Di dalam kehidupan ilmiah, teori itu selalu menempati kedudukan yang sangat penting, tetapi jika sesuatu teori tidak teruji oleh praktek, apalagi jika sesuatu teori itu bertentangan dengan praktek, apalah harga teori semacam itu.

Tentang hal ini Profesor Tjan Tju-som di dalam Kuliah umumnya mengatakan, "Akal saja belum cukup untuk mewujudkan ilmu pengetahuan, seharusnya akal itu bersandar kepada fakta-fakta, yakni kepada kenyataan-kenyataan yang ada di luar kita, baik yang bersifat kebendaan maupun kejadian-kejadian yang semuanya tidak bergantung dari cita-cita kita saja dan yang kenyataannya dapat disaksikan dan dibuktikan juga oleh orang-orang lain. Fakta-fakta inilah yang harus menentukan apakah cara kerja akal kita betul atau salah, yang harus membuktikan bahwa akal kita tidak hanya bekerja dengan sembarang saja".

Fakta-fakta sosialisme lah yang sekarang memberikan pembenarannya atas teori sosialisme, atas teori marxisme. Untuk memberikan pelukisan yang lebih jelas tentang sifat ilmiah marxisme, saya ingin mengemukakan cara kerja pencipta marxisme, yaitu Karl Marx, tidak mungkin Marx sampai pada kesimpulan - kesimpulan yang ilmiah, sekiranya cara kerjanya tidak ilmiah.

Friedrich Engels, sahabat Marx yang paling akrab sekaligus pencipta ajaran marxisme pernah mengatakan, “Sebagaimana Darwin menemukan hukum perkembangan alam organik,demikian pula Marx menemukan hukum perkembangan sejarah manusia".

Pembandingan Marx dan Darwin ini kiranya tidak bisa kita lakukan begitu saja. Dan sesungguhnya, banyak hal-hal yang menarik dalam hubungan kedua orang jeni ini. Marx dan Darwin hidup sejaman. Pada tahun 1848 Marx bersama- sama Engels menyelesaikan karya mereka yang termashur, Manifes Partai Komunis, dan sepuluh tahun kemudian Darwin menyelesaikan karyanya yang besar The Origin of Species. 

Kemudian Marx menyelesaikan bukunya Das Kapital. Buku-buku ini sudah dibaca oleh berpuluh-puluh juta orang dan beratus-ratus juta orang lagi masih akan membacanya, tanpa seorang pun yang sanggup dan yang perlu mengadakan perubahan, karena isi dari buku-buku itu adalah kebenaran ilmiah.

Darwin dan Marx bekerja dengan syarat yang berbeda-beda, Darwin berada sedang Marx melarat. Darwin dan Marx juga bekerja di lapangan yang berbeda-beda: Darwin menyelidiki dunia tumbuh-tumbuhan dan dunia hewan. Marx menyelidiki dunia manusia, tetapi kedua-duanya sampai pada kesimpulan yang pada pokoknya sama mengenai perkembangan dan hukum perkembangan.

Darwin menamakan buku Marx Das Kapital itu mengolah “soal yang dalam dan penting" sedang Marx yang bukannya tidak mempunyai kritiknya terhadap Darwin, menganggap buku Darwin “sangat penting dan membantunya sebagai dasar ilmu alam bagi perjuangan kelas di dalam sejarah".

Lantas bagaimana Marx dan Darwin sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang bagitu penting dan begitu tinggi mutu kebenarannya? Perlu diketahui mereka sama-sama menempuh cara kerja yang ilmiah, yang seperti dikatakan Marx selalu mempunyai lima tingkatan :

1. penyelidikan,

2. percobaan, atau eksperimen,

3. pencatatan,

4. perenungan, dan

5. penyimpulan, atau penggeneralisasian.

Marx adalah benar-benar seorang sarjana, sama seperti Darwin, Marx adalah seorang orang bibliotek, seorang orang laboratorium, tetapi sedangkan Darwin boleh dikatakan hanya seorang orang bibliotek dan hanya seorang laboratorium, dari mana dia menyusun teorinya yang besar tentang evolusi, Marx adalah sekaligus seorang dari bibliotek dan laboratorium yang lebihluas lagi, dari bibliotek masyarakat, dari laboratorium masyarakat. 

Marx bukan hanya seorang sarjana, dia seorang pemimpin revolusioner, yang seperti dikatakannya sendiri, tidak puas dengan hanya menafsirkan dunia, tetapi menafsirkan dunia dan merombaknya.

Mengenai ilmu dan sarjana, Marx selalu mengatakan, "Ilmu tidak boleh menjadi kesukaan diri sendiri, mereka yang beruntung mampu mencurahkan dirinya kepada pengudian ilmu, harus yang pertama-tama menempatkan pengetahuan mereka untuk mengabdi umat manusia, bekerjalah untuk umat manusia".

Kata-kata Marx diatas itu kiranya tidak memerlukan penjelasan apapun, Marx tentu mempunyai kebahagiaannya di dalam pekerjaan ilmiahnya, bahkan jika ia menemukan kesimpulan-kesimpulan dari hasil penyelidikannya, kegembiraan ini, kebahagiaan ini, bukan karena dia mengudi ilmu, melainkan karena dia mengudi ilmu untuk umat manusia.

Kemudian untuk kepentingan pekerjaan ilmiahnya, Marx mempelajari sejumlah cukup banyak bahasa, lebih daripada cukup barangkali, untuk seseorang pada umur dia ketika itu. Dia bisa mengarang dalam bahasa Jerman, bahasa Inggris dan bahasa Perancis dengan sama bagusnya dan sama bersihnya dalam tata bahasa.

Tentang bahasa-bahasa yang Marx pahami, dia membaca Dante dalam bahasa Italia dan membaca Demokritos dalam bahasa Yunani, dia mengerti bahasa Belanda dan bahasa Hongaria, bahasa Denmark dan bahasa Spanyol, dan ketika dia berusia 50 tahun, dia merasa masih cukup muda untuk mulai mempelajari bahasa Rusia, dan enam bulan kemudian dia sudah pandai menikmati syair-syair Pusykin dan novel-novel Gogol dalam bahasa aslinya.

“Bahasa asing,” kata Marx, “adalah senjata dalam perjuangan hidup".

Selain bahasa, juga buku sudah tentu menjadi senjata Marx dalam pekerjaan dan perjuangan hidupnya, tidak jarang dia kurang makan roti, tetapi tidak pernah dia kurang makan bacaan, bukunya di rumah cukup banyak, buku-buku yang dia himpun dengan teliti selama beberapa puluh tahun, tetapi ke mana saja dia datang, ke Berlin atau London, ke Amsterdam atau Paris, banyak sekali dia menggunakan waktu untuk “menjelajahi” isi bibliotek dari museum-museum di kota-kota tersebut. 

Ada sarjana-sarjana yang hampir-hampir menjadi budak dari buku. Marx lain sama sekali. Dia pernah mengatakan, Buku “adalah budakku, dan dia harus mengabdi aku sekehendakku".

Inilah sebabnya mengapa Marx tidak menyusun buku-buku di dalam lemari bukunya menurut ukuran besarnya atau ukuran tebalnya, juga tidak menurut serinya, melainkan menurut isinya, sesuai dengan kebutuhan pekerjaannya, Barang siapa membaca kumpulan karangan Marx, tahulah dia bahwa Marx bukan hanya besar perhatiannya pada soal-soal masyarakat, tetapi juga besar perhatiannya pada soal-soal ilmu alam pada umumnya, pada matematika, pada biologi, tetapi sebagian sangat terbesar dari waktunya digunakannya untuk penyelidikannya di lapangan ekonomi.

Karya utamanya yang menumental itu, Das Kapital, adalah hasil pekerjaan selama empat puluh tahun.Ada baiknya kalau saya mencatat di sini sebagai sumbangan Indonesia pada kelahiran Das Kapital. Kalau karya utama Darwin Origin of Species mendapatkan di antara bahan-bahannya yang penting laporan mengenai fauna dan flora Maluku, Das Kapital Marx mendapatkan bahan-bahannya pula dari pengisapan VOC di Maluku dan dari susunan desa di Jawa dan Bali.

Demikianlah beberapa gambaran dari kehidupan ilmiah dan dari cara kerja ilmiah Karl Marx, banyak yang sudah dikatakan tentang Marx dan masih banyak yang bisa dikatakan tentang Marx.

Satu hal tidak ingin saya melangkauinya, bahwa Marx itu seorang jeni kiranya tak ada yang menyangsikannya, yang perlu dicatat ialah bahwa jenialitasnya itu bukan “bisikan wahyu,” melainkan hasil dari pekerjaan yang luar biasa, keuletan, ketekunan, ketelitian dan ketajaman otak.

Untuk mengakhiri penggambaran tentang cara kerja ilmiah Marx, baiklah saya kutip apa yang dikatakan oleh Paul Lafargue tentang Marx.

“Tidak hanya dia tidak akan mendasarkan diri pada fakta yang belum sepenuhnya diyakininya, dia tidak akan memperkenankan dirinya berbicara tentang sesuatu sebelum dia mempelajarinya dalam-dalam, Dia tidak pernah menerbitkan satu pun karya dengan tidak berulang-ulang meninjaunya kembali sampai dia menemukan bentunya yang setepat-tepatnya. Dia tidak pernah muncul di depan umum tanpa persiapan secukupnya".


Referensi : 

Surat Darwin kepada Marx.

Surat Marx kepada F. Lassalle.

Karl Marx, Duabelas Tesis Tentang Feuerbach.

Prof. Dr. Mr. Tjan Tju-som, Kuliah Umum Ilmiah di depan Universitas Rakjat
“Jakarta” beracara Tugas Ilmu Pengetahuan, Jakarta, 5 Desember 1958.

Friedrich Engels, pidato di depan makam Karl Marx.

Karl Marx, Das Kapital.