Gelombang islamisasi dan arabisasi (ta’rib) yang menerjang kehidupan di Indonesia tidak dapat dipungkiri lagi telah mencerabut sekularisme dari akarnya secara pelan-pelan namun pasti. 

Efek perubahan ini terjadi manakala mulai datangnya ‘Islam gaya baru’ yang berasal dari Timur Tengah pasca Muhammad bin Abdul Wahhab meresmikan pemikiran-pemikiran keislamannya sebagai paham legal di Arab Saudi. Kemudian paham ini dibesarkan di Barat dan akhirnya hadir mewarnai khazanah keislaman Indonesia.

Islam gaya baru ini sendiri punya karakteristik yang sangat berbeda dengan Islam yang diusung para wali, tuan guru, abuya, teuku, dan para kiai terdahulu. Jika kaum terdahulu mengenalkan Islam melalui sentuhan nurani, maka “Islam gaya baru” mengenalkan Islam melalui simbol-simbol dan dogma-dogma yang ketat. Mereka menggurita melalui kelompok-kelompok kecil namun memiliki militansi yang tinggi.

Perkembangan islamisasi dan ta’rib ini tidak dapat dipungkiri telah menggerus budaya sekularisme yang dahulunya ditakuti oleh sebagian cerdik agama. Sinyalemen keruntuhan sekularisme ini dapat terlihat dari berbagai penjuru aspek sosial. 

Mulai dari berbagai ucapan selamat yang berevolusi penuh dengan nuansa agama, seperti ucapan selamat ulang tahun atau happy birthday berubah menjadi selamat milad, idul milad, sanah helwah, dan barakallahu fi umrik. Selain itu, panggilan kepada lawan bicara yang lebih tua atau orang yang dihormati dengan sebutan antum, baik itu pada pria atau wanita.

Dua contoh di atas adalah sebagian dari fenomena islamisasi ta’rib. Tentunya masih banyak fenomena lainnya. Kesemua fenomena ini 'mereka' yakini sebagai sunnah.

Namun entah apakah ada research untuk membuktikan apakah itu sunnah atau hanya sekadar arabisasi, atau mungkin apakah fenomena kebahasaan di atas sudah sesuai dengan gramatikal Arab?

Kembali pada sekularisme yang pertama kali muncul di Eropa pada abad pertengahan yang lahir sebagai bentuk kekecewaan european pada institusi agama mayoritas saat itu. Di mana saat itu agama berubah menjadi institusi, bukan lagi jalan suci.

Institusi agama mayoritas European saat itu berubah menjadi bagian kapitalisasi negara atau peraih keuntungan demi kepentingan Penguasa (Raja atau Kaisar) dan tuan tanah (pengusaha). Bahkan untuk pertobatan pun mereka wajib membayar. 

Akhirnya, kaum cerdik pandai memberontak dan menyerukan pemisahan antara aturan agama dan pemerintahan, hingga memunculkan semboyan: Berikan hak Allah kepada Allah dan hak Kaisar kepada Kaisar.

Klimaks dari sekularisasi ini adalah ketika Eropa mengalami kemajuan materi (sains dan teknologi) namun mengalami dekadensi iman yang ditandai dengan melonjakknya penganut agnostik dan semakin menurunnya jumlah rumah ibadah. Hal ini dikarenakan agama hanya menjadi prioritas kedua dalam kehidupan.

Sedangkan kehadiran sekularisme di Indonesia tidak berkaitan sama sekali dengan apa yang terjadi di Eropa. Sekularisme di Indonesia sendiri bukan lahir atas kekecewaan pada agama yang berubah menjadi institusi, melainkan karena pengaruh global culture, baik berupa ideologi ataupun life style yang memang memiliki radix terhadap teori sekuler itu sendiri.

Fenomena keruntuhan sekularisme di Indonesia begitu hebat, sehingga semua sendi kehidupan, baik individual maupun sosial, semuanya seakan wajib memiliki embel-embel keagamaan.

Bisa kita lihat saat ini menjamurnya bank-bank syariah, hotel-hotel syariah, dan munculnya berbagai macam benda bersertifikasi halal yang walaupun itu tidak terlalu urgen.

Dalam hal fashion, serbuan ‘hijabisasi’ begitu luar biasa. Persentasi lonjakan wanita pemakai ‘hijab’ begitu tinggi. Bahkan shampoo pun mengeluarkan produk khusus untuk wanita ‘berhijab’ lengkap dengan iklannya.

Padahal makna ‘hijab’ dalam Islam sendiri bukanlah jilbab sebagaimana yang di ’imani’ sebagian muslim yang mengafiliasikan diri sebagai golongan hijrah (dengan berbagai produk urbanya seperti hijrah fest dan lainnya).

Hijab menurut Munjid (ensiklopedia bahasa Arab) adalah As Sitru, artinya penutup. Dalam At Tauqif ‘ala Muhimmat At Ta’arif,  Al Munawi menyatakan bahwa  hijab dari Asal maknanya adalah entitas yang menjadi penghalang antara dua entitas lain. 

Sedangkan makna hijab dalam Alquran tertara dalam surah al-Ahzab ayat 53 yang berarti tabir. Tabir ini digunakan untuk para sahabat ketika meminta sesuatu kepada istri-istri nabi. Ayat ini sendiri menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya berisi tentang etika bertamu di rumah Rasulullah.

Selain distorsi bahasa yang sangat digresif, keruntuhan sekularisme dan islamic revival terlihat pada bidang politik. Di mana saat ini semua sendi dalam perpolitikan Indonesia seakan wajib memperlihatkan sisi keislaman.

Walaupun partai yang jelas-jelas mengusung nasionalisme, ia wajib memperlihatkan keberpihakan pada Islam walaupun dengan terpaksa dan terkesan ‘norak’.

Sekularisme di Indonesia bukanlah hantu yang harus ditakuti lagi. Karena jika dilihat dari beberapa aspek, sekularisme telah pudar dan ternyata islamisasi muncul dengan caranya sendiri. Mungkin kutipan ‘life will find a way’ dalam film Jurrasic Park yang diproduksi tahun 1993 bisa menggambarkan terjadinya fenomena ini.