phi' (bukan pi=3,14…) yang terdapat pada barisan Fibonacci, manusia menciptakan gedung-gedung, lukisan, patung-patung yang bernilai tinggi. Bahkan kartu-kartu yang ada di dompet kita seperti KTP, ATM, sampai SIM, perbandingan panjang dan lebarnya (ukurannya juga sama) selalu mengikuti aturan rasio emas ini.

Selain itu, keindahan matematika adalah memungkinkan manusia untuk menghitung sesuatu yang tampak mustahil dihitung secara nyata. Matematika dapat memperkirakan sesuatu yang tak bisa dihadirkan di dunia kita.

Dalam mathematics universe kita bisa mendesain segala sesuatu yang tampak mustahil diwujudkan dalam dunia nyata, semisal ruang 4 dimensi atau lebih. Sebagai makhluk 3 dimensi – yang terdiri dari panjang, lebar dan tinggi – kita tak pernah bisa membuat objek 4 dimensi. Tapi di matematika, jangankan ruang 4 dimensi, bahkan dimensi tak hingga pun kita bisa menganalisanya, menghadirkannya secara abstrak dalam bentuk-bentuk persamaan matematika.

Dengan keindahan matematika tersebut lagi-lagi kita bisa belajar untuk semakin mengenal Tuhan dan menyadari kekuasaannya. Bahwa dengan begitu majunya ilmu matematika sekarang, kita semakin mampu menyibak misteri-misteri kehidupan sehingga diharapkan mampu mendekatkan kita dengan sang Pencipta.

Kesombongan hanya milik Tuhan. Dan matematika mengajarkan kita untuk tidak memiliki sifat itu. Dalam matematika kita tak bisa menyebutkan bilangan terbesar. Ketakterhinggaan atau infinity hanyalah sebuah konsep di matematika untuk menunjukkan bahwa kita tak bisa mengenali apalagi sampai menuliskan bilangan terbesar itu. Dengan kata lain ketakterhinggaan adalah murni kuasa Tuhan.

Matematika menunjukkan bahwa sesuatu yang kita banyangkan begitu besar justru kecil sekali pada kenyataannya. Contoh, kita sering menganggap bahwa perhitungan sejumlah bilangan sampai tak terhinga itu sedemikian besarnya hingga tak bisa dibayangkan. Tapi ternyata tidak semua seperti itu pada kenyataannya. Mari kita coba kaji dengan contoh yang mudah dan menarik berikut.

Pertama, bayangkan Snda punya sebatang kayu sepanjang satu meter. Kemudian kayu itu Anda rekatkan dengan sebatang kayu kedua yang panjangnya setengah dari kayu pertama (berarti 1/2 m=50cm), kemudian rekatkan lagi dengan kayu ketiga yang panjangnya setengah dari kayu kedua (25 cm.

Kemudian, teruskan proses penambahan ini sampai pada kayu ke-seribu, ke-sejuta, bahkan sampai kayu ke-tak hingga (banyangkan anda terus tanpa henti menambahkan kayu-kayu berikutnya).

Sekarang anda boleh menebak (karena tak mungkin anda menghitung sungguhan) berapa panjang total semua kayu yang anda sambung-sambungkan yang banyaknya tak hingga itu? Apakah panjangnya bisa melintasi halaman rumah? Atau anda membayangkan puluhan kilometer panjangnya? Atau bahkan hingga jajaran kayu-kayu tersebut dapat mengelilingi bumi?

Tidak, panjang kayu anda tak pernah lebih dari 2 meter saja. Ya, tak peduli sebanyak apapun kayu yang anda rekatkan, total panjang keseluruhan kayu-kayu tersebut tak pernah akan melebihi 2 meter (selama panjang kayu berikutnya setengah dari kayu sebelumnya).

Kalau Anda mau sedikit menengok buku catatan matematika kecil semasa SMP - yang mungkin sudah menjadi barang prasejarah di rumah - Anda akan diingatkan dengan istilah 'deret tak hingga'. Silakan mencoba menghitungnya karena hitungannya pun cukup sederhana.

Nah, ternyata pada kehidupan nyata pun berlaku rumusan yang sama. Masih ingat Fir'aun si raja mesir yang tersohor itu kan. Ya, dengan semua jerih payahnya ia ingin memiliki kekuasaan tak terbatas, tak terhingga. Sehingga suatu ketika ia menasbihkan dirinya pantas disebut sebagai tuhan. Firaun dan banyak raja-raja zaman dulu mengklaim bahwa mereka telah menakhlukkan dunia sehingga pantas disebut Raja Diraja atau lebih jauh menggelari diri mereka dengan sebutan Tuhan.

Baca Juga: Era Pasca-Tuhan

Andaikan sekarang firaun atau raja-raja sombong itu dibangkitkan dari kematiaannya untuk melihat dunia, mungkin sekali mereka akan sangat malu (dengan pipi merah merona) mengetahui bahwa kekuasaan mereka (Mesir, Yunani, Romawi dan sekitarnya) adalah wilayah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan wilayah bumi bahkan alam semesta yang merupakan wilayah kekuasaan Tuhan. 

Kita harus memaklumi. Di kala itu Fir'aun tak mengenal GPS, teropong bintang atau satelit dan sejenisnya, yang memungkinkan ia untuk melihat dunia luar. Sehingga wilayah yang ia tahu hanya sebatas jarak pandang matanya saja. Jadi, apa yang menurut Firaun tak terhingga ternyata tak ada apa-apanya dibandingkan Arsy-Nya.

Dalam kehidupan pun kita sering merasa demikian. Karena keyakinan kita terhadap melimpahnya harta benda yang kita miliki sekarang, kita begitu yakin dengan kenyamanan yang kita peroleh. Bahkan dengan segala nikmat yang kita bisa dapat itu kita begitu yakin bahwa kita masih akan hidup di detik, jam, hari, dan tahun berikutnya. kita tidak menyadari bahwa banyak variabel di alam semesta yang secara tiba-tiba dapat mengubah kehidupan kita, keadaan ekonomi, bahkan nyawa kita sendiri.

Dengan beberapa gambaran yang penulis sampaikan, sebaiknya kita sama-sama menyadari bahwa kontrol kita, yang sering kali sok kuasa terhadap hidup kita sendiri, sebenarnya hanyalah variabel kecil dibanding dengan segala variabel yang ditetapkan Tuhan atas hidup kita. Jika anda sedikit paham matematika ini, layakkah anda masih 'mendongakkan' kepala?