Ketika anda bertanya pada orang-orang di sekeliling, apa yang menjadi jawaban dari pentingnya pendidikan. Serentak akan mereka bangun argumen untuk menjawab pertanyaan anda, tegas dan mengeluh tentang pendidikan saat ini.

Pendidikan sudah menjadi kebutuhan pokok manusia, bersamaan dengan pendidikan menjadi komoditi penghasilan seseorang. Sehingga lahirlah dua sisi kehidupan, satu menjadi penyelenggara sekaligus pemilik komoditi dan yang satunya menjadi aset komoditi dalam waktu tertentu (batas lulus) atau waktu yang harus ditempuh.

Pendidikan yang semestinya adalah kehidupan dalam berproses di lingkungan kehidupan menjadi ruang-ruang perusahaan yang dapat menghasilkan komoditi bagi sebagian orang, sehingga timbul satu polemik antara penjalankan pendidikan sebagai alat mencerdaskan, mendewasakan atau untuk penghasilan sebagian orang dengan syarat memenuhi formalitas-formalitas tertentu yang harus dipenuhi sebagai syarat menandakan adanya penyelenggaraan pendidikan.

Suatu hal yang menarik perhatian adalah pendidikan dengan suka hati menghasilkan manusia-manusia yang asing dalam kehidupan sebagai makhluk hidup yang humanis, artinya kehidupan menjadi ketakutan bagi orang-orang yang telah menyelesaikan pendidikan sebagaimana waktu yang telah ditentukan dengan bukti kertas ijazah. Kertas ini sangat berarti seperti pentingnya pendidikan itu sendiri maka tidak heran kalau semakin hari ijazah akan lebih penting dari pada pendidikan itu sendiri.

Sudah bukan asing lagi dalam kehidupan sebagai warga negara yang memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan, negara hadir memberikan pendidikan sebagai tugas pokok suatu negara. Tiba-tiba pendidikan semakin sulit untuk mencerdaskan manusia secara merata, negara sendiri memberikan syarat-syarat bahwa yang memiliki uang lah mereka yang akan mendapatkan pendidikan dari fasilitas negara tersebut.

Sebagai gantinya dinamakan beasiswa, sering juga disebut bahwa itu sebagai mempermudah yang tidak punya uang agar dapat mengambil hak nya dari negara (hak memperoleh pendidikan) namun lagi-lagi dihalangi oleh negara lagi dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi. 

Sekali lagi negara memberikan ujian dengan soal-soal diluar kemampuan manusia yang tadinya tidak tahu menahu tentang soal itu, apa lagi kalau soal ujian (tes masuk pendidikan) sangat jauh dan tidak melibatkan pertanyaan tentang kehidupan orang-orang miskin dalam negeri ini, tidak sekadar itu kadang soal yang mempertanyakan tentang hal-hal yang sangat asing dari kehidupan, sehingga beasiswa pun menggagalkan manusia yang ingin memperoleh pendidikan. Karena soal-soal itu tidak dapat dijawab sebagaimana keinginan dari korporasi bisnis pendidikan.

Pendidikan akhir-akhir ini menjadi topik yang menarik sebagai perusahaan untuk mencairkan dana-dana, kehidupan semakin berubah bersamaan dengan dunia baru bahwa pendidikan adalah perusahaan yang menghasilkan komoditi, sangat menggiurkan uang (komoditi) yang dihasilkan dari bisnis pendidikan.

Seorang dapat pergi ke sawah dan ladang untuk belajar bertanam pun dibatasi oleh aturan yang mewajibkan untuk masuk gudang-gudang (ruang kelas) pendidikan. Sekali lagi manusia diseret untuk masuk dalam perangkap wirausaha pendidikan.

Kesusahan di sana-sini menjadi hal yang pasti, kala pendidikan sudah menjadi penghasil komoditi. Manusia-manusia dididik sebagatas memenuhi isi kekososngan dompet sambil mengkompanyekan pentingnya pendidikan dari pelosok negeri menjadi hal yang biasa dalam wirausaha model baru ini.

Pada dasarnya bukan hal baru, pendidikan menjadi wirausaha paling gampang adalah dalam pendidikan formal. Karena satu-satunya dinilai sebagai pendidikan saat ini adalah formal yang nanti realitasnya adalah sebatas formalitas. Jadi sangat jelas filosofi aktivitas pendidikan yang dilakukan di lapangan adalah memenuhi dompet-dompet kosong tersebut. 

Sekilas kita melihat memang kompanye tentang pendidikan formal berhasil menjadi wirausaha berhasil merubah menset masyarakat untuk berpandangan dan berpendapat bahwa pendidikan adalah formal, bukan berarti pendidikan kalau sekadar punya pengalaman atau keahlian. Bukti pendidikan harus ijazah manjadi akhir dari riwayat sejarah nenek moyang. 

Menjadi hal yang aneh lagi bila kehidupan nenek moyang manusia dipandang sebagai kehidupan primitif, namun terbalik realitanya bahwa kehidupan nenek moyang lah yang berhasil membawah kehidupan sampai sekarang. Terbukti bahwa kehidupan sekarang semakin rumit dengan tidak adanya kehidupan yang harmonis sebagai mana yang diagung-agungkan dalam teori perubahan dan kemajuan.

Perubahan dari pendidikan menjadi perusahaan adalah penghasilan yang sangat menggiurkan, selain mengisi kantong dompet juga meminimalisir manusia agar tidak mampu dan ahli yang ditakuti dapat menguasai kekayaan para pemilik perusahaan tersebut, maka dengan jelas pendidikan semakin hari menghasilkan pengangguran dan manusia yang tidak memiliki pemikiran penerobor sempit pikir, sekaligus menghasilkan manusia terdidik yang takut terhadap kehidupan. 

Sehingga memikirkan diri sendiri adalah hasil cetakan watak dari perusahaan bertopeng pendidikan. Ini menjadi hal yang akan menjadi kewajaran kala manusia sebagai makhluk sosial menjadi individu-individu yang memikirkan diri, keluarga dan sanak saudara sendiri. 

Kemiskinan dan kesengsaraan orang lain bukan lagi menjadi problem bersama tapi tanggung jawab yang memiliki satu darah keturunan (keluarga), semakin rumit lagi kala rana pemerintahan dalam negara juga menjadi bisnis keluarga, pecat dan angkat adalah sekadar dalam lingkungan satu keluarga, organisasi, dan keturunan marga.

Ada satu jalan untuk membangkrutkan perusahaan ini adalah merdeka dalam berpikir, menggeluti keahlian dalam kehidupan, membiarkan pendidikan formal ber-evolusi dari ketidak jujurannya dalam melaksanakan tugas yang sangat mulia (tugas pendidikan) itu. Sehingga pendidikan tidak menjadikan manusia semakin susah dan takut terhadap kehidupan.

Akhirnya tulisan ini, penulis tutup dengan kalimat dari filsafah pendidikan yang berbunyi: "pendidikan dapat diperoleh dimana saja, termasuk saat menyendari".