AS Laksana, dalam sebuah artikel yang berjudul "Waktu untuk Membangkang" menulis seperti ini: "Jadi, setiap era adalah era anak muda, dan usia di bawah tiga puluh adalah waku yang sangat tepat untuk melakukan pemberontakan dan menciptakan hal-hal besar. Memang tidak ada kata terlambat untuk memulai segala sesuatu, tetapi Anda perlu waspada jika sudah melewati umur tiga puluh dan Anda belum melakukan apa-apa."

Sesungguhnya, kalimat ini terinspirasi dari kutipan pembuka sebuah novel Cina klasik yang berjudul Batas Air, ditulis oleh Shih Nai-An (1296–1372). Kalimat pembuka yang menginspirasi AS Laksana itu adalah : "Seorang pria seharusnya tidak menikah setelah berumur tiga puluh tahun, tidak masuk dinas pemerintahan setelah berumur empat puluh, tidak memiliki anak lagi setelah berumur lima puluh, dan tidak bepergian setelah berumur enam puluh. Itu karena waktu yang tepat untuk hal-hal tersebut sudah berlalu.”

Entah mengapa, kalimat itu begitu membiusnya. Mungkin karena ia senang dengan sesuatu yang menggugah semangat hidup, atau mungkin juga karena sebagai penulis, ia begitu terkesima dengan kalimat-kalimat pembuka yang memikat. "Setiap penulis bagus," begitu tulis AS Laksana, "biasanya selalu membuka tulisan mereka dengan kalimat yang bagus. Setidaknya, mereka memiliki kesadaran untuk mengerahkan tenaga dan pengetahuan, bertarung alot dengan diri sendiri, demi mendapatkan kalimat pertama yang sanggup memikat pembaca."

Dalam sebuah diskusi tentang pemuda, AS Laksana tiba pada sebuah kesimpulan: "teman-teman seumuran saya sering mengatakan bahwa era internet saat ini adalah masa kejayaan bagi anak-anak muda." Dengan kata lain, perkembangan internet yang begitu cepat, memerlukan otak dan cara pandang yang berbeda. Ia hanya tumbuh pada anak-anak muda yang lahir seiring dengan tumbuhnya internet. Meminjam kata-kata Alan Kay, "teknologi hanya bagi orang-orang yang dilahirkan sebelum teknologi itu ditemukan."

Bagi AS Laksana, di satu sisi hal tersebut bernilai benar. Tapi pada saat yang segera, ia meralat persetujuannya. "Yang benar," katanya, "setiap era adalah masa kejayaan anak-anak muda."

Don Tapscott, dalam Grown Up Digital (2009), memperhatikan betul gerak-gerik perkembangan Generasi Internet (Net Generation). Generasi Internet adalah mereka yang lahir antara Januari 1977 hingga Desember 1997. Dibandingkan dengan Generasi Baby Boom  (Januari 1946-Desember 1964) dan Generasi X (Januari 1965-Desember 1976), mereka adalah generasi termuda dalam setting sosial teknologi-informasi yang mapan. 

Dalam bahasa Tapscott, mereka adalah generasi yang berkubang dalam angka-angka biner. Ketika orang tua mereka membeli gadget baru lalu membuka buku petunjuk manual penggunaan, anak anak generasi internet membeli gadget baru dan langsung mengoperasikannya; ketika kita masih menggunakan email sebagai media untuk saling berbagi pesan, anak-anak generasi internet sedang online dan berkirim teks; jika kita memutar radio hanya untuk sekadar mendengar musik, iPod mereka selalu aktif. Syair lagu Bob Dylan mengingatkan: "There's something happening here but you don't know what it is."

Kontras dengan pengamat lain yang menganggap bahwa Revolusi Digital telah merusak tatanan generasi muda di masa depan –bahwa anak-anak generasi internet acuh tak acuh, tidak menganut nilai-nilai kebudayaan lokal, hanya peduli pada budaya populer dan teman-temannya– lewat riset yang serius, ia berkesimpulan bahwa yang terjadi justru sebaliknya. Anak-anak ini punya kekuatan besar untuk mengubah dunia. Tapscott punya argumentasi dan data yang meyakinkan.

Grown Up Digital ditulis berdasarkan riset mendalam yang melibatkan 7.685 Net Gener (berusia antara 13 hingga 29 tahun) di 12 negara (Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Jerman, Perancis, Spanyol, Meksiko, Brasil, Rusia, Cina, Jepang dan India). Dalam proyek penelitian senilai 4 juta dollar itu, terdapat satu kesimpulan yang menarik. 

"Sebagai warga negara, Generasi Internet sedang dalam babak awal kiprahnya mendorong transformasi dalam hal bagaimana layanan pemerintah dibuat dan diberikan serta bagaimana memahami dan memutuskan unsur-unsur dasar yang harus ada dalam kewarganegaraan dan demokrasi." Tapscott melanjutkan, "Generasi Internet sedang mengangkat aksi politik ke dalam kehidupan lebih daripada yang pernah dilakukan oleh generasi terdahulu mana pun."

Ketika anak-anak muda tidak dilibatkan secara aktif dalam politik formal, mereka akan lebih memilih berkiprah di belakang layar. Mereka akan memilih jalur kemasyarakatan dan turut serta dalam memecahkan permasalahan global. Akan tetapi, kecenderungan itu telah berubah. Mereka ingin dilibatkan secara aktif dalam setiap pengambilan keputusan pemerintah. Sejarah telah menjadi saksi betapa anak-anak muda Amerika Serikat pada Pilpres 2008 begitu berpengaruh.

Tahun 2008, anak-anak muda di Amerika Serikat menunjukkan kekuatan politik mereka dengan mengusung Barrack Obama sebagai presiden dari Partai Demokrat. Semuanya bermula pada musim dingin 2007, ketika Chris Hughes, pemuda 23 tahun menandatangani kontrak kerja untuk Barrack Obama sebagai direktur kampanye online

Semasa di Harvard, Hughes pernah menjadi teman sekamar Mark Zuckerberg, sang raksasa pendiri Facebook. Hughes tahu betul bahwa Obama tidak diunggulkan dibandingkan dengan Hillary Clinton. Senator muda asal Illinois itu sendiri juga paham bahwa pesaingnya unggul di segala lini. Dibandingkan dengan Clinton, ia bukan apa-apa: tidak punya pengalaman di eksekutif dan ia adalah satu-satunya warga keturunan Afrika yang bersaing dalam pertarungan ini. 

Kata Hughes, "Menjadi jelas bahwa jika Obama ingin menang, ia akan perlu memiliki kampanye yang didukung oleh orang banyak, dan tidak ada cara lain untuk melakukannya selain Internet."

Lewat strategi kampanye yang diorganisir melalui My Bo (my.barrackobama.com), Hughes mengubah paktik politik yang dimainkan di internet, juga di darat. Dalam bahasa Tapscott, apa yang dilakukan oleh Hughes sesungguhnya telah menandai gelombang kedua demokratisasi Amerika Serikat yang ia sebut dengan “Demokrasi 2.0”. 

Strategi itu berhasil menghimpun sebuah komunitas online yang beranggotakan lebih dari satu juta orang. Dalam komunitas itu, ia menciptakan suatu ruang dimana para anggotanya berperan aktif dalam setiap teknis pemenangan: mereka bisa saling mengorganisir diri, membuat pawai dan acara penggalangan dana dan memantaunya. Berbeda dengan tradisi politik tradisional yang berpusat dari atas ke bawah, Anda memilih kami memerintah, strategi kampanye yang digalang Hughes melibatkan begitu banyak partisipasi publik. Sesungguhnya inilah gagasan pasar sejati.

Kampanye Obama juga merambah di setiap jejaring sosial seperti Facebook, Twitter dan Bebo. Diantara dua pesaingnya (Hillary Clinton dan John McCain) yang mengincar kursi kepresidenan, Obama adalah kandidat yang memiliki kehadiran tertinggi di internet. Ketika Clinton menggunakan Twitter sebagai medium broadcast, Obama justru menggunakannya sebagai medium penghubung antara dirinya dengan para pemilih di level individu. Selain itu, relawan juga dapat mengirimkan pesan kampanye online ke jejaring sosial yang mereka miliki; dan jejaring-jejaring yang lain turut melakukan hal serupa. 

Efek bola salju ini fantastis! Obama menjadi kandidat presiden AS favorit para Net Gener. Konsultan branding Brian Collins bahkan ikut mengapresiasi, "Kampanye Obama merupakan kampanye politik trans-media pertama yang nyata dalam abad ke-21, ketika peran teknologi-teknologi dua arah yang memikat –termasuk peranti-peranti genggam, laptop, dan situs-situs jaringan sosial– menjadi sama penting dengan media tradisional.”

Juni 2008 sejarah telah memutarbalik dugaan banyak orang. Kampanye luar biasa Clinton berhasil dikalahkan oleh model kampanye a la Net Gener yang memanfaatkan jaringan sosial. Tapscott menulis "Itu merupakan gambaran spektakuler tentang kekuatan Net Gener, yang dilengkapi dengan alat-alat digital mereka, untuk menggagalkan konvesi, untuk menggulingkan otoritas, dan berpotensi mengubah dunia." Ini adalah mukjizat people power. 

Sesungguhnya apa yang mereka lakukan juga telah mengggusur cara-cara politik tradisional. Ketika demokrasi melalui broadcast baik untuk generasi televisi, hal itu tidak berlaku bagi mereka.

Tentu saja peran Net Gener tidak berhenti sampai di hari pemilihan. Setelahnya, mereka juga senantiasa kritis terhadap pemerintahan. Bahkan mereka juga mengajukan tuntutan-tuntutan agar pemerintah merangkulnya. Ketika pasca pemilihan ekspektasi mereka tak sesuai, mereka akan megorganisir diri dalam demonstrasi jalanan yang dahsyat sebagaimana kekuatan politik mereka dalam megusung Obama sebagai presiden. Ini semua mereka lakukan demi satu tujuan: perubahan-perubahan dalam tata cara penyelenggaraan pemerintahan.

Sebagaimana dengan kutipan AS Laksana bahwa setiap era adalah era anak muda, dan usia dibawah tiga puluh adalah waku yang sangat tepat untuk melakukan pemberontakan sekaligus menciptakan hal-hal besar, Hughes dan anak-anak muda AS telah memberikan satu contoh: mereka punya andil besar terhadap jalannya roda pemerintahan. 

Mungkin dalam Pilpres AS 2016 yang lalu, Hughes tidak ada dalam cerita kemenangan Trump –karena bukan lagi masa-masa keemasannya. Sekarang atau beberapa tahun lagi mungkin akan ada "Hughes-Hughes" yang lain. 

Mereka telah menjadi bukti betapa masa depan politik sesungguhnya ada di tangan pemuda; mereka telah melakukan suatu hal besar sebelum semuanya terlambat. Saya percaya bahwa pada suatu saat masa depan politik Indonesia ada di tangan kita, tangan pemuda. Maka, kata-kata AS Laksana bahwa setiap era adalah era anak muda, tidaklah keliru. Chris Hughes dan anak-anak muda di Amerika Serikat telah membuktikannya.