Indonesia yang telah kita ketahui bersama adalah sebuah negara yang plural. Di dalam komposisi negara Indonesia ditemukan berbagai macam perbedaan, diantaranya agama, budaya, suku, adat, bahasa dan lain sebagainya. Dari sekian banyak perbedaan yang ada seluruh elemen bangsa kemudian dapat disatukan lewat Pancasila.

Terdapat lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia atau tepatnya 1.340 suku bangsa menurut sensus BPS tahun 2010. Kemudian dari segi agama, Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Berdasarkan survei demografi BPS pada 2010, jumlah penduduk Indonesia mencapai 237 juta jiwa, 87,18 persen (207 juta) beragama Islam. Urutan berikutnya adalah Kristen 16,5 juta (6,96 persen), Katolik 6,9 juta (1,69 persen), Hindu 4 juta (1,69 persen), Budha 1,7 juta (0,72 persen), konghucu 117 ribu (0,5 persen), dan lain-lainya 299 ribu (0,51 persen). Jika dikumpulkan, jumlah umat Islam di negara-negara Arab masih lebih kecil dibandingkan jumlah umat muslim Indonesia.

Melihat keanekaragama yang ada tentu saja memungkinkan timbulnya konflik didalamnya. Hal ini terjadi dalam beberapa tahun terakhir ketika ada sekelompok masyarakat yang melakukan tindakan-tindakan kekerasan. Dalam hal ini adalah pembakaran rumah ibadah, pelarangan melakukan peribadatan, bom bunuh diri dan lain sebagainya. Hal semacam ini sering kali dilakukan oleh kelompok-kelompok yang merasa dirinya mayoritas, sehingga mereka merasa berhak berbuat apapun.

Yang lebih memprihatinkan lagi adalah hal-hal yang bersifat destruktif semacam itu banyak dilakukan oleh orang muslim. Kekerasan dan kekuatan otot sering ditunjukkan sebagian kelompok radikal yang sebenarnya bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Keberagamaan yang dikembangkan diatas kecerdasan emosi dan nalar argumentatif lantas merosot menjadi kekuatan destruktif, berwujud pentungan dan sejenisnya yang tak akan memberi dampak penyadaran dan transformasi nilai-nilai luhur Islam.

Melihat kenyataan seperti itu maka sudah saatnya untuk melakukan sebuah aksi untuk meredam kegiatan destruktif tersebut. Nilai-nilai luhur Islam harus di aktualisasikan atau dengan kata lain diperlukannya re-thinking image Islam yang saat ini dipandang sebagai agama penebar radikalisme.

Dari sudut pandang kaum Muslim, agama alam semesta ialah al-Islam, sikap pasrah yang total kepada Sang Maha Pencipta. Kitab suci memberikan berbagai ilustrasi tentang ketundukan, ketaatan serta kepasrahan alam semesta kepada Tuhan. Sikap kepasrahan ini seringkali dihubungkan dengan kata takwa. Istilah takwa yang populer terdengar yaitu menjalankan segala macam perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya.

Dari segi tasrif, perkataan “islam” adalah masdar atau “kata benda kerja” (verbal noun) dari kata kerja “aslama-yuslimu”, sama halnya dengan perkataan “iman” yang merupakan masdar dari kata kerja “amana-yu’minu” yang artinya “mempercayai” atau “memasrahkan diri” atau “bersikap pasrah” dan “mempercayai” atau “bersifat percaya”. Oleh sebab itu, dalam bahasa Indonesia dapatdinyatakan sebagai sikap “beriman” dan “berislam”.

Seorang Muslim, setelah merujuk kepada segi tasrif perkataan Islam diatas mempunyai konsekuensi untuk tunduk, pasrah dan percaya kepada Allah swt. Sikap pasrah dan tunduk ini kemudian menjadikan seorang muslim untuk berlaku rendah hati, adil, toleran dan bijaksana dalam menghadapi setiap permasalahan yang ada.

Hal ini sejalan dengan perkataan hanif dan muslim ketika kata-kata tersebut digunakan oleh al-Quran untuk menjelaskan perilaku Nabi Ibrahim. Dua istilah hanif dan muslim itu menunjukan kepada pengertian “generik”, yaitu ajaran yang belum tertundukan oleh ruang dan waktu yang dapat menyebabkan hilangnya kemurnian serta memunculkan sifat sektarian dan komunalistik (semangat golongan).

Sifat sektarian maupun komunalistik itu seharusnya dihilangkan dari benak semua muslim, karena seorang muslim harus mempunyai sifat kehanifan seperti apa yang dilakukan oleh Nabi dan Rasul. Sifat seorang muslim yang hanif yang harus ditonjolkan. Kehanifan ini kemudian dapat mengantarkan kepada rasa kemanusiaan yang tinggi dan berimplikasi untuk tidak melakukan tindakan-tindakan diluar kemanusiaan.

Dewasa ini, kaum muslim seperti lupa akan ajaran kehanifan tersebut. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pemberitaan-pemberitaan tentang berbagai macam tindak kekerasan, baik kepada sesama muslim yang berbeda pemahamanya maupun kepada golongan non-muslim. Hal ini mengakibatkan citra buruk bagi Islam itu sendiri.

Berkaitan dengan fenomena tersebut, Chaiwat Satha-Anand, pemikir dan aktivis Muslim dari Thailand, dalam bukunya yang diterbitkan PUSAD Yayasan Paramadina mengajak kita untuk menelaah kembali secara kritis kaitan Islam dan kekerasan yang sudah dianggap benar dengan sendirinya. Upaya yang dilakukan Satha-Anand adalah langkah yang cukup keras kepala ditengah-tengah publik, baik dunia Islam atau bukan, yang mulai menerima kebenaran kaitan tersebut.

Lebih lanjut lagi tesis Satha-Anand di dalam bukunya yang berjudul “Barangsiapa Memelihara Kehidupan...”, sangat sederhana: Islam bisa menjadi sumber inspirasi untuk gerakan nir-kekerasan. Contoh nir-kekerasan -menurut Anand- bisa ditemukan di dalam sunnah atau teladan Nabi, terutama melalui dua contoh yang diulasnya: peristiwa sengketa peletakan batu hitam (al-hajar al-aswad) saat pembangunan ka’bah di era pra-kenabian Muhammad, dan peristiwa penaklukan Mekah di mana Nabi memberikan pengampunan umum kepada penduduk setempat yang menjadi lawanya.

Masih banyak perilaku Nabi yang merepresentasikan nilai-nilai keislaman yang lurus yang kaitanya dengan mu’amalah, hubungan antar masyarakat. Agama dengan ajaran absolutnya seperti, rendah hati, adil, terbuka, bijaksana dan toleran dapat memberikan jalan keluar sehingga kekhawatiran yang dihadapi oleh masyarakat plural dapat dihilangkan, atau paling tidak ditekan sebisa mungkin. Sejarah masa silam membuktikan hal ini.

Dua pemeluk agama besar –Kristen dan Islam- pernah hidup berdampingan dengan serasi dan harmonis, kendatipun terdapat perbedaan anutan antara mereka. Antara al-Muqauqis yang sekaligus adalah Patriak Alexandria dan penguasa Mesir, dengan Nabi Muhammad saw., terjalin hubungan yang sangat baik. Al-muqauqis mengirimkan kepada pembawa ajaran Islam itu hadiah-hadiah, antara lain seorang putri Mesir yang kemudian menjadi ibu dari putra Muhammad saw. yang bernama Ibrahim.

Semua contoh-contoh diatas adalah sebuah kenyataan yang harus kita contoh. Tetapi karena keangkuhan dan kedangkalan pengetahuanya, umat muslim khususnya yang ada di Indonesia seakan-seakan melupakan ajaran-ajaran Islam yang mendamaikan itu.

Dalam konteks bernegara harus ditekankan sikap egaliter yang memandang semua warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama terlepas dari perbedaan-perbedaan yang ada. Hal ini juga sejalan dengan prinsip demokrasi yang menjadi jati diri bangsa sejak pertama kali dibentuk.

Umat Islam harus menjadi penengah (al-wasîth), dan saksi (syuhadâ’) di antara sesama manusia. Itu sebabnya orang Islam disebut, dalam istilah sekarang, sebagai golongan “moderator” atau mediator, di mana orang Islam diharapkan berdiri tegak di tengah.

Seorang Muslim tak boleh ekstrem memihak terlalu jauh. Seorang Muslim harus selalu mempunyai dalam jiwa dan alam pikirannya melihat keadaan secara objektif, secara adil. Keadaan umat Islam sebagai penengah merupakan keadaan yang pernah dibuktikan dalam sejarah peradaban Islam, yang sangat menghargai minoritas non-Muslim (Yahudi-Kristiani).

Sikap inklusivisme ini ada karena Al-Quran mengajarkan paham kemajemukan beragama (religious plurality). Sikap inklusivisme dan pluralisme inilah yang telah menjadi prinsip pada masa jaya Islam, dan telah mendasari kebijaksanaan politik kebebasan beragama. “Meskipun tidak sepenuhnya sama dengan yang ada di zaman modern ini, prinsip-prinsip kebebasan beragama di zaman modern adalah pengembangan lebih lanjut, yang lebih konsisten dengan yang ada dalam zaman Islam klasik,” demian pendapat Cak Nur.

Berdasarkan argumen teologis tersebut, menurutnya, terletaklah cita-cita etika dan politik Islam di mana pun. Ia beranggapan karena cita-cita keislaman yang fitrah dan selalu merupakan pesan (al-dîn nashîhah, “agama adalah pesan”) itu sejalan dengan cita-cita kemanusiaan: sehingga cita-cita keislaman di Indonesia juga harus sejalan dengan cita-cita manusia Indonesia pada umumnya.

Moderasi dan keseimbangan (wasathiyyah, tawassuth, i’tidal) adalah unsur-unsur penentu dalam visi al-Quran tentang masyarakat Muslim, yang digambarkan sebagai ummatan wasathan (QS Al-Baqarah [2]:143), suatu bangsa yang diseimbangkan secara adil dan tidak melakukan perbuatan yang dikategorikan sebagai perbuatan ektrem dan juga tidak berlebihan dalam hal lainya wlaupun dalam hal yang baik sekalipun. Moderasi juga menandakan idealnya kepribadian dan peradaban Islami, karena didalamnya mengandung berbagai macam esensi segala kemulianyang telah diajarkan oleh Islam.

Perlunyan membangun budaya kondusif yang bisa memberikan hasil yang positif untuk kehidupan berbangsa dan negara. Diantara yang harus dilakukan adalah nasihat yang tulus dan konsultasi, musyawarah (nasihah, syura). Hal tersebut adalah bagian yang telah diajarkan oleh al-Quran dalam menjalin sebuah hubungan di semua tingkatan; di keluarga, tempat kerja, dan di masyarakat pada umumnya.

Sudah saatnya umat muslim khususnya di Indonesia untuk memperbaiki sikapnya dalam memandang perbedaan yang hadir ditengah-tengah mereka. Islam sebagai agama pembawa rahmat harus ditampilkan sesuai konsep diatas. Hal ini bertujuan untuk membangun masyarakat madani, masyarakat yang berkemajuan seperti yang telah di contohkan Nabi saw dan generasi awal Islam yang telah mampu mengelola perbedaan untuk kebaikan bersama.

Misi utama Islam adalah mewujudkan tata kehidupan yang disemangati nilai-nilai kerahmatan. Saking pentingnya, kata rahmah dengan segala derivasinya diulang lebih dari 90 ayat dalam al-Quran. Arti asalnya adalah kelembutan hati dan kecenderungan untuk memaafkan orang lain dan berbuat baik  (ihsan) kepada mereka.

Rahmah juga berarti kebaikan universal (khair) dan anugerah/kenikmatan. Kemudian kita menerjemahkannya sebagai kasih sayang. Sebagai perwujudan kasih sayang Allah kepada manusia, ajaran Islam mesti disemai dan ditegakkan dengan prinsip kasih sayang.

Ringkasnya, visi kerahmatan universal Islam itu adalah mewujudkan tatanan kehidupan yang didasarkan pada pengakuan atas kesederajatan manusia dihadapan hukum, penghormatan atas martabat, persaudaraan, penegakan keadilan, pengakuan atas pikiran dan kehendak orang lain, dialog secara santun serta kerja sama saling mendukung untuk sebuah perwujudan kehendak-kehendak bersama berdasarkan cita-cita keadilan.

Inilah pilar-pilar kehidupan bersama yang dirindukan setiap orang di mana pun dan kapan pun, tanpa harus mempertimbangan asal-usul tempat kelahiran, warna kulit, bahasa, jenis lelamin, keturunan, keyakinan agama, dan sebagainya.