Dalam banyak hal, 2018 telah menjadi tahun yang sangat luar biasa dalam kemajuannya di bidang pendidikan sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Dalam kurun waktu sekitar 12 tahun sejak istilah STEM pertama kali dipopulerkan, istilah ini seolah menjadi kata dasar yang wajib diperbincangkan di kalangan pendidik, khususnya pada perguruan tinggi.

Tidak hanya para pendidik di tingkatan perguruan tinggi, namun juga pendidik sains sekolah dasar hingga menengah ke atas juga mulai menggeser paradigmanya menuju pengenalan kekuatan dan pentingnya inovasi ilmiah secara kolektif, untuk mencari solusi terhadap tantangan di masa modern ini.

Kita dapat melihat kembali pada tahun 2018 dan tahun-tahun sebelumnya, bagaimana tren keilmuan STEM terhadap perkembangan zaman serta kita juga dapat melihat ke depan sebagai perbandingan atau ‘ramalan’ yang akan muncul di bidang-bidang keilmuan ini.

Hasil Penelitian tentang Tren Pendidikan STEM

Mungkin sulit untuk memperkirakan tren dan pengaruh dalam pendidikan STEM karena sifat teknologi yang berubah dengan cepat dari hari ke hari. Ini merupakan sebuah tantangan yang dihadapi oleh para peneliti dalam mencari tren yang telah muncul seiring berkembangnya teknologi.

Namun, merujuk kepada laporan pada tahun 2013 yang meramalkan pendidikan STEM hingga tahun 2018, penelitian ini menawarkan beberapa poin penting bagi praktisi STEM di seluruh dunia. Kunci dari laporan ini terletak pada tinjauan-tinjauan teknologi yang akan terjadi.

2013-2014

  • Learning Analytics
  • Mobile Learning
  • Online Learning
  • Virtual and Remote Laboratories


2014-2015

  • 3D Printing
  • Games and Gamification
  • Immersive Learning Environments
  • Wearable Technology


2017-2018

  • Flexible Displays
  • Internet of Things
  • Machine Learning
  • Virtual Assistant / Artificial Intelligence


Teknologi ini sudah mulai digunakan di ruang kelas dan kehidupan kita, dan laporan ini memberikan pandangan sekilas tentang apa yang akan terjadi.

Mengejutkan ketika kita melihat kembali penggunaan alat pembelajaran seluler dan online sebagai gagasan ‘baru’ beberapa tahun lalu. Ruang kelas saat ini di tingkat sekolah dasar dan sebagaian besar telah sepenuhnya mengintegrasikan penggunaan teknologi pribadi dengan instruksi. 

Tidak aneh lagi melihat smartphone atau tablet digunakan di ruang kelas. Kenyamanan dengan teknologi ini telah menjadikan panggung kepada apa saja yang akan muncul di masa mendatang.

Selain itu, penggunaan pendekatan yang out of the box seperti gamification dan immersive learning environments sepertinya sangat membuahkan hasil.

Beberapa waktu lalu, sebuah artikel dari US News and World Report membagikan beberapa berita menjanjikan untuk langkah STEM. Dikemukakan bahwa jumah pekerja di bidang sains dan teknik telah tumbuh pada tingkat tahunan rata-rata 3 persen dibandingkan dengan pertumbuhan keseluruhan total tenaga kerja 2 persen, dengan 5,7 juta lulusan perguruan tinggi yang dipekerjakan dalam pekerjaan berbasis STEM. 

Pekerja yang dipekerjakan di sektor-sektor ini akan mendapatkan lebih dari dua kali lipat gaji median dari sisa tenaga kerja, dalam pekerjaan yang cenderung memiliki prospek ekspansi yang lebih besar dalam beberapa dekade mendatang. Peningkatan dalam pekerjaan terkait STEM ini dan gaji yang lebih tinggi adalah dividen yang dibayarkan oleh investasi dalam pendidikan STEM. 

Dalam artikel yang sama, US News and World Report menjelaskan bahwa jumlah siswa yang mengikuti ujian penempatan dalam bidang STEM dari tahun 2003 meningkat besar pada tahun 2013, dari 273.000 menjadi 527.000 orang. 

Minat yang lebih besar dalam STEM adalah tren yang tampaknya hanya akan meningkat apabila tenaga pendidik terus berinovasi, tidak hanya dalam produk pedagogis STEM yang tersedia, tetapi juga berinovasi dalam pola pikir yang menghargai perbedaan dengan rendah hati dan menyiapkan pendidik dengan peluang yang berguna bagi siswa untuk terlibat dengan sains, teknologi, teknik dan matematika di kelas, dan dunia nyata.

Masa Depan Pendidikan STEM

Dalam sebuah laporan yang berfokus pada masa depan pendidikan STEM, prinsip visi STEM 2026 diajukan sebagai berikut:

  • Komunitas praktik yang saling terlibat dan berjejaring.
  • Kegiatan pembelajaran yang mudah diakses yang mengundang rasa penasaran dengan resiko tertentu.
  • Pengalaman pendidikan yang mencakup pendekatan interdisipliner untuk memecahkan "tantangan besar".
  • Ruang belajar yang fleksibel dan inklusif didukung oleh teknologi inovatif.
  • Langkah-langkah pembelajaran yang inovatif dan mudah diakses.
  • Citra sosial, budaya dan lingkungan yang mempromosikan keragaman dan peluang dalam bidang STEM.


Yang terpenting, bahwa tidak satu pun dari enam komponen yang saling berhubungan ini bersifat preskriptif atau spesifik untuk satu pendekatan tertentu untuk mencapai kesuksesan.

Secara fleksibel, tujuan dari pendidikan STEM ke depan bukanlah untuk mengusahakan semua ruang kelas dilengkapi dengan printer 3D dan paket perangkat lunak terbaru yang menjanjikan hasil, tetapi agar pendidik dan siswa bekerja bersama untuk secara radikal mengubah gagasan tradisional kita tentang ruang kelas STEM.

Beberapa ahli memperkirakan bahwa akan ada lebih banyak sekolah yang berinvestasi dalam membuat 'ruang' di mana siswa dapat terlibat dalam pemecahan masalah secara langsung melalui eksperimen, robot, pemrograman atau bahkan kegiatan kelompok berteknologi rendah yang memodelkan pengalaman memecahkan masalah teknik secara nyata.

Yang lain meramalkan bahwa para teknokrat Sillicon Valley akan terus memiliki pengaruh besar pada tren pendidikan STEM, karena perusahaan seperti Google terus secara proaktif mengembangkan rekrutmen pekerja. 

Tetapi, pada saat yang sama, tampaknya produk atau layanan individual akan menjadi kurang penting daripada komitmen yang lebih holistik terhadap literasi digital dan pembelajaran mandiri. 

Dan, meskipun pembelajaran kolaboratif masih jauh dari tren baru, banyak yang berharap bahwa peningkatan akses ke teknologi kolaboratif akan gratis atau setidaknya murah sehingga membuat pekerjaan dalam ruang kelas menjadi lebih dinamis karena digerakkan oleh kelompok yang lebih mempersiapkan siswa untuk pengalaman memecahkan masalah dengan bekerja sama, dan untuk kepentingan bersama.

Masa depan pendidikan STEM kemungkinan akan sangat bersinar dibanding dengan pendidikan humaniora. Dalam Making Indonesia 4.0 yang dirilis oleh Kementerian Perindustrian, cerahnya masa depan STEM seperti dilihat dari besarnya minat industri terhadap Artificial Intelligence di setiap bagian pekerjaan, atau Machine Learning dalam otomatisasi data secara realtime. 

Pendidikan akan difokuskan untuk menampung bibit calon pekerja dengan mengintegrasikan pendidikan dengan industri, untuk bisa link and match dengan industri.

Dengan lebih dari satu dekade pengalaman dan eksperimen yang telah terjadi, langkah-langkah berikutnya dalam pendidikan STEM terlihat lebih cerah dari sebelumnya dan, bersama-sama, kita dapat menerangi jalan menuju solusi global yang secara kolektif dapat memajukan kita semua, dengan kaki kita yang berpijak pada percepatan pertumbuhan teknologi dan humanisme.