Kebudayaan tidak pernah akan berakhir sampai kapan-pun. Selama manusia masih ada dan hidup di alam semesta. Selama itu pula manusia akan berkarya menciptakan segala sesuatunya, termasuk menciptakan kata “merdeka” untuk Indonesia.

Jika semboyan “merdeka” menjadi seruan penyemangat yang menghendaki kebebasan dari kekuasaan Belanda dan Inggris pada zaman pra-kemerdekaan. 

Maka dengan semboyan “Prasetya Ulah Sakti Bhakti Praja”, akan menjadi sumbu baru bagi keberlangsungan pembangunan di Jawa Tengah melalui desa sebagai katalisator dalam memperkuat negara terhadap zaman baru.

Negara dan Desa, tentu jelas merupakan nama dan entitas yang berbeda, tetapi keduanya tidak dapat dipisahkan sebagai jalur kehidupan, sebagaimana republik kecil desa dan  republik  besar  yaitu  negara  (desa  mawa  cara  negara  mawa  tata). 

 Jawa  tengah merupakan salah satu provinsi Indonesa yang mempunyai jumlah desa terbanyak di Pulau Jawa,  yakni  sejumlah  8.562  desa/kelurahan  sedangkan  jumlah  terkecil  ada  di  Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu sejumlah 267 desa/kelurahan (BPS 2015-2019). 

Sekian banyak jumlah desa  yang  ada,  sederet masalah konkret  (kemiskinan,  kebodohan, ketertinggalan, keterbelakangan, ketergantungan) yang melekat pada desa, senantiasa masih menjadi stigma akan kegagapan pembangunan di wilayah pedesaan.

Desa yang terkenal akan sumberdaya ekonominya, sebagian besar realitas ekonomi desa terdapat di sektor pertanian sebagai basis penghidupan masyarakat desa. Fakta yang terjadi, memang kerapkali petani menjadi korban gagal panen, baik saat turunnya hasil tani menjelang panen raya, atau-pun ketika terjadi bencana yang melanda sektor pertanian. 

Sehingga kebanyakan petani berpesan untuk anak cucunya, agar tidak meneruskan pekerjaannya menjadi petani yang tidak lain karena tidak ada kepastian dan jaminan kesejahteraan terhadap nasib mereka. 

Selain stigma terhadap desa di atas, masih melekat kuat terhadap pesan petani kepada anaknya, sehingga menyebabkan konstruksi budaya terhadap lingkungan sosial maupun lingkungan keluarga menjadi terlembagakan.

Dengan jumlah penduduk Jateng sekitar 36.516.035 jiwa. Berdasarkan jumlah distribusi pemuda menurut tipe daerah terbesar di wilayah kota, yaitu sejumlah 57,83% jiwa, sedangkan di wilayah desa sejumlah 42,17% jiwa (BPS : 2019).

Tidak keliru ketika fenomena masyarakat desa termasuk pemuda enggan bertahan di desa dan berbondong-bondong lari ke kota (urbanisasi) untuk mengadu nasib agar tidak seperti nasib orang tuanya sebagai petani.  

Penting untuk dicatat, bahwa zaman baru sedang terjadi. Bukan istilah new normal yang lahir dari gambaran bencana non-alam Corona Virus Disease-2019 (Covid-19). Tetapi, merupakan suatu zaman di mana manusia secara mendasar mengalami perubahan dalam hidup dan cara kerjanya, yang disebabkan oleh arus revolusi industri 4.0 yang sedang terjadi. e

Menurut Prof. Klaus Martin Schwab dalam (The Fourth Industrial Revolution: 2017), kemajuan teknologi baru yang mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis telah mempengaruhi semua disiplin ilmu, ekonomi, industri dan pemerintah. Sehingga revolusi generasi ke-empat ini memiliki skala, ruang lingkup dan kompleksitas yang lebih luas.

Di dalam Revolusi Industri 4.0 kesaling-hubungan digital yang dipicu oleh kehadiran teknologi software, secara mendasar akan merubah masyarakat. Cakupan dan kecepatan  dari  dampak  perubahan  yang  sedang  terjadi  menghasilkan  transformasi  yang sangat berbeda dari revolusi-revolusi Industri sebelumnya dalam sejarah manusia. 

Revolusi industri mengalami puncaknya saat ini dengan lahirnya teknologi digital yang berdampak masif terhadap hidup manusia di seluruh dunia. Pada level ini mendorong sistem otomatisasi di dalam semua proses aktivitas manusia. Teknologi internet yang semakin masif tidak hanya menghubungkan jutaan manusia di seluruh dunia tetapi juga menjadi basis bagi transaksi perdagangan secara online.

Kehadiran aplikasi Tanihub dalam contohnya, menunjukkan integrasi aktivitas manusia dengan teknologi informasi dan ekonomi menjadi semakin meningkat. Pola baru terhadap perubahan aktivitas manusia sebagai warga dunia telah dapat dilihat sebagai instrumen terhadap paradigma perubahan sosial. 

Bagaimana hubungan penjual dan pembeli tanpa ada lagi perantara sebagai pihak ketiga (middleman) yang selama ini menghambat kini dapat diperbarui terhadap hadirnya  Unicorn  (Tanihub).

Kini  petani  desa perlu  digugah kembali dengan kesadaran yang penuh atas kondisi yang berbeda jauh dari keadaan sebelumnya. Sekarang kalau melihat progress dari pada peran Tanihub, petani tidak perlu lagi berhadapan dengan middleman untuk mendistribusikan hasil dari komoditas panen sebagai realitas ekonomi desa. 

Biaya produksi terhadap petani yang meliputi tenaga, waktu produksi dan kalkulasi  modal anggaran  yang  kadang  tidak  menentu  atas ketergantungan  petani terhadap kondisi cuaca alam juga turut mengaburkan prediksi hasil panen. 

Sehingga salah satu tujuan dari pada hadirnya aplikasi dalam contohnya Tanihub ialah, untuk menyederhanakan para petani dalam usaha produksinya,  dan  kedua  mengurangi  pengaruh middleman dalam ekosistem perdagangan hasil panen untuk akses pasar. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa proses yang akan dilalui petani dalam pengembangan usaha yang dimiliki untuk mencapai nilai ekonomi yag berdaya saing sangatlah panjang. Di era revolusi industri 4.0 perlunya kesabaran dan komitmena dalam meningkatkan keterampilan untuk beradaptasi terhadap terjadinya perubahan yang mendasar.

Dari segi budaya masyarakat Indonesia yang konsumtif tidak sedikit akan melihat peluang ini sebagai tawaran untuk menanggulangi kemiskinan di wilayah desa. Sehingga, aktor pemerintah desa sebagai pemangku kebijakan perlunya berkolaborasi (sharing ekonomi) dengan petani melalui gapoktan atau (BumDesa) terhadap kehidupan masyarakat desa.

Berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia di Jawa Tengah. Kota Semarang pada tahun  2018 tercatat  sangat  tinggi  yakni  sebesar  82,72. Peringkat  kedua  ditempati  Kota Salatiga sebesar 82.41, kemudian Kota Surakarta sebesar 81,46 dan Kota Magelang sebesar 78,31. 

Sedangkan IPM paling rendah yakni Kabupaten Pemalang sebesar 65,67 disusul Kabupaten Brebes sebesar 65,68  dan Kabupaten Banjarnegara sebesar 66,54.  Untuk IPM Provinsi Jateng pada tahun tersebut mencapai 71,12 meningkat 0,6 poin dibandingkan atas IPM pada tahun 2017 sebesar 70,52 (BPS: 2018). 

Artinya IPM Jateng masuk kategori tinggi karena di atas 70 dengan usia harapan hidup mencapai 74,18 tahun, harapan lama sekolah tercatat 12,36 tahun dan rata-rata lama sekolah sebesar 7,35 tahun. 

Ini semua akan menjadi modal sosial yang akan berdampak besar terhadap pembangunan di Jawa Tengah. Namun, akan berbalik ketika pembangunan daerah hanya sekedar dijadikan objek. Oleh karenanya desa bukan sekedar kampung halaman, pemukiman penduduk, perkumpulan komunitas, pemerintahan terendah dan wilayah administratif semata (Sutoro Eko: 2015).

Desa laksana “negara kecil” yang mempunyai wilayah, kekuasaan, pemerintahan, institusi lokal, penduduk, rakyat, warga, masyarakat, tanah dan sumberdaya ekonomi yang melimpah sebagai basis penghidupan untuk menempatkan desa sebagai  subjek pembangunan. Selain zaman baru yang telah terjadi, melalui UU Desa juga diharapkan mampu menjebatani sebagai instrumen jalan baru untuk menjadikan Jateng kelak sebagai daerah kuat berdaulat.