Baru-baru ini saya bersua dengan Mas Topik di ladang. Kami berdiri di pematang menikmati senja yang merah meradang. Biasanya, saat-saat seperti itu kami awali dengan berlari-lari kecil. Kadang, ketika perlu memeras keringat, saya pacu lari saya mengelilingi pematang dari pangkal ke ujung, di mana sejauh mata memandang hanya genangan air melulu akibat banjir yang masuk ke ladang dan merendamnya sampai-sampai tidak bisa ditanami lagi. Orang-orang menyebutnya bedatan.

Kadang, ketika saya berlari-lari hingga ujung pematang, ular sawah mengeluyur di hadapan saya, membuat jantung serasa mau copot. Ular sawah itu melintas tanpa permisi di pematang yang jarang dilalui orang. Ular sawah tanpa sungkan beranak-pinak di sana, di sisi pematang yang rumputnya tinggi-tinggi.

Kalau sudah begitu, biasanya saya kecut kembali ke rumah. Saya persiapkan dulu mental bulat-bulat, berancang-ancang, lantas memacu kaki sekencang-kencangnya sambil menutup mata seolah-olah ular sawah itu tak pernah ada.

Tetapi, kali ini saya tak lagi berlari-lari kecil. Tidak juga kepingin memeras keringat. Tidak pula sedang ketemu ular sawah dan anak-pinaknya. Saya cuma ingin menikmati senja bersama Mas Topik. Berdua saja.

Kami berdiri memandang ladang Mas Topik yang luas tak bertepi. Satu petak telah ditanami mentimun. Beberapa yang lain belum digarap.

Mas Topik menuding, menunjukkan batas-batas ladangnya. Saya cuma menganggut-anggut, tak mengenal pemilik ladang yang ladangnya berbatasan dengan ladang Mas Topik. Saya dari dulu memang begitu. Tidak pernah dan mau tahu nama-nama orang di kampung kami.

Ibarat kaleidoskop, dari ladang, Mas Topik tiba-tiba begitu saja nongol di halaman belakang rumah saya. Ia jongkok di samping pintu, sementara Mbah Kaji tengah menyapu di kebun bambu belakang rumah. Mas Topik sedang ngumpet dari Mbah Kaji rupanya. “Ssst… Jangan bilang-bilang, ya,” katanya. Saya tersenyum geli melihat tingkah Mas Topik.

Saat-saat itu, entah mengapa, saya merasakan ketenteraman luar biasa. Perasaan saya damai bukan buatan. Tenteram karena ternyata Mas Topik masih ada bersama saya. Damai karena ia tak jadi pergi meninggalkan kami. Ternyata, kematiannya yang baru beberapa hari yang lalu itu hanya isapan jempol belaka.

Ketenteraman dan kedamaian itu mendadak lenyap. Saya tergagap dan mendapati diri tengah berbaring di atas kasur. Pelan-pelan, saya mencoba mengingat-ingat kelebatan mimpi semalam. Saya pun harus menerima kenyataan bahwa Mas Topik memang benar-benar telah pergi dan tak akan pernah kembali lagi.

***

Bukan, bukan saya namanya kalau tak merepotkan orang-orang. Tingkah laku saya yang kekanak-kanakan sering kali membikin susah orang-orang di sekeliling saya. Itulah yang kadang membuat saya jadi serbasalah dan mengutuki diri sendiri.

Kali ini pria ceking itu yang menjadi korban. Dengan rambut gondrong melambai-lambai—kemeja merahnya kebesaran—ia memanjat atap, mencoba menerobos rumah melalui genting. Tindakan kriminal itu terpaksa ia lakukan lantaran adik sepupunya, putra sang pemilik rumah, menghilangkan kunci di jalan.

Si adik nyaris menangis karena takut dimarahi ibunya yang tengah pergi. Sementara si pria ceking kelabakan mencari cara supaya adik sepupunya yang cengeng itu tidak merengek-rengek lagi.

Beberapa jam sebelumnya, si pria mengajak adik sepupunya pergi ke Wagean. [1] Di sana, katanya, ada tempat khusus untuk bermain video game. [2] Mendengar itu, si adik melonjak kegirangan, mengajak kakaknya segera pergi ke sana.

Padahal, si adik anak rumahan sejati, yang wilayah edarnya tak melebihi satu kilometer dari rumah. Berani melampaui satu kilometer, Ibu bakal mengomelinya sepanjang hari. Karena itu, ia hanya berani memenuhi ajakan sang kakak kalau Ibu dan Bapak sedang tidak di rumah.

Demikianlah, pada Minggu kedua bulan Oktober, Mas Topik pria ceking itu mengajak saya ke Wagean. Ibu dan Bapak sedang pergi kondangan di luar kota. Saya berpakaian rapi lalu mengunci pintu, bersiap memulai perjalanan pertama saya. Cuma kami berdua, saya dan Mas Topik. Tentu akan sangat menyenangkan. Hati saya girang bukan kepalang.

Kami mendaki setapak demi setapak jalan berundak menuju terminal. Kampung kami memang terletak di bawah terminal bus Mangkang. Di sebelah timur berbatasan dengan kawasan pondok pesantren NU, di sebelah barat berdampingan dengan kawasan pelacuran Gambilangu.

Warga sengaja membikin undak-undakan di tanah padas di belakang rumah, yang ujungnya menuju terminal. Terhitung ada 32 undakan, dan napas saya jadi ngos-ngosan setelah sampai di atas. Sementara Mas Topik cuma cengar-cengir.

Kami harus berjalan kaki kurang lebih 500 meter sebelum sampai terminal. Di terminal, bus-bus beragam jurusan terparkir rapi. Kami menanti bus yang menuju Wagean. “Itu dia,” kata Mas Topik seraya menunjuk bus kotak besar bertuliskan Damri. Kami bergegas menaikinya.

Bus itu berkelontangan di jalan karena penumpangnya cuma kami berdua. Di banyak tempat, terlihat besi berkarat mengganggu pemandangan. Dinding-dindingnya dihiasi coretan-coretan tangan. Beberapa bangkunya yang sekeras papan sudah berkarat dan berlubang. Sudah berapa abad usia bus ini? tanya saya dalam hati.

“Karcis, karcis!” kata seseorang di belakang kami. Kondektur bus. Dengan segepok karcis di tangan kiri dan berlembar-lembar uang di tangan kanan, ia mengutip ongkos yang kemudian ditukarnya dengan selembar karcis.

Sesampainya di Wagean, orang-orang berlalu lalang. Siang yang terik tak menghalangi mereka untuk berjual-beli. Kepadatan seperti itu tampak juga di arena bermain video game. Anak-anak hingga remaja memadati ruang sempit itu, berteriak-teriak di depan layar kaca.

Inikah video game? Mas Topik mengajak saya menuju kursi kosong. Di situ, Mas Topik memeragakan kepiawaiannya bermain. Saya menonton saja. Cemen nian memang.

Tigapuluh menit berlalu. Karena tidak banyak membawa uang, kami pun beranjak pulang. Saya cukup puas dengan hanya menonton permainan Mas Topik. Ia berjanji akan ke Wagean lagi minggu depan. Saat itulah mungkin saya akan mencoba ikut bermain.

Menuruni undak-undakan, saya terperanjat karena ketika merogoh saku celana kunci rumah sudah tak ada lagi. Saya panik, dan kepanikan itu menular dengan cepat. Setelah memastikan bahwa kunci itu memang telah raib, Mas Topik memutuskan untuk menyusuri jalanan yang telah kami lewati. Kembali lagi ke Wagean, menginterogasi orang-orang, dan mengingat-ingat di mana kunci itu kira-kira terjatuh. Bahkan hingga pencarian kedua kalinya, kunci itu tetap tak dapat ditemukan.

Maka di sinilah pria ceking itu sekarang.

Mas Topik dengan segala sikap berjiwa besarnya yang luar biasa—kemeja merahnya basah oleh peluh—memanjat ke atap, membongkar genting, dan menerobos masuk ke rumah laiknya maling saja, sehabis saya bisiki bahwa mungkin saja tersimpan kunci cadangan di lemari.

Namun perbuatan nekat itu tetap tak menghasilkan apa-apa. Semua kunci, setelah dicoba satu per satu, tidak ada yang cocok. Dan saya pun mulai memikirkan alasan-alasan dungu penuh dusta saat nanti harus menjawab pertanyaan Ibu dan Bapak.

***

KALAU dihitung-hitung, barangkali sudah duapuluh dua usia Mas Topik saat itu. Dan di hadapan saya mulai berkelebatan sosok-sosok yang saya kira jelmaan Mas Topik yang diutus ke dunia untuk membimbing adik sepupunya yang manja ini.

Sebutlah dia Moko. Badannya kurus kering, jangkung, dan bungkuk saat berjalan, namun cerdas dalam bermain logika dan tangkas saat bermain sepakbola. Saya sering banget bikin susah Moko, terutama tatkala teman-teman sekelas bervakansi ke suatu tempat yang jauh.

Dari dulu saya berpendapat bahwa modal seorang pria hanya dua: kendaraan yang binal dan ponsel yang andal. Dan waktu itu saya tak memiliki keduanya. Maka, cukup sering saya membonceng sepeda motor Moko, dan si empunya motor dengan senang hati selalu menawari saya tanpa pernah saya minta. Sifat-sifat demikian itulah yang membuat saya mengaguminya. Bukan lagi sebagai teman, melainkan sebagai jelmaan Mas Topik.

Lepas dari dunia putih-abu-abu, lain lagi cerita. Sosok semacam Mas Topik hadir kembali di Pleburan, namanya Nugroho. Matanya selalu tampak seperti mata orang mengantuk, liyer-liyer. Pendiam, jangkung, dan kerempeng juga. Amat sering saya mengganggunya, entah untuk iseng ataupun untuk urusan yang benar-benar mendesak.

Urusan iseng biasanya seputar film, komik, aplikasi komputer, atau file-file lain yang oleh Nugroho dikoleksi dengan rapi di komputernya yang dirakit dari komponen-komponen bermutu. Urusan mendesak misalnya tentang komputer butut saya yang suka tewas di saat yang kurang tepat. Ujung-ujungnya memang soal teknologi juga. Dan terpujilah Nugroho karena selalu bisa diandalkan.

Nugroho adalah mahaguru teknologi yang mengajari saya banyak hal tanpa pamrih. Layaknya Mas Topik yang di kala hidup mengajari saya pelbagai macam urusan yang seharusnya mulai dijajal bocah ingusan macam saya. Contohnya, suatu waktu Mas Topik mengenalkan saya pada komik, mengajak saya untuk bersama-sama menggambar tokoh-tokoh Dragon Ball. (Generasi 90-an pasti tahu ini!)

Di waktu lain Mas Topik mengenalkan saya pada dunia pers dan media cetak. (Di lemari bajunya, saya menyaksikan ia menyimpan rapi majalah-majalah musik kesukaannya dengan dibungkus kain putih seakan-akan majalah-majalah itu adalah hartanya yang paling berharga dan kekasih yang dicintainya sepenuh jiwa.)

Saat saya melanjutkan studi di jenjang yang lebih tinggi, masih saja saya temukan jelmaan Mas Topik yang lain. Sebut saja SS. Sosoknya kurus, tapi satu hal: dia tidak jangkung. Hal lain: SS luar biasa mesum—dan jomblo. Anda tahu, seorang mesum yang jomblo selalu berbahaya. Namun, dari kedua jelmaan Mas Topik yang lain, mimik muka SS paling mendekati paras Mas Topik.

Dan kepada SS saya belajar lebih banyak hal lagi—meskipun dibanding Moko dan Nugroho dia kurang bisa menjadi pembimbing yang baik. Mungkin lantaran bukan itu wataknya. Dia tak bisa menjadi kakak karena dia tak ingin terjadi hubungan kakak-adik dalam artian hierarkis. Sebab di mata SS semua orang seharusnya sederajat. Memang filosofis karena SS selalu menggumuli soal-soal filosofi, pemikiran, dunia ide-ide.

Dalam sosok SS, saya terkenang akan sisi intelektual Mas Topik. Saya ingat betapa sering saya melihat Mas Topik membaca buku sendirian. Begitu sering saya menyaksikannya sedang berjongkok di bawah rimbunnya bambu-bambu di belakang rumahnya, ditingkahi semilir angin sore hari. Entah apa yang dipikirkannya. Mungkin tentang buku-buku yang dibacanya atau mungkin saja tentang dunia yang tak pernah bisa dimengerti manusia.

Ah, andai Mas Topik masih hidup, tentu akan saya pinjamkan semua buku saya padanya. Untuk menemani kesendiriannya, kesunyiannya. Barangkali akan saya pinjamkan juga tape recorder yang di pengujung hidupnya ia cari ke sana-kemari, hanya demi menikmati musik yang disukainya. Tapi tentu saja Mas Topik telah pergi dan tak akan pernah kembali.

Dan saya pun baru menyaksikan ladangnya yang luas—belum lagi rumahnya yang besar, yang penuh buku-buku, majalah-majalah, dan rampaian karya seni yang digandrunginya. Di surga.

Pekanbaru, 19122014

Catatan:

[*] Mengenang Muhammad Taufiq (1985-2005).

[1] Wagean adalah nama lain pasar Mangkang, Semarang. Kenapa disebut Wagean? Saya terka, barangkali karena dulu pasar tradisional itu aktif hanya pada saat wageWage adalah nama hari pasaran berdasarkan penanggalan Jawa. Selain wage, dikenal pula legipahingkliwon, dan pon. Tapi Wagean masa kini tentu tidak aktif hanya lima hari, melainkan setiap hari. Beroperasi hampir 24 jam.

[2] Video game (permainan video) menurut Martin Suryajaya adalah sebuah karya seni total (Gesamtkunstwerk). Video game yang dimaksud dalam tulisan ini barangkali adalah video game dalam pembabakan menurut Martin yang berangka tahun 1983 dengan perangkat permainan Nintendo Entertainment System (NES)/Famicom, konsol generasi ketiga yang menggunakan sistem video 8 bita, yang populer pada 1980-1990-an. Martin Suryajaya, “Permainan Video sebagai ‘Gesamtkunstwerk’” dalam http://indoprogress.com/2014/12/permainan-video-sebagai-gesamtkunstwerk (diakses pada 16 Desember 2014).