Sejarah kelam bangsa Indonesia sangatlah panjang. Hingga hari ini masih teringat dalam ingatan seakan menjadi hantu bagi para korban pada masa lalu. 

Teringat kembali tentang bagaimana situasi pada zaman pemerintahan Soeharto atau zaman orde baru layak untuk dikaji dan dipelajari tentang kekejaman yang dilakukan oleh negara pada masa itu dan hingga sampai ke era reformasi ini belum juga ada titik terang dan pengakuan dari Negara terhadap peristiwa berdarah pada zaman orde baru. 

Selama 32 tahun berkuasa, demokrasi dibungkam, dikendalikan dan hampir semua media cetak pada masa itu dibawah kendali rezim Soeharto. Ruang gerak mahasiswa dibatasi serta tidak boleh mengkritik kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, apa pun itu. 

Di sisi lain juga ada kebijakan pemerintah yang menurut mereka adalah baik untuk kesejahteraan rakyat. Tetapi, jika dilihat dampaknya, maka dampak yang buruk lebih besar dari pada yang baik. Pantaskah untuk dikenang?

Oleh sebab itu, dari zaman pemerintahan Soeharto atau disebut juga zaman orde baru, beberapa peristiwa-peristiwa yang sangat kelam dilakukan oleh rezim Soeharto yang mengakibatkan banyak korban jiwa yang berjatuhan secara tidak manusiawi.

Pembersihan PKI (Partai Komunis Indonesia) 1965-1966

Pasca meletusnya G 30 September yang di dalam pembunuhan terhadap 7 Jenderal dan juga merupakan orang terdekat Soekarno. Salah satu di antaranya adalah Jenderal Ahmad Yani, Jenderal kesayangan Soekarno. Operasi yang dilakuan oleh Kolonel Untung dan mengatasnamakan Dewan revolusi yang bertugas menjemput para jenderal dengan tuduhan bahwa mereka akan mengkudeta Presiden Soekarno.

Pada 1 Oktober 1965, Orang yang pertama kali menyebut PKI (Partai Komunis Indonesia) adalah dalang dari penghianatan dan penculikan terhadap jenderal adalah Soeharto. Setelah petinggi-petinggi Militer tewas dibunuh dan Soeharto mengambil alih kekuasaan bersenjata dengan inisiatif sendiri tanpa berkoordinasi dengan Presiden Soekarno yang merupakan panglima tertinggi. Para pemimpin Militer yang diduga sebagai simpatisan dari PKI dicabut jabatannya lalu ditangkap dan dipenjarakan.

MPRS dan Kabinet Menteri pendukung Soekarno dibersihkan dan ditangkap. Para petinggi PKI diburuh, ditangkat bahkan dibunuh dibawah pimpinan Soeharto. Salah satu penulis Kondang yang dibunuh adalah Pramoedya Ananta Toer. 

Pada bulan November petinggi-petinggi PKI mulai diburuh dan dibunuh. Tepatnya pada tanggal 22 November Ketua PKI Dipa Nusantara Aidit tewas dibunuh. Pembantaian terus dilakukan dibawah komando Soeharto dan memburuh para simpatisan PKI. Perkiraan jumlah korban dari berbagai pihak mengatakan ada sekitar 78.000, ada juga yang 200.000, dari militer mengatakan 200.000 - 500.000, dan dari beberapa keluraga Korban mengatakan sekitar 2 juta lebih orang tewas terbunuh. Namun para sejarawan sepakat setengah juta yang telah dibantai. 

Peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang paling kelam dalam sejarah Indonesia dengan Jumlah korban yang sangat banyak. Peristiwa itu adalah masa transisi Orde lama ke orde baru. Sehingha banyak Orang yang mrngklaim bahwa dalang dari peristiwa Pembantaian tersebut adalah Soeharto. Selain itu juga Amerika turut serta dan terlibat dalam pembantaian melalui Propaganda terhadap militer Indonesia. 

Pasca PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) 1969 di Irian Barat

Status Irian Barat saat itu harus ditentukan dalam bentuk PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) atau referendum. Sengketa antara pemerintah Indonesia dengan Belanda diakhiri pada tahun 1969 disaat kesepakatan terjadi melalui Perjanjian New York atau New York Agreement. Dalam perjanjian New York ditetapkan bahwa semua laki-laki dan perempuan papua yang tidak asing memiliki hak untuk memilih. 

Yang menariknya dalam Perjanjian New york tersebut adalah sama sekali tidak melibatkan orang asli Papua. Setelah pemungutan suara dilakukan, pemerintah Indonesia mengambil dan memilih peserta PEPERA yaitu 1.025 orang dari total perkiraan Populasi saat itu 800.000 orang. PEPERA dilakukan dengan 3 tahap yaitu tahap pertama, dilakukan konsultasi terhadap dewan kabupaten di Jayapura pada tanggal 24 Maret 1969. 

Tahap kedua, diadakan pemilihan Dewan Musyawarah yang berakhir pada bulan Juni 1969. Dan tahap ketiga, PEPERA dimulai dari Merauke dan berakhir di Holandia (Jayapura saat ini) pada tanggal 4 Agustus 1969. 

Hasil dari PEPERA yang melibatkan 1.025 Pemilih, ternyata pemilih tersebut menghendaki bergabung dengan Negara Republik Indonesia. Akhirnya hasil dari pemilihan tersebut dibawa dalam sidang  Majelis Umum PBB dan pada tanggal 19 November 1969. Sidang umum PBB menerima dan menyetujui hasil PEPERA tersebut.

Namun PEPERA itu dinilait tidak memenuhi Kriteria atau tidak sesuai dengan Hukum Internasional, Hak Asasi Manusia  dan Demokrasi yakni One Man One Vote (satu orang satu suara) tetapi dilakukan dengan cara dan kebiasaan Orang Indonesia yaitu Musyawarah atau banyak Orang satu suara. Pemilihan pemilih PEPERA dilakukan oleh dan dengan cara Indonesia itu sendiri dengan mengintimidasi serta meneror Peserta PEPERA yang dilakukan oleh Militan dan Militer TRIKORA atau Tri Komando Rakyat. 

Sejarah tersebut merupakan Kejamnya Negara Indonesia terhadap bangsa Irian Barat. hingga saat era reformasi ini, sejumlah kalangan dan sebagian besar Orang asli papua tidak mengakui penyelengaraan  PEPERA pada tahun 1969. Setelah PEPERA Jumlah korban yang tidak diketaui hingga kini tidak terhitung jumlahnya karena pada zaman Orde baru semua akses media di bawah kendali Rezim Soeharto. 

Dosa besar Negara yang tak akan terlupakan sepanjang sejarah Irian Barat tidak akan pernah hilang dalam ingatan para keluarga korban serta rakyat Irian barat itu sendiri. Sungguh kejamnya Negeri ini.

Operasi Sejora Timor-Timur Tahun 1975

Invasi yang dilakukan oleh militer Indonesia pada tahun 1975 atau disebut juga dengan Operasi Seroja adalah merupakan salah satu bagian dari sejarah kelam dan kekejaman zaman Orde Baru. Akibat dari serangan militer Indonesia pada tahun 1975 - 1978 puluhan ribu warga sipil tewas dibunuh tanpa pandang bulu oleh militer Indonesia. Invasi yang dilakukan oleh Indonesia lagi-lagi didukung oleh Amerika Serikat melalui persenjataan.

Sejarah dan fakta menyebutkan bahwa wilayah Timor-timur adalah bekas jajahan dari Portugis bukan Belanda yang tercatat dan  ditandatangi melalui kesepakatan pembagian pulau pada tahun 1915. 

Perang secara terus menerus terjadi di wilayah bekas jajahan Portugis itu hingga dua dekade dan setelah tumbangnya rezim Soeharto pada tahun 1998, Habibi diangkat sebagai Presiden menggantikan Soeharto sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat. maka pada tahun 1999 Presiden Habibi memberikan Referendum atau penentuan nasib sendiri kepada Rakyat Timor-Timur untuk mengakhiri status dari Timor-timur dan dengan Misi PBB di Pulau itu maka Rakyat Timor-timor memperoleh kemerdekaanya. 

Tragedi Tanjung Priok 1984

Tragedi tersebut merupakan satu dari rentetan tragedi dan peristiwa pada zaman pemerintahan Soeharto. Tragedi ini mengisahkan tentang tuduhan terhadap Jemaah yang tinggal di Tanjung Priok yang pada ceramah-ceramahnya tentang cita-cita Negara Islam. Namun faktanya menurut pengakuan korban yang masih hidup saat itu bahwa ceramah-ceramah yang dibawakan tak lain adalah kritikan terhadap pemerintah. 

Mereka mengecam kebijakan dari pemerintah  yang sangat menyudutkan umat Islam. Diantaranya adalah Larangan memakai Jilbab dan penerapan Azas tunggal Pancasila serta masalah kesenjangan sosial. 

Dari data SONTAK ( Solidaritas Untuk Peristiwa Tanjung Priok) menyebutkan bahwa jumlah Korban yang ditembak berkisaran kurang lebih 400 Jiwa. Beda dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh Panglima ABRI kala itu LB. Moerdani yaitu kisaran 18-53 Orang. pada akhirnya tragedi tanjung Priok tersebut merupakan bagian yang tak akan terlupakan bagi Keluarga korban dalam sejarah Kelam pemerintahan rezim Soeharto.

Meskipun banyak orang di era Reformasi ini tidak mengetahui tentang tragedi tersebut bahkan di buku-buku Sejarah tidak pernah diungkit sedikit pun tentang tragredi ini. 

di era milenial sekarang, mungkin kita sudah dimanjakan dengan segala apa yang ada tetapi disisi lain masa lalu merupakan bagian yang sangat penting tentang bagaimana sesungguhnya kekejaman Negara terhadap rakyatnya sendiri, terhadap bangsanya sendiri. Rezim Soeharto dalam sejarah Indonesia tidak akan pernah terlupakan dan akan menjadi hantu bagi semua Keluarga korban.

Kelamnya masa Orde baru membuat banyak kalangan yang pernah ada pada masa itu dan masih hidup di masa kini belum bisa melupakan dan akan terus menjadi hantu setiap saat meneror terutama yang pernah menjadi korban. 

Ada dua peristiwa yang sudah diuraikan diatas dan juga merupakan peristiwa yang tak akan terlupakan sepanjang sejarah Orde baru adalah pembantaian terhadap PKI dan yang di tuduh sebagai simpatisan PKI dihabisi dan dibunuh. Kemudian tentang sejarah Integrasi Irian Barat kedalam Negara Indonesia melalui PEPERA yang dianggap tidak memenuhi Hukum Internasional, HAM dan Demokrasi, yaitu One Man One Vote (satu orang satu suara) Sebagian besar rakyat Papua saat ini tidak menerima dan tidak mengakui terhadap PEPERA pada tahun 1969.

Penyelesaian kasus-kasus tersebut dapat dikatakan sudah tak lagi dipedulikan oleh Negara. Negara seolah-olah menutup mata dan tak mau ambil pusing atas rentetan kasus pelanggaran HAM masa lalu yang sampai hari ini masih membekas dalam ingatan para keluarga korban. Sejumlah penggiat HAM terus menyuarakan kasus-kasus masa lalu untuk diproses namun hasilnya nihil. Pemerintah dipandang menutup telinga dan tidak mau ambil pusing atas perkara tersebut.