Di Abad 21 ini, penggunaan teknologi dalam ruang individu maupun ruang bersosial sudah merupakan hal yang normal dan biasa bagi kita semua. Namun ada hal yang cukup mengherankan saya dalam budaya masyarakat kekinian, yaitu begitu banyaknya masyarakat tontonan dan hasrat eksis yang bagi saya cukup barbar.

Hal tersebut juga agaknya dianggap hal yang normal-normal saja bagi banyak orang. Entah mereka menyadari atau tidak apa yang mereka lakukan. Pertanyaannya, apakah hal tersebut layak untuk dinormalisasi?

Saya akan mencoba menyampaikan pendapat dan perspektif saya mengenai hal tersebut. Setiap pembaca dipersilahkan untuk setuju maupun tidak. Saya akan mulai dari pembacaan saya mengenai kelahiran modernitas yang menjadi latar belakang pembahasan topik ini.


Kelahiran dan Polemik Modernitas 

Sepanjang sejarah peradaban, umat manusia sudah mengalami begitu banyak dan bermacam-macam perubahan budaya. Faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut bisa ditelisik salah satunya dari sisi perkembangan pemikiran manusia yang menentukan orientasi kehidupan manusia pada setiap zamannya.

Kebudayaan adalah hasil dari manifestasi nilai-nilai yang dianut manusia yang menentukan bagaimana gaya hidup, cara hidup, dan kebiasaan dalam keseharian hidupnya. Jadi, pemikiran manusia - terutama pada aspek bagaimana manusia memandang kehidupan - menentukan bagaimana dan seperti apa manusia akan menjalani kehidupannya.

Filsafat berperan begitu besar dalam perkembangan pemikiran manusia. Filsafat sebagai ilmu yang kritis selalu menemukan celah kritik dari sebuah ideologi yang nantinya para filsuf akan menawarkan pemikiran yang baru. Perkembangan pemikiran filsafat membawa efek begitu besar pada sejarah peradaban manusia.

Salah satu event yang disebabkan perkembangan pemikiran filsafat yang menengarai perubahan peradaban adalah Reinessance (artinya ‘kelahiran kembali’) pada abad 14. Pada masa tersebut manusia mulai menyadari bahwa dengan akal budinya manusia bisa mendapatkan pengetahuan. Pada Renaissance, muncul juga usaha sekulerisasi yang mana dominasi pemikiran teologis yang teosentris mulai diruntuhkan. Sehingga manusia bisa berpikir bebas tanpa ada aturan-aturan ketat dari kekuasaan Gereja.

Kebangkitan Renaissance akhirnya membawa perkembangan pemikiran manusia pada era filsafat modern. Pemikiran yang merevolusi perubahannya datang dari seorang filsuf Prancis abad 15, bernama Rene Descartes yang mencetuskan pemikirannya yang amat terkenal “Cogito ergo Sum” yang artinya “Aku berpikir maka aku ada”. Berkat pemikirannya, Descartes dikenal sebagai Bapak filsafat modern.

Modernisasi - di mana tradisi berpikir kritis sudah tidak dibatasi oleh kekuasaan gereja - akhirnya melahirkan banyak penemuan baru terutama dalam sains yang juga merupakan faktor pendukung berkembangnya teknologi yang masih bisa kita rasakan hingga saat ini. Modernitas akhirnya membawa bentuk budaya dan peradaban baru umat manusia.

Berkembangnya kebudayaan modern tersebut terkesan membawa kemajuan yang amat penting bagi kemaslahatan kehidupan umat manusia. Namun di sisi lain ternyata ada yang melihat kebudayaan baru ini adalah sebuah tragedi. Karl Marx adalah tokoh yang pemikirannya amat sangat berpengaruh besar terhadap cara pandang lain dari modernitas.

Menurut Marx, ada penyakit baru di modernitas yaitu, kapitalisme. Kemajuan teknologi dan sains justru menjadi privilege bagi rezim kapitalis untuk meraih keuntungannya. Marxisme akhirnya berkembang dan berpengaruh besar pada sekelompok pemikir di Jerman seperti Max Horkheimer, Theodore Adorno, Herbert Marcuse, dan lain-lain yang akhirnya membuat sebuah lingkaran intelektual yang mengembangkan teori Marxisme, lalu kelompok tersebut dikenal dengan nama Mazhab Frankfurt.

Dua pemikir awal Mazhab Frankfurt, Max Horkheimer dan Theodore Adorno menulis sebuah buku berjudul ‘Dialektika der Aufklarung’ (Dialektika Pencerahan). Dalam buku tersebut mereka menyuarakan kritiknya pada modernitas yang membawa tirani baru pada kemanusiaan. Menurut mereka, wacana kemajuan pencerahan yang dianggap sudah meloloskan manusia dari mitos-mitos yang irrasional justru membawa mitos baru, yaitu mitos kemajuan peradaban yang sebenarnya hanyalah ilusi belaka.


Dampak Psikologis Modernisasi yang Kebablasan

Berdasarkan kritik Horkheimer dan Adorno, bisa kita lihat bahwa modernisasi dan kapitalisme sepertinya sudah kebablasan. Segala hal mulai direduksi oleh logika kapitalis dan logika teknologi. Logika kapitalis dan teknologi yang kebablasan membuat seorang manusia menjadi rakus dan ingin mengendalikan segalanya di tangannya sendiri.

Manusia secara alamiah memiliki insting untuk bertahan hidup, maka hasratnya akan mendorong dirinya untuk kuat dan berkuasa. Pada kenyataannya tidak semua manusia memiliki daya untuk menjadi seorang yang berkuasa meskipun ia sangat menginginkannya. Namun kendati demikian akan selalu ada manusia yang obsesi dan ambisinya membutakan kenyataan dirinya dan menjadi rakus.

Pada era modern, kekuatan dan kekuasaan tidak lagi sama dengan era sebelumnya yang cenderung berkaitan dengan kekuatan fisik dan kekuasaan feodal kerajaan. Revolusi yang melahirkan demokrasi dan maraknya teknologi informasi, teknologi komunikasi, kapitalis, industrialisasi global, membentuk ide kuasa baru yaitu apa yang disebut pengakuan simbolis. Pengakuan akan kekuatan dan kekuasaan secara simbolis.

Faktor politis yang juga melandasi adanya dampak psikologis adalah situasi dimana wacana janji surga demokrasi seolah memberi kesetaraan hak, kebebasan, dan kesempatan membuat setiap orang memiliki ekspektasi tertentu mengenai apa yang bisa ia raih dalam kehidupannya. Padahal kenyataannya tidak seperti itu, ada hantu kapitalisme yang sebenarnya mengatur hak, kebebasan, dan kesempatan tiap orang. Tak heran di masa kini, krisis psikologi seperti anxiety dan insecurity seolah sudah menjadi hal yang makin tak terhindarkan.

Pierre Bordieu mengatakan bahwa dalam arena persaingan sosial, pengakuan adalah modal simbolis. Wacana demokrasi yang demikian menyebabkan setiap orang merasa mempunyai hak, kebabasan, dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pengakuan secara simbolis.

Pengakuan dalam konteks ini tentu saja pengakuan dari masyarakat mengenai hal-hal yang mengindikasikan apapun yang menjadi keinginan manusia (bukan diakui sebagai penjahat atau pencuri). Mereka yang terobsesi untuk berkuasa akhirnya berusaha mewujudkannya melalui usaha-usaha pencitraan diri.

Lalu pertanyaannya kondisi masyarakat seperti apa yang membuat pencitraan dan pengakuan sangat berpengaruh? Bagi saya, masyarakat tontonan atau spectacle society-lah yang membuat pengakuan begitu dikejar.


Masyarakat Tontonan dan Budaya Komentar

Guy Debord adalah seorang filsuf yang menganalisa mengenai masyarakat tontonan. Menurut Debord, masyarakat tontonan adalah masyarakat yang hampir di setiap aspek kehidupannya dipenuhi oleh tontonan-tontonan yang mana akan mereka jadikan sebagai role model bagi nilai yang dianut hingga tujuan hidupnya.

Sebuah tontonan juga memanipulasi dan mengeksploitasi value dan kebutuhan manusia sebagai sarana memperbesar keuntungan dan kontrol ideologi mereka yang menonton. Dalam masyarakat tontonan (spectacle society), segala yang ditampilkan sebagai tontonan - yang merupakan citra-citra - akan terasa lebih nyata daripada realita yang sebenarnya.

Pada masyarakat tontonan, teknologi berperan besar menjadi salah satu situs tontonan yang memperluas jangkauan para penonton dari berbagai kalangan masyarakat. Teknologi juga berperan mendukung untuk menjadikan citra-citra yang dipertontonkan menjadi semakin – seolah-olah – nyata. Inilah yang dikatakan oleh Jean Boudrillard sebagai “Simulakrum”.

Simulakrum adalah medan atau situs yang menjadikan realitas semu menjadi tampak nyata. Boudrillard juga menjelaskan masyarakat yang sudah terjerat pada simulakrum adalah masyarakat yang hidup di realitas “hyper-reality”. Hyper-reality adalah realitas semu bentukan dari Simulakrum.

Jadi masyarakat tontonan sebenarnya tidak benar-benar melihat kenyataan. Mereka hanya melihat citra-citra simbolis yang sebenarnya tak berkaitan dengan realita yang konkrit. Seseorang yang berada di panggung spectacle society, selain dia sebagai penonton dia akan merasa dirinya haruslah juga bisa menjadi tontonan orang lain. Namun, karena ia hanya melihat realitas lapis simbolis (meskipun ia tak menyadarinya), ia akan juga mencari citra-citra simbolis untuk ia kenakan pada dirinya supaya ia bisa eksis di panggung tontonan.

Lalu bagaimana dengan budaya komentar?

Budaya komentar menurut saya sudah menjadi konsekuensi logis bagi masyarakat tontonan. Karena layaknya seorang penonton, mereka akan memikirkan dan mengutarakan pendapat-pendapat mereka mengenai apa yang mereka tonton.

Lebih jauh lagi, sebuah ‘komentar’ juga akan mereka jadikan alat meraih citra mereka dalam mempertahankan dan menaikkan status eksistensi mereka dalam panggung masyarakat tontonan. Komentar dalam konteks ini menjadi sebuah simbol untuk menggambarkan citra dirinya entah untuk mem-pertonton-kan citra cerdas, citra baik, dan lain sebagainya.

Masyarakat hyper-reality yang memiliki budaya komentar cenderung akan selalu mengomentari fenomena apapun yang mereka tonton. Dengan berkomentar, mereka merasa sudah berpartisipasi dalam panggung - yang mereka anggap - realita dan layak mendapatkan sebuah label citra tertentu sehingga mereka merasa layak untuk mendapat sebuah pengakuan tertentu.


Refleksi Hidup Dalam Masyarakat Zaman Now

Sebagai sebuah refleksi, mungkin bisa kita pertanyakan apakah salah apabila kita mencari pengakuan dan mencari pencitraan? Apakah tidak boleh kita berkomentar di media sosial sebagai bentuk kebebasan kita berpendapat? Lalu bagaimana seharusnya?

Tentu boleh-boleh saja, sebagai pilihan individu setiap manusia berhak dan tak bisa disalahkan untuk menentukan orientasi hidupnya sendiri.

Namun perlu disadari, setiap pilihan kita tak akan terlepas dari konsekuensinya. Mungkin sebagai pilihan individu ia tak mendatangkan konsekuensi, namun dalam kehidupan bersosial pilihan tersebut bisa jadi mendatangkan risiko yang amat besar. Begitu juga sebaliknya pilihan yang mendasarkan pada kepentingan sosial bisa jadi mendatangkan risiko besar bagi aspek individu.

Risiko besar bagi masyarakat tontonan adalah hilangnya otentitas diri. Apabila kita terlalu tenggelam pada panggung tontonan sosial, kita akan teralienasi dari diri kita sendiri. Kita tak tahu siapa sejatinya diri kita dan kita seperti berdiri di kaki orang lain sehingga kita tak mampu memilih keputusan berdasarkan suara hati kita – bahkan tak mampu mendengarkan suara hati sendiri.

Masyarakat yang hidup di tatanan hyper-reality yang terjerat oleh dunia simulakrum tak mampu menyadari bahwa dirinya sedang dikendalikan oleh rezim-rezim kapitalis. Mereka hidup namun seperti domba yang tak sadar bahwa dia di-objektifikasi dan di-eksploitasi oleh yang lain. Kebebasan yang mereka yakini mereka miliki hanyalah sebuah ilusi yang merupakan bagian dari simulakrum yang disandiwarakan.

Bisa dipastikan tidak ada seorang pun yang mau hidup demikian – di-objektifikasi dan di-eksploitasi oleh rezim-rezim tak bertanggungjawab. Namun kebebasan dan otentisitas yang sejati begitu mahal harganya. Kita tak akan mampu meraih kebebasan dan otentisitas sejati apabila kita tak pernah memperjuangkannya.

Dalam filsafat eksistensialisme, otentisitas dan kebebasan menjadi hal yang diperjuangkan. Salah satu tokohnya bernama Jean-Paul Sartre mengungkapkan bahwa neraka adalah orang lain (hell is other people). Bagi Sartre orang lain adalah sumber penderitaan kita. Ketika kita sudah terlalu menggantungkan citra, pengakuan, dan jati diri kita pada orang lain, di saat itulah kita akan menderita.

Untuk menjadi manusia bebas yang otentik, kita harus memberi jarak pada sosial dan membuat ruang pada diri sendiri untuk menjadi diri sendiri seutuhnya. Mereka yang terlalu dalam hidup dalam pencitraan sebenarnya adalah seorang pengemis pengakuan, bisa jadi secara psikologis ia sebenarnya sedang mengalami krisis identitas yang membuatnya tak mampu menghadapi kekaburan jati dirinya.

Budaya komentar yang berlebihan juga akhirnya mengindikasikan keengganan orang untuk bertindak. Karena komentar cenderung lebih mudah daripada berbuat sesuatu yang nyata. Pada kenyataannya di medsos banyak kita temukan komentar-komentar yang sewenang-wenang, tak berdasar dan ngawur namun mereka merasa sudah sangat yakin dengan kebenarannya. Dan munculah istilah sarkas “netizen selalu benar”.

Tak hanya di ruang sosial di dunia maya, di dunia real pun banyak orang cenderung suka mengomentari sesuatu tanpa melakukan tindakan yang benar-benar dibutuhkan dalam sebuah permasalahan. Bukan berarti komentar itu sesuatu yang salah, namun maraknya komentar dangkal dan minimnya tindakan nyata membuat kecurigaan akan adanya empati palsu yang hanya pencitraan saja.

Perubahan kebudayaan dan kemajuan teknologi seharusnya kita sambut dengan tanggung jawab besar dan bukan hanya sekedar menikmati fasilitas yang memanjakan yang berpotensi mendangkalkan dan melemahkan kita. Kendati demikian sangat susah mengubah situasi sosial yang sudah seperti ini.

Lalu apa yang bisa dilakukan? 

Mungkin saat ini hanya ini yang bisa saya tawarkan sebagai kesimpulan atas refleksi saya, apabila kita tidak benar-benar mau belajar dan berpikir kritis untuk menjadi manusia kuat yang mandiri dan bebas kita akan masuk ke dunia yang memberikan kebahagiaan dan pengakuan palsu. 

Ya, pilihannya hanyalah kita membuktikan dengan tindakan dan karya kita sebagai manusia yang benar-benar memiliki kekuatan kemampuan atau kita memilih untuk menjadi pengemis pengakuan dan melupakan kenyataan bahwa kita sebenarnya hanyalah kaum lemah yang hidup seperti parasit.