Dunia saat ini ditandai oleh globalisasi. ‘Anak kandung’ dari globalisasi adalah teknologi dan komunikasi. 

Di bidang teknologi, ada begitu banyak perkembangan pesat yang terjadi. Contohnya, handphone yang pada masa sebelumnya memiliki tombol yang begitu banyak, kini berubah wujud menjadi handphone yang hanya memiliki tiga tombol, bahkan hampir tidak ada tombol. 

Inilah bukti kecerdasan manusia di mana manusia mulai menyadari diri sebagai satu-satunya makhluk hidup yang dapat membawa perubahan berarti bagi dunia.

Meski demikian, tak dapat dimungkiri, semakin manusia menjadi cerdas dengan menciptakan hal-hal baru, semakin ia tersingkir dari kehidupannya. Hal ini dapat kita temukan dalam penciptaan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Sebelum dilanjutkan, baiklah kita mengetahui sedikit definisi tentang kecerdasan buatan (artificial intelligence) ini.

Dalam sebuah artikel berjudul: “Siri, Siri, in my hand: Who’s the fairest in the land? On the interpretations, illustrations, and implications of artificial intelligence”, Andreas Kaplan dan Michael Hainlein mendefinisikan kecerdasan buatan sebagai:

System’s ability to interpret external data correctly, to learn from such data, and to use those learnings to achieve specific goals and tasks through flexible adaptation - kemampuan sistem untuk menafsirkan data eksternal dengan benar, belajar dari data tersebut, dan menggunakan pembelajaran tersebut untuk mencapai tujuan dan tugas tertentu melalui adaptasi yang fleksibel (Hlm. 17).

Hal ini mau menandaskan bahwa dengan adanya sebuah penciptaan kecerdasan buatan, manusia dibantu untuk mengefektifkan segala aktivitas manusia. Aktivitas itu mewujud dalam tugas-tugas dan kerja manusia. Itu berarti, tugas dan kerja manusia dapat dipermudah.

Salah satu contoh kecerdasan buatan (artificial intelligence) ini dapat kita temukan dalam bidang robotika. Dalam robot, ada sebuah penciptaan kecerdasan buatan yang memungkinkannya melakukan kerja-kerja kemanusiaan. 

Dengan lain perkataan, robot diciptakan sedemikian rupa sehingga memiliki semacam ‘pribadi’ yang bisa bekerja layaknya manusia.

Dalam tulisan ini, penulis hendak mengulas kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang ada pada robot. Diawali dengan contoh robot ciptaan, dilanjutkan dengan kelebihan dan kekurangannya dan tak lupa pula, di akhir tulisan, penulis menawarkan sebuah solusi praktis yang mungkin berguna bagi kita semua.

Contoh Robot Ciptaan

Ada dua contoh yang diangkat penulis dalam tulisan ini. Pertama, Titan Haryawan dalam artikelnya yang berjudul “Apa itu artificial intelligence pada robot?” yang dimuat di Medium.com pada Jumat, 28 Juli 2017 mengisahkan tentang sebuah robot bernama Sophia (sebuah robot humanoid). 

Robot ini diciptakan oleh perusahaan Hanson Robotics dan dilengkapi dengan kecerdasan buatan. Berkat kecerdasan buatan itu, robot Sophia memiliki kemampuan berbicara layaknya manusia dan memiliki tugas membantu manusia dalam bidang kesehatan, pendidikan, terapi dan pelayanan.

Kedua, pada tanggal 16 Januari 2018, CNN Bussines merilis sebuah berita berjudul “Computers are getting better than humans at reading. The robots are coming, and they can read”. Berita ini berisi tentang pencapaian yang dibuat oleh Alibaba dan Microsoft tentang kecerdasan buatan pada robot. 

Disebutkan bahwa, dalam sebuah tes membaca buatan Stanford University, robot berhasil mencapai nilai lebih tinggi dari manusia. Tes ini dianggap sebuah prestasi luar biasa yang dibuat oleh Alibaba dan Microsoft.

Kelebihan dan Kekurangan

Dikutip dari berita CNN Bussines (yang telah dibeberkan sebelumnya), Luo Si, kepala ilmuwan pemrosesan bahasa alami pada kelompok riset Artificial Intelligence perusahaan China, menyebut tonggak sejarah yang dibuat oleh Alibaba dan Microsoft sebagai "sebuah kehormatan besar". 

Sebuah kehormatan besar ini, tandas Luo, dapat membantu manusia dalam menjalankan pekerjaannya. Luo menegaskan: “Teknologi ini dapat secara bertahap diterapkan pada berbagai aplikasi seperti layanan pelanggan, tutorial museum, dan tanggapan online untuk pertanyaan medis dari pasien, mengurangi kebutuhan input manusia dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya."

Selain Luo Si, dalam tweet-nya, Pranav Rajpurkar, salah satu peneliti Stanford yang mengembangkan tes membaca pada robot dan manusia tersebut, menyatakan bahwa prestasi Alibaba sebagai "awal yang bagus untuk 2018" untuk kecerdasan buatan.

Dengan demikian, menjadi jelas bahwa ternyata robot yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan dapat membantu kerja-kerja manusia. Bahkan, robot dapat mempermudah kerja manusia. 

Selain itu, penciptaan kecerdasan buatan pada robot mau menggambarkan bahwa manusia sanggup menyesuaikan diri dengan keadaan zaman. Dunia yang ditandai oleh arus globalisasi ini membuat manusia selalu mencari hal-hal baru yang pada zaman sebelumnya belum pernah terpikirkan. 

Dengan demikian, manusia mampu mengembangkan skill, ide dan kreativitas yang dalam dirinya melampaui makhluk lainnya di dunia (contohnya binatang yang hanya mengandalkan insting bawaan). Semua ini dilakukan demi kebaikan dan kepentingan bersama. Inilah deretan kelebihan dari kecerdasan buatan manusia pada robot.  

Meski demikian, tak dapat dimungkiri, kecerdasan buatan yang ada pada robot memiliki berbagai dampak negatif. Pertanyaan yang timbul adalah: Mengapa bisa demikian?

Penulis hanya membeberkan dua kekurangan (dampak negatif) kecerdasan buatan pada robot sebagai berikut. Pertama, dampak negatif yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan ini bisa saja dapat menyingkirkan manusia dari dunia, khususnya dunia kerja. 

Kerja sebagai salah satu bentuk perwujudan diri manusia disingkirkan oleh robot, hasil ciptaannya. Coba kita bayangkan, bagaimana jadinya nasib para pekerja perusahaan, Aparatur Sipil Negara, sopir, petani kebun, dan masih banyak lagi, apabila pekerjaan mereka diambilalih oleh robot? Manusia tidak bisa lagi mewujudkan dirinya dalam kerja.

Kedua, akibatnya yang ditimbulkan apabila kerja manusia diambilalih oleh robot adalah adanya frustrasi yang hebat. Manusia mengalami kehilangan orientasi dalam hidup. Pada akhirnya, manusia merasa teralienasi dan perlahan tapi pasti, disingkirkan dari dunia oleh ciptaannya sendiri.

Solusi 

Berdasarkan kelebihan dan kekurangan dari kecerdasan buatan yang ada pada robot, saya mencoba untuk memberikan sebuah solusi praktis. Solusi yang saya tawarkan di sini dimaksudkan agar tidak terjadinya saling eliminasi satu sama lain. 

Solusi itu adalah mempertautkan kedua entitas berbeda: manusia dan robot. Konkritnya, dalam kerja, manusia dan robot mesti saling berdampingan. Di sanaterdapat relasi timbal-balik.

Berdasarkan solusi praktis di atas, penulis yakin, manusia tidak dapat tersingkir dari dunia kerjanya, bahkan dunia ini.