Pusing dengan persoalan kota tempat kita tinggal? Merasa tak berdaya dengan begitu banyak masalah lingkungan yang sudah seperti lingkaran setan? Sudah waktunya Anda tak perlu merasa sendiri, dan mulai berpikir untuk melakukan city hacking.

Dalam teknologi komputer, kita mengenal peretas sebagai orang yang mempelajari, menganalisis, memodifikasi, menerobos masuk ke dalam sebuah sistem jaringan untuk mencapai suatu tujuan. Meretas kota tak jauh berbeda. Seorang peretas mengatasi keterbatasan sistem yang sudah ada dengan menciptakan terobosan-terobosan kreatif.

Di dunia, gagasan meretas kota ini antara lain digerakkan anak-anak muda Berlin, Jerman. Seniman dan ekonom Lars Zimmermann menginisiasi proyek bertajuk The City is Open Source, sebuah penelitian yang bersifat artistik sekaligus aktivistik.

Tujuan proyek ini adalah membangun kotak peralatan yang terbuka dan gudang informasi berisi contoh yang dapat dilakukan untuk meretas kota kita dengan memakai dan memanfaatkan apa pun yang tersedia lalu menghasilkan kemungkinan-kemungkinan baru.

Meretas kota membutuhkan kreativitas individu dan atau kelompok untuk melakukan modifikasi kecil pada sistem, namun dapat memberikan dampak besar. Proyek dari Zimmermann ini terbuka bagi peretas dari seluruh dunia untuk ikut serta berbagi metode, kiat, pengalaman meretas kota yang pernah mereka lakukan. Para peretas ini bisa saling bertukar ide, solusi, dan trik karena itulah persisnya karakteristik dari open source.

Pola open source bersumber pada budaya memberi dan keyakinan terhadap kekuatan kolaborasi. Sebagaimana kita ketahui, sistem pengembangan open source tidak dikoordinasi oleh suatu pusat, melainkan para pelaku yang bekerja sama dengan memanfaatkan kode sumber (source-code) yang tersebar dan tersedia bebas.

Praktisi open source sejati menghormati temuan para pendahulunya, sehingga secara transparan akan membuka referensinya dan tidak mengklaim segalanya sebagai gagasan dan karyanya sendiri (ini membedakan mereka dari para plagiator).

“Meretas kota adalah perwujudan dari model (ekonomi) melingkar,” demikian tutur Zimmermann saat menceritakan gagasannya di hadapan kami, para jurnalis dari berbagai negara di Asia Timur yang hadir atas prakarsa Internationale Journalisten Programme (IJP).

The City is Open Source kerap membuat workshop bagi para siswa, misalnya, dengan mengumpulkan sampah di jalanan dan mengembangkannya menjadi produk baru.

Kota yang menggunakan pendekatan melingkar atau Circular City mengelola sumber daya, komoditi, dan sampah dengan cara yang cerdas dan lebih efisien. Apa yang bisa diharapkan dari pendekatan melingkar ini? Model bisnis yang baru, lingkungan yang lebih terpelihara, desain yang kreatif, dan kolaborasi para pemangku kepentingan.

Meretas kota bisa berangkat dari pertanyaan imajinatif: bagaimana jika kota kita adalah X (sebuah tempat atau sesuatu yang kita inginkan).Misalnya, bagaimana jika kota ini adalah taman bermain, maka apa yang ingin Anda bangun di dekat rumah Anda?

Bagaimana jika kota ini adalah sarana olahraga? Apa yang ingin Anda tambahkan agar orang di sekitar bisa berolahraga dengan murah dan mudah? Banyak lagi pertanyaan ‘bagaimana jika’ yang bisa Anda ajukan dalam mengembangkan imajinasi untuk meretas kota.

Di Indonesia, sebetulnya sangat mungkin bertebaran gagasan meretas kota yang sudah terlaksana—meskipun praktisinya tidak dengan sadar menggunakan istilah tersebut.

Salah satu contoh peretasan kota dilakukan oleh Muhammad Alam di Depok, Jawa Barat. Alam dan teman-temannya memiliki ide menggambar lukisan tiga dimensi di jalan utama di depan rumahnya.

Jalanan yang biasanya menjadi jalur menghubungkan orang lalu lalang, tiba-tiba berubah menjadi sarana rekreasi di mana orang bisa berfoto dan menghibur diri. Lingkungannya pun menjadi lebih terkenal, mengundang lebih banyak orang untuk hadir dan dapat menggerakkan ekonomi lokal.   

Modifikasi kecil yang terjadi tanpa merusak atau mengganggu fungsi utama jalan tersebut. Alam telah berhasil meretas lingkungannya.

Langkah Alam menggambar tiga dimensi ini kemudian diikuti Ridwan Sutiawan, seorang buruh pabrik otomotif di Karawang, Jawa Barat yang menggambari gang di sekitar rumahnya di Jalanan Dusun Pasir Buah, Kecamatan Teluk Jambe. Inilah kabar baik dari sumber terbuka, satu gagasan yang bagus dapat diikuti, dimodifikasi, dan dikembangkan oleh peretas lainnya.

Siapa pun Anda, jika Anda peduli membuat perubahan, Anda bisa turut serta berkolaborasi meretas kota dan terhubung dengan para peretas lainnya di berbagai belahan dunia melalui platform yang dirintis The City is Open Source. Meretas kota yang begitu ruwet seperti di area Jabodetabek, misalnya, tentu bisa menjadi tantangan yang sangat menarik dan berharga untuk dibagikan kepada warga dunia.