Setelah sukses menyelenggarakan Kuliah Umum serta Workshop dan Kelas Menulis tentang Sains dan Pemikiran Kritis di Bandung tahun lalu, Qureta-Gita kembali hadir dalam program kerja sama lainnya. Kali ini, program lanjutan itu bertajuk "Diskusi Klub Sains, berlangsung Kamis, 1 Maret 2018 di Perpustakaan Lantai 4 Gedung Kandaga, Universitas Padjadjaran.

Program diskusi ini dirancang khusus mewadahi komunitas akademik di lingkungan kampus Universitas Padjajaran. Anggota diskusi terdiri dari 30 orang. Semuanya berasal dari Fakultas Ilmu Pertanian, Ilmu Peternakan, Ilmu Keperawatan, Kedokteran Gigi, Ilmu Komunikasi, MIPA, serta Ilmu Sosial dan Politik.

Di sesi pembukaan diskusi, pendiri/CEO Qureta Luthfi Assyaukanie menegaskan mengapa program ini patut dihadirkan. Selain memang menjadi satu misi pendirian Qureta, program ini juga dinilai sebagai sebuah keharusan demi ilmu pengetahuan.

“Tradisi ilmiah begitu penting. Senantiasa harus dihidupkan, terutama di kalangan akademik seperti mahasiswa. Sebab perkembangannya yang pesat menggugah tumbuh suburnya ilmu pengetahuan. Dan Qureta hadir untuk merespons itu yang memang sudah menjadi misi utama kami."

Terkait pemilihan tema "Masa Depan Teknologi Kloning" yang Qureta-Gita jadikan wacana utama dalam diskusi awal Klub Sains, menurut Luthfi, hal itu lantaran begitu krusial bagi perkembangan kloning dan masa depan peradaban manusia sendiri.

"Karenanya, persoalan kloning tak seharusnya terpinggirkan. Meski seringnya melahirkan pro-kontra, tetapi jika kloning berhasil pada manusia, maka ini bisa jadi langkah besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan, perkembangan peradaban kita."

Ia pun lalu mencontohkan bagaimana dua ekor monyet bernama Zhong Zhong dan Hua Hua di Tiongkok berhasil dikloning. Bahkan jauh sebelum itu, keberhasilan para ilmuwan melakukan kloning spesies primata berhasil jadi perhatian dunia luas, yang karenanya ikut mengembangbiakkan ilmu pengetahuan. Hal ini pulalah yang dikehendaki berlaku pada pada manusia.

Selaku pembicara, drg. Bremmy Laksono yang juga merupakan peneliti genetika di Universitas Padjadjaran menjelaskan secara gamblang mengenai sel, gen, dan kromosom. Dalam kloning, tigal hal itu merupakan objek penelitian utamanya, di mana itu memungkinkan kloning terhadap manusia, keberhasilan dan kekurangan teknologi kloning pada hewan, serta dampak hukum dan sosialnya.

“Tujuan kloning berawal dari adanya keinginan untuk meningkatkan produksi pangan, baik dari sumber nabati maupun hewani. Ide tersebut timbul karena ketersediaan pangan yang ada tidak akan mampu memenuhi dengan jumlah populasi manusia yang meningkat tajam di masa mendatang. Pun dalam hal ini jadi salah satu solusi penyembuhan penyakit genetika,” papar Bremmy.

Lain lagi jika kloning terhadap hewan, uji coba dengan perkawinan silang dari spesies unggul berhasil melalui percobaan hingga 200 kali. Dalam kloning, lanjut Bremmy, penentuan sel, gen, dan kromosom itu memang krusial. Hal ini terbuktikan dari hewan hasil kloning tidak semua turunannya bersifat unggul.

Domba Dolly, contohnya. Hewan kloningan yang lahir pada tahun 1996 di Skotlandia ini hanya mampu hidup selama 6 tahun. Selain Dolly, hasil kloning lainnya yang berhasil dilakukan adalah tikus Cumulina yang lahir tahun 1998 di laboratorium University of Hawai Amerika Serikat serta anak sapi yang lahir di Jepang, Babi Mille, Christa, Alexis, Carrel, dan Dotcom di Inggris.

Kloning pada Manusia

Zhong Zhong dan Hua Hua adalah monyet kloningan dan kembar identik yang memberikan harapan baru bagi perkembangan teknologi kloning. Keberhasilan spesies primata tersebut diyakini juga oleh drg. Bremmy bisa dilakukan.

Dengan gen yang berdekatan antara spesies primata dengan manusia, menurutnya, di masa depan bisa saja lahir seorang manusia melalui kloning.

Kemungkinan itu pun sempat diungkapkan oleh James Bourne, asisten professor di Monash University Australia. Ketika itu ia mengatakan penelitian terhadap primata non-manusia tetap krusial dalam kelanjutan penelitian medis dan kemajuan kesehatan manusia.

Namun, drg.Bremmy ragu, sama seperti Willmut, seorang ilmuwan terkemuka Skotlandia. Menurutnya, apabila kloning terhadap manusia tetap dilakukan, akan menjadi dilema moralitas. Apalagi agama, manusia akan terwujud laiknya Tuhan jika menciptakan manusia.

“Faktanya, kloning masih dalam tahap awal sekali, belum ditemukan metode baku yang aman, berhasil, dan efektif. 98% embrio gagal pada saat proses kehamilan. Meskipun sudah berhasil lahir, tapi belum bisa hidup dalam jangka waktu yang lama. Jikalau berhasil, selalu disertai dengan kelainan jantung, pernafasan dan gangguan sistem imun, penuaan dini, dan pemyakit diabetes,” paparnya kembali.

Belum lagi, kondisi sosial saat ini memperlihatkan hukum tidak berkembang mengikuti cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan. Banyak sisi juga dalam segala bidang kedokteran terkini yang belum tersentuh/terlindungi oleh hukum negara seperti UU, baik bagi praktisi maupun masyarakat pengguna jasanya. Dengan kata lain, mengkloning manusia memerlukan adanya batasan-batasan di luar norma agama, budaya, etika, juga sosial.

Di sesi akhir diskusi, Luthfi punya pandangan berbeda dengan Bremmy. Baginya, ilmu pengetahuan tidak bisa dibatasi oleh apa pun. Ilmu pengetahuan harus berkembang sebagaimana mestinya.

Karena itu, aturan dan norma yang berlaku saat ini harusnya menyesuaikan perkembangan sains ke depan. Luthfi kemudian mengambil contoh pada keberhasilan Elon Musk bersama SpaceX, ambisi Musk saat ingin menerbangkan mobil tesla menjelajahi luar angkasa menuju planet Mars. Banyak yang meragukannya bahkan oleh NASA sekalipun.

“Pasca perang dunia II, belum ada lagi kompetisi menjelajahi astronomi. Saat ini, persaingan yang telah dimulai oleh Musk dan SpaceX menjadi persaingan antar-perusahaan, bukan antarnegara lagi,” kata Luthfi.

Dengan begitu, saat semua orang hanya percaya roket yang bisa terbang ke luar angkasa, keberhasilan mobil ciptaan Musk yang menuju planet mars bisa menjadi contoh relevan; kloning terhadap manusia pun bukan mustahil. Tentu bisa terjadi di masa depan.