Manu Prakash adalah salah satu ilmuwan muda mentereng kelahiran India. Ia adalah Profesor Bioengineering di Stanford University. Manu lahir di Meerut, India, dan mendapatkan gelar sarjana di bidang computer science and engineering di Indian Institute of Technology di Kanpur dan Master serta Ph.D dalam applied physics di MIT. 

Riset-riset seperti Foldscope dan paperfuge adalah hal menakjubkan yang ia kerjakan. Prakash menerima MacArthur Fellowship pada September 2016. Dia dan timnya juga mengerjakan riset water droplet based computer di Stanford University.

Karya-karyanya berfokus pada Frugal Science yang pastinya menginginkan suatu inovasi yang ringkas dan hemat. Misi mulia yang menginginkan hasil riset di bidang kedokteran, komputasi, dan mikroskop dapat diakses lebih banyak orang di seluruh dunia. 

Dia dan timnya melakukan riset tersebut didorong oleh rasa ingin tahu pada biologi fisik. Mereka menyatukan teknik eksperimental dan teoretis dari fisika benda lunak, dinamika fluida, teori komputasi, dan mikro-nano serta fabrikasi non-konvensional untuk membuka problem dalam biologi dari skala organisme hingga seluler dan molekuler. 

Mereka merancang dan membangun instrumentasi presisi, termasuk alat tetesan mikrofluida untuk menyelidiki dan mengganggu mesin biologis dan analog sintetisnya. Aplikasi yang mereka temukan berupa teknologi baru dalam konteks kesehatan global dengan aplikasi klinis di negara yang miskin sumber daya. 

Salah satu pemikiran menarik dari Manu Prakash adalah Frugal Science atau Ilmu Hemat sebuah filosofi yang menginspirasi pengembangan dan distribusi alat ilmiah yang terjangkau (termasuk mikroskop kertas dan sentrifugal plastik) ke daerah di seluruh dunia.

Saat ini, penemuan murah Prakash menciptakan komunitas, di mana siapa saja, baik anak-anak hingga petani, dapat merasakan pengalaman dunia mikrokosmik dan belajar tentang ilmu pengetahuan.

Baca Juga: Fakta dan Sains

Filosofi Frugal Science berusaha membuat pengalaman sains dapat diakses semaksimal mungkin bagi semua orang. Sehingga ia membangun alat yang harganya lebih murah, tetapi mampu bersaing dengan instrumen ilmiah lainnya secara fungsional, yang kemudian hasilnya dapat dibagikan kepada orang lain.

Hal ini merupakan upaya memecahkan permasalahan aksesibilitas di dunia sains. Sehingga Manu membuat Foldscope, sebuah mikroskop yang terbuat dari selembar kertas yang dilipat dengan gaya origami.

Hal hemat yang yang dapat dibuat oleh anak-anak, dan ia produksi pada skala besar. Orang-orang dapat menggunakan Foldscope untuk mendiagnosis penyakit atau hanya menjelajahi dunia di sekitar mereka.

Manu telah membagikan hampir 80.000 mikroskop Foldscope ke 130 negara. Uniknya, ditemukan berbagai penggunaan yang tidak konvensional, seperti  anak di Nigeria menggunakan Foldscope untuk mendeteksi mata uang palsu. 

Para petani di India menggunakannya untuk mengidentifikasi patogen pada tanaman dan membuang tanaman yang sakit lebih awal. 

Manu Prakash berharap, Foldscope di tangan setiap anak di negara berkembang memberikan mereka kemampuan untuk melihat sendiri hal-hal seperti apakah air minum mereka bersih.

Kisah Foldscope sendiri berawal dari masa kecil dan berkembang Manu di India, ia tidak mampu membeli mikroskop. Dia menantang saudara lelakinya dan dirinya sendiri bahwa dia akan membuat satu mikroskop dari karton dan lakban. Kemudian dia mencuri lensa dari kacamata saudaranya dan membuatnya sendiri.

Sekarang, Manu adalah co-Inventor dari mikroskop kertas lipat yang harganya kurang dari $1. Dia menyumbangkan Foldscope kepada orang-orang di seluruh dunia dengan rencana untuk menyumbangkan sampai satu juta. Alat ini tidak memerlukan listrik dan dapat menahan kerasnya medan.

Dia percaya dan mempraktikkan ilmu hemat dan berkeyakinan bahwa ilmu pengetahuan adalah untuk semua orang, bukan hanya untuk orang-orang yang memiliki akses ke sana atau uang untuk mendapatkan hal tersebut.

Pendekatan Manu terhadap ilmu hemat dengan membuat dirinya mendapat banyak kendala ketika mencoba untuk menemukan solusi atau alat yang akan bertahan di lapangan tanpa listrik atau di klinik perdesaan. 

Foldscope sendiri dibuat dari origami, beratnya kurang dari 10 gram, dan menawarkan resolusi 700 nanometer. Sebuah mahakarya 3D Printed yang berdampak pada lingkungan yang luas.

Selain Foldscope, Manu dan timnya membuat Paperfuge dan bagian-bagiannya yang merupakan centrifuge seharga 20 sen. Centrifuge sendiri adalah mesin yang memutar sampel biologis dengan kecepatan tinggi untuk memisahkan larutan berdasarkan kepadatan.

Kita dapat mengambil selembar plastik bundar dan memasukkan dua senar ke dalamnya, kita memutar piringan dan menarik dua senarnya. Beberapa orang menyebutnya button-on-a-string, atau pusaran. Hal yang luar biasa adalah bahwa versi mainan bisa berputar dengan kecepatan sekitar 10.000 rotasi per menit (rpm).

Selain untuk menghemat biaya produksi centrifuge, inovasi ini dapat mengatasi kendala ketiadaan listrik di daerah terpencil atau pedalaman. Paperfuge yang dibuat kini mampu berputar pada kecepatan 125.000 rpm.

Prakash juga mengerjakan perangkat citizen science-lainnya. Sebuah chip mikrofluida kecil dengan biaya produksi lima dolar. Berfungsi dengan punchcard dan handcrank untuk mengatur reaksi kimia dalam gerakan, tetesan kecil air liur nyamuk dari gigitan dapat dikumpulkan dan disaring untuk mencari patogen.

Jika informasi tersebut tersedia untuk peneliti kesehatan masyarakat di seluruh dunia, epidemi yang disebabkan oleh penyakit yang ditularkan oleh nyamuk dapat diprediksi dan ditangkap sejak dini.

Manu memiliki semacam visi yang sangat unik, karena itu bukan hanya tentang membuat sesuatu yang murah, tetapi membangun komunitas dan memberikan kesempatan bagi orang-orang untuk keluar dan berbagi pengamatan atau membangun sesuatu di sekitar mereka.

Para mahasiswa dari beragam yang disiplin ilmu, mulai dari fisika hingga teknik mesin hingga musik, dan yang mewakili negara-negara dari seluruh dunia, bekerja di laboratorium di mana Frugal science atau ilmu hemat adalah salah satu dari fokus mereka. 

Hal ini membawa semangat kreativitas ke lingkungan seperti di Stanford di mana ada begitu banyak orang yang kreatif dan mampu serta siap untuk berinovasi, tetapi tidak  berkompromi dalam membuat solusinya.